Jombang

Common
Jawa Timur
Luas
1.124,82 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
7 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Jombang: Jantung Budaya Jawa Timur

Jombang, sebuah kabupaten seluas 1.124,82 km² yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, memiliki narasi sejarah yang mendalam dan berlapis. Secara etimologis, nama "Jombang" dipercaya berasal dari akronim bahasa Jawa “Ijo” (hijau) dan “Abang” (merah). Ijo melambangkan kaum santri yang religius, sementara Abang mewakili kaum abangan atau nasionalis, mencerminkan harmoni sosial yang menjadi ciri khas wilayah ini sejak lama.

Akar Kuno dan Era Kolonial

Jejak sejarah Jombang dapat ditarik hingga masa Kerajaan Majapahit. Wilayah ini dulunya merupakan bagian penting dari gerbang barat ibu kota Trowulan. Salah satu bukti arkeologis yang menonjol adalah Candi Arimbi di Desa Pulosari, Bareng, yang dibangun pada abad ke-14 sebagai penghormatan kepada Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Pada masa kolonial Belanda, Jombang awalnya merupakan bagian dari Karesidenan Surabaya (Regentschap Mojokerto). Namun, karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan darat, Jombang berkembang menjadi pusat industri gula. Berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda, Jombang resmi memisahkan diri dari Mojokerto dan memperoleh status kabupaten mandiri pada tanggal 21 Oktober 1910, dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat V sebagai bupati pertama.

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan

Jombang memiliki peran krusial dalam sejarah nasional Indonesia, terutama melalui peran para ulama. Pada tahun 1899, KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng yang menjadi pusat perlawanan intelektual dan spiritual terhadap penjajah. Di sinilah cikal bakal Nahdlatul Ulama (NU) lahir pada tahun 1926. Selama masa revolusi fisik, Jombang menjadi basis pertahanan penting. KH Wahid Hasyim dan tokoh-tokoh lokal lainnya aktif menggerakkan Laskar Hizbullah untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, terutama saat terjadi Pertempuran Surabaya 1945.

Warisan Budaya dan Identitas Lokal

Sebagai wilayah non-pesisir yang dikelilingi oleh tujuh wilayah tetangga—Lamongan, Mojokerto, Malang, Kediri, Nganjuk, dan Bojonegoro—Jombang menjadi titik temu berbagai pengaruh budaya. Salah satu warisan budaya tak benda yang paling ikonik adalah kesenian Wayang Topeng Jatiduwur dan tari Remo yang konon berakar dari kreativitas seniman Jombang. Selain itu, tradisi Unduh-Unduh di Mojowarno menunjukkan toleransi beragama yang tinggi, di mana komunitas Kristen setempat merayakan syukur hasil panen dengan akulturasi budaya Jawa yang kental.

Perkembangan Modern dan Julukan Kota Santri

Kini, Jombang dikenal secara nasional sebagai "Kota Santri". Julukan ini bukan sekadar label, melainkan representasi dari keberadaan ratusan pesantren besar seperti Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Secara administratif, pembangunan infrastruktur seperti Tol Trans-Jawa telah mentransformasi Jombang menjadi koridor ekonomi vital di Jawa Timur. Meski modernisasi terus berjalan, pelestarian situs sejarah seperti Ringin Contong—yang dianggap sebagai titik nol kilometer Jombang—tetap dijaga sebagai simbol identitas bagi masyarakatnya. Jombang tetap berdiri teguh sebagai pilar penting yang menghubungkan masa lalu kebesaran Majapahit dengan masa depan Indonesia modern.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Jombang, Jawa Timur

Kabupaten Jombang merupakan wilayah yang memiliki karakteristik geografis unik karena posisinya yang strategis di persimpangan jalur lintas selatan dan utara Jawa Timur. Terletak di tengah Pulau Jawa, wilayah ini dikelilingi oleh daratan dan tidak memiliki garis pantai, menjadikannya daerah pedalaman yang subur dengan luas wilayah mencapai 1.124,82 km². Secara administratif, Jombang dikelilingi oleh tujuh wilayah yang saling berbatasan langsung: Kabupaten Lamongan di utara, Kabupaten Mojokerto di timur, Kabupaten Malang dan Kediri di selatan, serta Kabupaten Nganjuk dan Bojonegoro di barat.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Jombang sangat bervariasi, yang secara umum terbagi menjadi tiga zona utama. Bagian utara didominasi oleh perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, dengan kontur tanah yang cenderung tandus dan bergelombang. Bagian tengah merupakan dataran rendah yang sangat subur, yang menjadi pusat pemukiman dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, bagian tenggara merupakan wilayah dataran tinggi yang merupakan kaki Gunung Anjasmoro. Puncak tertinggi di wilayah ini berada di Kecamatan Wonosalam, yang menyajikan pemandangan lembah curam dan tebing-tebing hijau yang menjadi hulu bagi banyak sumber mata air.

