Buton

Rare
Sulawesi Tenggara
Luas
1.650,85 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
5 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Buton: Benteng Peradaban di Jantung Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton, yang terletak di posisi kardinal tengah Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, memiliki narasi sejarah yang sangat unik dan langka dalam historiografi Indonesia. Dengan luas wilayah 1.650,85 km², wilayah ini bukan sekadar entitas administratif, melainkan pewaris sah dari salah satu kerajaan maritim paling berpengaruh di Nusantara.

##

Asal-Usul dan Masa Kesultanan

Sejarah Buton bermula pada abad ke-13 dengan kedatangan empat tokoh perintis yang dikenal sebagai Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, dan Sijawangkati. Mereka mendirikan pemukiman awal yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Buton pada tahun 1332. Penguasa pertamanya adalah seorang perempuan bernama Wa Kaa Kaa.

Transformasi besar terjadi pada tahun 1542 ketika Raja Buton VI, Lakilaponto, memeluk Islam dan dilantik sebagai Sultan Buton I dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Sejak saat itu, Buton menerapkan sistem pemerintahan kesultanan yang unik dengan konstitusi tertulis yang disebut Martabat Tujuh. Berbeda dengan kerajaan lain, jabatan Sultan di Buton tidak diwariskan secara turun-temurun, melainkan dipilih secara demokratis oleh Dewan Siolimpu.

##

Era Kolonial dan Ketahanan Wilayah

Selama masa kolonial, Buton dikenal karena kemampuannya mempertahankan kedaulatan. Salah satu fakta sejarah yang paling menonjol adalah Buton tidak pernah dijajah secara fisik oleh Belanda dalam artian aneksasi wilayah. Hubungan antara Kesultanan Buton dan VOC didasarkan pada perjanjian aliansi dimulai sejak tahun 1613.

Peninggalan monumental dari era ini adalah Benteng Keraton Buton (Wolio). Benteng ini memegang rekor dunia sebagai benteng terluas, mencakup sekitar 23,3 hektar. Dibangun dengan susunan batu gunung yang direkatkan dengan campuran putih telur dan kapur, benteng ini menjadi simbol ketahanan masyarakat Buton dalam menghadapi serangan bajak laut dan intervensi asing.

##

Integrasi dan Masa Kemerdekaan

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, Sultan Buton terakhir, Sultan Muhammad Falihi, menunjukkan jiwa nasionalisme yang tinggi dengan menyatakan integrasi Kesultanan Buton ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah ini kemudian menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara saat pembentukannya pada tahun 1964 berdasarkan UU No. 13 Tahun 1964.

##

Warisan Budaya dan Pembangunan Modern

Secara budaya, Buton memiliki tradisi Pakande-kandea (jamuan makan adat) dan ritual Posuo (pingitan bagi gadis yang beranjak dewasa). Masyarakat Buton juga dikenal karena penggunaan aksara Wolio, yang merupakan modifikasi huruf Arab untuk bahasa setempat, menunjukkan tingkat literasi yang tinggi sejak masa lampau.

Hingga saat ini, Buton terus berkembang dengan mengoptimalkan kekayaan alamnya, terutama aspal Buton yang merupakan deposit aspal alam terbesar di dunia. Sebagai wilayah yang berbatasan dengan lima daerah tetangga (Kota Baubau, Buton Tengah, Buton Selatan, Muna, dan Buton Utara), Kabupaten Buton memegang peranan strategis sebagai pusat budaya dan sejarah yang menghubungkan masa lalu kemaritiman Nusantara dengan masa depan pembangunan Sulawesi Tenggara.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton merupakan entitas wilayah yang secara administratif terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan karakteristik geografisnya, wilayah ini mencakup luas daratan sebesar 1.650,85 km². Berbeda dengan citra kepulauan pada umumnya, fokus wilayah ini berada pada posisi tengah (sentral) yang dikelilingi oleh daratan, menjadikannya sebagai poros penghubung antarwilayah di daratan Pulau Buton. Secara spasial, Buton berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif yang berdekatan, mempertegas posisinya sebagai titik temu strategis di Sulawesi Tenggara.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Kabupaten Buton didominasi oleh variasi relief yang kompleks, mulai dari dataran rendah yang sempit hingga perbukitan bergelombang dan barisan pegunungan yang curam. Struktur medan di bagian tengah ini dicirikan oleh karst yang luas, menciptakan sistem drainase bawah tanah yang unik. Gunung-gunung di wilayah ini, seperti Gunung Lambelu, menjadi hulu bagi beberapa sungai penting yang mengalir membelah lembah-lembah subur. Lembah-lembah ini terbentuk dari proses erosi ribuan tahun, menciptakan lapisan tanah aluvial yang menjadi tumpuan aktivitas domestik.

