Situs Sejarah

Taman Arkeologi Leang-Leang

di Maros, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pembentukan

Secara geologis, kawasan karst Maros terbentuk dari endapan batu gamping jutaan tahun lalu, namun pemanfaatannya oleh manusia sebagai tempat tinggal dimulai pada zaman Pleistosen. Penemuan arkeologis di situs ini secara resmi mulai menarik perhatian dunia internasional pada abad ke-20. Pada tahun 1950, dua arkeolog asal Belanda, H.R. van Heekeren dan C.H.M. Heeren-Palm, melakukan penelitian intensif di gua-gua utama situs ini, yakni Leang Pettae dan Leang Pettakere.

Berdasarkan hasil penanggalan radioisotop (Uranium-series dating) yang dilakukan oleh tim ahli dari Griffith University dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, ditemukan fakta mengejutkan bahwa lukisan di gua-gua ini berumur jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa lukisan tangan (hand stencils) di kawasan ini diperkirakan berusia sekitar 39.900 hingga 40.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni rupa tertua di dunia, yang sezaman atau bahkan lebih tua dari lukisan gua di El Castillo, Spanyol.

Arsitektur Alami dan Karakteristik Situs

Berbeda dengan situs sejarah yang berupa bangunan buatan manusia, arsitektur Taman Arkeologi Leang-Leang bersifat alami. Situs ini didominasi oleh tebing-tebing curam batu gamping yang menjulang tinggi dengan formasi stalaktit dan stalagmit yang memukau. Gua-gua di sini berfungsi sebagai "rumah" alami bagi manusia purba.

1. Leang Pettae: Terletak di bagian depan, gua ini memiliki mulut gua yang lebar. Di sini ditemukan sisa-sisa kehidupan berupa sampah dapur (kjokkenmoddinger) yang terdiri dari cangkang kerang dan sisa tulang hewan.

2. Leang Pettakere: Terletak sekitar 300 meter dari Leang Pettae, gua ini berada di ketinggian sekitar 30 meter dari permukaan tanah. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki tangga besi yang terjal. Di dinding gua ini terdapat lukisan babi rusa yang sedang melompat serta puluhan cetakan tangan manusia.

Konstruksi "hunian" ini sangat bergantung pada perlindungan alami dari cuaca. Bagian dalam gua memiliki kelembapan yang terjaga, yang secara tidak sengaja membantu pengawetan pigmen warna yang digunakan oleh manusia purba.

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Taman Arkeologi Leang-Leang memiliki signifikansi global karena mengubah narasi sejarah seni manusia. Selama puluhan tahun, Eropa (khususnya Prancis dan Spanyol) dianggap sebagai tempat lahirnya kreativitas manusia. Namun, penemuan di Maros membuktikan bahwa manusia prasejarah di wilayah Asia Tenggara telah memiliki kemampuan kognitif dan estetika yang sama majunya dalam waktu yang bersamaan.

Peristiwa penting yang mencatat sejarah situs ini adalah publikasi hasil penelitian tahun 2014 di jurnal Nature. Penelitian ini membuktikan bahwa lukisan tangan di Leang-Leang bukan sekadar coretan, melainkan bentuk komunikasi simbolik. Cetakan tangan tersebut dibuat dengan cara meletakkan tangan di dinding gua kemudian menyemprotkan pigmen merah (oker) dari mulut, menciptakan efek negatif.

Tokoh dan Periodisasi Terkait

Situs ini erat kaitannya dengan kebudayaan Toala, sebuah kelompok manusia pemburu-peramu yang mendiami Sulawesi Selatan pada masa prasejarah. Nama "Toala" diberikan oleh peneliti Paul dan Fritz Sarasin pada akhir abad ke-19 untuk merujuk pada penduduk asli yang menghuni gua-gua tersebut.

Secara periodisasi, Leang-Leang mencakup masa dari zaman Paleolitikum akhir hingga Mesolitikum. Selain lukisan, ditemukan pula alat-alat serpih (microlith) yang tajam, yang digunakan untuk berburu dan mengolah makanan. Alat-alat ini menunjukkan tingkat kecerdasan dalam memanipulasi material batu untuk bertahan hidup.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Taman Arkeologi Leang-Leang saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional menjadikannya kawasan yang dilindungi secara ketat. Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah faktor alam dan perubahan iklim. Pengelupasan dinding gua (exfoliation) akibat kristalisasi garam sering kali mengancam keutuhan lukisan purba.

Upaya konservasi dilakukan melalui pemantauan rutin suhu dan kelembapan di dalam gua. Restorasi dalam konteks arkeologi di sini bukan berarti membangun kembali, melainkan melakukan pembersihan mikro pada lumut dan garam yang menempel pada lukisan menggunakan teknik kimiawi yang sangat hati-hati agar tidak merusak pigmen asli oker.

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat modern Sulawesi Selatan, Leang-Leang adalah simbol jati diri dan akar peradaban. Secara kultural, lukisan babi rusa menunjukkan bahwa hewan tersebut memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial dan spiritual manusia purba, baik sebagai sumber pangan utama maupun objek penghormatan dalam ritual perburuan.

Beberapa ahli antropologi berpendapat bahwa cetakan tangan di dinding gua mungkin berfungsi sebagai tanda kehadiran, identitas, atau bagian dari upacara inisiasi sebelum berburu. Keberadaan situs ini menjadi pengingat akan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah terjalin selama puluhan milenium di tanah Sulawesi.

Fakta Unik Sejarah

Satu fakta unik yang membedakan Leang-Leang dengan situs lain adalah penggunaan warna. Pigmen merah yang digunakan berasal dari batu hematit (oksida besi) yang ditumbuk halus dan dicampur dengan air atau cairan alami lainnya. Warna ini mampu bertahan selama 40.000 tahun meskipun terpapar udara dan kelembapan ekstrem di wilayah tropis. Selain itu, komposisi lukisan babi rusa di Leang Pettakere menunjukkan pemahaman tentang proporsi dan gerak (dinamika), yang merupakan pencapaian artistik luar biasa pada masanya.

Dengan hamparan taman batu (stone garden) yang unik di sekelilingnya, Taman Arkeologi Leang-Leang bukan hanya sekadar objek wisata, melainkan perpustakaan alam yang menyimpan catatan panjang mengenai evolusi kesadaran manusia di nusantara. Berada di sini memberikan perspektif mendalam bahwa sejarah Indonesia tidak dimulai dari zaman kerajaan, melainkan jauh sebelumnya, ketika manusia pertama kali menyentuhkan tangan mereka ke dinding batu dan meninggalkan jejak yang tak terhapus oleh waktu.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Leang-Leang, Kec. Bantimurung, Kabupaten Maros
entrance fee
Rp 15.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Maros

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Maros

Pelajari lebih lanjut tentang Maros dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Maros