##

Hidrografi dan Aliran Sungai

Salah satu fitur geografis paling vital di Jombang adalah keberadaan Sungai Brantas. Sungai terpanjang di Jawa Timur ini membelah kabupaten menjadi dua bagian: utara dan selatan. Aliran Brantas tidak hanya berfungsi sebagai drainase alami, tetapi juga menjadi tulang punggung sistem irigasi teknis yang mengairi ribuan hektar sawah. Selain Brantas, terdapat beberapa sungai sekunder seperti Sungai Konto dan Sungai Gunting yang alirannya sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari pegunungan di sekitarnya.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Jombang memiliki iklim tropis basah dan kering (Aw) dengan suhu rata-rata berkisar antara 22°C hingga 34°C. Fenomena unik terjadi di wilayah Wonosalam dan sekitarnya, di mana ketinggian tempat menciptakan mikroklimat yang jauh lebih sejuk dan lembap dibandingkan pusat kota. Musim kemarau biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober, sementara musim hujan terjadi pada November hingga April dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi, terutama di kawasan selatan yang sering diselimuti kabut tebal pada pagi hari.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam Jombang bertumpu pada sektor pertanian dan kehutanan. Tanah aluvial yang kaya nutrisi di sepanjang DAS Brantas menjadikan wilayah ini sebagai lumbung pangan dengan komoditas utama padi dan tebu. Di kawasan perbukitan Wonosalam, terdapat kekayaan biodiversitas berupa hutan hujan tropis yang menjadi habitat berbagai jenis burung endemik serta perkebunan cengkeh, cokelat, dan durian yang khas. Secara geologis, wilayah utara memiliki potensi mineral non-logam berupa batu kapur dan yodium yang tersimpan dalam struktur tanah purba Pegunungan Kendeng. Secara astronomis, kabupaten ini terletak pada posisi antara 7°20' hingga 7°45' Lintang Selatan dan 112°05' hingga 112°32' Bujur Timur.

Culture

#

Jombang: Harmoni Religi dan Keberagaman Budaya di Jantung Jawa Timur

Jombang, sebuah kabupaten seluas 1124,82 km² yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, memiliki identitas budaya yang sangat kuat dan unik. Dikenal luas dengan julukan "Kota Santri", Jombang menjadi titik temu antara tradisi agamis yang kental dengan warisan budaya Jawa yang adiluhung. Meskipun tidak memiliki garis pantai, kekayaan budaya Jombang mengalir deras melalui sungai Brantas yang membelah wilayah ini, menciptakan karakteristik masyarakat yang terbuka namun tetap memegang teguh nilai spiritual.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Salah satu tradisi yang paling ikonik adalah Kenduren Durian yang diadakan di Kecamatan Wonosalam. Ritual ini bukan sekadar pesta panen, melainkan bentuk syukur masyarakat lereng Gunung Anjasmoro atas melimpahnya hasil bumi. Ribuan buah durian disusun membentuk gunungan raksasa sebelum diperebutkan oleh warga. Selain itu, terdapat tradisi Kumkum di Sendang Made, sebuah ritual mandi di kolam keramat yang diyakini sebagai tempat pelarian Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.

##

Seni Pertunjukan dan Musik

Jombang adalah tanah kelahiran Ludruk, kesenian teater rakyat yang menggunakan bahasa sehari-hari dengan humor yang lugas. Kelompok Ludruk legendaris seperti Besutan berakar dari sini. Keunikan Ludruk Jombang terletak pada karakter "Besut" yang melambangkan rakyat kecil yang kritis namun jenaka. Di bidang seni tari, Tari Remo Bolet menjadi ciri khas tersendiri; sebuah tarian penyambutan yang menekankan pada gerakan kaki yang dinamis dan bunyi gemerincing lonceng (saronen) di pergelangan kaki sang penari.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Dapur Jombang menawarkan cita rasa yang autentik. Sego Kikil merupakan hidangan paling dicari, di mana nasi disajikan dengan lodeh kikil sapi yang empuk dan gurih, biasanya dinikmati pada malam hari. Ada pula Ayam Panggang Jombang yang bumbunya meresap hingga ke tulang. Untuk buah tangan, Jombang memiliki Onde-onde Njeblos dan Jenang Kelapa Muda yang memiliki tekstur kenyal dan rasa manis yang tidak berlebihan.

