Wisata Alam

Gunung Tambora

di Dompu, Nusa Tenggara Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menjelajahi Kedahsyatan Geologi dan Kekayaan Hayati Gunung Tambora: Atap Megah Pulau Sumbawa

Gunung Tambora bukan sekadar gundukan tanah yang menjulang di Semenanjung Sanggar. Terletak di Kabupaten Dompu dan sebagian Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, gunung ini adalah monumen sejarah geologi dunia yang mengubah iklim global pada tahun 1815. Hari ini, Tambora telah bertransformasi dari pusat bencana menjadi destinasi wisata alam (nature tourism) yang menawarkan kemegahan lanskap vulkanik, keanekaragaman hayati yang pulih, serta tantangan fisik yang memikat para petualang sejati.

#

Kaldera Terbesar di Indonesia: Keajaiban Geomorfologi

Fitur alam yang paling mencolok dan menjadi ikon utama Gunung Tambora adalah kalderanya yang raksasa. Pasca letusan dahsyat dua abad silam, puncak gunung yang awalnya setinggi 4.300 meter runtuh dan menyisakan kawah raksasa dengan diameter sekitar 7 kilometer dan kedalaman mencapai 1,1 kilometer. Berdiri di bibir kaldera Tambora memberikan sensasi skala yang luar biasa; sebuah lubang menganga yang begitu luas hingga awan seringkali terjebak di dalamnya.

Di dasar kaldera, pengunjung dapat melihat "Doro Afi Toi" atau gunung kecil yang mulai tumbuh, serta hamparan pasir vulkanik yang luas. Tekstur dinding kaldera yang curam menampilkan lapisan-lapisan piroklastik yang menceritakan sejarah letusan masa lalu, menjadikannya laboratorium geologi terbuka terbaik di dunia bagi para peneliti dan pecinta alam.

#

Ekosistem dan Biodiversitas: Dari Sabana hingga Hutan Hujan

Gunung Tambora menawarkan gradasi ekosistem yang sangat kontras seiring dengan perubahan ketinggian. Di kaki gunung, terutama di wilayah Doro Ncanga, pengunjung disambut oleh hamparan sabana luas yang menyerupai lanskap Afrika. Di sini, ribuan kuda liar, sapi, dan kerbau milik penduduk setempat dilepasliarkan, menciptakan pemandangan pastoral yang unik dengan latar belakang kerucut vulkanik yang biru di kejauhan.

Semakin mendaki ke atas, vegetasi berubah menjadi hutan hujan tropis yang lebat. Kawasan Taman Nasional Tambora merupakan rumah bagi flora dan fauna endemik. Anda dapat menjumpai pohon-pohon raksasa dari jenis Ficus dan Duabanga moluccana. Dari sisi fauna, Tambora adalah habitat bagi Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang terancam punah, serta Rusa Timor (Cervus timorensis). Suara burung Koak Kaok yang khas seringkali memecah keheningan hutan, memberikan pengalaman sensorik yang mendalam tentang kekayaan alam Sumbawa.

#

Aktivitas Luar Ruangan: Menaklukkan Jalur Pendakian

Aktivitas utama di Gunung Tambora tentu saja adalah pendakian. Terdapat empat jalur resmi yang masing-masing menawarkan karakteristik berbeda:

1. Jalur Doro Ncanga: Jalur ini unik karena dapat ditempuh menggunakan kendaraan off-road 4WD hingga Pos 3. Pengunjung akan melewati sabana terbuka yang terik namun indah.

2. Jalur Pancasila: Jalur paling populer bagi pendaki jalan kaki. Rute ini membelah hutan hujan yang sangat lebat dan lembap, memberikan tantangan berupa vegetasi yang rapat dan pacet, namun menawarkan keteduhan yang maksimal.

3. Jalur Piong: Jalur ini menawarkan pemandangan pesisir utara dan akses yang lebih terbuka.

4. Jalur Sanggar: Jalur yang menawarkan sisi sejarah dan akses langsung menuju titik tertinggi di bibir kawah.

Selain mendaki, wisata minat khusus seperti pengamatan burung (bird watching), fotografi lanskap, dan berkemah di bawah langit bertabur bintang (stargazing) menjadi daya tarik tambahan. Karena minimnya polusi cahaya, galaksi Bima Sakti seringkali terlihat dengan sangat jelas dari pos-pos pendakian yang tinggi.

#

Waktu Terbaik dan Variasi Musim

Waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Tambora adalah pada musim kemarau, antara bulan Juni hingga September. Pada periode ini, jalur pendakian cenderung kering dan tidak licin, serta langit biasanya cerah sehingga pemandangan ke dalam kaldera tidak tertutup kabut.

Pada bulan April, biasanya diadakan festival tahunan "Pesona Tambora" untuk memperingati meletusnya gunung ini sekaligus merayakan kekayaan budaya masyarakat Dompu. Sebaliknya, pada musim penghujan (Desember - Maret), pendakian biasanya lebih berisiko karena badai angin di puncak dan jalur yang tertutup longsoran kecil, sehingga otoritas taman nasional seringkali memberlakukan sistem buka-tutup jalur.

#

Status Konservasi dan Perlindungan Lingkungan

Sejak tahun 2015, kawasan ini telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Tambora. Status ini bertujuan untuk melindungi sisa-sisa hutan purba dan memulihkan ekosistem pasca-letusan. Pengelolaan lingkungan di sini cukup ketat; setiap pendaki diwajibkan melakukan registrasi dan membawa kembali sampah mereka. Upaya konservasi juga difokuskan pada perlindungan sumber mata air yang mengalir dari lereng Tambora, yang menjadi urat nadi kehidupan bagi pertanian di Kabupaten Dompu dan Bima.

#

Aksesibilitas dan Fasilitas

Menuju Gunung Tambora memerlukan perjalanan yang cukup panjang, namun setimpal dengan pemandangan yang didapat. Pintu masuk utama di Kabupaten Dompu dapat dicapai dari Kota Mataram (Lombok) melalui perjalanan darat dan penyeberangan feri selama kurang lebih 10-12 jam, atau melalui penerbangan ke Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima, dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 4-5 jam menuju Desa Pancasila atau Doro Ncanga.

Fasilitas di basecamp pendakian seperti di Desa Pancasila sudah cukup memadai, tersedia homestay milik warga lokal, pemandu (guide), serta porter. Namun, di dalam kawasan hutan dan sepanjang jalur pendakian, fasilitas sangat terbatas pada pos-pos peristirahatan sederhana tanpa sumber air yang kontinu di setiap titik, sehingga kemandirian logistik dan persiapan fisik sangat krusial.

#

Pengalaman Unik: "The Pump of Tomorrow"

Satu hal yang membedakan Tambora dengan gunung lain di Indonesia adalah kesunyiannya. Berbeda dengan Gunung Rinjani atau Semeru yang sangat ramai, Tambora menawarkan ketenangan dan privasi. Berdiri di puncaknya memberikan perspektif tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam. Jejak sejarah "Tahun Tanpa Musim Panas" (Year Without a Summer) yang dipicu oleh gunung ini memberikan dimensi edukasi yang kuat, menjadikan kunjungan ke Dompu bukan sekadar wisata fisik, melainkan sebuah perjalanan reflektif ke salah satu titik balik sejarah bumi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu
entrance fee
Rp 15.000 - Rp 150.000 (Domestik/Mancanegara)
opening hours
24 Jam (Disarankan pendakian pagi hari)

Tempat Menarik Lainnya di Dompu

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Dompu

Pelajari lebih lanjut tentang Dompu dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Dompu