Bangunan Ikonik

Vihara Hiang Thian Siang Tie

di Kubu Raya, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Filosofi Desain dan Gaya Arsitektur Oriental Klasik

Arsitektur Vihara Hiang Thian Siang Tie mengadopsi gaya tradisional Tiongkok Selatan yang sangat kuat, khususnya pengaruh dari gaya arsitektur Hokkien dan Teochew. Ciri khas utama yang langsung menyita perhatian adalah penggunaan warna merah menyala dan emas yang mendominasi seluruh fasad bangunan. Warna merah dalam kosmologi Tionghoa melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan pengusir energi negatif, sementara warna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan sang pencipta.

Prinsip desain bangunan ini mengikuti kaidah simetrisitas yang ketat, sebuah konsep yang dalam arsitektur Tiongkok melambangkan keseimbangan alam semesta (Yin dan Yang). Gerbang utamanya dirancang dengan tipologi Paifang yang megah, menampilkan ukiran relief yang rumit dan presisi. Setiap jengkal dinding dan pilar tidak dibiarkan polos; mereka dipenuhi dengan narasi visual yang menceritakan legenda dewa-dewi serta ajaran moralitas.

Konteks Sejarah dan Narasi Pembangunan

Pembangunan Vihara Hiang Thian Siang Tie di Kubu Raya tidak lepas dari migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke daratan Kalimantan berabad-abad silam. Vihara ini didedikasikan untuk Dewa Hiang Thian Siang Tie (Xuan Tian Shang Di), yang dalam kepercayaan masyarakat setempat dikenal sebagai Dewa Langit Utara yang berkuasa atas elemen air dan memiliki kekuatan untuk menetralisir bencana.

Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, struktur bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil dari dedikasi kolektif komunitas lokal. Pembangunannya melibatkan pengrajin ahli yang didatangkan khusus untuk memastikan detail ornamen, seperti ukiran naga dan burung phoenix, memiliki kualitas autentik yang setara dengan kuil-kuil besar di Tiongkok daratan. Proses konstruksinya menggabungkan material modern dengan teknik pertukangan kayu tradisional pada bagian interior plafon.

Inovasi Struktural dan Keunikan Elemen Visual

Salah satu elemen arsitektur yang paling menonjol dari Vihara Hiang Thian Siang Tie adalah desain atapnya yang menggunakan teknik tumpuk (multi-tiered roof). Ujung atap yang melengkung tajam ke atas, yang dikenal sebagai gaya "Ekor Walet" (Yanwei), berfungsi tidak hanya secara estetika tetapi juga secara fungsional untuk mengalirkan air hujan tropis yang deras di Kalimantan Barat dengan efisien.

Di atas bubungan atap, terdapat sepasang patung naga yang saling berhadapan memperebutkan mustika api. Naga-naga ini dikerjakan dengan teknik Jiannian, yaitu seni memotong keramik atau kaca berwarna menjadi kepingan kecil kemudian menyusunnya menjadi mosaik tiga dimensi. Teknik ini memberikan efek kilauan yang dinamis saat terkena sinar matahari, menciptakan impresi bahwa naga tersebut sedang bergerak di atas awan.

Pilar-pilar utama vihara merupakan inovasi struktural yang menarik. Alih-alih hanya berfungsi sebagai penyangga beban atap, pilar beton silinder ini dibalut dengan ukiran naga yang melilit dari bawah hingga ke atas. Detail sisik naga dan ekspresi wajahnya dibuat dengan tingkat presisi tinggi, memberikan kesan megah dan berwibawa bagi siapapun yang memasuki area main hall.

Signifikansi Budaya dan Integrasi Sosial

Secara sosial, Vihara Hiang Thian Siang Tie berfungsi sebagai "ruang ketiga" bagi masyarakat Kubu Raya. Meskipun merupakan tempat ibadah khusus, arsitekturnya yang terbuka dan megah menjadikannya destinasi wisata religi yang inklusif. Bangunan ini menjadi bukti nyata bagaimana arsitektur dapat berperan sebagai jembatan komunikasi antarbudaya.

Pada perayaan besar seperti Imlek atau Cap Go Meh, vihara ini bertransformasi menjadi pusat gravitasi budaya. Penataan ruang luar (plaza) yang luas memungkinkan terjadinya interaksi sosial dalam skala besar, mulai dari pertunjukan Barongsai hingga pasar amal. Penempatan vihara yang berdekatan dengan pemukiman dan aliran sungai juga mencerminkan konsep Feng Shui yang ideal, di mana bangunan "bersandar pada gunung" (simbolis melalui struktur bangunan yang kokoh) dan "menghadap ke air".

Pengalaman Ruang dan Interior

Memasuki bagian dalam vihara, pengunjung akan disambut dengan suasana yang kontras dengan hiruk-pikuk di luar. Pencahayaan alami diatur sedemikian rupa melalui celah-celah skylight tradisional yang memungkinkan asap hio (dupa) naik ke atas secara vertikal, menciptakan efek dramatis "tangga cahaya".

Lantai vihara umumnya menggunakan material batu alam atau keramik berkualitas tinggi dengan pola-pola geometris yang mengarahkan pandangan menuju altar utama. Altar Hiang Thian Siang Tie sendiri merupakan pusat perhatian (focal point) arsitektural di dalam ruangan. Altar ini terbuat dari kayu jati yang diukir halus dan dilapisi prada emas, menampilkan keahlian kriya yang luar biasa. Langit-langitnya mengadopsi sistem Dagong (braket kayu) yang disusun tanpa paku, memperlihatkan kecerdasan teknik konstruksi kuno yang tetap relevan hingga kini.

Pelestarian dan Masa Depan Ikon Kubu Raya

Sebagai bangunan ikonik di Kalimantan Barat, pemeliharaan Vihara Hiang Thian Siang Tie dilakukan secara berkala untuk menjaga integritas strukturalnya dari iklim tropis yang lembap. Penggunaan cat khusus yang tahan cuaca dan pembersihan rutin terhadap ornamen keramik menjadi kunci utama bertahannya kemegahan bangunan ini.

Saat ini, Vihara Hiang Thian Siang Tie tidak hanya dipandang sebagai aset bagi umat beragama tertentu, tetapi telah diakui sebagai warisan arsitektur yang memperkaya khazanah budaya Kabupaten Kubu Raya. Bagi para arsitek dan pemerhati sejarah, bangunan ini adalah laboratorium hidup untuk mempelajari bagaimana estetika tradisional Tiongkok dapat beradaptasi dan tumbuh subur di tanah Kalimantan, menciptakan sebuah identitas visual yang unik dan tak tergantikan. Wisatawan yang berkunjung akan merasakan pengalaman spiritual sekaligus estetis, mengagumi bagaimana setiap sudut bangunan bercerita tentang harmoni, doa, dan harapan manusia yang tertuang dalam bentuk fisik bangunan yang megah.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 06:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Kubu Raya

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kubu Raya

Pelajari lebih lanjut tentang Kubu Raya dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kubu Raya