Makassar

Epic
Sulawesi Selatan
Luas
177,46 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
4 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kota Makassar: Gerbang Timur Nusantara

Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia Timur dengan luas wilayah 177,46 km². Terletak di posisi kardinal tengah kepulauan Indonesia, Makassar secara historis berbatasan dengan empat wilayah penyangga utama: Kabupaten Maros di utara dan timur, serta Kabupaten Gowa dan Takalar di selatan. Sebagai entitas dengan kategori kelangkaan "Epic" dalam sejarah maritim, Makassar bukan sekadar titik koordinat, melainkan poros peradaban bahari yang mendunia.

Asal-Usul dan Masa Keemasan Kesultanan

Akar sejarah Makassar tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Gowa-Tallo. Pada abad ke-16, di bawah kepemimpinan Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, pusat pemerintahan dipindahkan ke pesisir Somba Opu. Perkembangan pesat terjadi saat Makassar memeluk Islam pada 9 November 1607, ditandai dengan shalat Jumat pertama di Masjid Katangka. Di bawah Sultan Hasanuddin (1653-1669), yang dijuluki Belanda sebagai Haantjes van het Oosten (Ayam Jantan dari Timur), Makassar menjadi emporium perdagangan internasional yang menganut prinsip laut bebas (Mare Liberum).

Era Kolonial dan Perlawanan

Dominasi Makassar di jalur rempah memicu konflik dengan VOC. Puncaknya adalah Perang Makassar yang berakhir dengan Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Akibat perjanjian ini, benteng-benteng Makassar dihancurkan, kecuali Benteng Ujung Pandang yang kemudian diubah namanya menjadi Fort Rotterdam oleh Cornelis Speelman. Selama masa kolonial, nama kota ini diubah menjadi "Vlaardingen", namun identitas lokal tetap kuat melalui perlawanan gerilya dan diplomasi para bangsawan Bugis-Makassar.

Masa Kemerdekaan dan Perubahan Nama

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, Makassar memainkan peran vital melalui tokoh seperti Dr. Ratulangi dan Andi Mappanyukki. Setelah proklamasi 1945, wilayah ini sempat menjadi ibu kota Negara Indonesia Timur (NIT). Fakta unik terjadi pada tahun 1971, di mana nama kota ini secara resmi diubah menjadi "Ujung Pandang" berdasarkan alasan sosiopolitik untuk memperluas jangkauan wilayah. Namun, karena desakan aspirasi masyarakat yang ingin mempertahankan nilai historisnya, nama Makassar dikembalikan secara resmi pada 13 Oktober 1999.

Warisan Budaya dan Modernitas

Makassar mewariskan tradisi bahari yang tak tertandingi, seperti pembuatan kapal Pinisi dan filosofi Siri' na Pacce (harga diri dan solidaritas). Situs bersejarah seperti Kompleks Makam Raja-Raja Tallo dan Monumen Mandala menjadi pengingat akan ketangguhan kota ini. Kini, Makassar telah bertransformasi menjadi pusat jasa, pendidikan, dan pariwisata bertaraf internasional. Modernitas Makassar tercermin dari pembangunan kawasan Centre Point of Indonesia (CPI), namun tetap menjaga akar sejarahnya sebagai simpul utama yang menghubungkan wilayah barat dan timur Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Geography

#

Geografi dan Bentang Alam Makassar, Sulawesi Selatan

Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan pusat gravitasi ekonomi dan geografis di wilayah Indonesia bagian Timur. Memiliki luas wilayah administratif sebesar 177,46 km², wilayah ini secara unik diposisikan secara administratif sebagai entitas daratan yang terkurung oleh empat wilayah kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Maros di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Gowa di sisi selatan dan timur laut. Meskipun secara historis dikenal sebagai pelabuhan, dalam konteks klasifikasi administratif khusus ini, Makassar menonjol sebagai titik pusat (tengah) yang menghubungkan jalur trans-Sulawesi.

