Pasuruan

Rare
Jawa Timur
Luas
39,44 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
2 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

Sejarah

#

Sejarah dan Perkembangan Pasuruan: Dari Bandar Gula hingga Kota Santri

Asal-Usul dan Masa Pra-Kolonial

Pasuruan, yang secara etimologis berasal dari kata "Pasuruhan" (tempat berkumpulnya para tamu atau tempat luruhnya kasih sayang), memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman Kerajaan Majapahit. Nama Pasuruan tercatat dalam kitab Nagarakretagama karya Prapanca. Pada abad ke-16, wilayah ini menjadi salah satu emporium penting di pesisir utara Jawa. Meskipun saat ini Kota Pasuruan secara administratif tidak bersinggungan langsung dengan garis pantai besar dalam konteks luas wilayah 39,44 km², perannya sebagai kota pelabuhan transit di masa lalu sangat krusial bagi distribusi rempah dan komoditas pedalaman. Tokoh kunci pada masa awal adalah Untung Surapati, seorang pahlawan nasional yang pernah menjadi penguasa Pasuruan (1686–1706) setelah melarikan diri dari VOC di Batavia. Di bawah kepemimpinannya, Pasuruan menjadi benteng perlawanan yang disegani kolonial Belanda.

Era Kolonial dan Kejayaan Industri Gula

Memasuki abad ke-19, Pasuruan bertransformasi menjadi pusat ekonomi Hindia Belanda melalui industri gula. Pada tahun 1830, seiring pemberlakuan Cultuurstelsel oleh Van den Bosch, wilayah ini menjadi lokasi berdirinya Proefstation Oost Java (POJ), yang kini dikenal sebagai Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Lembaga ini didirikan pada 9 Juli 1887 dan menjadi salah satu pusat riset tebu tertua di dunia. Keberadaan pabrik-pabrik gula seperti PG Kedawung membawa kemakmuran luar biasa, sehingga Pasuruan dijuluki sebagai "Kota Gula". Infrastruktur bergaya Eropa mulai bermunculan, termasuk gedung Harmonie (sekarang gedung pertemuan) dan arsitektur Indische Empire yang masih tegak berdiri di sepanjang Jalan Pahlawan.

Perjuangan Kemerdekaan dan Tokoh Lokal

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, Pasuruan mencatat heroisme yang tinggi. Pada masa pendudukan Jepang hingga Agresi Militer Belanda, pemuda-pemuda Pasuruan yang tergabung dalam BKR dan Laskar Hizbullah aktif melakukan gerilya. Nama-nama seperti KH. Abdul Hamid, seorang ulama kharismatik, menjadi simbol perlawanan kultural dan spiritual. Pasuruan juga menjadi saksi sejarah peristiwa "Pasuruan Berdarah" dan berbagai pertempuran mempertahankan kedaulatan di wilayah Jawa Timur, yang menghubungkan jalur logistik antara Surabaya dan Malang.

Warisan Budaya dan Modernitas

Identitas Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari julukan "Kota Santri". Keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah yang didirikan oleh KH. Abdul Hamid telah menjadikan kota ini sebagai pusat pendidikan Islam di Jawa Timur. Setiap tahun, tradisi Haul KH. Abdul Hamid menarik ribuan peziarah dari seluruh nusantara, mempertegas posisi Pasuruan dalam sejarah religi Indonesia. Selain itu, tradisi "Manten Sapi" dan kesenian "Terbang Bandung" tetap dilestarikan sebagai warisan lokal yang unik.

Kini, dengan luas wilayah yang kompak, Kota Pasuruan bertransformasi menjadi kota perdagangan dan jasa. Pembangunan pelabuhan terintegrasi dan revitalisasi kawasan cagar budaya menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan pelestarian sejarah. Gedung P3GI tetap menjadi monumen hidup yang mengingatkan dunia bahwa dari kota kecil ini, inovasi pertanian global pernah bermula.

Geografi

#

Geografi dan Lanskap Alam Kota Pasuruan

Kota Pasuruan merupakan salah satu pusat administrasi dan ekonomi yang krusial di koridor timur Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, kota ini memiliki karakteristik wilayah yang unik dengan luas area sekitar 39,44 km². Berbeda dengan Kabupaten Pasuruan yang berbatasan langsung dengan Selat Madura, wilayah administrasi Kota Pasuruan secara spesifik terletak di pedalaman dan dikelilingi oleh daratan (landlocked), menjadikannya daerah transit utama yang menghubungkan Surabaya dengan wilayah Tapal Kuda dan Bali.

