Mojokerto

Rare
Jawa Timur
Luas
20,4 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
2 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

Sejarah

#

Sejarah dan Perkembangan Mojokerto: Dari Jantung Majapahit hingga Kota Administratif Modern

Mojokerto, sebuah wilayah di Jawa Timur seluas 20,4 km², memegang peranan krusial dalam lini masa sejarah Nusantara. Meskipun tidak memiliki garis pantai, posisi geografisnya di lembah Sungai Brantas menjadikannya pusat peradaban yang strategis sejak berabad-abad silam.

Pusat Episentrum Majapahit

Akar sejarah Mojokerto tidak dapat dipisahkan dari Trowulan, yang terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto namun secara historis mencakup identitas kota ini. Pada abad ke-13 hingga ke-15, kawasan ini merupakan ibu kota Kerajaan Majapahit. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, wilayah ini menjadi saksi Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara. Situs-situs seperti Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu menjadi bukti nyata kemajuan arsitektur dan tata kota pada masa itu.

Masa Kolonial dan Pembentukan Administratif

Memasuki era kolonial Belanda, Mojokerto bertransformasi menjadi pusat industri gula yang vital. Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda membangun infrastruktur kereta api melalui Staatsspoorwegen untuk mengangkut hasil bumi. Secara administratif, status Mojokerto mulai menguat pada 20 Juni 1918 dengan pembentukan Stadsgemeente (Kota Praja) Mojokerto melalui Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Salah satu tokoh penting era ini adalah R.A.A. Kromojoyo Adinegoro IV, Bupati Mojokerto yang sangat peduli pada pelestarian artefak kuno, yang kemudian merintis berdirinya Museum Purbakala Trowulan.

Era Perjuangan Kemerdekaan

Dalam dinamika revolusi nasional, Mojokerto memainkan peran sebagai benteng pertahanan di Jawa Timur. Selama Agresi Militer Belanda I dan II, kota ini menjadi basis gerilya bagi pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tokoh pejuang lokal seperti KH Achyat Chalimi memimpin laskar-laskar santri dalam perlawanan terhadap kembalinya sekutu. Kedekatannya dengan Surabaya menjadikan Mojokerto sebagai daerah penyangga logistik dan strategi tempur bagi para pejuang yang terlibat dalam Pertempuran 10 November.

Warisan Budaya dan Tradisi Lokal

Kekayaan sejarah Mojokerto tercermin dalam tradisi masyarakatnya. Salah satu keunikan sejarahnya adalah predikat sebagai "Kota Onde-Onde". Tradisi pembuatan penganan ini bermula dari pengaruh etnis Tionghoa pada masa kolonial yang kemudian berasimilasi dengan budaya lokal. Selain itu, terdapat tradisi ritual di makam-makam keramat seperti Makam Troloyo yang menunjukkan akulturasi budaya Islam dan peninggalan Hindu-Budha Majapahit, mencerminkan kerukunan lintas zaman.

Modernisasi dan Pembangunan Berkelanjutan

Kini, Mojokerto telah berkembang menjadi kota administratif yang mandiri. Secara formal, statusnya ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950. Meskipun luas wilayahnya relatif kecil, modernisasi kota tetap berakar pada identitas sejarahnya. Pemerintah kota secara konsisten mengusung konsep "Spirit of Majapahit" dalam pembangunan infrastruktur, seperti penggunaan desain bata merah pada bangunan publik yang menyerupai arsitektur klasik Majapahit. Dengan memadukan warisan kuno, sejarah kolonial, dan semangat kemerdekaan, Mojokerto terus berdiri sebagai pilar penting dalam narasi sejarah Jawa Timur dan Indonesia.