##

Pola Iklim dan Variasi Musiman

Secara klimatologis, Buton dipengaruhi oleh iklim tropis dengan dua musim utama: musim kemarau dan musim hujan. Keberadaan barisan perbukitan di bagian tengah menciptakan mikroklimat tertentu; curah hujan cenderung lebih tinggi di area elevasi tinggi dibandingkan dataran rendah. Suhu udara rata-rata berkisar antara 24°C hingga 32°C dengan kelembapan tinggi sepanjang tahun. Angin monsun barat membawa massa uap air yang signifikan, sementara monsun timur memberikan periode kering yang memengaruhi siklus hidrologi sungai-sungai pedalaman.

##

Sumber Daya Alam dan Potensi Geologis

Kekayaan geologis Buton yang paling ikonik dan tergolong langka adalah cadangan aspal alam. Buton dikenal sebagai salah satu dari sedikit tempat di dunia yang memiliki deposit aspal alam dalam skala besar. Selain mineral, sektor kehutanan didominasi oleh hutan tropis yang menghasilkan kayu jati dan rotan berkualitas tinggi. Dalam sektor pertanian, kondisi tanahnya sangat mendukung pengembangan komoditas perkebunan seperti kakao, jambu mete, dan kelapa, yang tumbuh subur di sepanjang lembah dan lereng perbukitan.

##

Zona Ekologis dan Biodiversitas

Sebagai bagian dari zona transisi Wallacea, Buton memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan endemik. Zona ekologisnya mencakup hutan hujan tropis pegunungan yang menjadi habitat bagi fauna langka seperti Anoa (Bubalus quarlesi) dan Burung Maleo. Vegetasi hutan di wilayah tengah ini berfungsi sebagai daerah resapan air (catchment area) yang vital bagi stabilitas ekosistem di seluruh Pulau Buton. Keberadaan flora dan fauna yang unik ini menjadikan Buton sebagai wilayah dengan nilai konservasi tinggi di Indonesia Timur.

Culture

#

Warisan Luhur dan Kekayaan Budaya Buton, Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton, yang terletak di jantung Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan wilayah dengan akar sejarah yang mendalam, terutama sebagai pewaris takhta Kesultanan Buton. Dengan luas wilayah 1650,85 km², Buton menyimpan keunikan budaya yang langka dan otentik, menjadikannya salah satu pusat peradaban maritim dan agraris yang paling disegani di Nusantara.

##

Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal

Masyarakat Buton memegang teguh filosofi *Bhineka Tunggal Ika* versi lokal yang tercermin dalam sistem pemerintahan Kesultanan masa lalu. Salah satu tradisi paling sakral adalah Posuo (Pingitan), sebuah ritus peralihan bagi gadis remaja menuju kedewasaan. Selama delapan hari, para gadis diisolasi untuk mendapatkan bimbingan spiritual dan moral. Selain itu, terdapat upacara Pedhole-dhole, tradisi pemberian nama dan doa bagi balita, serta Pekande-kandea, sebuah tradisi makan bersama di atas talam (talang) sebagai bentuk syukur dan penyambutan tamu kehormatan.

##

Kesenian, Tari, dan Musik

Seni pertunjukan Buton sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam dan ksatriaan. Tari Linda adalah tarian klasik yang melambangkan keanggunan wanita Buton dalam ritual Posuo. Sementara itu, Tari Ponare menampilkan ketangkasan bela diri dengan menggunakan tombak dan perisai. Dalam hal musik, dentuman Ganda (gendang) dan Gong mengiringi syair-syair Kabanti, yaitu sastra lisan berupa pantun atau puisi yang dilantunkan dalam bahasa daerah untuk menyampaikan pesan moral atau perasaan rindu.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Kuliner Buton didominasi oleh hasil bumi dan laut dengan cita rasa segar. Makanan pokok yang ikonik adalah Kasuami, makanan berbahan dasar singkong parut yang dikukus berbentuk tumpeng kecil. Kasuami biasanya dinikmati dengan Parende, sup ikan segar yang dibumbui kunyit, asam jawa, dan kemangi. Ada pula Kambewe, penganan berbahan jagung muda yang dibungkus kulit jagung, memberikan rasa manis alami yang khas.

