Maros

Common
Sulawesi Selatan
Luas
1.447,05 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
5 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Kabupaten Maros: Gerbang Peradaban dan Perlawanan di Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros, yang terletak di posisi tengah Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 1447,05 km², bukan sekadar penyangga Kota Makassar. Wilayah ini menyimpan jejak peradaban manusia tertua di Asia Tenggara dan memegang peranan krusial dalam dinamika politik kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar.

##

Akar Prasejarah dan Era Kerajaan

Sejarah Maros bermula jauh sebelum catatan tertulis ada. Di kompleks Leang-Leang, ditemukan lukisan dinding gua berupa stensil tangan dan gambar babi rusa yang diprediksi berusia 45.500 tahun. Penemuan ini menempatkan Maros sebagai titik sentral migrasi manusia purba di Nusantara.

Memasuki era kerajaan, wilayah Maros awalnya terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai Toddo Limayya (Simbangi, Tanralili, Bontoa, Lau, dan Marusu). Kerajaan Marusu, yang didirikan oleh Karaeng Loe ri Pakere pada abad ke-15, menjadi kekuatan dominan. Maros memiliki posisi strategis sebagai lumbung pangan yang diperebutkan oleh dua kekuatan besar: Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Pada abad ke-16, di bawah pemerintahan Raja Gowa IX, Tumapa'risi' Kallonna, Maros diintegrasikan ke dalam wilayah pengaruh Gowa untuk memperkuat pertahanan maritim dan logistik kerajaan.

##

Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat

Kehadiran VOC pada abad ke-17 mengubah lanskap politik Maros. Setelah Perjanjian Bongaya tahun 1667, pengaruh Belanda mulai merasuk. Namun, Maros tidak pernah benar-benar tunduk. Salah satu figur sentral dalam perlawanan adalah I Makkulau Daeng Serang, Karaeng Loe ri Marusu, yang gigih menentang hegemoni Belanda.

Pada masa Perang Makassar, wilayah Maros menjadi medan tempur yang sengit. Belanda kemudian membentuk sistem pemerintahan Regentschap di Maros untuk mempermudah kontrol administratif. Meskipun demikian, semangat perlawanan tetap berkobar hingga awal abad ke-20, di mana tokoh-tokoh lokal terus melakukan gerilya di hutan-hutan karst yang terjal.

##

Era Kemerdekaan dan Perjuangan Rakyat

Setelah Proklamasi 1945, rakyat Maros aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kelompok pemuda Maros bergabung dalam barisan pemberontakan melawan kembalinya NICA. Salah satu peristiwa heroik adalah pertempuran di Bandar Udara Mandai (sekarang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin) yang melibatkan para pejuang lokal dalam upaya merebut objek vital dari tangan sekutu. Berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959, Maros secara resmi ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II di bawah Provinsi Sulawesi Selatan.

##

Warisan Budaya dan Pembangunan Modern

Secara kultural, Maros merupakan titik temu etnis Bugis dan Makassar, yang tercermin dalam bahasa Bentong dan tradisi lokal. Ritual Appalili, yakni upacara adat sebelum turun ke sawah oleh kerajaan-kerajaan di Maros, masih dilestarikan sebagai simbol kedaulatan pangan.

Kini, Maros berkembang menjadi pusat transportasi udara internasional dan destinasi ekowisata dunia melalui Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Dengan lima wilayah yang berbatasan langsung—Makassar, Pangkep, Bone, Gowa, dan Selat Makassar—Maros bertransformasi dari wilayah agraris menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tetap berpijak pada kekayaan sejarah prasejarah dan heroisme masa lalu.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros merupakan wilayah strategis yang terletak di bagian tengah Provinsi Sulawesi Selatan. Secara administratif, wilayah ini mencakup luas daratan sebesar 1.447,05 km². Meskipun Sulawesi Selatan memiliki garis pantai yang panjang, secara geografis inti wilayah Maros berada di posisi tengah yang dikelilingi oleh daratan dan berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, yaitu Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), serta Selat Makassar di sisi barat kecilnya.

