Benteng Duurstede
di Maluku Tengah, Maluku
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Sejarah Benteng Duurstede bermula pada abad ke-17, masa di mana kepulauan rempah menjadi pusat perhatian kekuatan maritim dunia. Benteng ini pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1671. Namun, kekuasaan Portugis di wilayah ini tidak bertahan lama setelah kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), mulai menancapkan pengaruhnya di Maluku.
Pada tahun 1691, Gubernur Belanda di Maluku, Nicolaas Schaghen, memerintahkan pembangunan kembali dan perluasan struktur benteng tersebut. Nama "Duurstede" diambil dari sebuah kota kuno di Belanda, Wijk bij Duurstede, yang mencerminkan upaya Belanda untuk menanamkan identitas tanah air mereka di wilayah koloni. Lokasi benteng ini dipilih secara strategis untuk mengawasi Selat Saparua, yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan cengkih yang sangat padat dan bernilai tinggi pada masa itu.
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng Duurstede mengadopsi gaya pertahanan militer Eropa klasik abad ke-17. Benteng ini dibangun dengan material utama berupa batu karang yang direkatkan dengan campuran kapur dan pasir. Struktur bangunannya berbentuk persegi dengan beberapa bastion (menara pengintai) di sudut-sudutnya yang memungkinkan prajurit memantau segala arah, baik ke arah laut maupun ke arah daratan.
Salah satu ciri unik dari Benteng Duurstede adalah letaknya yang berada di ketinggian sekitar 20 meter di atas permukaan laut. Hal ini memberikan keuntungan taktis yang besar bagi penguasa benteng untuk menghalau serangan dari laut menggunakan meriam-meriam berat. Di dalam kompleks benteng, terdapat berbagai bangunan fungsional seperti gudang penyimpanan rempah, barak prajurit, kediaman residen (pejabat Belanda), dan penjara bawah tanah yang pengap. Pintu masuk utama benteng memiliki gerbang kayu yang tebal dengan ornamen khas kolonial yang masih bisa dilihat sisa-sisanya hingga saat ini.
Signifikansi Sejarah: Titik Balik Perlawanan Pattimura
Nama Benteng Duurstede tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sejarah paling dramatis di Maluku: Perang Pattimura tahun 1817. Peristiwa ini dipicu oleh ketidakpuasan rakyat Saparua terhadap kebijakan opresif Belanda yang kembali berkuasa setelah masa singkat pendudukan Inggris. Kebijakan seperti kerja rodi, penyerahan wajib hasil bumi, dan pemecatan guru-guru sekolah lokal memicu kemarahan besar.
Pada tanggal 16 Mei 1817, Thomas Matulessy, yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, memimpin pasukan rakyat Saparua melakukan serangan mendadak ke Benteng Duurstede. Dalam pertempuran yang sangat sengit itu, pasukan Pattimura berhasil merebut benteng tersebut dari tangan Belanda. Peristiwa yang paling mengguncang otoritas kolonial adalah tewasnya Residen Saparua, Johannes Rudolph van den Berg, beserta hampir seluruh keluarganya dan garnisun Belanda yang bertugas di sana.
Keberhasilan merebut Duurstede menjadi simbol kemenangan psikologis yang luar biasa bagi rakyat Maluku. Hal ini membuktikan bahwa benteng Eropa yang dianggap tak tertembus pun bisa jatuh di tangan persatuan rakyat lokal. Selama beberapa bulan, benteng ini menjadi pusat komando perjuangan Pattimura sebelum akhirnya Belanda mengirimkan bantuan militer besar-besaran dari Batavia untuk merebut kembali wilayah tersebut.
Tokoh Penting dan Periode Terkait
Selain Kapitan Pattimura, sejarah benteng ini juga mencatat keterlibatan tokoh-tokoh penting lainnya seperti Christina Martha Tiahahu, seorang pahlawan wanita yang baru berusia 17 tahun namun berani mengangkat senjata melawan Belanda di samping ayahnya. Di pihak Belanda, nama-nama seperti Laksamana Buyskes menjadi catatan penting karena dialah yang memimpin ekspedisi pembalasan untuk merebut kembali Saparua.
Benteng ini juga menjadi penanda transisi kekuasaan di Maluku. Dari masa monopoli VOC, beralih ke masa transisi Inggris (di bawah Thomas Stamford Raffles), hingga kembali ke tangan Kerajaan Belanda (Hindia Belanda). Setiap periode meninggalkan jejak administratif dan militer yang berbeda di dalam struktur organisasi benteng ini.
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Setelah kemerdekaan Indonesia, Benteng Duurstede ditetapkan sebagai Cagar Budaya nasional. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara rutin melakukan upaya konservasi untuk menjaga agar struktur batu karang tidak tererosi oleh cuaca ekstrem dan uap air laut yang korosif.
Beberapa kali pemugaran telah dilakukan, termasuk perbaikan pada bagian lantai, dinding, dan tangga-tangga kayu. Saat ini, benteng berfungsi sebagai museum terbuka. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat diorama yang menggambarkan jalannya Perang Pattimura, serta koleksi meriam kuno yang masih tergeletak di atas bastion, menghadap ke Teluk Saparua yang biru.
Makna Budaya dan Simbolisme
Bagi masyarakat Maluku Tengah, khususnya warga Saparua, Benteng Duurstede lebih dari sekadar objek wisata. Ia adalah simbol harga diri dan identitas. Setiap tahun, dalam rangkaian peringatan Hari Pattimura (15 Mei), benteng ini menjadi pusat prosesi obor Pattimura yang dibawa lari dari Gunung Saniri. Api tersebut melambangkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam.
Keberadaan benteng ini juga mengingatkan pada sejarah panjang Maluku sebagai "The Spice Islands". Meskipun kini perdagangan rempah tidak lagi menjadi kekuatan ekonomi utama dunia, Benteng Duurstede tetap berdiri untuk menceritakan kisah tentang masa ketika satu kuintal cengkih dari tanah Saparua bernilai sama dengan emas di pasar Eropa, dan betapa besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh para leluhur untuk mempertahankan kedaulatan tanah air mereka.
Dengan mengunjungi Benteng Duurstede, setiap orang diajak untuk merenungkan betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Struktur kuno ini tetap tegak, menantang waktu, untuk memastikan bahwa nama Pattimura dan perjuangan rakyat Maluku tidak akan pernah terlupakan oleh generasi mendatang.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Maluku Tengah
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Maluku Tengah
Pelajari lebih lanjut tentang Maluku Tengah dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Maluku Tengah