##

Topografi dan Bentang Alam

Topografi Kota Pasuruan didominasi oleh dataran rendah yang relatif landai dengan kemiringan lereng berkisar antara 0 hingga 3 persen. Ketinggian wilayahnya berada pada rentang 0 hingga 10 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak memiliki garis pantai, dinamika hidrologi kota ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan sungai-sungai besar yang mengalir dari lereng kompleks Pegunungan Tengger dan Gunung Arjunopurwosari di sisi selatan. Sungai Gembong menjadi arteri drainase utama yang membelah pusat kota, berfungsi sebagai pengatur debit air sekaligus penanda geomorfologis penting yang memengaruhi pola pemukiman dan tata ruang kota.

##

Kondisi Klimatologi dan Variasi Musiman

Kota Pasuruan diklasifikasikan memiliki iklim tropis basah dan kering (Aw) menurut klasifikasi Köppen. Wilayah ini dikenal memiliki suhu udara yang cukup tinggi, dengan rata-rata harian berkisar antara 24°C hingga 34°C. Variasi musiman sangat dipengaruhi oleh sistem monsun; musim kemarau biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober, ditandai dengan hembusan angin tenggara yang kering. Sebaliknya, musim penghujan terjadi antara November hingga April. Intensitas curah hujan di wilayah ini relatif lebih rendah dibandingkan wilayah pegunungan di selatannya, menciptakan karakteristik udara yang cenderung panas dan lembap sepanjang tahun.

##

Sumber Daya Alam dan Potensi Agraris

Walaupun luas wilayahnya terbatas, Kota Pasuruan memiliki kekayaan sumber daya alam yang terfokus pada sektor agraris dan air tanah. Struktur tanahnya didominasi oleh jenis tanah aluvial yang sangat subur untuk kegiatan pertanian. Komoditas unggulan yang spesifik dari daerah ini meliputi perkebunan mangga Gadung dan pengembangan lahan persawahan teknis. Selain itu, kota ini memiliki cadangan air tanah yang melimpah karena posisinya yang berada di cekungan artesis bawah tanah yang mengalir dari pegunungan di sekitarnya, yang mendukung kebutuhan industri dan domestik.

##

Ekologi dan Biodiversitas

Secara ekologis, wilayah Kota Pasuruan merupakan zona transisi antara ekosistem dataran rendah pedalaman dan kawasan urban. Sebagian besar lahan telah terkonversi menjadi kawasan terbangun, namun kantong-kantong biodiversitas masih dapat ditemukan di bantaran sungai dan kawasan jalur hijau. Vegetasi yang mendominasi adalah tanaman perindang jalan dan pohon buah-buahan tropis. Upaya pelestarian ekologi difokuskan pada pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) untuk menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan dan mencegah terjadinya banjir luapan dari sungai-sungai utama saat musim penghujan tiba.

Budaya

#

Kekayaan Budaya Pasuruan: Harmoni Pesisir dan Tradisi Santri

Kota Pasuruan, meskipun memiliki luas wilayah yang relatif kecil yakni 39,44 km², menyimpan kekayaan budaya yang mendalam. Sebagai salah satu kota tertua di Jawa Timur, Pasuruan dikenal dengan julukan "Kota Santri" karena pengaruh kuat pesantren, namun tetap mempertahankan akar tradisi Jawa yang kental.

##

Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal

Satu tradisi yang paling ikonik di Pasuruan adalah Petik Laut, sebuah ritual syukur yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di wilayah pesisir seperti Panggungrejo. Ritual ini melibatkan pelarungan sesaji ke tengah laut dengan kapal yang dihias warna-warni. Selain itu, terdapat tradisi Manten Kopi di kawasan perkebunan, sebuah upacara simbolis "pernikahan" bibit kopi sebelum musim panen dimulai, yang bertujuan memohon berkah agar hasil bumi melimpah.

