Situs Sejarah

Betang Damang Batu

di Gunung Mas, Kalimantan Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Pendirian

Betang Damang Batu didirikan oleh seorang tokoh kharismatik dan pemimpin besar Dayak bernama Damang Batu. Pembangunan rumah betang ini diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-19. Damang Batu sendiri adalah sosok kepala suku yang memiliki visi jauh ke depan melampaui zamannya. Ia menyadari bahwa konflik antar-suku (asang) dan tradisi mengayau (headhunting) yang marak saat itu hanya akan membawa kepunahan bagi populasi Dayak.

Lokasi pemilihan di Tumbang Anoi, yang berada di hulu Sungai Kahayan, bukan tanpa alasan. Wilayah ini dianggap sebagai titik pertemuan yang netral dan sakral. Di tempat inilah, Damang Batu membangun kediamannya yang kemudian bertransformasi menjadi pusat diplomasi antar-sub-suku Dayak dari berbagai penjuru Kalimantan, termasuk mereka yang berasal dari wilayah yang sekarang menjadi Malaysia dan Brunei Darussalam.

Arsitektur dan Detail Konstruksi Tradisional

Secara arsitektural, Betang Damang Batu merepresentasikan kemegahan struktur Longhouse khas Dayak Ngaju dengan skala yang masif. Bangunan ini berbentuk panggung dengan ketinggian tiang mencapai 3 hingga 5 meter di atas permukaan tanah, sebuah desain fungsional untuk menghindari serangan binatang buas dan musuh, serta mengantisipasi luapan air sungai.

Konstruksi utamanya menggunakan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi, yang dikenal karena ketahanannya terhadap cuaca ekstrem dan rayap selama ratusan tahun. Tiang-tiang penyangga utama (saka guru) ditanam jauh ke dalam tanah dengan diameter yang sangat besar. Dindingnya terbuat dari kepingan kayu ulin yang disusun rapi, sementara atapnya secara tradisional menggunakan sirap kayu ulin.

Keunikan Betang Damang Batu terletak pada detail ukirannya. Terdapat motif Batang Garing (Pohon Kehidupan) yang mendominasi beberapa bagian pilar, melambangkan keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah. Di bagian depan, terdapat Hejan (tangga) tunggal yang terbuat dari batang pohon utuh yang diberi takikan, yang secara adat dapat ditarik ke atas pada malam hari atau saat terjadi ancaman keamanan.

Signifikansi Sejarah: Perjanjian Tumbang Anoi 1894

Peristiwa paling fenomenal yang melekat pada situs ini adalah Pertemuan Tumbang Anoi (Rapat Damai Tumbang Anoi) yang berlangsung pada tahun 1894. Pertemuan besar ini diinisiasi oleh Damang Batu bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda (melalui kontrol kontrolir Belanda) untuk menghentikan tradisi "Mengayau" dan "Hapunu" (saling bunuh).

Selama berbulan-bulan, lebih dari 1.000 delegasi dari berbagai suku Dayak berkumpul di sekitar Betang Damang Batu. Hasil dari pertemuan ini adalah 96 pasal hukum adat yang disepakati bersama, yang dikenal sebagai Hukum Adat Tumbang Anoi. Kesepakatan ini secara resmi menghapuskan perbudakan dan tradisi memburu kepala, serta menggantinya dengan sistem denda adat (jipen). Peristiwa ini adalah tonggak sejarah di mana identitas Dayak bertransformasi dari masyarakat yang terfragmentasi menjadi satu kesatuan bangsa yang menjunjung tinggi kedamaian.

Tokoh Penting dan Warisan Kepemimpinan

Nama Damang Batu sendiri telah menjadi legenda. Beliau digambarkan sebagai diplomat ulung yang mampu meredam ego para kepala suku besar (Panglima) yang memiliki kekuatan supranatural tinggi. Keberhasilannya mengumpulkan para pemimpin yang sebelumnya saling berperang di bawah satu atap Betang adalah pencapaian sosiopolitik yang luar biasa pada masa itu.

Selain Damang Batu, situs ini juga berkaitan erat dengan tokoh-tokoh penerusnya yang menjaga kestabilan wilayah hulu Kahayan. Betang ini menjadi sekolah kehidupan bagi para tokoh adat Kalimantan Tengah dalam mempelajari cara resolusi konflik tanpa pertumpahan darah.

Keadaan Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Betang Damang Batu telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga keutuhannya. Mengingat usianya yang sudah lebih dari satu abad, banyak bagian kayu yang mulai mengalami pelapukan. Pemerintah Kabupaten Gunung Mas bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah secara berkala melakukan perbaikan tanpa mengubah bentuk asli bangunan.

Restorasi besar terakhir difokuskan pada penguatan struktur bawah dan penggantian atap sirap. Meskipun beberapa elemen modern seperti paku besi telah digunakan untuk memperkuat struktur dalam perbaikan terbaru, esensi dari rumah kayu tradisional ini tetap dipertahankan. Lingkungan di sekitar betang juga ditata menjadi kawasan wisata sejarah yang edukatif, lengkap dengan monumen peringatan Perjanjian Tumbang Anoi.

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Dayak saat ini, Betang Damang Batu adalah "Tanah Suci" perdamaian. Secara religi, tempat ini sering menjadi lokasi upacara adat Mamapas Lewu (pembersihan desa) atau ritual syukur lainnya. Masyarakat percaya bahwa roh para leluhur masih menjaga tempat ini, sehingga setiap pengunjung diwajibkan mematuhi tata krama dan hukum adat setempat.

Nilai filosofis "Rumah Betang" yang menekankan pada kebersamaan, toleransi, dan musyawarah sangat terasa di situs ini. Di dalam aula besarnya, perbedaan sub-suku, bahasa, dan keyakinan melebur menjadi satu semangat "Huma Betang" (Rumah Besar), yang hingga kini menjadi filosofi dasar pembangunan di Kalimantan Tengah.

Penutup dan Nilai Keunikan

Fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Betang Damang Batu merupakan salah satu dari sedikit betang asli yang tidak pernah berpindah lokasi sejak awal pendiriannya, berbeda dengan banyak rumah betang lain yang sering berpindah mengikuti ladang atau karena menghindari bencana. Keberadaannya yang statis selama lebih dari 130 tahun menjadikan tanah di bawahnya memiliki nilai arkeologis yang tinggi.

Betang Damang Batu di Gunung Mas bukan sekadar objek wisata. Ia adalah monumen kemanusiaan yang membuktikan bahwa melalui musyawarah dan kebijaksanaan lokal, konflik berdarah selama berabad-abad dapat diakhiri. Mengunjungi situs ini berarti menelusuri jejak lahirnya perdamaian di tanah Borneo, sebuah warisan kebudayaan yang nilainya tak lekang oleh waktu bagi bangsa Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu, Gunung Mas
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Gunung Mas

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Gunung Mas

Pelajari lebih lanjut tentang Gunung Mas dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Gunung Mas