Situs Sejarah

Benteng Victoria

di Kota Ambon, Maluku

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kolonial dan Simbol Kekuasaan: Sejarah Panjang Benteng Victoria di Ambon

Benteng Victoria merupakan salah satu monumen sejarah paling signifikan di Indonesia Timur, khususnya di Kota Ambon, Maluku. Sebagai struktur pertahanan yang telah berdiri selama berabad-abad, benteng ini bukan sekadar tumpukan batu dan semen, melainkan saksi bisu transisi kekuasaan dari bangsa Portugis ke Belanda, serta perjuangan rakyat Maluku dalam mempertahankan kedaulatan tanah mereka.

#

Asal-usul dan Periode Pendirian: Dari Nossa Senhora da Anunciada ke Victoria

Sejarah Benteng Victoria tidak dimulai oleh Belanda, melainkan oleh bangsa Portugis yang pertama kali menancapkan pengaruhnya di Kepulauan Maluku demi komoditas cengkih dan pala. Pada tahun 1575, di bawah kepemimpinan Sancho de Vasconcelos, Portugis membangun sebuah benteng kayu yang diberi nama Nossa Senhora da Anunciada. Lokasinya dipilih secara strategis di pesisir Teluk Ambon untuk mengontrol lalu lintas perdagangan rempah-rempah.

Namun, dominasi Portugis mulai goyah ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) tiba di kepulauan ini. Pada tahun 1605, armada Belanda di bawah pimpinan Steven van der Hagen berhasil merebut benteng ini tanpa perlawanan berarti dari Portugis yang saat itu sedang melemah. Setelah jatuh ke tangan Belanda, benteng ini diganti namanya menjadi Benteng Victoria, yang secara harfiah berarti "Kemenangan". Nama ini dipilih untuk merayakan keberhasilan VOC mendepak pesaing Eropa mereka dari pusat produksi rempah dunia.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Victoria mengalami transformasi besar-besaran di tangan Belanda. Jika awalnya hanya berupa struktur kayu dan tanah, Belanda membangunnya kembali menggunakan batu karang, bata, dan perekat tradisional yang terbuat dari campuran kapur dan cairan tebu atau putih telur.

Benteng ini memiliki tipologi bastion yang khas pada arsitektur militer Eropa abad ke-17. Bentuk dasarnya menyerupai poligon dengan bastion-bastion di setiap sudutnya yang memungkinkan meriam menjangkau segala arah, baik ke arah laut untuk menghalau kapal musuh maupun ke arah darat untuk memantau pergerakan penduduk lokal. Di dalam area benteng, terdapat kompleks bangunan yang mencakup gudang penyimpanan rempah, barak prajurit, kediaman gubernur, dan gereja kecil. Salah satu ciri uniknya adalah keberadaan gerbang utama yang menghadap ke arah laut, yang pada masa kejayaannya berfungsi sebagai pintu masuk resmi bagi para pejabat tinggi VOC dan tamu internasional.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Victoria memegang peranan vital sebagai pusat pemerintahan VOC di wilayah Maluku sebelum pusat administrasi dipindahkan ke Batavia (Jakarta). Dari benteng inilah, kebijakan "Hongi Tochten" atau Pelayaran Hongi direncanakan dan diawasi. Kebijakan ini merupakan upaya Belanda untuk memonopoli perdagangan rempah dengan cara memusnahkan pohon-pohon cengkih milik rakyat yang dianggap ilegal atau melampaui kuota produksi.

