Situs Sejarah

Benteng Belgica

di Maluku Tengah, Maluku

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Benteng Belgica: Jejak Hegemoni VOC dan Permata Arsitektur di Kepulauan Banda

Benteng Belgica, yang terletak di Neira, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, merupakan salah satu monumen kolonial paling ikonik dan terjaga dengan baik di Indonesia. Berdiri kokoh di atas bukit setinggi 30 meter di atas permukaan laut, benteng ini menjulang sebagai simbol ambisi besar Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dalam menguasai perdagangan rempah-rempah dunia, khususnya pala dan fuli, yang pada abad ke-17 hanya tumbuh di Kepulauan Banda.

#

Asal-usul dan Periode Pembangunan

Sejarah Benteng Belgica tidak dimulai langsung sebagai struktur batu raksasa yang kita lihat hari ini. Sebelum kedatangan Belanda, lokasi strategis ini telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk pertahanan. Namun, pada tahun 1611, di bawah perintah Gubernur Jenderal Pieter Both, VOC mulai membangun sebuah perbentukan darurat di atas bukit untuk mengawasi Benteng Nassau yang terletak di bawahnya. Benteng Nassau sering kali rentan terhadap serangan dari penduduk lokal dan letusan Gunung Api Banda.

Pembangunan tahap awal ini bertujuan untuk memberikan posisi tembak yang lebih tinggi bagi meriam-meriam Belanda. Nama "Belgica" sendiri diambil untuk menghormati tanah air mereka, Belgia (yang saat itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Belanda). Namun, struktur permanen yang dikenal saat ini merupakan hasil pembangunan kembali secara besar-besaran oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman pada tahun 1672-1673. Speelman menyadari bahwa posisi Banda sebagai satu-satunya sumber pala dunia memerlukan sistem pertahanan yang tak tertembus.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Secara arsitektural, Benteng Belgica sering dijuluki sebagai "The Pentagon of Indonesia" karena bentuk segi limanya yang presisi. Namun, jika dilihat lebih detail, benteng ini memiliki struktur ganda yang unik. Benteng ini terdiri dari dua lapis dinding: dinding luar yang berbentuk segi lima dengan lima bastion (menara sudut) yang menonjol, dan dinding dalam yang juga berbentuk segi lima dengan lima menara pengawas bundar.

Konstruksi benteng ini menggunakan batu karang, batu gunung, dan bata yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan telur putih sebagai perekat tradisional yang terbukti sangat kuat selama berabad-abad. Setiap menara di bagian dalam dapat diakses melalui tangga spiral yang sempit, membawa pengawas ke puncak untuk memantau Selat Zonnegat dan aktivitas di pelabuhan Neira. Di tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka (patio) luas yang dahulunya berfungsi sebagai titik kumpul pasukan dan penyimpanan logistik. Uniknya, di tengah patio ini terdapat sumur rahasia yang konon terhubung dengan lorong bawah tanah menuju pantai, meskipun keberadaan lorong tersebut masih menjadi misteri sejarah hingga kini.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Benteng Belgica bukan sekadar tempat pertahanan; ia adalah instrumen pemaksaan monopoli. Dari ketinggian menara-menaranya, VOC bisa mengawasi setiap pergerakan kapal yang masuk dan keluar dari Kepulauan Banda. Jika ada kapal yang mencoba menyelundupkan pala tanpa izin VOC, meriam-meriam Belgica siap memuntahkan peluru dari ketinggian.

Salah satu peristiwa sejarah paling signifikan yang berkaitan dengan benteng ini adalah perebutan kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Pada tahun 1796 dan kembali pada tahun 1810, Inggris berhasil merebut Benteng Belgica dari tangan Belanda. Kapten Cole dari Angkatan Laut Inggris memimpin serangan malam hari yang heroik dengan memanjat dinding benteng menggunakan tangga-tangga bambu di tengah hujan badai, sebuah peristiwa yang hingga kini tercatat dalam catatan militer Inggris sebagai salah satu penaklukan paling berani di wilayah Timur. Penguasaan Inggris atas Belgica inilah yang kemudian memungkinkan mereka membawa bibit pohon pala keluar dari Banda untuk ditanam di Ceylon (Sri Lanka) dan Grenada, yang akhirnya mengakhiri monopoli dunia Belanda atas komoditas tersebut.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Beberapa tokoh besar dalam sejarah kolonial memiliki jejak di Benteng Belgica. Selain Pieter Both dan Cornelis Speelman, Jan Pieterszoon Coen adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas pengamanan wilayah ini melalui taktik militer yang brutal terhadap penduduk asli Banda pada tahun 1621. Benteng Belgica berfungsi sebagai "penjaga" bagi para pejabat VOC (perkeniers) yang mengelola perkebunan pala di bawahnya. Selama periode pengasingan politik di abad ke-20, tokoh-tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir sering kali memandangi kemegahan benteng ini dari tempat pengasingan mereka di Neira, menjadikannya saksi bisu kontemplasi para pendiri bangsa tentang kemerdekaan.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, Benteng Belgica berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX. Benteng ini telah mengalami beberapa kali pemugaran, yang paling signifikan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1990-an. Upaya restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material dan bentuknya.

Berbeda dengan banyak benteng kolonial di Indonesia yang telah hancur atau tertutup pemukiman, Belgica tetap berdiri utuh dan bersih. Lingkungannya dirawat sebagai taman sejarah yang menjadi magnet utama pariwisata di Maluku Tengah. Keberadaannya juga menjadi bagian integral dari pengajuan Kepulauan Banda sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (World Heritage Site), karena nilai sejarahnya yang luar biasa dalam konteks perdagangan global abad pertengahan.

#

Nilai Budaya dan Fakta Unik

Bagi masyarakat Banda Neira, Benteng Belgica adalah kebanggaan identitas. Benteng ini muncul dalam pecahan uang kertas Rp1.000 emisi lama, yang menegaskan urgensi nasionalnya sebagai situs sejarah penting. Secara budaya, benteng ini sering menjadi lokasi upacara adat atau festival seni seperti "Banda Spirit", di mana tarian tradisional Cakalele dipentaskan dengan latar belakang dinding batu tua yang megah.

Fakta unik lainnya adalah sistem akustik di dalam benteng. Karena desain geometrisnya yang sempurna, suara di dalam patio dapat bergema dengan cara tertentu yang memungkinkan komandan memberikan instruksi kepada seluruh pasukan tanpa harus berteriak keras. Selain itu, jika dilihat dari udara, struktur ganda segi lima Belgica menciptakan pola fraktal yang sangat maju untuk teknologi konstruksi abad ke-17.

Sebagai penutup, Benteng Belgica bukan hanya tumpukan batu mati. Ia adalah monumen hidup yang menceritakan kisah tentang ambisi, penderitaan, kejayaan perdagangan, dan ketangguhan arsitektur manusia. Berdiri di atas puncaknya saat matahari terbenam, dengan pemandangan Gunung Api Banda yang mengepulkan asap tipis di seberang laut, memberikan pengalaman spiritual dan historis yang mendalam tentang betapa berharganya sejumput pala bagi sejarah peradaban dunia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Naira, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah
entrance fee
Rp 20.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Maluku Tengah

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Maluku Tengah

Pelajari lebih lanjut tentang Maluku Tengah dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Maluku Tengah