##

Topografi dan Bentang Alam Khas

Karakteristik geografis Maros sangat unik karena didominasi oleh perpaduan dataran rendah yang subur dan gugusan pegunungan karst yang megah. Wilayah ini terkenal dengan kawasan Karst Maros-Pangkep yang merupakan salah satu ekosistem karst terbesar dan terindah di dunia. Bentang alam ini mencakup menara-menara batu kapur (tower karst) yang menjulang tinggi, lembah-lembah tersembunyi, serta sistem perguaan bawah tanah yang kompleks seperti Leang-Leang. Di bagian timur, topografi berubah menjadi perbukitan dan pegunungan yang merupakan bagian dari barisan Pegunungan Latimojong, menciptakan gradasi elevasi yang kontras dari dataran rendah hingga puncak-puncak hijau.

##

Hidrologi dan Sumber Daya Air

Sistem hidrologi Maros dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Maros yang membelah wilayah kabupaten. Sungai ini menjadi urat nadi utama bagi irigasi pertanian dan kebutuhan domestik. Selain sungai permukaan, Maros memiliki kekayaan sungai bawah tanah yang mengalir di dalam gua-gua karst, yang menyediakan cadangan air tanah melimpah sepanjang tahun. Keberadaan Air Terjun Bantimurung yang ikonik menunjukkan bagaimana aliran air dari dataran tinggi mengalir melalui celah-celah tebing kapur, menciptakan ekosistem sungai yang jernih dan kaya mineral.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Maros memiliki iklim tropis basah yang dipengaruhi oleh angin monsun. Musim hujan biasanya berlangsung antara November hingga April, di mana curah hujan sangat tinggi dipengaruhi oleh orografi pegunungan di sisi timur yang memicu kondensasi awan. Sebaliknya, musim kemarau terjadi pada Mei hingga Oktober. Suhu udara bervariasi antara 23°C di wilayah perbukitan hingga 32°C di dataran rendah, dengan tingkat kelembapan yang relatif tinggi sepanjang tahun.

##

Kekayaan Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi dengan pemanfaatan dataran rendah untuk persawahan teknis yang produktif. Di sektor kehutanan dan mineral, Maros memiliki potensi batu gamping dan marmer berkualitas tinggi yang berasal dari formasi batuan karstnya. Secara ekologis, Maros adalah rumah bagi "The Kingdom of Butterfly" di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Zona ekologi ini menyimpan biodiversitas tinggi, termasuk spesies endemik seperti monyet hitam sulawesi (Macaca maura) dan berbagai flora langka yang tumbuh di celah-celah tebing kapur, menjadikan Maros wilayah dengan nilai konservasi global yang sangat penting.

Culture

#

Maros: Gerbang Karst dan Warisan Peradaban Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros, yang terletak di posisi tengah Sulawesi Selatan, bukan sekadar wilayah penyangga Kota Makassar. Dengan luas wilayah 1447,05 km², Maros menyimpan kedalaman budaya yang berakar pada perpaduan harmonis antara tradisi agraris dan kemegahan alam karst Rammang-Rammang serta Leang-Leang. Sebagai daerah yang berbatasan dengan lima wilayah (Makassar, Gowa, Bone, Pangkep, dan Selat Makassar di sisi barat laut), Maros menjadi titik temu kebudayaan Bugis dan Makassar.

##

Tradisi, Adat Istiadat, dan Upacara Lokal

Masyarakat Maros memegang teguh nilai Siri’ na Pesse, sebuah filosofi kehormatan dan empati. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Appalili, sebuah upacara adat yang menandai dimulainya musim tanam padi. Upacara ini dipimpin oleh pemangku adat untuk memohon berkah agar hasil panen melimpah. Selain itu, terdapat tradisi Ma’dulu-dulu, yakni ritual gotong royong masyarakat dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menghias pohon pisang menggunakan telur warna-warni dan kaddo minyak (nasi ketan).