##

Bahasa dan Dialek

Masyarakat di wilayah ini menggunakan Bahasa Cia-Cia dan Bahasa Wolio. Keunikan luar biasa dari Bahasa Cia-Cia adalah penggunaan aksara Hangeul (Korea) dalam sistem penulisannya untuk melestarikan dialek lokal, sebuah fenomena linguistik yang langka di dunia. Sementara itu, Bahasa Wolio merupakan bahasa resmi kesultanan yang dahulu ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu yang disebut Buri Wolio.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Buton sangat bangga dengan kain tenunnya, Tenun Buton. Motifnya bukan sekadar hiasan, melainkan simbol status sosial. Motif *Bia-bia* dan *Kasopa* memiliki garis vertikal dan horizontal yang menunjukkan kasta pemakainya. Pakaian adat laki-laki disebut Baju Bhada, sementara kaum wanita mengenakan Baju Kombo, atasan dengan hiasan manik-manik dan benang emas yang dipadukan dengan sarung berlapis (bebe).

##

Keagamaan dan Festival Budaya

Kehidupan religius di Buton merupakan perpaduan harmonis antara ajaran Islam Sufistik dan tradisi lokal. Puncak perayaan budaya tahunan adalah Festival Keraton Kesultanan Buton. Festival ini menghidupkan kembali kejayaan masa lalu melalui prosesi Santiago (ziarah kubur sultan), pameran kerajinan perak, serta ritual doa bersama di Masjid Agung Keraton Buton. Keberadaan Benteng Keraton Buton yang megah menjadi saksi bisu betapa kuatnya pertahanan budaya dan fisik masyarakat Buton di posisi tengah kepulauan Sulawesi Tenggara ini.

Tourism

Menjelajahi Pesona Megah Buton: Jantung Sejarah Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton, yang terletak strategis di posisi tengah Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara, merupakan destinasi langka yang menawarkan perpaduan sempurna antara kejayaan masa lalu dan kekayaan alam yang autentik. Dengan luas wilayah mencapai 1650,85 km², Buton berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif lainnya, menjadikannya simpul budaya yang menghubungkan tradisi maritim dan agraris di jazirah tenggara Sulawesi.

#

Warisan Budaya dan Kemegahan Benteng Terluas

Daya tarik utama yang menjadikan Buton destinasi "Rare" atau langka adalah keberadaan Benteng Keraton Buton (Benteng Wolio). Tercatat dalam Guinness Book of Record sebagai benteng terluas di dunia, situs ini bukan sekadar tumpukan batu karang, melainkan pusat peradaban Kesultanan Buton yang masih terjaga. Anda dapat menyusuri bastion-bastion bersejarah sambil menikmati pemandangan Selat Buton dari ketinggian. Jangan lewatkan kunjungan ke Masjid Agung Keraton dan melihat tradisi Santiago, sebuah ritual ziarah makam leluhur yang sarat akan nilai spiritual.

#

Kekayaan Alam: Dari Hutan Lindung hingga Air Terjun

Meski wilayah Kabupaten Buton secara administratif tidak berfokus pada wisata pesisir (yang banyak dialihkan ke wilayah pemekaran sekitarnya), keindahan daratannya sangat memukau. Hutan Lambusango menjadi primadona bagi pecinta alam. Di sini, Anda bisa melakukan pengamatan satwa langka seperti Kuskus Sulawesi dan burung Maleo. Bagi pencari ketenangan, Air Terjun Kandawu-Ndawu menawarkan kesegaran air pegunungan di tengah rimbunnya hutan tropis yang belum terjamah, memberikan pengalaman petualangan trekking yang menantang namun berbalas keindahan.

