Situs Sejarah

Benteng Rotterdam

di Makassar, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Benteng Rotterdam: Saksi Bisu Kejayaan Gowa hingga Pusat Kolonialisme di Timur Nusantara

Benteng Rotterdam, atau yang secara lokal dikenal sebagai Benteng Panyua, berdiri kokoh di pesisir barat Kota Makassar sebagai monumen sejarah yang paling terawat di Sulawesi Selatan. Situs ini bukan sekadar tumpukan batu dan semen, melainkan sebuah narasi panjang yang mencakup masa keemasan kerajaan lokal, era penaklukan kolonial, hingga transformasi menjadi pusat kebudayaan modern.

#

Asal-Usul dan Pendirian: Dari Panyua ke Rotterdam

Sejarah Benteng Rotterdam bermula pada tahun 1545, di bawah pemerintahan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna. Pada awalnya, benteng ini bernama Benteng Panyua (Penyu), sebuah nama yang merujuk pada bentuk fisik benteng yang menyerupai seekor penyu yang hendak merangkak turun ke laut. Pemilihan bentuk penyu ini bukan tanpa alasan; dalam filosofi Kerajaan Gowa, penyu adalah simbol kejayaan di darat dan di laut, mencerminkan kekuatan maritim Makassar yang disegani di seluruh Nusantara.

Awalnya, struktur benteng ini hanya terbuat dari campuran tanah liat dan batu putih. Namun, pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin, konstruksi benteng ditingkatkan menggunakan batu padas hitam yang didatangkan dari daerah Maros. Benteng ini merupakan satu dari 17 benteng pertahanan yang dimiliki Kerajaan Gowa-Tallo dalam upaya membentengi wilayah mereka dari ekspansi kekuatan asing.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Rotterdam menyajikan perpaduan unik antara rancang bangun lokal Makassar dan modifikasi gaya Renaisans Eropa. Setelah jatuh ke tangan Belanda melalui Perjanjian Bungaya pada tahun 1667, Gubernur Jenderal Cornelis Speelman memerintahkan pembangunan kembali benteng ini. Ia menamainya "Fort Rotterdam" sebagai penghormatan terhadap kota kelahirannya di Belanda.

Benteng ini memiliki lima bastion utama yang menonjol: Bastion Bone, Bastion Bacan, Bastion Buton, Bastion Mandarsyah, dan Bastion Amboina. Dinding benteng memiliki ketebalan mencapai 2 meter dengan ketinggian rata-rata 5 hingga 7 meter. Di dalam kompleks benteng, berdiri bangunan-bangunan bergaya Belanda dengan atap pelana yang tinggi dan jendela-jendela besar yang berfungsi sebagai gudang rempah-rempah, kantor administratif, dan rumah tinggal pejabat VOC. Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan material lokal seperti putih telur sebagai perekat batu pada masa awal, sebelum teknologi semen modern diperkenalkan oleh Belanda.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Rotterdam adalah titik pusat dari konflik besar di Indonesia Timur. Peristiwa paling menentukan adalah Perang Makassar (1666-1669), di mana pasukan VOC yang dipimpin Cornelis Speelman, dibantu oleh sekutunya Arung Palakka dari Bone, mengepung benteng ini. Kekalahan Sultan Hasanuddin memaksa penandatanganan Perjanjian Bungaya, yang secara efektif mengakhiri kedaulatan perdagangan Kerajaan Gowa dan memulai monopoli VOC di wilayah timur.

Selama masa kolonial, benteng ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan Belanda di Celebes (Sulawesi). Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), fungsi benteng beralih menjadi pusat penelitian ilmu pertanian dan bahasa. Pasca kemerdekaan, tempat ini sempat digunakan oleh TNI sebelum akhirnya diserahkan kepada pemerintah sipil untuk dikelola sebagai situs cagar budaya.

#

Tokoh Penting dan Jejak Perjuangan

Tokoh paling ikonik yang terkait erat dengan Benteng Rotterdam adalah Pangeran Diponegoro. Setelah ditangkap melalui tipu muslihat di Magelang pada tahun 1830, pemimpin Perang Jawa ini diasingkan ke Manado sebelum akhirnya dipindahkan ke Benteng Rotterdam pada tahun 1833.

Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya—selama 22 tahun—sebagai tahanan di dalam salah satu kamar di Bastion Buton. Di sinilah beliau menuliskan pemikiran-pemikirannya dan menghabiskan waktu dalam ibadah hingga wafat pada 8 Januari 1855. Keberadaan sel Pangeran Diponegoro hingga kini menjadi daya tarik sejarah utama bagi wisatawan yang ingin merasakan aura perjuangan pahlawan nasional tersebut.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Benteng Rotterdam berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX. Statusnya sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional menjadikannya salah satu kompleks bangunan kolonial terbaik yang masih utuh di Asia Tenggara. Restorasi besar-besaran dilakukan pada dekade 1970-an untuk mengembalikan bentuk asli bangunan yang sempat rusak akibat usia dan cuaca.

Kini, bangunan-bangunan di dalam benteng dialihfungsikan secara kreatif. Gedung-gedung bekas gudang rempah kini menjadi Museum Negeri La Galigo. Museum ini menyimpan lebih dari 5.000 koleksi artefak, mulai dari alat pertanian kuno, pakaian adat, hingga naskah-naskah kuno Sureq Galigo yang diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO.

#

Peran Budaya dan Sosial di Era Modern

Benteng Rotterdam telah bertransformasi dari simbol penaklukan menjadi ruang publik yang inklusif. Secara budaya, benteng ini menjadi lokasi rutin penyelenggaraan festival internasional, seperti Makassar International Writers Festival (MIWF). Kehadiran acara-acara literasi dan seni di tempat ini memberikan nyawa baru bagi dinding-dinding tua benteng, menjembatani masa lalu yang kelam dengan masa depan yang kreatif.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Benteng Rotterdam adalah pengingat akan ketangguhan (resilience). Meskipun namanya berbau Eropa, jiwa dari tempat ini tetaplah "Panyua"—simbol perlindungan dan kekuatan yang tak lekang oleh zaman. Keberadaannya di tengah hiruk-pikuk kota Makassar yang modern menjadi pengingat penting bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas sejarah di tengah arus globalisasi.

Dengan arsitektur yang megah dan sejarah yang berlapis, Benteng Rotterdam tetap berdiri tegak. Ia bukan sekadar objek wisata, melainkan laboratorium sejarah tempat kita bisa mempelajari diplomasi, strategi perang, hingga semangat perlawanan bangsa Indonesia dalam merebut kedaulatannya.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Ujung Pandang, Bulo Gading, Kec. Makassar, Kota Makassar
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Makassar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Makassar

Pelajari lebih lanjut tentang Makassar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Makassar