Geografi

#

Geografi dan Lanskap Alam Mojokerto

Mojokerto merupakan entitas wilayah di Jawa Timur yang secara geografis terbagi menjadi dua administrasi: Kota Mojokerto yang memiliki luas wilayah sekitar 20,4 km² dan Kabupaten Mojokerto yang membentang lebih luas mengelilinginya. Sebagai wilayah yang terletak di pedalaman, Mojokerto tidak memiliki garis pantai dan sepenuhnya dikelilingi oleh daratan (landlocked), berbatasan dengan Kabupaten Jombang di barat, Kabupaten Lamongan di utara, serta Kabupaten Pasuruan dan Malang di sisi selatan.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Mojokerto sangat bervariasi, mulai dari dataran rendah yang landai di bagian utara hingga kawasan pegunungan yang curam di bagian selatan. Wilayah perkotaan didominasi oleh dataran aluvial yang datar dengan ketinggian rata-rata 22 meter di atas permukaan laut. Namun, di sisi selatan, bentang alam berubah drastis menjadi zona vulkanik yang megah, ditandai dengan keberadaan lereng Gunung Arjuno-Welirang dan Gunung Penanggungan. Gunung Penanggungan, yang sering dijuluki sebagai "Gunung Suci," memiliki struktur kerucut yang unik dengan puncak serta beberapa anak bukit di sekelilingnya, menciptakan lembah-lembah sempit yang subur.

Sistem hidrologi wilayah ini didominasi oleh Sungai Brantas, sungai terpanjang kedua di Jawa, yang mengalir di sisi utara. Selain itu, terdapat Sungai Sadar yang menjadi urat nadi drainase utama bagi kawasan perkotaan. Keberadaan sungai-sungai ini secara historis telah membentuk sedimentasi tanah yang kaya nutrisi, menjadikan wilayah ini sangat ideal untuk pemukiman dan aktivitas agraris sejak zaman Kerajaan Majapahit.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Mojokerto memiliki iklim tropis basah dan kering (Aw) menurut klasifikasi Köppen. Suhu udara di dataran rendah cenderung panas dan lembap, berkisar antara 23°C hingga 34°C. Musim kemarau biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober, dipengaruhi oleh angin monsun timur yang kering dari Australia. Sebaliknya, musim hujan terjadi antara November hingga April dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi, terutama di area kaki gunung yang sering mengalami efek orografis. Perbedaan suhu sangat terasa di kawasan selatan seperti Pacet dan Trawas, di mana suhu udara jauh lebih sejuk dan sering diselimuti kabut.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam Mojokerto bertumpu pada sektor pertanian dan mineral non-logam. Tanah vulkanik yang subur menghasilkan komoditas unggulan seperti padi, tebu, dan kedelai di dataran rendah, sementara di dataran tinggi, perkebunan kopi, kakao, dan aneka sayur-mayur berkembang pesat. Di sektor kehutanan, kawasan selatan mencakup bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang berfungsi sebagai zona penyangga ekologis penting.

Zona ekologi ini merupakan rumah bagi berbagai biodiversitas lokal, termasuk spesies burung endemik dan vegetasi hutan hujan tropis pegunungan. Selain itu, potensi sumber daya air sangat melimpah dalam bentuk mata air alami (umbul) yang banyak ditemukan di lereng Penanggungan, yang tidak hanya berfungsi untuk irigasi, tetapi juga sebagai bahan baku industri air minum dalam kemasan. Secara geologis, wilayah ini juga memiliki deposit batuan andesit dan pasir bangunan yang menjadi komoditas tambang rakyat di sepanjang aliran sungai purba.

Budaya

#

Warisan Luhur dan Identitas Budaya Mojokerto

Mojokerto, sebuah wilayah di Jawa Timur yang meski secara administratif terbagi menjadi Kota dan Kabupaten, menyimpan resonansi sejarah yang mendalam sebagai jantung bekas Kerajaan Majapahit. Dengan luas wilayah yang ringkas namun padat nilai historis, Mojokerto berdiri sebagai penjaga gerbang peradaban Jawa kuno yang masih lestari hingga saat ini.

Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal

Masyarakat Mojokerto memegang teguh tradisi agraris dan spiritualitas yang kental. Salah satu ritual yang paling menonjol adalah Ruwat Sumber Penguripan yang biasanya dilakukan di situs-situs petirtaan seperti Jolotundo. Upacara ini merupakan bentuk syukur atas melimpahnya sumber air. Selain itu, terdapat tradisi Grebeg Suro di Trowulan yang melibatkan kirab gunungan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran dan penghormatan kepada leluhur pendiri Majapahit. Di tingkat desa, tradisi Sedekah Bumi masih rutin dilaksanakan dengan menyajikan sesaji dan doa bersama di bawah pohon beringin atau punden desa.