##

Topografi dan Hidrologi

Topografi Makassar didominasi oleh dataran rendah yang landai dengan kemiringan antara 0 hingga 5 derajat. Ketinggian wilayahnya berkisar antara 0 hingga 25 meter di atas permukaan laut. Fitur geomorfologi yang paling mencolok adalah keberadaan fluktuasi sedimen dari aliran sungai besar yang membelah wilayah ini. Dua sungai utama yang menjadi urat nadi hidrologi adalah Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang. Sungai Tallo mengalir melintasi bagian utara dengan karakteristik aliran yang tenang dan ekosistem riparian yang khas, sementara Sungai Jeneberang di bagian selatan membawa material vulkanik dari Gunung Lompobattang, yang secara geologis membentuk lapisan tanah aluvial yang subur di dataran Makassar.

##

Iklim dan Pola Cuaca

Berada pada koordinat 5°8′S 119°25′E, Makassar memiliki iklim tropis monsun (Am) dengan perbedaan yang sangat kontras antara musim kemarau dan musim hujan. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26°C hingga 32°C. Fenomena angin lokal yang dikenal sebagai "Angin Mamiri" memberikan sirkulasi udara yang khas bagi wilayah ini. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi antara bulan Desember hingga Februari, di mana pertemuan massa udara dari monsun barat membawa kelembapan tinggi, sementara musim kemarau dipengaruhi oleh massa udara kering dari benua Australia.

##

Sumber Daya Alam dan Zonasi Ekologi

Kekayaan alam Makassar bertumpu pada sedimentasi tanah aluvial yang mendukung sektor pertanian perkotaan dan hortikultura di pinggiran wilayah. Meskipun mineral logam tidak dominan, wilayah ini kaya akan material galian golongan C seperti pasir sungai dan tanah liat hasil endapan purba. Dari sisi biodiversitas, zona ekologi Makassar mencakup sisa-sisa hutan mangrove di bantaran Sungai Tallo yang menjadi habitat bagi berbagai spesies burung migran dan fauna akuatik seperti kepiting bakau dan ikan payau.

##

Karakteristik Unik dan Posisi Strategis

Sebagai wilayah dengan kelangkaan "Epic", Makassar berfungsi sebagai simpul konektivitas utama di tengah Sulawesi Selatan. Posisi geografisnya yang dikelilingi oleh daratan kabupaten penyangga menjadikannya cekungan koleksi air (catchment area) yang krusial. Integrasi antara lembah sungai yang subur dan dataran rendah yang luas menciptakan struktur geografi yang ideal bagi pengembangan infrastruktur metropolitan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem daratan di semenanjung selatan Pulau Sulawesi.

Culture

#

Makassar: Jantung Budaya dan Kejayaan Bahari di Tengah Nusantara

Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, merupakan kota metropolitan yang berdiri sebagai simbol ketangguhan suku Bugis-Makassar. Dengan luas wilayah 177,46 km², kota ini secara historis merupakan titik temu perdagangan dunia. Meskipun secara administratif kategori "coastal" tidak disematkan dalam parameter ini, jiwa Makassar selamanya terikat pada laut melalui filosofi hidup yang mengakar kuat.

##

Falsafah Hidup dan Tradisi Masyarakat

Kebudayaan Makassar dipandu oleh nilai Siri’ na Pacce. Siri’ harga diri dan martabat, sementara Pacce adalah rasa empati serta solidaritas sosial yang mendalam. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah A’dengka Re’na, sebuah upacara syukur atas hasil panen. Selain itu, terdapat tradisi Accera Kalompoang, yakni ritual pencucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa yang dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

##

Kesenian, Tari, dan Musik

Seni pertunjukan Makassar memancarkan kegagahan sekaligus kelembutan. Tari Pakarena adalah ikon utamanya; tarian ini dibawakan dengan gerakan tangan yang sangat lambat dan tenang, melambangkan kesantunan perempuan Makassar, namun diiringi oleh hentakan dinamis musik Ganrang (gendang) yang menggebu-gebu. Selain itu, terdapat Paralayang atau puisi lisan yang dilantunkan oleh seorang Passinrilik dengan iringan gesekan instrumen Kesok-Kesok. Untuk urusan kerajinan, Makassar adalah rumah bagi pembuatan Kapal Phinisi yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.