##

Bahasa dan Dialek

Masyarakat Jombang menggunakan bahasa Jawa dialek Jawa Timuran yang khas. Dialek ini cenderung lugas, tegas, dan seringkali menggunakan partikel penegas seperti "se" atau "tah" di akhir kalimat. Ekspresi seperti "Lapo, Rek?" atau penggunaan kata ganti "Kene" dan "Kowe" mencerminkan kedekatan sosial yang tidak mengenal kasta bahasa yang terlalu kaku dibandingkan dengan wilayah Jawa Tengah.

##

Tekstil dan Pakaian Tradisional

Kabupaten ini memiliki batik khas yang disebut Batik Jombangan. Motifnya sangat spesifik, terinspirasi dari relief Candi Arimbi dan bunga kamboja. Warna-warnanya cenderung berani seperti merah bata dan hijau botol. Selain itu, sebagai pusat pesantren, pakaian sehari-hari masyarakat Jombang seringkali merupakan perpaduan antara busana Jawa dan atribut religi, seperti penggunaan sarung dan peci yang lazim ditemui dalam aktivitas formal maupun non-formal.

##

Praktik Religi dan Festival

Kehidupan religi di Jombang sangat dinamis dengan keberadaan pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng dan Tambakberas. Selain perayaan hari besar Islam, terdapat harmoni lintas iman yang terlihat di Desa Mojowarno, di mana tradisi Unduh-Unduh dilakukan oleh masyarakat Kristen setempat sebagai rasa syukur panen, yang prosesinya menyerupai arak-arak gunungan pada tradisi Jawa. Jombang membuktikan bahwa identitas santri dan pelestari budaya dapat berjalan beriringan dalam bingkai toleransi.

Tourism

Menjelajahi Jombang: Pesona Spiritual dan Alam di Jantung Jawa Timur

Terletak strategis di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Jombang menawarkan perpaduan unik antara wisata religi, sejarah kolonial, dan keindahan alam pegunungan. Dengan luas wilayah mencapai 1.124,82 km², Jombang yang dijuluki sebagai "Kota Beriman" ini berbatasan dengan tujuh wilayah sekaligus, menjadikannya titik temu budaya yang kaya akan keramahtamahan lokal.

#

Keajaiban Alam dan Petualangan Outdoor

Meski tidak memiliki garis pantai, Jombang dianugerahi lanskap perbukitan yang menawan di sisi selatan. Destinasi unggulannya adalah Kampoeng Jawi dan Wonosalam, sebuah kawasan dataran tinggi di lereng Gunung Anjasmoro. Di sini, pengunjung dapat menikmati kesegaran Air Terjun Tretes yang merupakan salah satu air terjun tertinggi di Jawa Timur. Bagi pencinta petualangan, aktivitas *trekking* menuju Puncak Anjasmoro atau menjelajahi Gua Sigolo-golo menawarkan sensasi menyatu dengan alam yang autentik. Jangan lewatkan pula Ekowisata Banyumala untuk pengalaman berkemah di tengah hutan pinus yang asri.

#

Warisan Budaya dan Jejak Sejarah

Jombang memiliki nilai historis yang mendalam, terutama sebagai pusat pendidikan Islam dan peninggalan Majapahit. Wisatawan dapat mengunjungi Candi Arimbi di Bareng, sebuah struktur batu andesit yang dipercaya sebagai pintu gerbang menuju Kerajaan Majapahit. Sebagai pusat spiritual, kompleks Makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng menjadi magnet wisata religi nasional. Uniknya, toleransi beragama di sini sangat kental, terlihat dari keberadaan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang bersejarah dan Klenteng Hong San Kiong di Gudo yang menjadi pusat kerajinan wayang potehi.