Kesenian, Musik, dan Tari

Kesenian khas Mojokerto tidak dapat dipisahkan dari pengaruh keraton. Tari Mayang Rontek merupakan tarian selamat datang khas Kota Mojokerto yang menggambarkan kemegahan prajurit dan putri Majapahit. Selain itu, kesenian Bantengan sangat populer di wilayah pegunungan seperti Pacet dan Trawas, di mana pemain menunjukkan ketangkasan fisik dan unsur magis dalam balutan kostum kepala banteng. Dalam hal musik, irama Gamelan Jawa gaya Jawa Timuran yang dinamis mengiringi pertunjukan Ludruk, sebuah teater rakyat yang menggunakan bahasa lugas dan humor satir untuk menyampaikan pesan sosial.

Kuliner Khas dan Masakan Lokal

Identitas kuliner Mojokerto yang paling ikonik adalah Onde-onde. Jajanan berbentuk bulat dengan taburan wijen ini membuat Mojokerto dijuluki sebagai "Kota Onde-Onde," dengan tekstur kulit yang kenyal dan isian kacang hijau yang manis. Selain kudapan, terdapat Sambel Wader yang biasanya dinikmati di pinggiran Kolam Segaran, Trowulan. Ikan wader kecil yang digoreng garing disajikan dengan sambal terasi segar dan lalapan. Tak lupa, Bubur Sruntul yang manis dan kenyal menjadi hidangan penutup favorit warga lokal.

Bahasa, Dialek, dan Ekspresi Lokal

Masyarakat Mojokerto menggunakan Bahasa Jawa dialek Jawa Timuran, namun dengan nuansa yang lebih halus dibandingkan dialek Surabaya. Terdapat penggunaan partikel khas seperti "deng" atau "ta" di akhir kalimat. Ekspresi lokal seringkali merujuk pada istilah-istilah Majapahitan, mencerminkan kebanggaan kolektif akan sejarah "Bumi Mojopahit."

Busana dan Tekstil Tradisional

Mojokerto memiliki motif batik khas yang dikenal dengan Batik Mojogit. Motif ini banyak mengambil inspirasi dari relief candi dan ornamen Majapahit, seperti motif Surya Majapahit dan Buah Mojo. Warna-warna yang digunakan cenderung gelap dan membumi (sogan), melambangkan kewibawaan. Dalam acara resmi, pria sering mengenakan busana khas dengan penutup kepala (blangkon) gaya Jawa Timuran, sementara wanita mengenakan kebaya dengan jarik bermotif khas Mojokerto.

Praktik Keagamaan dan Festival Budaya

Sebagai pusat toleransi, Mojokerto merayakan keberagaman melalui Kirab Ritual dan Budaya Itthas. Festival tahunan yang paling megah adalah Pekan Budaya Majapahit, di mana berbagai komunitas lintas agama berkumpul di Trowulan untuk merayakan persatuan nasional (Bhinneka Tunggal Ika) yang dicetuskan oleh Mpu Tantular di tanah ini. Praktik ziarah ke makam-makam tokoh besar seperti Syekh Jumadil Kubro di Troloyo juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan religius masyarakat setempat.

Wisata

#

Menjelajahi Jejak Megah Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur

Mojokerto, sebuah wilayah strategis di Jawa Timur dengan luas sekitar 20,4 km², berdiri tegak sebagai gerbang utama menuju kejayaan masa lalu Nusantara. Meski tidak memiliki garis pantai, kota dan kabupaten ini menawarkan pesona lanskap pegunungan yang dramatis serta warisan arkeologi yang tiada bandingnya di Indonesia.

##

Warisan Budaya dan Kemegahan Candi

Pusat daya tarik utama Mojokerto terletak di Kecamatan Trowulan, yang diyakini sebagai ibu kota kuno Kerajaan Majapahit. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan kemegahan Candi Bajang Ratu yang menjulang tinggi, Candi Tikus yang unik dengan struktur pemandian bawah tanahnya, serta Candi Brahu yang terbuat dari bata merah khas era klasik. Jangan lewatkan Maha Vihara Mojopahit yang menyimpan patung Buddha Tidur raksasa berwarna emas sepanjang 22 meter—salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Untuk pendalaman sejarah, Museum Trowulan menyediakan koleksi artefak terlengkap mulai dari terakota hingga prasasti batu asli.

