Situs Sejarah

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq

di Indragiri Hilir, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Tuan Guru Sapat: Sejarah dan Signifikansi Makam Syekh Abdurrahman Siddiq

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq bukan sekadar sebuah kompleks pemakaman religi, melainkan simbol intelektualitas Islam dan pusat penyebaran dakwah di wilayah pesisir timur Sumatra. Terletak di Dusun Parit Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, situs ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang ulama karismatik yang pengaruhnya menjangkau hingga ke Semenanjung Malaya dan Kalimantan.

#

Asal-Usul Historis dan Sosok Tuan Guru Sapat

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif bin Jamaluddin Al-Banjari, yang lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru Sapat, lahir di Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1857. Silsilahnya bersambung langsung kepada ulama besar Nusantara, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (penulis Kitab Sabilal Muhtadin). Kehadirannya di Indragiri Hilir bermula dari perjalanan panjang menuntut ilmu ke Mekkah selama hampir 30 tahun.

Setelah kembali dari Tanah Suci, beliau menetap di Sapat, Indragiri Hilir, atas undangan Sultan Indragiri pada masa itu. Pada tahun 1910, beliau diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri oleh Sultan Maharaja Tengku Sulaiman. Penunjukan ini menandai era keemasan hukum Islam dan pendidikan di wilayah tersebut. Syekh Abdurrahman Siddiq menetap di wilayah ini hingga wafat pada tanggal 10 Maret 1939 (4 Syaโ€™ban 1358 Hijriah), dan di lokasi kediamannya pulalah beliau dimakamkan.

#

Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi

Kompleks Makam Syekh Abdurrahman Siddiq memiliki karakteristik arsitektur yang memadukan corak Melayu, Banjar, dan pengaruh kolonial pada masanya. Bangunan utama yang menaungi makam berbentuk rumah panggung dengan atap tumpang (tumpang dua), yang merupakan ciri khas arsitektur masjid dan bangunan suci tradisional di Nusantara.

Struktur utama bangunan didominasi oleh kayu ulin (kayu besi) yang terkenal sangat kuat dan awet, mencerminkan ketahanan fisik bangunan terhadap iklim tropis yang lembap di pinggiran sungai. Di dalam cungkup makam, nisan Syekh Abdurrahman Siddiq memiliki ukiran kaligrafi Arab yang halus, memuat identitas dan tanggal wafat beliau.

Salah satu keunikan konstruksi di sekitar lokasi makam adalah keberadaan parit-parit yang tertata rapi. Syekh Abdurrahman Siddiq dikenal sebagai ahli irigasi; beliau sendiri yang merancang sistem tata air (Parit Hidayat) untuk mengubah lahan rawa menjadi perkebunan kelapa yang produktif. Arsitektur lingkungan ini menjadikan situs makam terintegrasi dengan kearifan lokal dalam mengelola alam.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Situs ini menjadi penting karena mewakili sejarah integrasi antara ulama dan birokrasi kesultanan. Sebagai Mufti, Syekh Abdurrahman Siddiq tidak hanya mengurus masalah ibadah, tetapi juga menjadi penasihat hukum bagi Kesultanan Indragiri. Peristiwa penting yang melekat pada situs ini adalah prosesi pemakaman beliau pada tahun 1939 yang dihadiri oleh ribuan pelayat dari berbagai penjuru, termasuk perwakilan Kesultanan Indragiri dan Kesultanan Banjar.

Selain itu, situs ini berkaitan erat dengan sejarah literatur Islam. Di lokasi ini pula, beliau menulis banyak karya monumental, salah satunya adalah kitab Asrar al-Shalah dan Amal Ma'rifat. Keberadaan makam ini menjadi bukti fisik bahwa Indragiri Hilir pernah menjadi pusat intelektual Islam yang disegani di Asia Tenggara, di mana para penuntut ilmu dari Malaysia, Singapura, dan Thailand sering berkunjung untuk berguru.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Tokoh utama yang terikat dengan situs ini tentu saja Syekh Abdurrahman Siddiq. Namun, terdapat tokoh lain seperti Sultan Maharaja Tengku Sulaiman (Sultan Indragiri ke-24) yang merupakan pelindung dan sahabat sang Syekh. Periode keberadaan situs ini mencakup masa akhir kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia. Pengaruh Syekh Abdurrahman Siddiq sangat besar dalam membentengi akidah masyarakat setempat dari pengaruh budaya Barat yang dibawa oleh kolonialisme, menjadikannya tokoh sentral dalam perlawanan kultural melalui pendidikan.

#

Status Preservasi dan Upaya Restoran

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dan dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya. Upaya preservasi dilakukan secara berkala untuk menjaga keaslian material kayu ulin pada bangunan makam.

Restoran besar terakhir dilakukan dengan memperbaiki akses jalan menuju lokasi serta membangun fasilitas pendukung bagi peziarah tanpa mengubah struktur utama makam. Pemerintah Provinsi Riau juga telah memasukkan situs ini ke dalam peta wisata religi utama di Riau. Meskipun telah ada renovasi pada bagian lantai dan pagar luar, bagian inti makam tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya untuk menjaga nilai historisnya.

#

Kepentingan Budaya dan Religius

Bagi masyarakat Indragiri Hilir dan etnis Banjar di perantauan, makam ini adalah simbol identitas. Setiap tahun, terutama pada bulan Sya'ban, ribuan orang berkumpul di situs ini untuk memperingati Haul Syekh Abdurrahman Siddiq. Tradisi Haul ini telah menjadi bagian dari kalender wisata budaya Riau, yang mempertemukan berbagai suku bangsa dalam satu ikatan religius.

Secara kultural, situs ini mengajarkan tentang etos kerja. Syekh Abdurrahman Siddiq dikenal sebagai ulama yang mandiri secara ekonomi melalui berkebun kelapa. Hal ini memengaruhi budaya masyarakat Sapat yang hingga kini mayoritas adalah petani kelapa yang taat beragama, mengikuti teladan dari Tuan Guru mereka.

#

Fakta Sejarah Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Syekh Abdurrahman Siddiq pernah ditawarkan jabatan Mufti di Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda, namun beliau menolaknya dan lebih memilih menetap di Sapat untuk membangun masyarakat pedesaan. Selain itu, jam matahari (penunjuk waktu salat) yang beliau buat masih menjadi bahan studi bagi para peneliti astronomi Islam di wilayah Riau.

Makam Syekh Abdurrahman Siddiq bukan sekadar tumpukan batu nisan, melainkan monumen hidup yang terus memancarkan pengaruh spiritual dan intelektual. Keberadaannya di tengah perkebunan kelapa di pinggir sungai menjadi pengingat akan sosok ulama multidimensi yang mampu menyatukan urusan duniawi dan ukhrawi dalam satu harmoni sejarah.

๐Ÿ“‹ Informasi Kunjungan

address
Dusun Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuala Indragiri
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Indragiri Hilir

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Indragiri Hilir

Pelajari lebih lanjut tentang Indragiri Hilir dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Indragiri Hilir