#

Kuliner Khas yang Menggugah Selera

Pengalaman wisata di Buton tidak lengkap tanpa mencicipi Kasuami, makanan pokok berbahan dasar singkong yang dibentuk kerucut, biasanya dinikmati bersama Ikan Parende. Ikan Parende adalah sup ikan dengan kuah kuning yang segar, menggunakan rempah lokal dan belimbing wuluh. Anda juga wajib mencoba Kopi Rongi, kopi khas dari desa adat Rongi yang memiliki aroma unik karena proses sangrai tradisional di atas tungku kayu.

#

Keramahtamahan Local dan Waktu Kunjungan Terbaik

Masyarakat Buton dikenal sangat memegang teguh filosofi Poma-maasiaka (saling menyayangi). Anda bisa merasakan keramahtamahan ini melalui penginapan berbasis homestay di desa-desa wisata, di mana tamu seringkali dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah antara bulan Agustus hingga Oktober. Pada periode ini, cuaca cenderung cerah untuk aktivitas luar ruangan, dan biasanya bertepatan dengan perhelatan Festival Keraton Kesultanan Buton, di mana Anda bisa menyaksikan tarian kolosal Pedole-dole dan ritual adat Posuo (pingitan) yang unik dan langka. Buton bukan sekadar tempat singgah, melainkan sebuah perjalanan kembali ke akar tradisi nusantara yang megah.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Buton: Pusat Aspal Dunia dan Dinamika Daratan

Kabupaten Buton, yang terletak di posisi strategis bagian "tengah" dari konstelasi wilayah Sulawesi Tenggara, mencakup area seluas 1.650,85 km². Meskipun Pulau Buton secara umum dikenal dengan garis pantainya, wilayah administrasi ini secara topografis didominasi oleh bentang daratan pedalaman yang kaya akan sumber daya ekstraktif, menjadikannya salah satu titik ekonomi paling langka dan vital di Indonesia.

##

Sektor Pertambangan: Aspal Buton sebagai Lokomotif Ekonomi

Karakteristik ekonomi Buton yang paling menonjol adalah kepemilikan cadangan aspal alam terbesar di dunia. Berbeda dengan wilayah sekitarnya, struktur ekonomi Buton sangat bergantung pada sektor pertambangan. Aspal Buton (Asbuton) bukan sekadar komoditas mentah; pengembangan industri pemurnian aspal di kawasan ini telah menarik investasi besar. Perusahaan-perusahaan seperti PT Wijaya Karya Bitumen menjadi pemain kunci dalam hilirisasi, menciptakan lapangan kerja bagi ribuan penduduk lokal dan mendorong Buton sebagai penyokong stabilitas infrastruktur jalan nasional.

##

Pertanian dan Komoditas Unggulan

Di sektor agraris, wilayah dataran tinggi Buton memfokuskan diri pada tanaman perkebunan. Jambu mete dan kelapa merupakan produk unggulan yang telah menembus pasar ekspor. Sistem pertanian di sini masih mempertahankan kearifan lokal, namun mulai bertransformasi menuju mekanisasi. Selain itu, hutan Buton menghasilkan kayu jati berkualitas tinggi dan rotan yang menjadi bahan baku utama bagi industri furnitur lokal maupun luar daerah.

##

Kerajinan Tradisional dan Ekonomi Kreatif

Salah satu aspek unik ekonomi Buton adalah kerajinan tenun tradisional "Kasopa". Kain tenun ini bukan hanya produk budaya, tetapi telah menjadi penggerak ekonomi kreatif bagi perempuan di pedesaan. Di samping itu, pengolahan hasil hutan non-kayu seperti madu hutan Buton dan anyaman rotan menjadi produk bernilai tambah yang dipasarkan melalui UMKM, yang kini mulai merambah platform digital untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke luar Sulawesi Tenggara.