##

Gastronomi: Cita Rasa Rempah dan Daging

Kuliner Makassar dikenal berani dalam penggunaan rempah dan tekstur. Coto Makassar adalah hidangan paling ikonik, menggunakan jeroan dan daging sapi yang dimasak dalam kuah kacang kaya rempah yang disajikan dengan Ketupat atau Burasa. Hidangan lain yang mendunia adalah Konro, iga sapi bakar atau sup dengan bumbu buah kluwak yang pekat. Sebagai hidangan penutup, Pisang Epe (pisang yang dijepit dan dibakar) dengan siraman saus gula merah menjadi kudapan wajib di kawasan Pantai Losari.

##

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat setempat berkomunikasi menggunakan Bahasa Makassar, namun dalam keseharian muncul "Logat Makassar" yang unik. Ciri khasnya adalah penggunaan partikel penegas di akhir kalimat seperti ji, mi, pi, ki, dan mo. Contohnya, kata "Iya ji" (Hanya itu saja) atau "Ayo mi" (Ayo sudah). Dialek ini mencerminkan karakter masyarakatnya yang lugas dan terbuka.

##

Busana Adat dan Tekstil

Baju Bodo merupakan salah satu busana tertua di dunia yang dikenakan oleh perempuan Makassar. Terbuat dari kain muslin atau sutra transparan dengan potongan segi empat, warna Baju Bodo secara tradisional menandakan usia dan status sosial pemakainya. Untuk pria, penggunaan Lipipa’ Sabbe (sarung sutra) dikombinasikan dengan Jas Tutu dan penutup kepala yang disebut Songkok Recca atau Songkok Guru.

##

Kehidupan Religi dan Festival

Makassar adalah pusat penyebaran Islam di timur Indonesia, terlihat dari kemegahan Masjid Raya Makassar dan Masjid Amirul Mukminin (Masjid Terapung). Perayaan keagamaan seringkali berpadu dengan festival budaya besar seperti Makassar International Eight Festival and Forum (F8), yang menampilkan kekuatan seni, kuliner, dan musik kota ini kepada dunia internasional, mempertegas posisinya sebagai "Epicenter" kebudayaan di tengah Indonesia.

Tourism

Menjelajahi Makassar: Jantung Bahari di Pusat Nusantara

Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, berdiri megah sebagai pusat gravitasi ekonomi dan budaya di bagian tengah Indonesia. Dengan luas wilayah sekitar 177,46 km², kota ini dikelilingi oleh empat wilayah tetangga utama: Kabupaten Maros di utara dan timur, serta Kabupaten Gowa di selatan dan timur, menciptakan aksesibilitas yang luar biasa bagi para pelancong. Sebagai destinasi dengan status "Epic", Makassar menawarkan perpaduan kontras antara modernitas metropolitan dan jejak sejarah Kesultanan Gowa-Tallo yang masih bernapas hingga hari ini.

#

Pesona Pesisir dan Keajaiban Alam

Meskipun secara administratif merupakan kota metropolitan, daya tarik utama Makassar terletak pada garis pantainya yang ikonik. Pantai Losari bukan sekadar tempat wisata; ia adalah ruang tamu kota di mana pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam paling dramatis di Indonesia Timur. Tak jauh dari daratan, terdapat gugusan pulau dalam Kepulauan Spermonde, seperti Pulau Samalona dan Kodingareng Keke, yang menawarkan pasir putih halus serta taman bawah laut yang jernih untuk snorkeling. Bagi pecinta alam pegunungan, hanya berkendara singkat ke wilayah tetangga, Anda akan menemukan karst Rammang-Rammang yang purba dan megah.