##

Kesenian, Musik, dan Tari Tradisional

Seni pertunjukan di Maros sangat dipengaruhi oleh ritme perkusi. Gendang Bulo merupakan tarian rakyat yang ekspresif, menggabungkan musik, komedi, dan gerak lincah yang merefleksikan keceriaan masyarakat. Maros juga dikenal dengan tradisi Paralayang budaya atau Pabatte Passapu, sebuah atraksi ketangkasan menggunakan penutup kepala tradisional. Dalam hal musik, dentuman Pui-pui (alat musik tiup) sering mengiringi prosesi penjemputan tamu kehormatan.

##

Kuliner Khas dan Kekayaan Gastronomi

Maros adalah surga bagi pencinta kuliner tradisional. Ikon utamanya adalah Roti Maros, roti lembut dengan isian selai srikaya khas yang dimasak dengan resep turun-temurun. Selain itu, terdapat Jalangkote khas Maros yang memiliki kulit lebih tipis dan renyah. Di kawasan pesisir dan sungai, masyarakat gemar mengolah Bandeng Tanpa Duri serta Bebek Palekko yang kaya rempah pedas, sebuah hidangan yang menjadi simbol jamuan bagi tamu penting.

##

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat Maros menggunakan bahasa Makassar dengan dialek lokal yang khas, serta bahasa Bugis di beberapa kecamatan yang berbatasan dengan Bone dan Pangkep. Salah satu ekspresi unik adalah penggunaan partikel "ji" atau "ki" dalam percakapan sehari-hari yang menunjukkan tingkat kesopanan atau penegasan kalimat, mencerminkan karakter masyarakatnya yang ramah namun tegas.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Dalam acara adat, masyarakat Maros mengenakan Baju Bodo bagi perempuan, yang merupakan salah satu busana tertua di dunia. Warna Baju Bodo menunjukkan strata sosial dan usia pemakainya. Sementara itu, kaum pria mengenakan Jas Tutu’ dipadukan dengan Lipa’ Sabbe (sarung sutra khas Sulawesi Selatan) yang ditenun dengan motif Cacca atau Balo Lobang.

##

Praktik Keagamaan dan Festival Budaya

Kehidupan religius di Maros sangat kental dengan nuansa Islam yang berpadu dengan kearifan lokal. Salah satu pusat spiritualnya adalah kawasan Khalwatiah Sammang di Pattene, yang menarik ribuan jamaah saat peringatan hari besar Islam. Secara rutin, pemerintah daerah juga menggelar Festival Bantimurung, sebuah perayaan yang menonjolkan kekayaan alam "The Kingdom of Butterflies" sekaligus menampilkan parade budaya dari berbagai kecamatan di Maros.

Tourism

Menjelajahi Maros: Gerbang Karst Megah di Jantung Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros merupakan sebuah permata tersembunyi seluas 1447,05 km² yang terletak di posisi strategis bagian tengah Sulawesi Selatan. Sebagai daerah penyangga ibu kota provinsi, Maros berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif yaitu Makassar, Gowa, Bone, Pangkep, dan Selat Makassar. Maros bukan sekadar titik transit, melainkan destinasi kelas dunia yang menawarkan keajaiban geologi purba dan kekayaan budaya yang autentik.

#

Keajaiban Alam: Labirin Karst dan Air Terjun

Maros adalah rumah bagi kawasan karst terbesar kedua di dunia, yakni Rammang-Rammang. Pengunjung akan terpukau oleh gugusan menara batu gamping yang menjulang di tengah hamparan sawah hijau. Selain itu, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung menjadi magnet utama dengan julukan "The Kingdom of Butterfly". Di sini, Anda dapat menikmati kesegaran Air Terjun Bantimurung yang ikonik serta mengeksplorasi gua-gua alam yang eksotis dengan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif.

#

Jejak Peradaban di Situs Prasejarah

Bagi pecinta sejarah, Maros menawarkan pengalaman spiritual melalui Leang-Leang. Situs ini menyimpan memori manusia purba berupa lukisan tangan merah dan gambar babi rusa di dinding gua yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun. Pengalaman melihat langsung jejak peradaban tertua di dunia ini memberikan perspektif mendalam mengenai sejarah kemanusiaan di tanah Sulawesi.