#

Kuliner Khas dan Pengalaman Autentik

Perjalanan ke Jombang belum lengkap tanpa mencicipi Sego Kikil, hidangan nasi dengan lodeh kikil sapi yang gurih, atau Ayam Panggang Jombang yang bumbunya meresap hingga ke tulang. Bagi penggemar buah-buahan, Wonosalam adalah surga Durian Bido, varietas durian asli Jombang yang terkenal dengan daging tebalnya yang manis-pahit. Anda juga bisa mengunjungi sentra industri manik-manik kaca di Desa Gudo untuk melihat langsung proses pembuatan kerajinan tangan yang telah diekspor ke mancanegara.

#

Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik

Kota ini menyediakan berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel berbintang di pusat kota hingga *homestay* berbasis agrowisata di area Wonosalam. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau (April hingga Oktober), terutama bertepatan dengan tradisi Kenduren Durian yang biasanya digelar awal tahun, di mana ribuan durian disusun menggunung untuk dibagikan kepada pengunjung secara gratis. Jombang bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi yang menawarkan kedamaian batin dan kehangatan tradisi Jawa yang sesungguhnya.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Jombang: Pusat Agrobisnis dan Industri Strategis di Jantung Jawa Timur

Kabupaten Jombang, yang terletak tepat di tengah-tengah Provinsi Jawa Timur, memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai simpul transportasi utama yang menghubungkan wilayah barat (Nganjuk/Madiun) dengan wilayah timur (Mojokerto/Surabaya). Dengan luas wilayah 1.124,82 km² dan dikelilingi oleh tujuh wilayah administratif—yakni Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, dan Malang—Jombang berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis agribisnis dan industri manufaktur yang dinamis.

##

Sektor Pertanian dan Agrobisnis

Sebagai wilayah yang tidak memiliki garis pantai (landlocked), kekuatan ekonomi utama Jombang bertumpu pada sektor agraris. Wilayah ini dikenal sebagai lumbung pangan Jawa Timur, terutama untuk komoditas padi dan palawija. Namun, kontribusi ekonomi yang signifikan juga datang dari sektor perkebunan, khususnya tebu. Keberadaan Pabrik Gula (PG) Djombang Baru dan PG Tjoekir menjadi bukti sejarah panjang dominasi industri gula dalam menggerakkan ekonomi lokal. Selain itu, kawasan Wonosalam di lereng Gunung Anjasmoro menjadi pusat ekonomi baru melalui komoditas kopi dan durian yang telah menembus pasar nasional.

##

Industri Manufaktur dan Kerajinan Khas

Transformasi ekonomi Jombang terlihat jelas pada pertumbuhan sektor industri pengolahan. Beberapa perusahaan besar berskala internasional telah beroperasi di sini, seperti PT Cheil Jedang Indonesia yang memproduksi asam amino di sektor bioteknologi, serta berbagai industri kayu lapis dan alas kaki yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal.

Di tingkat mikro, Jombang memiliki keunikan ekonomi melalui kerajinan manik-manik kaca di Desa Gudo. Produk ini merupakan komoditas ekspor unik yang jarang ditemukan di daerah lain, di mana perajin setempat mampu mengubah limbah kaca menjadi perhiasan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, industri kuningan di Mojoagung tetap menjadi penopang ekonomi kerakyatan yang konsisten.

##

Infrastruktur dan Konektivitas

Pertumbuhan ekonomi Jombang dalam satu dekade terakhir didorong kuat oleh pembangunan infrastruktur jalan tol Trans-Jawa. Keberadaan Gerbang Tol Bandar di sisi barat dan Gerbang Tol Tembelang di tengah memudahkan logistik barang dari sentra industri menuju Pelabuhan Tanjung Perak atau Bandara Juanda. Hal ini memicu pergeseran tren lapangan kerja dari sektor pertanian tradisional menuju sektor jasa dan pergudangan.