Salah satu peristiwa paling heroik yang terkait dengan Benteng Victoria adalah perlawanan Thomas Matulessy, yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, pada tahun 1817. Meskipun Pattimura berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua, ia akhirnya tertangkap oleh Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817, di depan gerbang Benteng Victoria, Kapitan Pattimura beserta rekan-rekan seperjuangannya seperti Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Perintah, menjalani hukuman gantung. Peristiwa ini menjadikan Benteng Victoria sebagai situs yang sangat emosional bagi masyarakat Maluku, melambangkan pengorbanan tertinggi demi kemerdekaan.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Selain Kapitan Pattimura, benteng ini juga terkait erat dengan nama-nama besar seperti Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang pernah berkunjung untuk memperkuat pertahanan Maluku. Pada abad ke-20, saat pecahnya Perang Dunia II, benteng ini sempat dikuasai oleh tentara Jepang setelah Belanda menyerah tanpa syarat di Ambon pada tahun 1942. Jepang menggunakan benteng ini sebagai pangkalan logistik dan pertahanan udara untuk menghadapi serangan Sekutu di Pasifik.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, benteng ini menjadi pusat gejolak politik selama pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950. Pasukan TNI di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang melakukan pengepungan terhadap benteng ini untuk memulihkan kedaulatan NKRI di Ambon. Kemenangan TNI dalam merebut kembali benteng ini menandai berakhirnya dominasi kekuatan separatis di wilayah tersebut.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, kondisi Benteng Victoria berada dalam status yang unik sekaligus menantang. Sebagian besar area benteng berada di dalam kawasan militer yang dikelola oleh Kodam XVI/Pattimura. Hal ini memberikan dampak ganda: di satu sisi, keamanan fisik benteng terjaga dari aksi vandalisme, namun di sisi lain, akses publik untuk berwisata sejarah menjadi terbatas.

Pemerintah Kota Ambon dan Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XX telah melakukan berbagai upaya komunikasi untuk melakukan revitalisasi total. Rencana besar yang tengah digodok adalah menjadikan Benteng Victoria sebagai cagar budaya nasional yang terbuka sepenuhnya bagi wisatawan, mirip dengan Benteng Vredeburg di Yogyakarta atau Benteng Rotterdam di Makassar. Upaya restorasi mencakup pembersihan dinding batu karang yang mulai ditumbuhi lumut kerak serta perbaikan struktur bangunan di dalam benteng yang mulai lapuk dimakan usia.

#

Makna Budaya dan Simbolisme

Bagi warga Kota Ambon, Benteng Victoria adalah simbol identitas. Benteng ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan titik nol (kilometer nol) sejarah kota. Keberadaannya mengingatkan masyarakat akan posisi Ambon yang pernah menjadi "Mutiara dari Timur" yang diperebutkan dunia. Secara budaya, benteng ini juga mencerminkan akulturasi, di mana teknik bangunan Eropa berpadu dengan bahan-bahan lokal Maluku.

Secara religius dan sosial, kawasan di sekitar benteng dulunya merupakan pusat penyebaran agama Kristen yang dibawa oleh Portugis dan kemudian dilanjutkan oleh Belanda (Protestan). Hal ini terlihat dari keberadaan gereja-gereja tua yang berdiri tidak jauh dari kompleks benteng, menciptakan lanskap sejarah yang terintegrasi antara militer, perdagangan, dan religi.

#

Kesimpulan dan Fakta Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa di bawah Benteng Victoria terdapat jaringan terowongan bawah tanah yang konon menghubungkan benteng dengan beberapa titik strategis di Kota Ambon. Meskipun banyak terowongan yang kini telah tertutup atau terendam air laut, keberadaannya menambah misteri dan daya tarik sejarah situs ini.

Sebagai penutup, Benteng Victoria tetap berdiri kokoh di tepian Teluk Ambon sebagai pengingat akan masa lalu yang penuh darah dan air mata, namun juga penuh dengan semangat juang. Melestarikan benteng ini berarti menjaga memori kolektif bangsa agar generasi mendatang tidak lupa bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini dibayar dengan perjuangan panjang yang bermula dari tembok-tembok batu karang ini.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Slamet Riyadi, Kelurahan Uritetu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon
entrance fee
Gratis (Izin diperlukan karena berada di kawasan militer)
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Kota Ambon

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kota Ambon

Pelajari lebih lanjut tentang Kota Ambon dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kota Ambon