#

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Jiwa petualang Anda akan teruji dengan menyusuri Sungai Pute menggunakan perahu tradisional jolloro menuju Desa Berua. Bagi penggemar olahraga ekstrem, pendakian di Gunung Bulusaraung menawarkan jalur yang menantang dengan imbalan pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Selain itu, aktivitas caving di Gua Salukang Kallang yang memiliki sistem sungai bawah tanah terpanjang di Indonesia menjadi agenda wajib bagi para penjelajah.

#

Wisata Kuliner dan Keramahtamahan Lokal

Perjalanan ke Maros belum lengkap tanpa mencicipi Roti Maros yang legendaris—roti lembut dengan selai kaya yang khas. Anda juga wajib mencoba Coto Maros yang memiliki cita rasa rempah berbeda dari versi Makassar. Masyarakat Maros dikenal dengan keramahannya yang hangat, menjunjung tinggi nilai Siri’ na Pesse. Untuk akomodasi, tersedia berbagai pilihan mulai dari hotel berbintang di pusat kota hingga homestay apung di kawasan Rammang-Rammang untuk pengalaman menginap yang lebih menyatu dengan alam.

#

Waktu Kunjungan Terbaik

Waktu terbaik untuk mengunjungi Maros adalah pada musim kemarau, antara bulan Juni hingga September. Pada periode ini, akses menuju gua-gua lebih aman dan debit air terjun berada pada kondisi paling jernih, sangat ideal untuk fotografi lanskap maupun aktivitas luar ruangan. Maros bukan sekadar destinasi, ia adalah narasi alam dan sejarah yang menanti untuk Anda tuliskan dalam memori perjalanan Anda.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Maros: Gerbang Penyangga Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros, dengan luas wilayah 1447,05 km², memegang peranan vital dalam konstelasi ekonomi Sulawesi Selatan. Terletak di posisi strategis "tengah" sebagai penghubung utama antara Kota Makassar dengan wilayah utara provinsi, Maros bukan sekadar daerah penyangga, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri dengan diversifikasi sektor yang kuat.

##

Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Secara tradisional, Maros dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan. Meskipun wilayahnya dikelilingi daratan di sisi timur yang berbukit-bukit (Kawasan Karst Maros-Pangkep), sektor pertanian tanaman pangan tetap mendominasi. Padi dan jagung merupakan komoditas unggulan yang didukung oleh sistem irigasi teknis yang memadai. Selain itu, sektor hortikultura di wilayah dataran tinggi seperti Tompobulu memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan sayur-mayur bagi pasar metropolitan Mamminasata.

##

Sektor Industri dan Infrastruktur Strategis

Keunggulan ekonomi Maros yang paling menonjol terletak pada keberadaan infrastruktur transportasi udara skala internasional, yaitu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Keberadaan bandara ini memicu pertumbuhan sektor jasa, logistik, dan pergudangan secara masif. Di sektor industri pengolahan, Maros menjadi rumah bagi industri semen skala besar (PT Semen Bosowa) yang memanfaatkan deposit mineral di pegunungan karst. Keberadaan industri ini menciptakan efek pengganda (multiplier effect) terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan pertumbuhan sektor UMKM di sekitarnya.

##

Pariwisata Alam dan Ekonomi Kreatif

Sektor pariwisata Maros memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki daerah lain. Kawasan Geopark Nasional Maros-Pangkep, khususnya destinasi Rammang-Rammang dan Taman Nasional Bantimurung, menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dampak ekonominya terlihat pada menjamurnya usaha homestay, jasa pemanduan wisata, dan kuliner khas. Ekonomi kreatif lokal juga tumbuh melalui kerajinan tangan khas, seperti produk anyaman dan olahan makanan berbahan dasar ikan bandeng serta roti maros yang menjadi ikon oleh-oleh regional.

