Situs Sejarah

Istana Kuning

di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Pendirian: Manifestasi Identitas Kuning

Istana Kuning didirikan sebagai pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi para sultan dari Kesultanan Kutaringin. Nama "Kuning" pada istana ini sering kali disalahpahami oleh pendatang sebagai warna cat bangunan. Faktanya, bangunan ini didominasi oleh warna asli kayu ulin yang gelap cokelat. Nama "Kuning" merujuk pada warna keramat dalam tradisi Melayu dan kerajaan-kerajaan di Kalimantan yang melambangkan kebangsawanan, kemuliaan, dan kesucian.

Kesultanan Kutaringin sendiri didirikan pada abad ke-17 (sekitar tahun 1615) oleh Pangeran Adipati Antakasuma, putra dari Sultan Mustain Billah, Sultan Banjar IV. Pendirian istana ini menandai ekspansi pengaruh Kesultanan Banjar ke wilayah barat Kalimantan, yang kemudian berkembang menjadi entitas politik mandiri namun tetap memiliki ikatan kekeluargaan yang erat dengan Banjar. Istana yang berdiri saat ini adalah hasil rekonstruksi, mengingat bangunan aslinya sempat mengalami tragedi kebakaran besar pada masa lalu.

Arsitektur: Keagungan Kayu Ulin dan Filosofi Melayu-Dayak

Secara arsitektural, Istana Kuning merupakan mahakarya pertukangan kayu tradisional. Material utama bangunan ini adalah kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi, yang dikenal karena kekuatannya yang mampu bertahan ratusan tahun meski terpapar cuaca ekstrem tropis.

Struktur bangunan mengusung gaya rumah panggung yang khas di wilayah Kalimantan untuk menghindari luapan air sungai dan gangguan hewan liar. Namun, yang membedakannya adalah detail ornamennya. Istana ini memiliki empat bangunan utama yang saling terhubung, melambangkan empat penjuru mata angin atau keharmonisan hidup. Atapnya yang berbentuk limas menunjukkan pengaruh arsitektur Jawa-Banjar, sementara pola ukiran pada dinding dan pagar menampilkan motif flora yang lembut, mencerminkan pengaruh Islam yang menghindari penggambaran makhluk hidup secara nyata.

Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan pasak kayu sebagai pengganti paku besi. Teknik ini memungkinkan struktur bangunan tetap fleksibel namun sangat kokoh. Meski terlihat sederhana dari luar, bagian dalam istana dirancang dengan sirkulasi udara yang sangat baik, membuat suasana di dalam tetap sejuk tanpa bantuan pendingin mekanis.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Istana Kuning adalah pusat gravitasi politik di wilayah barat Kalimantan. Di sinilah keputusan-keputusan penting diambil, mulai dari strategi perdagangan gaharu dan emas, hingga kebijakan diplomasi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kesultanan Kutaringin dikenal sebagai kerajaan yang cukup otonom dan mampu menjaga stabilitas wilayahnya dari pengaruh luar untuk waktu yang cukup lama.

Peristiwa paling memilukan dalam sejarah situs ini terjadi pada tahun 1986. Sebuah insiden pembakaran oleh orang yang tidak bertanggung jawab menghanguskan hampir seluruh bangunan asli istana beserta banyak artefak berharga di dalamnya. Peristiwa ini menjadi luka dalam bagi masyarakat Kotawaringin Barat. Namun, semangat untuk mempertahankan identitas budaya mendorong dimulainya upaya rekonstruksi besar-besaran pada tahun 2000-an untuk mengembalikan kemegahan istana sesuai dengan bentuk aslinya berdasarkan catatan sejarah dan foto-foto lama.

Tokoh Kunci: Pangeran Adipati Antakasuma

Berbicara tentang Istana Kuning tidak lepas dari sosok Pangeran Adipati Antakasuma. Beliau adalah tokoh sentral yang melakukan negosiasi dengan suku Dayak pedalaman untuk mendirikan pemerintahan di wilayah ini. Kedatangannya tidak dianggap sebagai penjajahan, melainkan sebagai bentuk aliansi budaya dan politik. Melalui kepemimpinannya, Islam mulai menyebar secara damai di sepanjang aliran Sungai Lamandau dan Sungai Arut, menciptakan asimilasi budaya yang harmonis antara tradisi Melayu pesisir dan tradisi Dayak di hulu.

Pelestarian dan Restorasi: Menolak Lupa

Saat ini, Istana Kuning telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya. Pemerintah daerah Kotawaringin Barat bersama dengan keluarga ahli waris kesultanan terus melakukan upaya pemeliharaan. Pasca rekonstruksi, istana ini tidak lagi berfungsi sebagai pusat pemerintahan administratif, melainkan sebagai museum hidup dan pusat kegiatan kebudayaan.

Meskipun banyak benda pusaka asli yang hilang saat kebakaran 1986, beberapa replika dan benda yang berhasil diselamatkan kini dipamerkan di dalam istana, termasuk meriam kuno, singgasana raja, dan foto-foto silsilah keluarga kesultanan. Upaya pelestarian ini tidak hanya fokus pada bangunan fisik, tetapi juga pada penghidupan kembali tradisi istana, seperti upacara adat dan penyambutan tamu agung yang masih menggunakan tata cara kesultanan.

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Pangkalan Bun, Istana Kuning adalah simbol religiusitas. Sebagai pusat penyebaran Islam perdana di Kalimantan Tengah, istana ini memiliki keterikatan batin dengan Masjid Jami’ Abdurrahman Imanuddin yang terletak tidak jauh dari kompleks istana. Hubungan antara Istana (Umara) dan Masjid (Ulama) menggambarkan sistem pemerintahan Kutaringin yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Setiap sudut Istana Kuning mengajarkan tentang kearifan lokal dalam mengelola alam. Penggunaan kayu ulin tanpa merusak ekosistem hutan secara masif pada masa lalu menunjukkan bahwa leluhur Kotawaringin memiliki visi keberlanjutan. Kini, dengan berdiri tegaknya kembali Istana Kuning, generasi muda Kalimantan Tengah memiliki kompas sejarah untuk memahami dari mana mereka berasal dan bagaimana keberagaman telah dirajut sejak masa Pangeran Antakasuma.

Sebagai destinasi wisata sejarah, Istana Kuning menawarkan lebih dari sekadar pemandangan bangunan tua. Ia menawarkan narasi tentang ketahanan sebuah budaya yang menolak punah meski diterjang api, dan sebuah identitas yang tetap bersinar "kuning" di hati masyarakatnya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Pangeran Antasari, Raja, Kec. Arut Selatan, Pangkalan Bun
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Kotawaringin Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kotawaringin Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Kotawaringin Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kotawaringin Barat