##

Sektor Jasa dan Wisata Religi

Jombang memiliki model ekonomi unik yang digerakkan oleh sektor pendidikan berbasis pesantren. Dikenal sebagai "Kota Santri", keberadaan ribuan santri di pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng dan Tambakberas menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang masif, mulai dari jasa katering, konveksi seragam, hingga ritel. Wisata religi makam Gus Dur di Tebuireng menjadi magnet ekonomi yang mendatangkan jutaan peziarah setiap tahun, memberikan dampak langsung pada sektor UMKM dan perhotelan di sekitarnya. Dengan integrasi antara industri manufaktur modern dan ekonomi berbasis komunitas, Jombang terus memperkuat posisinya sebagai pilar ekonomi di koridor tengah Jawa Timur.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Jombang: Mozaik Kultural dan Dinamika Penduduk

Kabupaten Jombang, yang terletak di jantung Provinsi Jawa Timur (posisi tengah), memiliki karakteristik demografis yang unik sebagai wilayah agraris sekaligus pusat pendidikan Islam. Dengan luas wilayah 1.124,82 km², Jombang merupakan daerah pedalaman (non-pesisir) yang berbatasan langsung dengan tujuh kabupaten: Lamongan, Mojokerto, Malang, Kediri, Nganjuk, Bojonegoro, dan Madiun. Lokasi strategis ini menjadikan Jombang sebagai simpul pertemuan mobilitas penduduk di jalur utama lintas provinsi.

##

Struktur Populasi dan Densitas

Hingga data terbaru, jumlah penduduk Kabupaten Jombang melampaui 1,3 juta jiwa. Kepadatan penduduk mencapai sekitar 1.170 jiwa per km², dengan distribusi yang cukup merata namun terkonsentrasi di wilayah koridor tengah seperti Kecamatan Jombang, Tembelang, dan Peterongan. Berbeda dengan wilayah utara yang berbukit (Pegunungan Kendeng) atau wilayah selatan yang agraris (lereng Gunung Anjasmoro), pusat kota menjadi titik magnet pertumbuhan ekonomi yang paling padat.

##

Komposisi Etnis dan Budaya

Secara etnis, penduduk Jombang didominasi oleh suku Jawa, namun memiliki keberagaman sub-kultur yang kontras. Terdapat pengaruh kuat budaya "Mataraman" di sisi barat dan pengaruh "Arekan" di sisi timur. Uniknya, Jombang memiliki komunitas Tionghoa yang terintegrasi secara harmonis, terutama di kawasan perdagangan pusat kota dan wilayah Gudo. Keberagaman religi juga sangat menonjol; selain dikenal sebagai "Kota Santri" dengan ribuan santri di pesantren besar seperti Tebuireng dan Denanyar, Jombang memiliki Desa Mojowarno yang menjadi pusat komunitas Kristen tertua di Jawa Timur, menciptakan demografi yang toleran.

##

Piramida Penduduk dan Pendidikan

Struktur usia penduduk Jombang membentuk piramida ekspansif menuju stasioner, dengan proporsi usia produktif (15-64 tahun) yang sangat dominan, mencapai lebih dari 68%. Tingkat literasi di Jombang sangat tinggi, melampaui 98%, didorong oleh integrasi sistem pendidikan formal dan non-formal (pesantren). Hal ini menciptakan karakteristik penduduk yang memiliki keahlian ganda: religius sekaligus kompetitif secara akademis.

##

Urbanisasi dan Migrasi

Dinamika urbanisasi di Jombang bersifat sentripetal ke arah pusat-pusat kecamatan yang memiliki akses industri, seperti di wilayah Ploso dan Mojoagung. Migrasi masuk didominasi oleh arus pelajar (santri) dari seluruh Indonesia yang menetap sementara (migrasi sirkuler), sementara migrasi keluar biasanya didorong oleh pencarian kerja ke Surabaya atau daerah industri di sekitarnya. Karakteristik "Santri Penglaju" menjadi fenomena unik, di mana mobilitas harian antara desa dan pusat pendidikan/ekonomi sangat tinggi, memperkuat konektivitas rural-urban yang inklusif.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi penandatanganan Piagam Sarangan pada tahun 1967 yang menjadi tonggak sejarah koordinasi intelijen negara.
  • 2.Tradisi Bolu Rahayu yang dibentuk menyerupai berbagai jenis hewan dan tumbuhan menjadi sajian khas dalam upacara adat bersih desa di Kelurahan Magetan.
  • 3.Dataran tinggi di daerah ini memiliki danau alami bernama Telaga Sarangan yang terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.
  • 4.Sentra industri kerajinan kulit Jalan Sawo merupakan pusat ekonomi terkenal yang memproduksi sepatu, tas, dan jaket kulit berkualitas tinggi sejak puluhan tahun lalu.

Destinasi di Jombang

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Jombang dari siluet petanya?