Situs Sejarah

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara

di Kendari, Sulawesi Tenggara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban di Bumi Anoa: Sejarah dan Eksistensi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara, yang lebih dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Museum Sulawesi Tenggara, merupakan institusi pelestarian budaya terpenting di jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Berlokasi di Jalan Abunawas, Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, museum ini berdiri sebagai penjaga memori kolektif masyarakat dari berbagai etnis besar di wilayah tersebut, yakni Tolaki, Moronene, Muna, dan Buton.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Embrio berdirinya Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara bermula pada tahun 1970-an, seiring dengan kebijakan pemerintah pusat untuk membangun museum provinsi di seluruh Indonesia melalui proyek pembinaan kebudayaan. Secara resmi, pembangunan fisik gedung museum dimulai pada tahun anggaran 1977/1978. Proses ini memakan waktu beberapa tahun hingga akhirnya diresmikan pada tanggal 9 Januari 1991 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. Fuad Hassan.

Pendirian museum ini dipicu oleh kesadaran akan pesatnya modernisasi yang mengancam keberadaan benda-benda cagar budaya di Sulawesi Tenggara. Para tokoh adat dan akademisi di Kendari merasa perlu adanya wadah formal untuk mengumpulkan, meneliti, dan memamerkan artefak yang merepresentasikan identitas lokal agar tidak hilang ditelan zaman atau jatuh ke tangan kolektor ilegal.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Dari segi arsitektur, Gedung Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara mengadopsi gaya arsitektur tradisional setempat yang dipadukan dengan fungsi museum modern. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah bentuk atapnya yang menyerupai rumah adat suku-suku di Sulawesi Tenggara, khususnya pengaruh rumah adat Tolaki (Laika Mbu’u) dan Buton (Kamali). Struktur bangunan menggunakan sistem panggung pada beberapa bagian, yang secara filosofis melambangkan kearifan lokal dalam beradaptasi dengan alam tropis.

Kompleks museum ini berdiri di atas lahan yang cukup luas, terdiri dari gedung pameran tetap, gedung pameran temporer, laboratorium konservasi, perpustakaan, dan auditorium. Ruang pameran tetap ditata secara sistematis berdasarkan klasifikasi koleksi, mulai dari geologika hingga teknologika. Detail interiornya dirancang untuk menahan suhu udara Kendari yang cukup panas guna melindungi artefak yang sensitif terhadap kelembapan.

#

Signifikansi Sejarah dan Koleksi Unggulan

Museum ini menyimpan lebih dari 5.000 koleksi yang terbagi dalam sepuluh klasifikasi disiplin ilmu, yaitu Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknologika. Setiap klasifikasi menceritakan fragmen sejarah yang berbeda tentang Sulawesi Tenggara.

Salah satu fakta sejarah unik yang tersimpan di sini adalah bukti-bukti keberadaan manusia prasejarah di kawasan karst di Muna dan Konawe. Koleksi arkeologika menampilkan alat-alat batu dan fragmen gerabah yang menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun silam. Selain itu, museum ini menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Buton melalui replika naskah kuno (filologika) dan peralatan upacara adat yang menunjukkan betapa majunya sistem pemerintahan dan literasi di masa lampau.

Salah satu koleksi yang sangat monumental adalah "Kaliao" atau perisai tradisional dan "Taawu" (pedang khas) yang digunakan oleh para pejuang lokal dalam melawan kolonialisme Belanda di daratan Sulawesi Tenggara. Koleksi ini bukan sekadar senjata, melainkan simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan.

#

Tokoh dan Periode Sejarah Terkait

Narasi di dalam museum ini mencakup periode yang sangat luas, mulai dari masa prasejarah, masa kerajaan-kerajaan lokal (seperti Kerajaan Konawe dengan tokoh legendaris Haluoleo), masa masuknya Islam yang dibawa oleh para ulama dari Gowa dan Melayu, hingga masa pendudukan Jepang dan proklamasi kemerdekaan.

Penyebaran agama Islam di Sulawesi Tenggara menjadi sorotan penting dalam koleksi historika. Museum ini menyimpan berbagai replika nisan dan Al-Qur'an tulis tangan yang menunjukkan kuatnya pengaruh Islam dalam membentuk struktur sosial masyarakat Sulawesi Tenggara, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai lembaga di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, museum ini terus mengalami upaya revitalisasi. Pada tahun 2010 dan 2015, dilakukan beberapa perbaikan pada sistem pencahayaan dan tata ruang pamer untuk meningkatkan daya tarik bagi generasi muda. Restorasi secara berkala dilakukan terhadap koleksi kayu dan kain tenun tradisional yang rentan terhadap pelapukan.

Pemerintah daerah juga aktif melakukan digitalisasi koleksi. Hal ini bertujuan agar data sejarah tetap terjaga meskipun fisik artefak mengalami penyusutan kualitas akibat usia. Museum ini kini tidak hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan, tetapi juga sebagai pusat studi bagi mahasiswa dari Universitas Halu Oleo dan institusi pendidikan lainnya di Sulawesi Tenggara.

#

Kepentingan Budaya dan Edukasi

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara memegang peranan vital sebagai pusat pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Di sini, nilai-nilai seperti "Kalo Sara" (falsafah hidup suku Tolaki tentang persatuan dan keadilan) divisualisasikan melalui benda-benda adat. Bagi masyarakat setempat, museum ini adalah "rumah besar" yang menyatukan keberagaman etnis di Sulawesi Tenggara.

Setiap tahunnya, museum ini menjadi pusat kegiatan budaya seperti pameran keliling dan lomba edukasi budaya tingkat sekolah. Hal ini membuktikan bahwa museum tetap relevan sebagai institusi yang menjembatani masa lalu dengan masa depan. Keberadaan museum ini memastikan bahwa generasi mendatang di Kendari dan sekitarnya tidak kehilangan akar budayanya di tengah arus globalisasi.

Secara keseluruhan, Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara bukan hanya sebuah situs sejarah statis, melainkan entitas dinamis yang terus bercerita tentang ketangguhan, kreativitas, dan spiritualitas manusia-manusia di Bumi Anoa dari masa ke masa. Kunjungan ke museum ini menawarkan perjalanan melintasi waktu, mulai dari jejak kaki manusia purba di gua-gua Muna hingga gemuruh perlawanan rakyat Buton dan Konawe melawan imperium asing.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Abunawas No.191, Korumba, Kec. Mandonga, Kota Kendari
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Kendari

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kendari

Pelajari lebih lanjut tentang Kendari dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kendari