Masjid Agung Al-Azhar
di Jakarta Selatan, Jakarta
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Masjid Agung Al-Azhar: Simfoni Modernisme dan Spiritualitas di Jantung Jakarta Selatan
Masjid Agung Al-Azhar bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen peradaban yang menandai transisi arsitektur Islam di Indonesia dari gaya tradisional menuju modernisme fungsional. Berlokasi strategis di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, masjid ini berdiri tegak sebagai identitas visual kota yang memadukan kesederhanaan bentuk dengan kedalaman makna spiritual.
#
Konteks Historis dan Visi Pembangunan
Pembangunan Masjid Agung Al-Azhar dimulai pada tahun 1953 atas inisiatif tokoh-tokoh dari Partai Masyumi dan dukungan masyarakat Kebayoran Baru yang saat itu merupakan kawasan satelit modern pertama di Indonesia. Selesai dibangun pada tahun 1958, masjid ini awalnya dikenal dengan nama Masjid Agung Kebayoran.
Nama "Al-Azhar" baru disematkan pada tahun 1960-an oleh Grand Syekh Universitas Al-Azhar Mesir, Mahmoud Shaltout, saat berkunjung ke Jakarta. Beliau sangat terkesan dengan peran masjid ini dalam pendidikan dan dakwah, sehingga menyarankan agar masjid ini dinamakan Al-Azhar, merujuk pada institusi pendidikan Islam tertua di dunia. Di bawah kepemimpinan ulama besar Buya Hamka, masjid ini menjadi pusat intelektual Islam yang sangat berpengaruh di tanah air.
#
Filosofi Desain dan Gaya Arsitektur
Secara arsitektural, Masjid Agung Al-Azhar mengadopsi gaya Modernis-Minimalis yang sangat maju pada masanya. Berbeda dengan masjid-masjid kuno di Jawa yang menggunakan atap tumpang kayu (seperti Masjid Demak), Al-Azhar berani tampil beda dengan dominasi warna putih bersih dan penggunaan beton bertulang.
Prinsip desainnya mengacu pada estetika Timur Tengah yang disederhanakan. Tidak ada ornamen yang berlebihan atau kerumitan ukiran yang mendistraksi jemaah. Filosofi utamanya adalah "kesucian dalam kesederhanaan." Warna putih yang mendominasi seluruh fasad bangunan menyimbolkan kemurnian niat dalam beribadah kepada Sang Pencipta.
#
Karakteristik Struktural dan Inovasi Desain
Salah satu fitur arsitektural yang paling mencolok dari Masjid Agung Al-Azhar adalah kubah utamanya. Kubah ini berbentuk setengah lingkaran sempurna dengan struktur beton tipis (shell structure) yang mencerminkan teknologi konstruksi modern tahun 1950-an. Di atas kubah terdapat ornamen bulan bintang yang menjadi penanda ikonik dari kejauhan.
Selain kubah, keberadaan menara tunggal yang menjulang tinggi memberikan keseimbangan vertikal terhadap bangunan utama yang cenderung melebar secara horizontal. Menara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengeras suara azan, tetapi juga sebagai "landmark" visual bagi kawasan Kebayoran Baru.
Bagian interior masjid dirancang dengan konsep ruang terbuka tanpa banyak pilar di tengah ruang utama shalat. Hal ini memungkinkan saf jemaah terbentuk secara lurus dan tidak terputus, sebuah aspek fungsional penting dalam syariat Islam. Pencahayaan alami diperoleh melalui jendela-jendela tinggi dengan kisi-kisi geometris yang juga berfungsi sebagai ventilasi silang, memastikan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun tanpa penggunaan pendingin udara yang masif pada masanya.
#
Elemen Unik: Mihrab dan Ornamen Geometris
Mihrab Masjid Agung Al-Azhar merupakan salah satu elemen yang paling estetis. Area imam ini didesain dengan lengkungan yang bersih, dibingkai dengan kaligrafi Arab yang halus namun tegas. Berbeda dengan masjid modern saat ini yang sering menggunakan material metal atau kaca, Al-Azhar tetap mempertahankan sentuhan klasik melalui penggunaan material batu alam dan pengerjaan plesteran yang rapi.
Penggunaan pola geometris pada pagar, ventilasi, dan pintu-pintu kayu jati berukuran besar menunjukkan pengaruh kuat arsitektur Islam klasik yang diterjemahkan ke dalam bahasa modern. Pola-pola ini tidak hanya berfungsi dekoratif, tetapi juga sebagai pengingat akan keteraturan alam semesta dalam perspektif ketuhanan.
#
Peran Sosial dan Integrasi Kawasan
Masjid Agung Al-Azhar adalah pionir dalam konsep "Masjid Universitas" di Indonesia. Sejak awal, kompleks ini dirancang terintegrasi dengan lembaga pendidikan (TK hingga Universitas). Secara arsitektural, hal ini terlihat dari tata ruang yang menyatukan aula pertemuan (Aula Buya Hamka), ruang-ruang kelas, dan perpustakaan dalam satu kawasan yang harmonis.
Area selasar yang luas dan terbuka sering digunakan sebagai ruang sosial bagi jemaah. Desain selasar ini mendukung interaksi antar-warga, menjadikan masjid bukan sekadar tempat ritual shalat, melainkan ruang publik yang demokratis. Taman-taman hijau di sekeliling masjid memberikan kontribusi pada ekosistem mikro di Jakarta Selatan, menjadikannya oase di tengah padatnya gedung-gedung perkantoran.
#
Upaya Pelestarian dan Pengalaman Pengunjung
Sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Masjid Agung Al-Azhar tetap mempertahankan keaslian bentuknya meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi minor untuk perawatan. Pengunjung yang datang akan merasakan atmosfer retro-modern yang kuat. Lantai marmer yang dingin, aroma kayu jati dari pintu-pintu besar, dan gema suara yang jernih di bawah kubah beton menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam.
Pengalaman berkunjung ke Al-Azhar dimulai dari gerbang utama yang menghadap Jalan Sisingamangaraja. Dari sini, pengunjung disambut oleh kemegahan fasad putih yang kontras dengan langit biru Jakarta. Pada malam hari, pencahayaan yang tertata rapi menonjolkan siluet kubah dan menara, menjadikannya salah satu objek fotografi arsitektur paling menarik di Jakarta Selatan.
#
Kesimpulan: Warisan Abadi Modernisme Islam
Masjid Agung Al-Azhar adalah bukti nyata bahwa arsitektur Islam dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan esensi spiritualitasnya. Keberanian para perancangnya untuk meninggalkan pola tradisional demi fungsionalitas modern telah menjadikan masjid ini sebagai standar bagi pembangunan masjid-masjid besar lainnya di Indonesia pada dekade-dekade berikutnya.
Hingga saat ini, Al-Azhar tetap berdiri sebagai simbol intelektualisme Islam di Jakarta. Ia bukan hanya sebuah struktur beton, baja, dan marmer, melainkan sebuah narasi tentang sejarah kemerdekaan bangsa, perkembangan kota Jakarta, dan komitmen untuk terus memuliakan ilmu pengetahuan di bawah naungan iman. Keagungan arsitekturnya yang tak lekang dimakan waktu menjadikannya warisan budaya yang tak ternilai bagi rakyat Indonesia.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Selatan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Jakarta Selatan
Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Jakarta Selatan