Situs Sejarah

Museum Satriamandala

di Jakarta Selatan, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Latar belakang berdirinya Museum Satriamandala tidak dapat dipisahkan dari gagasan besar Nugroho Notosusanto, seorang sejarawan militer terkemuka yang kemudian menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada akhir 1960-an, muncul kesadaran akan pentingnya sebuah pusat dokumentasi sejarah perjuangan TNI yang representatif.

Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 5 Oktober 1972, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ABRI (sekarang TNI) yang ke-27. Nama "Satriamandala" sendiri diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti "lingkungan keramat para ksatria". Pemilihan lokasi di Jakarta Selatan dianggap strategis karena wilayah ini merupakan jantung administratif dan militer ibu kota yang sedang berkembang pesat pada masa itu.

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Wisma Yaso

Salah satu aspek paling unik dari Museum Satriamandala adalah bangunannya. Sebelum menjadi museum, kompleks ini merupakan sebuah rumah tinggal yang dikenal dengan nama Wisma Yaso. Dibangun pada era 1960-an, Wisma Yaso awalnya diperuntukkan bagi Ratna Sari Dewi Soekarno, istri Presiden Soekarno.

Secara arsitektural, bangunan utama mencerminkan gaya modernisme Indonesia pertengahan abad ke-20 dengan sentuhan tropis. Namun, nilai sejarah bangunan ini jauh melampaui estetika arsitekturnya. Wisma Yaso adalah tempat di mana Presiden Soekarno menghabiskan hari-hari terakhirnya sebagai tahanan rumah setelah peristiwa G30S/PKI. Di gedung inilah Sang Proklamator menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Juni 1970 sebelum akhirnya dimakamkan di Blitar. Transformasi Wisma Yaso menjadi museum militer merupakan langkah politik dan sejarah yang besar untuk mengubah fungsi sebuah kediaman pribadi menjadi ruang publik yang edukatif.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Museum Satriamandala menyimpan ribuan koleksi yang mencakup periode penting dalam sejarah Indonesia. Signifikansi utamanya terletak pada kemampuannya menyajikan narasi pertahanan bangsa secara komprehensif. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan evolusi persenjataan, dari bambu runcing yang digunakan selama masa revolusi hingga alutsista (alat utama sistem persenjataan) modern.

Peristiwa sejarah yang terekam di sini mencakup masa Perang Kemerdekaan (1945-1949), penumpasan pemberontakan domestik seperti DI/TII, PRRI/Permesta, hingga operasi besar seperti Operasi Trikora dan Dwikora. Museum ini berfungsi sebagai pengingat akan pengorbanan para prajurit dalam menjaga integritas wilayah NKRI.

Tokoh Penting dan Koleksi Monumental

Dua tokoh sentral yang sangat lekat dengan identitas museum ini adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Di dalam gedung utama, terdapat ruangan khusus yang didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa mereka. Salah satu koleksi paling ikonik adalah tandu asli yang digunakan untuk mengusung Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya dalam keadaan sakit parah.

Selain itu, museum ini memiliki area luar ruangan (outdoor) yang memamerkan berbagai alutsista raksasa, seperti:

1. Pesawat Cureng: Pesawat terbang pertama milik Republik Indonesia yang digunakan untuk misi pengeboman dan penyebaran pamflet.

2. Pesawat RI-1 Seulawah: Replika pesawat DC-3 Dakota yang dibeli dari sumbangan rakyat Aceh untuk membantu perjuangan kemerdekaan.

3. Koleksi Tank dan Panser: Berbagai kendaraan tempur lapis baja yang digunakan dalam berbagai operasi militer di tanah air.

4. KRI Pattimura: Bagian-bagian dari kapal perang yang pernah memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut.

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai situs sejarah di bawah pengelolaan Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI, Museum Satriamandala terus mengalami upaya pemeliharaan secara berkala. Statusnya sebagai bangunan cagar budaya menuntut standar perawatan yang ketat untuk menjaga keaslian struktur Wisma Yaso.

Dalam beberapa tahun terakhir, museum ini telah melakukan modernisasi dalam penyajian informasinya. Restorasi tidak hanya dilakukan pada fisik bangunan dan alutsista yang terpapar cuaca, tetapi juga pada digitalisasi arsip-arsip sejarah. Upaya revitalisasi ini bertujuan agar museum tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z, dengan menambahkan fasilitas ruang terbuka hijau, area kreatif, dan kafe tanpa menghilangkan esensi sejarahnya yang sakral.

Kepentingan Budaya dan Edukasi

Meskipun berfokus pada sejarah militer, Museum Satriamandala memiliki dimensi budaya yang kuat. Ia merepresentasikan "Budaya Juang" bangsa Indonesia. Museum ini sering menjadi pusat kegiatan upacara militer, kunjungan sekolah, hingga penelitian akademis. Keberadaan Museum Waspada Purbawisesa di dalam kompleks yang sama—yang khusus mendokumentasikan sejarah penumpasan pemberontakan DI/TII—menambah nilai edukasi mengenai bahaya radikalisme dan pentingnya persatuan nasional.

Fakta Unik Sejarah

Ada satu fakta yang jarang diketahui publik secara luas: selain sebagai tempat wafatnya Bung Karno, Wisma Yaso (Museum Satriamandala) dulunya memiliki desain taman yang sangat asri yang dirancang langsung untuk kenyamanan keluarga presiden. Selain itu, koleksi atribut militer di museum ini termasuk yang terlengkap di Asia Tenggara, mencakup medali-medali penghargaan, seragam dari berbagai angkatan, hingga dokumen asli strategi perang gerilya yang kini dipelajari di berbagai akademi militer dunia.

Dengan luas lahan sekitar 5,6 hektar, Museum Satriamandala tetap berdiri sebagai penjaga memori kolektif bangsa. Ia mengingatkan setiap pengunjung bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan bersenjata dan diplomasi yang panjang, yang terekam abadi dalam setiap sudut ruangan di Jakarta Selatan ini.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Gatot Subroto No. 14, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 14:30

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Selatan