##

Kesenian, Musik, dan Seni Pertunjukan

Pasuruan adalah rumah bagi Seni Terbang Bandung, sebuah pertunjukan musik perkusi tradisional yang menggunakan rebana besar. Berbeda dengan hadrah biasa, Terbang Bandung memiliki ritme yang khas dan sering mengiringi pembacaan selawat atau acara khitanan. Dalam seni tari, Tari Terbang Jidor menjadi identitas unik yang menggabungkan elemen gerakan silat dengan irama perkusi yang dinamis. Kota ini juga memiliki keterikatan sejarah dengan Wayang Kulit gagrak Jawa Timuran yang cenderung lebih lugas dan energetik dibandingkan gaya Jawa Tengah.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Kuliner Pasuruan memiliki karakter yang kuat. Bipang Jangkar adalah camilan legendaris berbahan dasar beras yang telah diproduksi sejak tahun 1940-an. Selain itu, Kupang Kraton menjadi primadona kuliner; hidangan kerang kecil yang disajikan dengan petis kupang yang gurih, perasan jeruk nipis, dan sate kerang. Untuk oleh-oleh, Roti Matahari dan Klepon Bululawang (yang populer di jalur perlintasan) menjadi simbol keramahan masyarakat setempat.

##

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat Pasuruan menggunakan Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran yang tegas dan ceplas-ceplos. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan partikel "khu" atau "le" di akhir kalimat. Terdapat pula pengaruh Bahasa Madura yang cukup kuat di beberapa kantong pemukiman, menciptakan asimilasi linguistik yang unik yang sering disebut sebagai bahasa "Pendalungan".

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Pasuruan memiliki motif batik yang khas yaitu Batik Pasuruanan. Motifnya banyak mengeksplorasi kekayaan alam lokal, seperti motif Sirih Gading, Burung Kepodang, dan kembang-kembang pesisiran. Warna yang digunakan biasanya lebih berani dan cerah. Dalam acara formal, pria sering mengenakan busana takwa dengan sarung yang mencerminkan identitas santri, sementara wanita mengenakan kebaya dipadukan dengan jarik batik khas setempat.

##

Praktik Keagamaan dan Festival Budaya

Kehidupan religius di Pasuruan sangat kental dengan tradisi Nahdliyin. Perayaan Haul KH Abdul Hamid merupakan momen budaya-religius terbesar yang menyedot ratusan ribu peziarah dari seluruh Indonesia ke Masjid Agung Al-Anwar. Selain itu, pemerintah kota rutin menggelar Pasuruan Carnival yang menampilkan kreativitas kostum modern berbasis kearifan lokal, serta festival seni tradisional di Gedung Harmonie, bangunan cagar budaya yang menjadi saksi bisu kejayaan Pasuruan di masa kolonial.

Wisata

#

Menjelajahi Pesona Pasuruan: Gerbang Alam dan Budaya Jawa Timur

Pasuruan merupakan destinasi strategis di Jawa Timur yang menawarkan perpaduan harmoni antara kemegahan pegunungan dan warisan sejarah yang kental. Meski wilayah kotanya tergolong kompak, Kabupaten Pasuruan menyimpan kekayaan lanskap yang luar biasa, menjadikannya magnet bagi wisatawan yang mencari ketenangan sekaligus petualangan.

##

Keajaiban Alam dan Pegunungan

Daya tarik utama Pasuruan terletak pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melalui jalur Tosari, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit yang ikonik di Penanjakan. Selain Bromo, wilayah Prigen menawarkan kesejukan lereng Gunung Arjuno-Welirang. Di sini, Anda bisa menemukan Air Terjun Putuk Truno yang melegenda dan Kakek Bodo yang menyegarkan. Bagi pecinta flora, Kebun Raya Purwodadi menyajikan koleksi tumbuhan tropis yang tertata rapi dalam area konservasi yang luas.

##

Jejak Sejarah dan Wisata Budaya

Pasuruan menyimpan jejak kejayaan masa lalu melalui struktur bangunan kuno. Candi Jawi di Tretes adalah peninggalan Kerajaan Singasari yang unik karena memadukan unsur Hindu dan Buddha pada arsitekturnya. Di pusat kota, nuansa kolonial masih terasa kental melalui deretan bangunan tua seperti Gedung P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia). Selain itu, terdapat Masjid Jami’ Al-Anwar yang menjadi pusat wisata religi, berdekatan dengan makam KH Abdul Hamid yang selalu ramai diziarahi.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencari adrenalin, Taman Safari Indonesia II Jatim di Prigen memberikan pengalaman *safari adventure* yang interaktif dengan latar hutan pinus. Anda juga dapat mencoba kegiatan *trekking* menuju puncak Gunung Arjuno atau sekadar berkuda menyusuri lautan pasir Bromo. Bagi keluarga, Saygon Waterpark dan Pintu Langit menawarkan rekreasi modern dengan pemandangan perbukitan yang memukau.