##

Pesona Alam Pegunungan dan Air Terjun

Beralih ke sisi selatan, kawasan dataran tinggi Pacet dan Trawas menawarkan udara pegunungan yang sejuk di kaki Gunung Arjuno dan Welirang. Wisatawan dapat mengunjungi Air Terjun Dlundung yang memiliki aliran air tenang dan area perkemahan yang asri. Bagi pencinta pemandangan hijau, Ranu Manduro menyajikan hamparan sabana luas dengan latar belakang pegunungan yang sering dijuluki sebagai "New Zealand van Java". Untuk relaksasi, Pemandian Air Panas Padusan menjadi destinasi favorit untuk melepas penat dalam rendaman air belerang alami.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencari adrenalin, jalur pendakian Gunung Penanggungan (Puncak Pawitra) menawarkan tantangan mendaki gunung dengan bonus ratusan situs purbakala di sepanjang jalurnya. Selain mendaki, kawasan Trawas juga populer dengan aktivitas off-road menggunakan jeep dan jalur bersepeda gunung yang melintasi hutan pinus serta persawahan terasering yang hijau.

##

Wisata Kuliner Khas Mojokerto

Pengalaman ke Mojokerto tidak lengkap tanpa mencicipi Onde-onde Bo Liem, kudapan legendaris yang kenyal dengan isian kacang hijau yang melimpah. Untuk makanan berat, cobalah Sambal Wader yang disajikan segar dari tangkapan sungai setempat, atau Sate Kelapa yang memiliki cita rasa gurih yang unik.

##

Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik

Mojokerto memiliki berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel butik bergaya kolonial hingga *glamping* eksklusif di Trawas yang menghadap langsung ke lembah. Masyarakat lokal dikenal sangat ramah dan menjunjung tinggi nilai budaya Jawa. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau (Mei hingga September) agar Anda dapat menjelajahi situs candi dan melakukan aktivitas luar ruangan tanpa terkendala hujan, serta mendapatkan pemandangan matahari terbit yang paling jernih di area pegunungan.

Ekonomi

#

Profil Ekonomi Kota Mojokerto: Pusat Perdagangan dan Industri Jawa Timur

Kota Mojokerto, meskipun secara geografis merupakan salah satu kota terkecil di Indonesia dengan luas wilayah hanya 20,4 km², memegang peranan vital sebagai simpul ekonomi di koridor Surabaya-Jombang. Sebagai wilayah yang sepenuhnya dikelilingi daratan (landlocked) dan terletak di pedalaman Jawa Timur, kekuatan ekonomi Mojokerto tidak bertumpu pada sektor maritim, melainkan pada sektor perdagangan, jasa, dan industri manufaktur yang padat karya.

##

Struktur Ekonomi dan Sektor Unggulan

Perekonomian Kota Mojokerto didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran. Lokasinya yang strategis menjadikannya sebagai hinterland bagi kabupaten di sekitarnya. Selain perdagangan, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berbeda dengan wilayah kabupaten yang masih memiliki lahan pertanian luas, pembangunan di kota ini lebih diarahkan pada intensifikasi sektor jasa dan ekonomi kreatif karena keterbatasan lahan.

##

Industri Manufaktur dan Produk Lokal

Salah satu pilar industri yang paling ikonik di Mojokerto adalah industri alas kaki dan sepatu. Kota ini dikenal sebagai pusat pengrajin sepatu yang mampu menembus pasar nasional hingga ekspor. Selain itu, terdapat industri pengolahan karet dan plastik yang menjadi penyerap tenaga kerja lokal dalam skala besar. Di sektor kuliner, produk khas Onde-onde Bo Liem tidak hanya menjadi identitas budaya tetapi juga penggerak ekonomi mikro yang menarik wisatawan untuk berbelanja oleh-oleh, mendukung ekosistem UMKM lokal.

##

Kerajinan Tradisional dan Ekonomi Kreatif

Mojokerto memiliki akar sejarah kuat sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Hal ini tercermin dalam ekonomi kreatif melalui produksi kerajinan kuningan dan patung batu yang banyak ditemukan di pinggiran kota. Selain itu, industri batik motif khas Mojokerto mulai berkembang pesat, memberikan nilai tambah pada sektor tekstil lokal melalui pemberdayaan pengrajin rumahan.

