Museum Subkoss Garuda Sriwijaya
di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Sejarah Pendirian
Nama "Subkoss" merupakan singkatan dari Sub Komandemen Sumatera Selatan. Secara historis, gedung ini mulai difungsikan sebagai markas militer pada masa Perang Kemerdekaan (1945-1949). Pendirian markas ini dipicu oleh kebutuhan mendesak untuk mengoordinasikan kekuatan militer di wilayah Sumatera bagian selatan guna menghadapi agresi militer Belanda.
Gedung yang kini menjadi museum ini awalnya adalah rumah tinggal milik seorang pejabat kolonial Belanda yang dibangun pada kurun waktu 1930-an. Namun, pasca proklamasi kemerdekaan, bangunan ini diambil alih oleh para pejuang. Pada tahun 1947, ketika tekanan militer Belanda semakin menguat di Palembang, pusat komando militer dipindahkan ke Lubuk Linggau karena letaknya yang strategis secara geografis, terlindung oleh topografi perbukitan dan menjadi titik temu jalur kereta api serta jalan darat menuju Bengkulu dan Sumatera Barat.
Secara resmi, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Ramli Hasan Basri, pada pertengahan tahun 1988. Peresmian ini bertujuan untuk menyelamatkan aset sejarah perjuangan agar tidak hilang ditelan zaman serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya mengadopsi gaya Indische Empire Style, sebuah perpaduan antara gaya arsitektur Eropa (Belanda) dengan penyesuaian terhadap iklim tropis Indonesia. Ciri khas kolonial sangat kental terlihat pada dinding bangunan yang tebal, langit-langit (plafon) yang tinggi untuk sirkulasi udara yang baik, serta jendela-jendela besar dengan daun pintu kayu yang kokoh.
Konstruksi utamanya menggunakan material beton dan kayu berkualitas tinggi yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini. Di bagian depan museum, terdapat teras luas yang didukung oleh pilar-pilar beton sederhana namun memberikan kesan megah. Salah satu elemen arsitektur yang paling mencolok dan menjadi ikon adalah lambang "Garuda Sriwijaya" yang terpatri di bagian depan, melambangkan keberanian dan kejayaan warisan leluhur di tanah Sumatera Selatan.
Di halaman museum, pengunjung akan disambut oleh monumen berupa lokomotif uap kuno seri C30067. Lokomotif ini bukan sekadar pajangan; ia adalah saksi bisu mobilisasi pasukan dan logistik perang dari Palembang menuju Lubuk Linggau selama masa revolusi fisik.
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Signifikansi Museum Subkoss terletak pada perannya sebagai "Pusat Komando". Di dalam gedung inilah keputusan-keputusan strategis diambil untuk menghadapi Agresi Militer Belanda I dan II. Lubuk Linggau saat itu dijuluki sebagai "Kota Perjuangan" karena menjadi benteng terakhir pertahanan Sumatera Selatan sebelum jatuh ke tangan musuh.
Salah satu peristiwa unik yang tercatat adalah fungsi gedung ini sebagai tempat koordinasi uang darurat atau ORIDA (Uang Republik Indonesia Daerah). Karena terputusnya jalur komunikasi dengan pusat di Yogyakarta, pemerintah di Sumatera Bagian Selatan mencetak mata uang sendiri untuk menjaga stabilitas ekonomi dan membiayai perjuangan. Museum ini menyimpan spesimen dan alat cetak yang digunakan pada masa tersebut.
Selain itu, gedung ini menjadi saksi penyatuan berbagai faksi perjuangan, mulai dari tentara reguler (TRI/TNI) hingga laskar-laskar rakyat yang berasal dari berbagai daerah seperti Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan sendiri.
Tokoh Penting dan Koleksi Unggulan
Beberapa tokoh militer legendaris Indonesia memiliki keterikatan kuat dengan situs ini. Nama-nama seperti Kolonel Maludin Simbolon dan Letnan Kolonel Bambang Utoyo tercatat pernah menjalankan komando dari gedung ini. Mereka adalah arsitek pertahanan yang berhasil memperlambat pergerakan pasukan Belanda di wilayah pedalaman Sumatera.
Koleksi museum ini sangat spesifik dan otentik. Terdapat sekitar 150 lebih koleksi benda bersejarah yang dipamerkan, antara lain:
1. Senjata Tradisional dan Modern: Mulai dari keris, tombak, hingga senapan mesin sisa perang dunia kedua yang dirampas dari tentara Jepang dan Belanda.
2. Peralatan Komunikasi: Telepon lapangan dan radio kuno yang digunakan untuk menyadap transmisi musuh.
3. Dokumen dan Peta Perang: Peta asli strategi gerilya di hutan-hutan Sumatera Selatan.
4. Pakaian Dinas: Seragam asli para pejuang yang masih menyisakan jejak sejarah perjuangan fisik.
Status Konservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya dikelola oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Statusnya sebagai Cagar Budaya yang dilindungi undang-undang memastikan bahwa setiap perubahan fisik pada bangunan harus melalui prosedur konservasi yang ketat.
Restorasi dilakukan secara berkala untuk menjaga kekuatan struktur bangunan, terutama pada bagian atap dan lantai kayu yang rentan terhadap pelapukan. Upaya modernisasi juga dilakukan dengan penataan tata cahaya dan penambahan label informasi digital untuk memudahkan pengunjung memahami narasi sejarah yang disampaikan. Meskipun ada pembaruan, pemerintah setempat berkomitmen untuk mempertahankan setidaknya 90% keaslian bentuk bangunan aslinya.
Relevansi Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat Lubuk Linggau dan Sumatera Selatan pada umumnya, Museum Subkoss adalah simbol harga diri. Situs ini sering menjadi pusat kegiatan peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan Hari Pahlawan 10 November.
Secara budaya, museum ini mengajarkan nilai "Batang Hari Sembilan", sebuah filosofi persatuan masyarakat di sembilan anak sungai besar di Sumatera Selatan yang bahu-membahu melawan penjajahan. Keberadaan museum ini membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga berkecamuk hebat di bumi Sriwijaya dengan skala yang sangat masif.
Sebagai destinasi wisata sejarah, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya menawarkan pengalaman yang imersif. Pengunjung tidak hanya melihat benda mati, tetapi seolah diajak kembali ke masa tahun 1948, membayangkan deru mesin lokomotif uap dan diskusi tegang para perwira di dalam ruangan gedung yang teduh ini. Museum ini tetap berdiri sebagai pengingat bahwa kemerdekaan adalah hasil dari strategi yang matang dan persatuan yang tak tergoyahkan.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Lubuk Linggau
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Lubuk Linggau
Pelajari lebih lanjut tentang Lubuk Linggau dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Lubuk Linggau