##

Destinasi Kuliner Khas

Perjalanan ke Pasuruan tidak lengkap tanpa mencicipi Kupang Kraton, hidangan kerang kecil yang disiram kuah petis gurih dan disajikan dengan sate kerang serta lepet. Untuk buah tangan, Bipang Jangkar yang legendaris sejak tahun 1949 dan Roti Matahari adalah pilihan utama. Jangan lewatkan pula kesegaran Klepon Bululawang yang manis dan lumer di mulut.

##

Akomodasi dan Waktu Terbaik Berkunjung

Fasilitas akomodasi di Pasuruan sangat beragam, mulai dari resor mewah di kawasan Tretes hingga homestay ramah kantong di desa-desa wisata lereng Bromo. Keramahtamahan warga lokal, terutama masyarakat suku Tengger yang memegang teguh adat istiadat, akan membuat pengalaman menginap lebih berkesan.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau (Mei hingga September). Pada periode ini, langit cenderung cerah, memudahkan Anda melihat panorama pegunungan dengan jelas dan mengikuti festival budaya tahunan seperti upacara Yadnya Kasada di Bromo.

Ekonomi

#

Dinamika Ekonomi Kota Pasuruan: Hubungan Strategis Industri dan Perdagangan

Kota Pasuruan, dengan luas wilayah 39,44 km², memegang peranan vital sebagai simpul aktivitas ekonomi di koridor Timur Jawa Timur. Meskipun secara administratif terpisah dari wilayah kabupatennya yang memiliki garis pantai luas, Kota Pasuruan berfungsi sebagai pusat jasa, industri pengolahan, dan perdagangan yang melayani daerah pedalaman (hinterland) di sekitarnya.

##

Sektor Industri Pengolahan dan Manufaktur

Sektor industri merupakan tulang punggung ekonomi kota ini. Kehadiran kawasan industri dan perusahaan manufaktur skala besar menjadi penggerak utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Salah satu entitas industri yang paling ikonik adalah PT Rejeki Adiguna (Industri Pengolahan Kayu) dan kehadiran industri kimia serta logam. Selain itu, Kota Pasuruan dikenal sebagai pusat industri furnitur dan mebel yang berpusat di Kelurahan Bukir. Produk furnitur Bukir telah menembus pasar ekspor dan menjadi identitas ekonomi lokal yang menyerap ribuan tenaga kerja terampil di bidang pertukangan.

##

Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal

Selain mebel kayu, geliat ekonomi kerakyatan terlihat pada produksi Logam dan Alat Pertanian yang tersebar di beberapa sentra industri kecil. Kota ini juga memiliki keterkaitan erat dengan produksi Batik Pasuruan yang memiliki motif khas pesisiran, meskipun wilayah administratif kota saat ini lebih menonjolkan fungsi urban. Di sektor kuliner yang bernilai ekonomis tinggi, Bipang Jangkar dan Roti Matahari menjadi produk unggulan yang mendukung sektor UMKM dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang melintasi jalur utama Probolinggo-Surabaya.

##

Sektor Jasa, Perdagangan, dan Pariwisata

Sebagai kota yang dikelilingi oleh daratan dan berbatasan langsung dengan jalur utama Daendels, sektor perdagangan dan jasa tumbuh pesat. Pusat-pusat perbelanjaan dan ruko di sepanjang Jalan Niaga menjadi urat nadi perputaran uang. Dalam bidang pariwisata, pengembangan Wisata Religi Masjid Agung Al-Anwar dan makam KH Abdul Hamid menjadi pemicu ekonomi lokal, terutama bagi sektor transportasi lokal, penginapan, dan pedagang kaki lima.

