Tugu Persatuan MTQ
di Kendari, Sulawesi Tenggara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Tugu Persatuan MTQ: Manifestasi Arsitektural dan Simbolisme Identitas Sulawesi Tenggara
Tugu Persatuan MTQ, atau yang sering disebut oleh masyarakat lokal sebagai Tugu Religi, berdiri tegak sebagai tengara (landmark) paling dominan di cakrawala Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Struktur ini bukan sekadar monumen beton; ia adalah representasi fisik dari semangat persatuan, keberagaman budaya, dan aspirasi religius masyarakat Bumi Anoa. Dengan ketinggian mencapai 99 meter, tugu ini tidak hanya menjadi titik nol visual kota, tetapi juga pusat gravitasi sosial dan budaya bagi penduduk Sulawesi Tenggara.
#
Sejarah dan Konteks Pembangunan
Pembangunan Tugu Persatuan MTQ berakar pada peristiwa besar nasional, yakni pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke-21 yang diselenggarakan di Kendari pada tahun 2006. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Mazi pada periode pertamanya, diputuskan bahwa kota ini memerlukan sebuah monumen ikonik yang mampu memperingati peristiwa sejarah tersebut sekaligus menjadi simbol modernitas provinsi yang sedang berkembang.
Lahan seluas kurang lebih 5 hektar di jantung kota, yang dulunya merupakan kawasan terbuka hijau, ditransformasikan menjadi kompleks terpadu. Pembangunan tugu ini memakan waktu beberapa tahun dengan tantangan teknis yang signifikan, mengingat struktur setinggi ini harus mampu bertahan terhadap korosi udara laut Kendari serta potensi aktivitas tektonik di wilayah Sulawesi.
#
Estetika Arsitektural dan Stilistika
Secara arsitektural, Tugu Persatuan MTQ mengadopsi gaya eklektik yang menggabungkan elemen modernisme dengan simbolisme lokal yang kuat. Struktur utamanya berbentuk pilar raksasa yang menjulang tinggi, yang secara visual menyerupai bentuk obelisk modern namun dengan sentuhan kurva yang lebih dinamis.
Elemen paling mencolok dari desain ini adalah bagian puncaknya yang menyerupai bentuk kerucut atau mahkota yang berlapis. Desain ini sering diinterpretasikan sebagai bentuk "Kalo Sara", sebuah simbol adat suku Tolaki yang melambangkan persatuan, hukum adat, dan tatanan sosial. Penggunaan bentuk geometris yang berulang pada fasad tugu memberikan tekstur visual yang kaya, sekaligus berfungsi sebagai elemen aerodinamis untuk memecah beban angin pada ketinggian ekstrem.
Warna dominan kuning keemasan dan putih yang menyelimuti tugu bukan sekadar pilihan estetika. Warna kuning dalam budaya Sulawesi Tenggara sering diasosiasikan dengan kemuliaan, kejayaan, dan kedaulatan, sementara warna putih melambangkan kesucian dan nilai-nilai religius yang melandasi pembangunan monumen ini.
#
Inovasi Struktur dan Detail Konstruksi
Membangun struktur setinggi 99 meter memerlukan perhitungan teknik yang presisi. Angka 99 sendiri dipilih secara sengaja sebagai representasi dari Asmaul Husna (99 nama baik Allah), mempertegas identitas tugu ini sebagai "Tugu Religi".
Konstruksi tugu menggunakan sistem rangka beton bertulang yang diperkuat dengan struktur baja pada bagian interiornya. Fondasi tugu dirancang dengan sistem bore pile yang masuk jauh ke dalam tanah untuk memastikan stabilitas massa bangunan yang masif. Salah satu keunikan teknis dari bangunan ini adalah adanya dek pengamatan (observation deck) di bagian atas, yang dapat diakses melalui lift di dalam inti tugu.
Pada bagian dasar tugu, terdapat area podium yang luas. Area ini dirancang untuk menampung fungsi administratif dan ruang pameran. Desain lantai dasar ini menggunakan pola-pola geometris islami yang dipadukan dengan motif tenun khas Sulawesi Tenggara, seperti motif Mata Chakki atau Bunga Melati, menciptakan dialog antara arsitektur global dan kearifan lokal.
#
Makna Budaya dan Sosial
Tugu Persatuan MTQ berfungsi sebagai perekat identitas bagi empat pilar etnis utama di Sulawesi Tenggara: Tolaki, Muna, Buton, dan Moronene. Nama "Persatuan" yang disematkan padanya merupakan doa dan harapan agar keberagaman etnis di provinsi ini tetap harmonis di bawah naungan nilai-nilai ketuhanan.
Secara sosial, kawasan di sekitar tugu telah berevolusi menjadi ruang publik (third space) yang krusial. Struktur ini dikelilingi oleh lapangan terbuka luas yang dikenal sebagai Eks-Arena MTQ. Di sini, batas-batas sosial mencair; warga dari berbagai latar belakang berkumpul untuk berolahraga, berwisata kuliner, atau sekadar menikmati senja. Tugu ini telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting, mulai dari konser musik, pameran pembangunan (Halo Sultra), hingga salat Idul Fitri berjamaah yang melibatkan ribuan orang.
#
Pengalaman Pengunjung dan Pemanfaatan Terkini
Bagi pengunjung yang datang ke Kendari, Tugu Persatuan MTQ adalah destinasi wajib. Pada malam hari, tugu ini bertransformasi menjadi instalasi cahaya yang memukau. Sistem pencahayaan artistik (architectural lighting) yang dipasang di sepanjang struktur tugu memberikan efek dramatis, membuatnya terlihat seperti mercusuar cahaya di tengah kegelapan kota.
Pengalaman berada di kaki tugu memberikan impresi skala yang luar biasa. Pengunjung dapat melihat detail relief dan ornamen yang menghiasi dinding podium. Meskipun akses menuju puncak tugu (dek pengamatan) tidak selalu dibuka untuk umum karena alasan pemeliharaan, keberadaan area teras di sekitar dasar tugu sudah cukup untuk memberikan perspektif arsitektural yang megah.
Di sekitar tugu, ekosistem ekonomi mikro tumbuh subur. Para pedagang kaki lima dan penyedia jasa sewa permainan anak menjadikan kawasan ini sebagai pusat ekonomi kerakyatan. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah karya arsitektur ikonik tidak hanya berfungsi sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi dan interaksi sosial masyarakat.
#
Kesimpulan: Warisan untuk Masa Depan
Tugu Persatuan MTQ telah berhasil melampaui fungsinya sebagai sekadar monumen peringatan. Ia adalah pencapaian teknik sipil dan estetika arsitektur yang mendefinisikan wajah modern Sulawesi Tenggara. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual (99 nama Allah), simbol adat (Kalo Sara), dan kebutuhan ruang publik modern, tugu ini berdiri sebagai bukti bahwa arsitektur mampu menjadi jembatan antara masa lalu yang kaya tradisi dan masa depan yang penuh ambisi. Sebagai ikon, Tugu Persatuan MTQ akan terus menjadi titik orientasi—baik secara fisik maupun emosional—bagi setiap orang yang menyebut Kendari sebagai rumah mereka.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kendari
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kendari
Pelajari lebih lanjut tentang Kendari dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kendari