##

Ketenagakerjaan dan Pengembangan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Maros menunjukkan pergeseran dari sektor agraris murni ke arah sektor jasa dan perdagangan. Dengan statusnya sebagai bagian dari kawasan strategis Mamminasata, Maros terus mengembangkan kawasan industri baru untuk menarik investasi. Meskipun tidak memiliki garis pantai yang luas dibandingkan daerah tetangganya, ekonomi Maros tetap terintegrasi dengan jaringan distribusi maritim melalui kedekatannya dengan Pelabuhan Makassar, menjadikannya hub logistik darat-udara yang krusial.

Pemerintah daerah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri dan jasa bandara. Dengan integrasi antara kekayaan alam karst, kekuatan industri semen, dan posisi strategis transportasi, Kabupaten Maros terus bertransformasi menjadi pilar ekonomi modern di jantung Sulawesi Selatan.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Kabupaten Maros merupakan wilayah strategis di Sulawesi Selatan dengan luas wilayah mencapai 1.447,05 km². Terletak di posisi tengah yang menghubungkan Kota Makassar dengan wilayah utara provinsi, Maros memiliki karakteristik demografis yang dinamis sebagai daerah penyangga utama (hinterland) dalam kawasan metropolitan Mamminasata.

##

Struktur Penduduk dan Kepadatan

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kabupaten Maros telah melampaui 400.000 jiwa. Kepadatan penduduk terkonsentrasi di wilayah yang berbatasan langsung dengan Makassar, seperti Kecamatan Turikale dan Mandai, sementara wilayah pegunungan di timur seperti Mallawa memiliki kepadatan yang lebih rendah. Struktur penduduk Maros didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun), membentuk piramida penduduk ekspansif yang menunjukkan angka kelahiran yang masih cukup stabil namun dengan pertumbuhan kelompok usia muda yang signifikan.

##

Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya

Suku Bugis dan Makassar merupakan pilar utama komposisi etnis di Maros. Uniknya, Maros sering dianggap sebagai titik temu transisi linguistik dan budaya antara kedua suku besar tersebut. Meskipun mayoritas beragama Islam, terdapat keberagaman tradisi yang terjaga, terutama di wilayah karst Rammang-Rammang dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, di mana masyarakat lokal masih mempraktikkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam.

##

Pendidikan dan Tingkat Literasi

Tingkat literasi di Kabupaten Maros menunjukkan tren positif dengan angka melek huruf di atas 95%. Pemerintah daerah berfokus pada peningkatan rata-rata lama sekolah, didukung oleh keberadaan berbagai institusi pendidikan vokasi dan kedekatan akses terhadap perguruan tinggi di Makassar. Sektor pendidikan di Maros juga diperkuat oleh keberadaan pondok pesantren besar yang menjadi magnet pendidikan religius bagi penduduk dari luar daerah.

##

Dinamika Urbanisasi dan Migrasi

Sebagai wilayah yang memiliki Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Kecamatan Mandai, Maros mengalami pola migrasi masuk yang tinggi. Urbanisasi tidak hanya terjadi karena perpindahan penduduk pedesaan ke pusat kota Turikale, tetapi juga akibat limpahan penduduk (spillover) dari Makassar yang mencari hunian di wilayah perbatasan Maros. Hal ini menciptakan dinamika masyarakat komuter yang bekerja di Makassar namun tinggal di Maros.

##

Karakteristik Unik Demografi

Salah satu keunikan demografis Maros adalah proporsi penduduk yang bekerja di sektor jasa dan transportasi yang sangat signifikan dibandingkan kabupaten tetangga, dipicu oleh operasional bandara dan industri semen. Selain itu, sebagai daerah non-pesisir di pusat administratifnya, masyarakat Maros memiliki keterikatan kuat pada sektor pertanian lahan basah dan agrowisata, yang tetap menjadi penyerap tenaga kerja utama di wilayah pedesaan.

Destinasi di Maros

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Sulawesi Selatan

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Maros dari siluet petanya?