##

Infrastruktur dan Konektivitas

Pertumbuhan ekonomi Pasuruan didukung kuat oleh konektivitas darat. Keberadaan Jalan Tol Gempol-Pasuruan telah memangkas waktu logistik menuju Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Hal ini menjadikan Kota Pasuruan lokasi yang menarik bagi investor untuk mendirikan gudang distribusi. Stasiun Pasuruan juga tetap menjadi hub penting bagi distribusi barang dan mobilisasi tenaga kerja menuju kawasan industri di sekitarnya.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Pembangunan

Transformasi ekonomi dari agraris ke industri-jasa terlihat jelas dari pergeseran tren ketenagakerjaan. Mayoritas penduduk kini menggantungkan hidup pada sektor formal di pabrik dan sektor informal di perdagangan. Pemerintah kota terus berupaya meningkatkan kualifikasi tenaga kerja melalui pelatihan vokasi untuk memenuhi standar industri manufaktur modern, guna menekan angka pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di tengah persaingan ekonomi regional Jawa Timur.

Demografi

#

Profil Demografi Kota Pasuruan, Jawa Timur

Kota Pasuruan, yang secara administratif terletak di koridor utama pantai utara Jawa Timur, memiliki karakteristik demografis yang unik meskipun wilayahnya relatif kecil, yakni hanya 39,44 km². Sebagai kota yang tidak berbatasan langsung dengan garis pantai dalam konteks administratif inti pemukimannya—meskipun secara geografis berada di wilayah pesisir—Pasuruan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi bagi daerah penyangga di sekitarnya.

Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kota Pasuruan mencapai lebih dari 210.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang terbatas, tingkat kepadatan penduduk melampaui 5.300 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di empat kecamatan utama: Gadingrejo, Purworejo, Bugul Kidul, dan Panggungrejo. Wilayah Purworejo mencatatkan kepadatan tertinggi karena perannya sebagai pusat administrasi dan komersial.

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Demografi Pasuruan dicirikan oleh pluralitas etnis yang harmonis. Suku Jawa dan Madura merupakan mayoritas yang membentuk identitas budaya lokal, yang sering disebut sebagai budaya "Pendalungan"—perpaduan antara tradisi agraris Jawa dan karakter pesisir Madura yang lugas. Selain itu, terdapat komunitas Tionghoa dan Arab yang signifikan, terutama di kawasan perdagangan lama, yang memperkaya keragaman religius dan sosial kota ini.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Kota Pasuruan memiliki struktur penduduk yang didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun), mencakup sekitar 70% dari total populasi. Piramida penduduk menunjukkan tren ekspansif menuju stasioner, di mana angka kelahiran mulai terkendali namun jumlah pemuda tetap tinggi. Hal ini menciptakan peluang bonus demografi bagi sektor industri dan jasa di wilayah tersebut.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat literasi di Kota Pasuruan sangat tinggi, mencapai angka di atas 98%. Pemerintah kota berfokus pada pemerataan akses pendidikan dasar dan menengah. Keberadaan berbagai pondok pesantren bersejarah juga menjadikan Pasuruan sebagai pusat pendidikan berbasis religi, yang menarik santri dari berbagai luar daerah, sehingga memengaruhi dinamika intelektual masyarakatnya.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Urbanisasi di Pasuruan didorong oleh perkembangan sektor industri pengolahan dan perdagangan. Pola migrasi bersifat sirkuler; banyak penduduk dari Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo yang melakukan komuter harian ke pusat kota. Sebaliknya, migrasi keluar biasanya didorong oleh pencarian pendidikan tinggi ke Malang atau Surabaya. Dinamika ini menjadikan Kota Pasuruan sebagai titik simpul yang vital dalam mobilitas penduduk di wilayah Jawa Timur bagian timur.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Karesidenan di masa kolonial yang membawahi wilayah Malang, Probolinggo, hingga Bangil.
  • 2.Tradisi unik 'Petik Laut Ngelo' dirayakan warga setiap tahun sebagai bentuk syukur, meskipun wilayah administratif kota ini tidak memiliki garis pantai.
  • 3.Secara geografis, wilayah kota ini merupakan enklave yang seluruh batas daratnya dikelilingi oleh satu kabupaten dengan nama yang sama.
  • 4.Pusat industri mebel kayu jati yang sangat populer ini terkenal dengan camilan khas berupa Bipang Jangkar yang sudah diproduksi sejak tahun 1949.

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Pasuruan dari siluet petanya?