Monumen Tambun Bungai
di Gunung Mas, Kalimantan Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-usul Historis dan Latar Belakang Pendirian
Secara historis, pembangunan Monumen Tambun Bungai didasari oleh keinginan untuk mengabadikan heroisme dua bersaudara (paman dan keponakan) yang hidup pada masa lampau di daerah aliran sungai Kahayan. Tambun dan Bungai dikenal sebagai pejuang yang tak gentar mempertahankan wilayah dan martabat sukunya dari gangguan pihak luar serta ancaman kolonialisme dalam bentuk-bentuk awalnya.
Pemerintah daerah, bersama dengan para tokoh adat Dayak, memprakarsai pembangunan monumen ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Pendiriannya bertujuan agar nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan persatuan yang dimiliki Tambun dan Bungai tetap terpatri dalam sanubari generasi muda. Di Kabupaten Gunung Mas, situs ini dianggap sebagai titik sakral yang melambangkan kejayaan leluhur di tanah Borneo.
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Monumen Tambun Bungai menampilkan gaya arsitektur yang kental dengan ornamen khas Dayak. Struktur utamanya mencakup patung dua sosok pahlawan tersebut yang digambarkan dalam posisi siap siaga, mengenakan pakaian adat perang lengkap dengan senjata tradisionalnya.
1. Mandau dan Talawang: Detail konstruksi sangat memperhatikan aspek akurasi budaya. Ukiran pada Talawang (perisai) yang dipegang oleh patung tersebut menunjukkan motif tradisional yang rumit, yang dalam kepercayaan lokal berfungsi sebagai pelindung spiritual sekaligus fisik.
2. Relief Dasar: Pada bagian bawah monumen, terdapat relief yang menceritakan fragmen kehidupan masyarakat Dayak masa lalu, mulai dari kegiatan berburu, bertani, hingga suasana peperangan dalam membela desa.
3. Material: Konstruksi monumen menggunakan material yang tahan lama untuk menghadapi iklim tropis Kalimantan yang ekstrem. Penggunaan batu alam dan beton bertulang memberikan kesan kokoh, mencerminkan karakter Tambun dan Bungai yang tak tergoyahkan.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Tambun dan Bungai adalah tokoh yang diberikan gelar pahlawan oleh masyarakat lokal karena kemampuan tempur dan kecerdasan strategi mereka. Dalam sejarah lisan (oral history) suku Dayak, mereka dikisahkan memiliki kesaktian dan kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai faksi suku untuk melawan penindasan.
Salah satu peristiwa penting yang dikaitkan dengan semangat Tambun Bungai adalah "Perjanjian Tumbang Anoi" tahun 1894. Meskipun Tambun dan Bungai hidup jauh sebelum pertemuan besar itu terjadi, semangat perdamaian dan pertahanan kedaulatan yang mereka rintis menjadi inspirasi bagi para kepala suku saat berkumpul di Gunung Mas untuk menghentikan tradisi mengayau (memenggal kepala) dan bersatu melawan penjajah Belanda. Monumen ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Dayak terletak pada persatuan, sebuah prinsip yang diwariskan oleh kedua tokoh tersebut.
Tokoh Penting dan Kaitan Zaman
Nama Tambun dan Bungai begitu melekat dalam struktur pemerintahan dan militer di Kalimantan Tengah. Nama mereka diabadikan sebagai nama Komando Resor Militer (Korem) 102/Panju Panjung dan berbagai institusi pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh mereka melampaui batas zaman prasejarah atau era kolonial, masuk ke dalam tatanan birokrasi modern.
Di Kabupaten Gunung Mas, tokoh-tokoh adat sering kali mengadakan ritual di sekitar monumen untuk meminta restu kepada leluhur saat akan melaksanakan acara besar daerah. Hal ini membuktikan bahwa Tambun dan Bungai bukan sekadar mitos, melainkan tokoh sejarah yang spiritualitasnya masih dirasakan hingga kini.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai salah satu situs sejarah utama di Kalimantan Tengah, Monumen Tambun Bungai mendapatkan perhatian khusus dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Upaya pelestarian dilakukan secara berkala melalui pembersihan fisik patung dan penataan lingkungan sekitar agar tetap asri.
Restorasi pernah dilakukan pada bagian cat dan pembersihan lumut yang sering tumbuh akibat kelembapan tinggi di pedalaman Kalimantan. Selain itu, pemerintah daerah terus berupaya mendaftarkan situs-situs terkait Tambun dan Bungai sebagai Cagar Budaya nasional untuk memastikan perlindungan hukum yang lebih kuat serta alokasi dana perawatan yang berkesinambungan.
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Dayak, Monumen Tambun Bungai bukan hanya objek wisata. Ada dimensi religius yang melingkupinya, terutama bagi penganut agama Hindu Kaharingan. Sosok Tambun dan Bungai dipandang sebagai manusia unggul yang telah mencapai tingkat keberadaan yang mulia di alam setelah kehidupan (Lewu Tatau).
Situs ini sering menjadi latar belakang upacara adat, di mana doa-doa dipanjatkan agar semangat keberanian mereka menular kepada para pemimpin masa kini. Budaya menghormati leluhur melalui monumen ini merupakan bentuk nyata dari filosofi "Belom Bahadat" (Hidup Beradat), di mana setiap langkah kehidupan harus menghargai akar sejarah.
Fakta Unik Sejarah
Ada beberapa fakta unik yang jarang diketahui publik mengenai Tambun dan Bungai:
- Simbolisme Warna: Dalam beberapa interpretasi visual di monumen, sering muncul warna kuning, merah, dan putih yang melambangkan kesucian, keberanian, dan kemurnian tujuan—tiga pilar utama filosofi hidup Tambun dan Bungai.
- Hubungan Darah: Uniknya, meskipun sering disebut sebagai pasangan pahlawan, mereka adalah paman dan keponakan. Tambun adalah sang paman yang bijak, sementara Bungai adalah keponakan yang tangkas dan energik. Keduanya merupakan kombinasi sempurna antara hikmat ketuaan dan semangat kemudaan.
- Kaitan dengan Alam: Lokasi monumen di Gunung Mas sengaja dipilih karena daerah ini dianggap sebagai wilayah asal-usul atau "tanah keramat" di mana jejak-jejak fisik kehidupan mereka diyakini pernah ada, termasuk situs pemandian dan tempat pertapaan yang tersebar di wilayah hutan sekitarnya.
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Monumen Tambun Bungai di Kabupaten Gunung Mas berdiri sebagai mercusuar identitas. Melalui struktur ini, sejarah panjang suku Dayak dalam menjaga kedaulatan tanahnya diceritakan kembali kepada setiap pengunjung. Keberadaannya memastikan bahwa nama Tambun dan Bungai tidak akan hilang ditelan waktu, melainkan terus menginspirasi pembangunan Kalimantan Tengah yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur keberanian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Dengan menjaga monumen ini, masyarakat Gunung Mas sebenarnya sedang menjaga jiwa dan martabat mereka sendiri.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Gunung Mas
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Gunung Mas
Pelajari lebih lanjut tentang Gunung Mas dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Gunung Mas