#

Jejak Sejarah dan Warisan Budaya

Sisi historis Makassar terpancar kuat di Benteng Rotterdam (Fort Rotterdam). Benteng berbentuk penyu ini merupakan saksi bisu kejayaan maritim masa lalu yang kini merumahkan Museum La Galigo, tempat tersimpannya manuskrip berharga dan artefak budaya Bugis-Makassar. Pengalaman unik lainnya adalah mengunjungi Pelabuhan Paotere, di mana kapal-kapal Pinisi tradisional masih bersandar, memperlihatkan ketangguhan pelaut Mandar dan Bugis yang tersohor hingga mancanegara.

#

Surga Gastronomi Nusantara

Makassar adalah destinasi wajib bagi pecinta kuliner. Pengalaman makan di sini bukan sekadar mengenyangkan, tapi sebuah ritual budaya. Anda harus mencicipi Coto Makassar yang kaya rempah, Konro Bakar yang legit, hingga Pallubasa yang gurih dengan tambahan telur setengah matang (alas). Untuk hidangan penutup, manisnya Pisang Epe yang dibakar di pinggir pantai atau segarnya Es Pisang Ijo akan melengkapi petualangan rasa Anda.

#

Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik

Kota ini menawarkan keramahan khas lokal "Siri' na Pacce" yang menjunjung tinggi kehormatan dan persaudaraan. Pilihan akomodasi sangat beragam, mulai dari hotel bintang lima dengan pemandangan laut di sepanjang Jalan Somba Opu hingga penginapan butik yang artistik. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim kemarau antara Juni hingga September, saat langit cerah memungkinkan Anda menikmati festival budaya tahunan atau sekadar bersantai menikmati angin mamiri yang sepoi-sepoi. Makassar bukan sekadar titik transit; ia adalah jiwa dari Sulawesi yang menanti untuk dijelajahi.

Economy

#

Profil Ekonomi Kota Makassar: Hubungan Sentral Kawasan Timur Indonesia

Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, berdiri sebagai episentrum ekonomi dengan karakteristik Epic di jantung Indonesia. Memiliki luas wilayah 177,46 km², kota ini memegang peranan krusial sebagai simpul tengah yang menghubungkan jalur perdagangan barat dan timur Nusantara. Meskipun secara administratif berbatasan dengan empat wilayah penyangga utama—Kabupaten Maros di utara dan timur, serta Kabupaten Gowa di selatan—Makassar bertransformasi menjadi metropolis daratan yang menggerakkan roda ekonomi regional secara masif.

##

Sektor Jasa, Industri, dan Perdagangan

Struktur ekonomi Makassar didominasi oleh sektor tersier, terutama perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor. Sebagai pusat distribusi, Makassar mengandalkan Kawasan Industri Makassar (KIMA) yang menampung ratusan perusahaan manufaktur, mulai dari pengolahan makanan, perakitan, hingga logistik. Kehadiran korporasi besar seperti PT Semen Tonasa (kantor perwakilan) dan berbagai unit pengolahan hasil bumi mempertegas posisi kota ini sebagai hub industri hilirisasi hasil pertanian dari wilayah pedalaman Sulawesi Selatan.

##

Ekonomi Maritim dan Sektor Unggulan

Walaupun fokus pembangunan mengarah pada urbanisasi daratan, ekonomi maritim tetap menjadi tulang punggung melalui keberadaan Pelabuhan Soekarno-Hatta dan Makassar New Port (MNP). MNP merupakan salah satu proyek strategis nasional yang meningkatkan efisiensi logistik di Indonesia Timur. Ekspor komoditas seperti nikel, kakao, kopi, dan rumput laut mengalir melalui Makassar menuju pasar internasional, memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB provinsi.

##

Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal

Kekuatan ekonomi kreatif Makassar tercermin pada kerajinan kain Sutera Bugis-Makassar dan kerajinan perak yang berpusat di wilayah sekitar. Selain itu, industri kuliner berbasis produk lokal seperti Minyak Kayu Putih asli Sulawesi dan pengolahan biji kopi Toraja yang dipasarkan di Makassar menjadi daya tarik ekonomi sirkular. Kota ini juga dikenal dengan inovasi produk olahan hasil laut yang dikemas secara modern untuk pasar ekspor.