##

Infrastruktur dan Transportasi

Pertumbuhan ekonomi Mojokerto didorong oleh aksesibilitas yang sangat baik. Keberadaan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) dan Tol Mojokerto-Kertosono telah memangkas waktu logistik secara drastis, menjadikan kota ini lokasi yang sangat menarik bagi investasi pergudangan dan distribusi. Stasiun Mojokerto sebagai bagian dari jalur rel ganda (double track) Jawa juga memfasilitasi mobilisasi tenaga kerja dan komoditas menuju Surabaya sebagai pusat provinsi.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Pengembangan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Mojokerto menunjukkan pergeseran dari sektor informal ke sektor jasa modern, seperti perhotelan, perbankan, dan ritel modern. Pemerintah kota saat ini fokus pada pengembangan pariwisata sejarah dan religi untuk meningkatkan lama kunjungan wisatawan. Dengan mengintegrasikan infrastruktur transportasi yang modern dan penguatan basis UMKM, Kota Mojokerto terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang resilien di Jawa Timur bagian tengah.

Demografi

#

Profil Demografis Kota Mojokerto

Kota Mojokerto, yang secara administratif merupakan salah satu wilayah terkecil di Jawa Timur dengan luas hanya 20,4 km², memiliki karakteristik demografis yang sangat padat dan dinamis. Sebagai pusat pertumbuhan di koridor Surabaya-Jombang, kota ini mencatatkan kepadatan penduduk yang melampaui angka 6.800 jiwa per km², dengan konsentrasi penduduk tertinggi berada di Kecamatan Magersari dan Prajurit Kulon.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Struktur kependudukan Mojokerto didominasi oleh kelompok usia produktif (15–64 tahun) yang mencapai lebih dari 70% dari total populasi. Fenomena bonus demografi ini terlihat jelas dalam piramida penduduk yang bersifat ekspansif menuju stasioner, di mana jumlah penduduk usia muda dan dewasa memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor jasa dan perdagangan. Angka ketergantungan (dependency ratio) di kota ini tergolong rendah, yang menunjukkan potensi ekonomi lokal yang kuat.

Komposisi Etnis dan Keagamaan

Secara sosiokultural, masyarakat Mojokerto didominasi oleh etnis Jawa dengan dialek khas Jawa Timuran. Namun, sebagai kota perdagangan sejarah, terdapat keberagaman etnis yang signifikan, termasuk komunitas Tionghoa dan Arab yang telah menetap secara turun-temurun di wilayah perkotaan. Keberagaman ini tercermin dalam harmoni kehidupan beragama, di mana mayoritas Muslim hidup berdampingan dengan komunitas Kristen, Katolik, dan Buddha, didukung oleh keberadaan situs-situs bersejarah yang memperkuat identitas budaya lokal.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat pendidikan di Kota Mojokerto menunjukkan pencapaian yang impresif. Angka Melek Huruf (AMH) hampir menyentuh 100%, mencerminkan aksesibilitas pendidikan yang merata. Sebagian besar penduduk usia kerja telah menyelesaikan pendidikan menengah atas, dengan tren peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya. Hal ini selaras dengan posisi Mojokerto sebagai pusat layanan pendidikan bagi wilayah penyangga di sekitarnya.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Sebagai kota non-pesisir yang terkepung oleh wilayah Kabupaten Mojokerto, dinamika urbanisasi di sini bersifat intensif dan terintegrasi. Pola migrasi bersifat commuting (ulang-alik), di mana ribuan pekerja dari daerah sekitar masuk ke pusat kota pada siang hari untuk bekerja di sektor ritel, pemerintahan, dan industri kecil. Sebaliknya, keterbatasan lahan pemukiman memicu pergeseran hunian penduduk ke arah wilayah pinggiran, menciptakan pola persebaran penduduk yang mulai merata ke seluruh kelurahan tanpa adanya kawasan pedesaan yang murni, mengingat statusnya sebagai wilayah perkotaan yang sepenuhnya terurbanisasi.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini tercatat sebagai salah satu daerah administrasi kota dengan luas wilayah terkecil di Indonesia, yakni hanya sekitar 20,21 kilometer persegi.
  • 2.Terdapat tradisi unik bernama 'Kirab Ampyang' yang melibatkan arak-arak gunungan nasi dan lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur masyarakat setempat.
  • 3.Kawasan ini dijuluki sebagai Kota Onde-Onde karena menjadi pusat kuliner bola ketan wijen legendaris yang resepnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
  • 4.Daerah ini merupakan pusat sejarah yang dikelilingi oleh peninggalan kemegahan Kerajaan Majapahit, termasuk situs-situs purbakala yang tersebar di wilayah sekitarnya.

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Mojokerto dari siluet petanya?