Situs Sejarah

Bendungan Watervang

di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kolonial di Aliran Sungai Kelingi: Sejarah Lengkap Bendungan Watervang

Bendungan Watervang bukan sekadar infrastruktur pengairan biasa; ia adalah monumen hidup yang merekam ambisi kolonial Belanda di Bumi Silampari. Terletak di Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuk Linggau Timur I, Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, situs ini berdiri kokoh sebagai saksi bisu transformasi sosiologi dan ekonomi wilayah tersebut sejak awal abad ke-20.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Bendungan Watervang dimulai pada tahun 1939 dan selesai pada tahun 1941, tepat setahun sebelum kekuasaan Hindia Belanda runtuh di tangan Jepang. Nama "Watervang" sendiri diambil dari bahasa Belanda, di mana water berarti air dan vang (dari kata vangen) berarti menangkap atau menangkap air. Secara harfiah, Watervang bermakna "penangkap air" atau bendungan.

Prakarsa pembangunan ini muncul dari kebijakan Ethische Politiek atau Politik Etis yang dicanangkan pemerintah kolonial, khususnya pada pilar irigasi. Tujuannya adalah untuk mengairi lahan persawahan yang luas di wilayah Musi Rawas, yang saat itu diproyeksikan menjadi lumbung pangan baru di Sumatera Selatan guna mendukung kebutuhan logistik perkebunan dan permukiman transmigrasi awal yang didatangkan dari Pulau Jawa.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Dari segi arsitektural, Bendungan Watervang mengusung gaya Waterstaat, sebuah gaya rekayasa sipil khas Belanda yang mengutamakan fungsi tanpa mengabaikan estetika ketahanan. Bendungan ini membendung aliran Sungai Kelingi dengan konstruksi beton bertulang yang sangat masif.

Salah satu ciri khas unik Watervang adalah desain mercu bendungnya yang bertingkat. Konstruksi ini tidak hanya berfungsi untuk memecah energi air agar tidak merusak dasar sungai di bagian hilir (kolam olak), tetapi juga menciptakan efek visual seperti air terjun bertingkat yang membentang sepanjang kurang lebih 50 meter.

Teknologi pintu air yang digunakan pada masa itu merupakan teknologi mutakhir. Pintu-pintu air manual dengan roda gigi raksasa masih dapat dilihat, menunjukkan presisi teknik metalurgi masa lalu. Beton yang digunakan konon menggunakan campuran material lokal yang dipadukan dengan semen berkualitas tinggi yang didatangkan khusus lewat jalur kereta api Palembang-Lubuk Linggau yang baru saja rampung beberapa tahun sebelumnya.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Secara historis, Watervang adalah jantung dari sistem irigasi Tugumulyo. Tanpa bendungan ini, sejarah pemukiman di Musi Rawas tidak akan pernah ada. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), bendungan ini diambil alih untuk memastikan pasokan beras bagi tentara Dai Nippon di wilayah Sumatera bagian selatan.

Pasca kemerdekaan, Watervang menjadi saksi perjuangan rakyat Lubuk Linggau dalam mempertahankan kedaulatan. Dalam periode Agresi Militer Belanda I dan II, kawasan sekitar Sungai Kelingi sering kali menjadi garis pertahanan para pejuang karena posisinya yang strategis secara topografis. Bendungan ini juga menjadi simbol transisi peradaban, dari pola pertanian tadah hujan menjadi sistem pertanian teknis yang menetap.

#

Tokoh dan Periode Terhubung

Tokoh di balik perancangan teknis bendungan ini umumnya adalah para insinyur dari Burgelijke Openbare Werken (BOW), dinas pekerjaan umum zaman Belanda. Meskipun nama individu perancangnya jarang tercatat dalam literatur populer lokal, jejak pengerjaannya melibatkan ribuan tenaga kerja lokal dan kaum kuli kontrak yang didatangkan melalui program Kolonisatie (transmigrasi versi Belanda).

Kawasan ini juga sangat lekat dengan masa pemerintahan Residen Sumatera Selatan pada era transisi. Keberadaan bendungan ini memperkuat posisi Lubuk Linggau sebagai kota administratif yang penting karena menjadi titik temu distribusi logistik dari pedalaman menuju Palembang.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Bendungan Watervang telah ditetapkan sebagai salah satu Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Lubuk Linggau. Meskipun fungsinya sebagai sarana irigasi tetap berjalan normal mengairi ribuan hektar sawah hingga ke wilayah Kabupaten Musi Rawas, upaya pelestarian terus dilakukan untuk menjaga nilai sejarahnya.

Pemerintah setempat telah melakukan beberapa kali renovasi pada area sekitar bendungan untuk mendukung fungsi pariwisata. Pembangunan jembatan gantung (jembatan goyang) di atas aliran sungai memberikan akses bagi wisatawan untuk menikmati arsitektur bendungan dari ketinggian. Meskipun terdapat penambahan elemen modern seperti pagar pengaman dan taman, struktur utama beton peninggalan Belanda tetap dipertahankan keasliannya guna menjaga integritas historis situs.

#

Kepentingan Budaya dan Keunikan Fakta

Secara budaya, Watervang telah menyatu dengan identitas masyarakat Lubuk Linggau. Setiap hari libur, kawasan ini menjadi ruang publik tempat berkumpulnya warga. Ada tradisi lisan yang berkembang di masyarakat sekitar mengenai kekuatan konstruksi bendungan ini yang dianggap "tak hancur oleh zaman".

Beberapa fakta unik mengenai Bendungan Watervang:

1. Efek Suara: Karena desain bertingkatnya, suara gemuruh air di Watervang dapat terdengar hingga radius ratusan meter pada malam hari saat debit air sungai sedang tinggi.

2. Sistem Gravitasi: Hebatnya, sistem irigasi yang bermuara di sini dirancang dengan perhitungan elevasi yang sangat akurat, sehingga air dapat mengalir secara gravitasi sejauh puluhan kilometer tanpa bantuan pompa listrik.

3. Hubungan dengan Kereta Api: Pembangunan bendungan ini berjalan simultan dengan pengembangan stasiun akhir kereta api Lubuk Linggau, menjadikannya bagian dari rencana besar Belanda menjadikan kota ini sebagai pusat ekonomi di ujung barat Sumatera Selatan.

Sebagai penutup, Bendungan Watervang adalah bukti nyata bahwa infrastruktur masa lalu dapat melampaui usia zamannya. Ia bukan sekadar tumpukan beton, melainkan urat nadi kehidupan petani dan monumen ilmu pengetahuan yang menghubungkan masa kolonial dengan kemajuan Kota Lubuk Linggau di masa kini. Menjaga Watervang berarti menjaga sejarah ketahanan pangan dan kearifan teknik yang telah menghidupi ribuan jiwa selama hampir satu abad.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuk Linggau Timur I
entrance fee
Gratis (Hanya biaya parkir)
opening hours
Buka 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Lubuk Linggau

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Lubuk Linggau

Pelajari lebih lanjut tentang Lubuk Linggau dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Lubuk Linggau