##

Infrastruktur dan Tren Ketenagakerjaan

Pembangunan infrastruktur transportasi menjadi katalis utama pertumbuhan. Kehadiran Jalan Tol Layang AP Pettarani dan pengoperasian Kereta Api Trans-Sulawesi rute Makassar-Parepare membuka aksesibilitas yang lebih luas bagi mobilitas barang dan jasa. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor informal ke sektor jasa profesional, teknologi informasi, dan pariwisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).

Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas rata-rata nasional sebelum pandemi dan pemulihan yang cepat, Makassar membuktikan dirinya sebagai "Gerbang Timur Indonesia". Sinergi antara infrastruktur modern, posisi geografis yang strategis di tengah kepulauan, dan ketahanan sektor industri manufaktur menjadikan kota ini primadona investasi di luar Pulau Jawa.

Demographics

#

Profil Demografi Kota Makassar: Episentrum Indonesia Tengah

Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan kota metropolitan terbesar di wilayah Indonesia Timur dengan luas wilayah mencapai 177,46 km². Secara geografis, kota ini memegang peranan strategis sebagai titik simpul distribusi dan logistik di posisi tengah nusantara, berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros di utara dan timur, serta Kabupaten Gowa di selatan dan timur.

Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Sebagai kota dengan status "Epic" dalam konteks signifikansi regional, Makassar dihuni oleh lebih dari 1,4 juta jiwa. Kepadatan penduduknya sangat tinggi, melampaui 8.000 jiwa per km², dengan konsentrasi terbesar berada di kecamatan-kecamatan tua seperti Rappocini, Tamalate, dan Panakkukang. Distribusi penduduk cenderung padat di pusat bisnis dan mulai meluas ke arah koridor timur (Manggala dan Biringkanaya) akibat pengembangan kawasan pemukiman baru.

Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya

Demografi Makassar dicirikan oleh heterogenitas etnis yang kuat. Suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar merupakan pilar utama penduduk asli, ditambah dengan komunitas Tionghoa yang signifikan dalam sektor perdagangan. Keberagaman ini menciptakan dinamika sosial yang unik, di mana nilai-nilai "Siri' na Pacce" (harkat dan martabat) menjadi kompas moral dalam interaksi sosial antaretnis.

Struktur Usia dan Pendidikan

Struktur kependudukan Makassar berbentuk piramida ekspansif, didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai lebih dari 65% populasi. Angka melek huruf di kota ini hampir menyentuh 100%, mencerminkan statusnya sebagai pusat pendidikan regional. Kehadiran universitas besar seperti Universitas Hasanuddin menarik ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, yang secara signifikan memengaruhi profil demografi musiman di wilayah tersebut.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Makassar mengalami fenomena urbanisasi yang pesat. Sebagai pusat gravitasi ekonomi, kota ini menjadi tujuan utama migrasi desa-kota (rural-urban) dari wilayah hinterland di Sulawesi Selatan. Pola migrasi masuk didominasi oleh pencari kerja di sektor jasa dan industri, sementara migrasi keluar biasanya terkait dengan diaspora Bugis-Makassar yang dikenal memiliki budaya merantau yang kuat. Dinamika ini menjadikan Makassar sebagai kawah candradimuka budaya yang terus bertransformasi menjadi metropolis global yang inklusif namun tetap memegang teguh identitas lokalnya.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Federasi Ajatappareng pada abad ke-16, yang merupakan persekutuan lima kerajaan besar di bagian barat Sulawesi Selatan.
  • 2.Masyarakat setempat memiliki tradisi unik bernama Mappadendang, sebuah pesta panen raya yang melibatkan irama tumbukan lesung kayu sebagai bentuk rasa syukur.
  • 3.Daerah ini secara geografis dikelilingi sepenuhnya oleh daratan dan berbatasan langsung dengan Danau Sidenreng di sisi selatannya.
  • 4.Wilayah ini dijuluki sebagai lumbung pangan utama Sulawesi Selatan karena menjadi penghasil beras terbesar dan pusat peternakan itik yang sangat produktif.

Destinasi di Makassar

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Sulawesi Selatan

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Makassar dari siluet petanya?