Situs Sejarah

Masjid Jami Kyai Gede

di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Syiar Islam di Tanah Waringin: Sejarah dan Kemegahan Masjid Jami Kyai Gede

Masjid Jami Kyai Gede bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak awal masuknya Islam di wilayah Kalimantan Tengah. Terletak di Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, masjid ini berdiri sebagai simbol peradaban, keberanian dakwah, dan keharmonisan arsitektur nusantara. Sebagai salah satu situs sejarah (situs cagar budaya) tertua di Bumi Tambun Bungai, Masjid Jami Kyai Gede menyimpan narasi panjang tentang Kesultanan Kotawaringin dan pengaruh besar seorang ulama asal Jawa.

#

Asal-Usul dan Periodisasi Pendirian

Sejarah Masjid Jami Kyai Gede tidak dapat dipisahkan dari sosok Kyai Gede, seorang ulama kharismatik utusan Kesultanan Demak yang datang ke wilayah Kalimantan pada abad ke-17. Berdasarkan catatan sejarah lisan dan naskah lokal, masjid ini didirikan pada tahun 1632 Masehi (beberapa sumber menyebutkan sekitar tahun 1675 M) pada masa pemerintahan Sultan Mustainu Billah dari Kesultanan Banjar, yang kemudian memberikan restu bagi berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan Pangeran Adipati Antasari (Sultan Pertama Kotawaringin) sebagai penguasanya.

Kyai Gede, yang memiliki nama asli pemuda asal Jawa namun mengabdi di tanah Borneo, diutus untuk menyebarkan ajaran Islam sekaligus membantu menata sistem pemerintahan kesultanan yang baru terbentuk. Masjid ini dibangun sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan titik kumpul masyarakat dalam menjalankan syariat agama. Nama "Kyai Gede" disematkan sebagai bentuk penghormatan abadi kepada sang ulama yang jasa-jasanya dianggap sangat besar bagi masyarakat Kotawaringin.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Ikonik

Salah satu aspek paling menonjol dari Masjid Jami Kyai Gede adalah gaya arsitekturnya yang mencerminkan akulturasi budaya. Struktur bangunan ini didominasi oleh kayu ulin (kayu besi) berkualitas tinggi, yang dikenal karena ketahanannya terhadap cuaca ekstrem dan usia yang mencapai ratusan tahun.

Secara visual, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur tradisional Jawa-Demak yang dipadukan dengan kearifan lokal Kalimantan. Atapnya berbentuk tumpang (tumpang tiga), yang melambangkan tingkatan dalam ajaran Islam: Iman, Islam, dan Ihsan. Konstruksi tanpa paku besi—melainkan menggunakan pasak kayu—menunjukkan kecanggihan teknik pertukangan pada masa itu.

Bagian interior masjid ditopang oleh tiang-tiang kayu ulin berukuran besar yang masih kokoh hingga saat ini. Keunikan lainnya terletak pada bagian mimbar yang memiliki ukiran khas perpaduan motif tumbuhan nusantara dan gaya Timur Tengah. Posisi masjid yang berada di tepian sungai juga mencerminkan pola pemukiman tradisional Kalimantan, di mana sungai merupakan urat nadi transportasi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Masjid Jami Kyai Gede berperan sebagai saksi bisu transisi kepercayaan masyarakat lokal dari animisme dan dinamisme menuju Islam. Keberadaannya menandai pergeseran kekuasaan politik di wilayah tersebut, di mana nilai-nilai Islam mulai diintegrasikan ke dalam hukum adat dan tata kelola Kesultanan Kotawaringin.

Salah satu peristiwa penting yang dikaitkan dengan masjid ini adalah perannya sebagai benteng spiritual saat masa kolonialisme. Masjid ini bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat musyawarah para pejuang dan tokoh agama dalam menyusun strategi menghadapi pengaruh asing. Selain itu, area di sekitar masjid, termasuk makam Kyai Gede yang terletak tidak jauh dari sana, telah menjadi pusat ziarah yang menghubungkan masyarakat Kalteng dengan akar sejarah mereka di tanah Jawa.

#

Tokoh dan Masa Keemasan Kesultanan

Kyai Gede sendiri adalah tokoh sentral. Beliau bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga penasihat politik bagi Sultan Kotawaringin pertama. Kedekatannya dengan penguasa memastikan bahwa Islam menjadi agama resmi kesultanan tanpa melalui jalur kekerasan, melainkan melalui pendekatan budaya dan pendidikan.

Masa keemasan masjid ini terjadi beriringan dengan puncak kejayaan Kesultanan Kotawaringin sebagai pelabuhan perdagangan yang penting di selatan Kalimantan. Selama periode ini, masjid menjadi magnet bagi para pelancong dan pedagang muslim dari berbagai penjuru nusantara, yang secara tidak langsung memperkaya wawasan budaya di Kotawaringin Lama.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Masjid Jami Kyai Gede telah menjalani beberapa kali tahap restorasi. Tantangan utama dalam pelestarian masjid ini adalah faktor usia kayu dan kondisi tanah di tepian sungai yang rawan erosi.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) secara berkala melakukan perawatan tanpa mengubah bentuk asli bangunan. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama pada bagian atap sirap dan tiang penyangga utama. Upaya konservasi ini bertujuan untuk mempertahankan otentisitas material kayu ulin yang menjadi ciri khas utama bangunan. Saat ini, masjid ini tetap berfungsi aktif sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi unggulan di Kalimantan Tengah.

#

Pentingnya Budaya dan Keagamaan bagi Masyarakat

Bagi masyarakat Kotawaringin Barat, Masjid Jami Kyai Gede adalah "ruh" dari identitas mereka. Setiap tahun, ribuan jamaah memadati masjid ini pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ziarah ke makam Kyai Gede yang berdekatan dengan masjid juga menjadi fenomena sosial yang menggerakkan ekonomi lokal.

Nilai filosofis yang terkandung dalam bangunan ini mengajarkan tentang keteguhan (dilambangkan dengan kayu ulin) dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Keberadaan masjid ini menegaskan bahwa Islam di Kalimantan Tengah tumbuh dengan menghargai tradisi lokal, menciptakan harmoni yang lestari hingga generasi modern saat ini.

#

Fakta Sejarah Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan bedug tua di dalam masjid yang konon suaranya pada masa lalu dapat terdengar hingga ke desa-desa tetangga yang berjarak cukup jauh. Selain itu, pola tata ruang masjid yang menghadap ke arah kiblat dengan presisi yang tinggi menunjukkan bahwa meskipun dibangun pada abad ke-17 dengan alat sederhana, para pendirinya memiliki pemahaman astronomi yang mumpuni.

Masjid Jami Kyai Gede tetap berdiri tegak sebagai simbol kejayaan masa lalu dan harapan masa depan. Ia adalah warisan yang melampaui batas waktu, mengingatkan setiap pengunjung akan kebesaran sejarah Islam di tanah Kalimantan yang penuh dengan nilai-nilai toleransi dan kearifan tinggi.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kotawaringin Hulu, Kec. Kotawaringin Lama
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, Waktu Shalat

Tempat Menarik Lainnya di Kotawaringin Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kotawaringin Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Kotawaringin Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kotawaringin Barat