Situs Sejarah

Candi Rimbi

di Jombang, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Keagungan Majapahit di Kaki Gunung Anjasmoro: Sejarah Lengkap Candi Rimbi

Candi Rimbi, yang secara administratif terletak di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, merupakan salah satu monumen arkeologis paling signifikan yang menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Majapahit. Terletak di rute menuju Wonosalam, di kaki lereng Gunung Anjasmoro, candi ini tidak sekadar tumpukan batu andesit, melainkan simbol pemuliaan terhadap sosok perempuan agung dalam sejarah Nusantara.

#

Asal-Usul dan Periodisasi Pembangunan

Candi Rimbi dibangun pada abad ke-14 Masehi, tepatnya pada masa transisi menuju puncak kejayaan Majapahit. Berdasarkan analisis gaya seni (stilistik) pada relief dan arca yang ditemukan, para ahli arkeologi bersepakat bahwa candi ini didirikan sebagai pendharmaan atau tempat penghormatan suci.

Nama "Rimbi" sendiri secara lokal dikaitkan dengan tokoh pewayangan Arimbi, istri dari Werkudara (Bima). Namun, secara historis-epigrafis, candi ini merupakan tempat pemuliaan bagi Tribhuwana Wijayatunggadewi, penguasa ketiga Majapahit yang memerintah antara tahun 1328 hingga 1350 Masehi. Tribhuwana adalah ibu dari Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit. Pembangunan candi ini diperkirakan selesai sepenuhnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk sebagai bentuk pengabdian anak kepada ibundanya yang telah wafat.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Spesifik

Candi Rimbi memiliki karakteristik arsitektur yang unik jika dibandingkan dengan candi-candi di Jawa Tengah. Ia mengusung langgam Jawa Timuran dengan struktur yang lebih ramping dan menjulang. Bahan utama bangunannya adalah batu andesit, yang dipadukan dengan pondasi bata merah pada bagian bawahnya.

Secara struktural, bangunan ini berukuran sekitar 13,24 x 9,1 meter dengan tinggi yang tersisa saat ini sekitar 12 meter. Candi ini menghadap ke arah barat, sebuah orientasi yang umum ditemukan pada candi-candi bersifat pendharmaan di Jawa Timur. Salah satu keunikan teknis Candi Rimbi adalah keberadaan kaki candi yang bertingkat dua.

Pada bagian kaki candi, terdapat deretan relief yang dipahat dengan sangat halus. Relief-relief ini tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan filosofis. Terdapat sekitar 51 panel relief yang menggambarkan potongan cerita kehidupan manusia, meskipun beberapa bagian telah aus termakan usia. Yang menarik, teknik pemahatan pada Candi Rimbi menunjukkan transisi dari gaya naturalis ke gaya yang lebih datar (mirip wayang), yang menjadi ciri khas seni rupa Majapahit akhir.

#

Simbolisme Keagamaan dan Arca Dewi Parwati

Nilai historis paling krusial dari Candi Rimbi terletak pada penemuan arca utamanya. Di situs ini ditemukan sebuah arca Dewi Parwati yang sangat indah, yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta (dikenal sebagai Arca Parwati dari Rimbi).

Arca tersebut diyakini sebagai arca perwujudan (portrait statue) dari Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dalam teologi Hindu-Jawa, seorang raja atau ratu yang mangkat akan "disatukan" kembali dengan dewa pilihannya. Tribhuwana dipersonifikasikan sebagai Parwati, sakti (istri) dari Dewa Siwa, yang melambangkan kekuatan feminin, kesuburan, dan perlindungan. Penempatan arca ini di dalam garbagriha (ruang utama) menegaskan bahwa Candi Rimbi adalah candi bersifat Hindu-Siwa.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Terkait

Candi Rimbi memegang peranan penting dalam memahami struktur politik dan spiritual Majapahit. Lokasinya yang berada di pinggiran pusat administrasi (Trowulan) menunjukkan adanya penyebaran pengaruh budaya dan agama hingga ke wilayah pedalaman dan lereng gunung.

Secara khusus, Candi Rimbi sering dikaitkan dengan perjalanan Tirtha Yatra atau perjalanan suci para penguasa Majapahit. Dalam kitab Negarakretagama, disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk sering melakukan perjalanan keliling wilayah kekuasaannya untuk meninjau keadaan rakyat sekaligus berziarah ke tempat-tempat suci leluhurnya. Candi Rimbi merupakan salah satu titik penting dalam jaringan spiritualitas kerajaan yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan wingit di pegunungan.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Keberadaan Candi Rimbi pertama kali dilaporkan oleh peneliti Belanda, J. Knebel, pada tahun 1907 dalam kondisi yang cukup memprihatinkan; sebagian besar tubuh dan atap candi telah runtuh. Reruntuhan batu-batu andesit berserakan di sekitar pondasi akibat faktor alam seperti gempa bumi dan pertumbuhan vegetasi liar selama berabad-abad.

Restorasi besar-besaran dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Proses pemugaran dilakukan dengan metode anastilosis, yaitu menyusun kembali blok-blok batu asli ke posisi semula berdasarkan penelitian arsitektural yang mendalam. Meskipun saat ini bagian atap candi belum dapat dikonstruksi secara utuh karena hilangnya banyak bagian asli, bagian kaki dan badan candi yang berdiri tegak sudah cukup memberikan gambaran tentang kemegahan aslinya.

#

Fakta Unik dan Warisan Budaya

Salah satu fakta unik mengenai Candi Rimbi adalah ditemukannya relief yang menggambarkan flora dan fauna lokal secara mendetail, yang memberikan informasi pada sejarawan mengenai ekologi wilayah Jombang pada masa lampau. Selain itu, pola hiasan "Kala" (wajah raksasa) yang berada di atas ambang pintu candi memiliki ekspresi yang lebih "ramah" dibandingkan dengan candi-candi periode Jawa Tengah yang cenderung menyeramkan.

Bagi masyarakat sekitar, Candi Rimbi tetap dianggap sebagai tempat yang memiliki energi spiritual tinggi. Secara berkala, situs ini masih digunakan oleh umat Hindu maupun penganut aliran kepercayaan untuk melakukan upacara ritual atau meditasi, terutama pada hari-hari suci seperti malam satu Suro atau saat bulan purnama.

Sebagai situs sejarah, Candi Rimbi merupakan permata arkeologi di Jombang yang menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai kepemimpinan perempuan di masa lalu. Keberadaannya membuktikan bahwa pada abad ke-14, Nusantara telah memiliki standar estetika arsitektur yang sangat tinggi dan sistem penghormatan terhadap leluhur yang terorganisir dengan sangat rapi melalui pembangunan monumen-monumen abadi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Pulosari, Kec. Bareng, Kabupaten Jombang
entrance fee
Gratis / Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Jombang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jombang

Pelajari lebih lanjut tentang Jombang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jombang