##

Infrastruktur dan Konektivitas Darat

Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh lima wilayah administratif tetangga, Buton berfungsi sebagai hub logistik darat. Pembangunan jalan lingkar luar (outer ring road) dan perbaikan akses menuju pelabuhan di wilayah tetangga (seperti Baubau) sangat krusial. Infrastruktur transportasi darat yang memadai menjadi kunci dalam menekan biaya logistik pengiriman aspal dan hasil bumi.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Buton menunjukkan pergeseran dari sektor pertanian substisensi ke sektor industri pengolahan dan jasa. Pemerintah daerah terus mendorong pembangunan kawasan industri khusus aspal untuk memastikan nilai tambah ekonomi tetap berada di wilayah ini. Dengan posisi geografisnya yang strategis di tengah jalur perdagangan regional, Kabupaten Buton bertransformasi dari wilayah agraris menjadi kekuatan industri ekstraktif yang mandiri dan berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara

Kabupaten Buton, yang terletak di posisi strategis bagian tengah Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara, memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah non-pesisir dengan luas daratan mencapai 1.650,85 km². Sebagai entitas politik yang berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif (Buton Utara, Buton Tengah, Buton Selatan, Kota Baubau, dan Kabupaten Muna), Buton berfungsi sebagai pusat gravitasi budaya dan sejarah di jazirah tenggara Sulawesi.

Struktur Populasi dan Kepadatan

Jumlah penduduk Kabupaten Buton menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dengan konsentrasi massa yang cukup signifikan di wilayah Pasarwajo. Kepadatan penduduk bersifat heterogen; meskipun luas wilayahnya besar, distribusi penduduk cenderung mengelompok di area-area yang memiliki aksesibilitas darat tinggi. Hal ini menciptakan kontras antara kawasan inti yang padat dan wilayah pedalaman yang masih didominasi oleh lanskap agraris.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Karakteristik paling langka dari demografi Buton adalah sistem stratifikasi sosial tradisional yang masih terjaga. Mayoritas penduduk adalah etnis Buton (Cia-Cia, Wolio, dan kelompok sub-etnis lainnya). Keunikan demografis yang menonjol adalah keberadaan masyarakat pengguna aksara Korea (Hangeul) di beberapa desa, yang menjadi fenomena linguistik langka di dunia. Selain itu, terdapat populasi migran dari etnis Bugis, Muna, dan Jawa yang telah berasimilasi, memperkaya mosaik budaya lokal tanpa menghilangkan identitas asli kesultanan.

Distribusi Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Buton didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun), membentuk piramida penduduk ekspansif yang melebar di bagian tengah. Angka melek huruf di Kabupaten Buton berada pada level yang sangat baik, mencerminkan komitmen daerah terhadap pembangunan sumber daya manusia. Dalam satu dekade terakhir, profil pendidikan masyarakat bergeser secara signifikan dari lulusan pendidikan dasar menuju peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi, dipicu oleh kedekatan akses ke pusat pendidikan di Kota Baubau.

Dinamika Urbanisasi dan Migrasi

Sebagai wilayah non-pesisir, dinamika rural-urban di Buton sangat dipengaruhi oleh sektor pertambangan aspal dan pertanian. Pola migrasi bersifat sirkuler; banyak pemuda Buton yang merantau ke luar provinsi untuk menempuh pendidikan atau bekerja di sektor maritim, namun tetap mempertahankan ikatan kuat dengan tanah kelahiran. Urbanisasi internal terpusat di Pasarwajo yang berfungsi sebagai pusat administrasi dan ekonomi, sementara wilayah pedesaan tetap menjadi penyangga utama ketahanan pangan daerah.

💡 Fakta Unik

  • 1.Salah satu wilayahnya menyimpan situs prasejarah Liang Kabori yang memiliki ratusan lukisan dinding gua berwarna merah dari getah pohon, menggambarkan aktivitas perburuan purba.
  • 2.Masyarakat setempat melestarikan tradisi Kasambu, yaitu upacara adat pemberian makan bagi ibu hamil yang bertujuan untuk memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi.
  • 3.Wilayah ini merupakan daerah hasil pemekaran yang secara geografis berada di bagian utara Pulau Muna dan tidak memiliki garis pantai karena seluruh wilayahnya dikelilingi oleh daratan kabupaten induk.
  • 4.Kawasan ini dikenal sebagai penghasil komoditas jagung utama di Sulawesi Tenggara dan memiliki industri kerajinan tenun dengan motif khas bernama 'Robu' yang sangat populer.

Destinasi di Buton

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Sulawesi Tenggara

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Buton dari siluet petanya?