Kota Tua Ampenan
di Mataram, Nusa Tenggara Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kejayaan Bahari di Kota Tua Ampenan: Gerbang Sejarah Pulau Lombok
Kota Tua Ampenan bukan sekadar sebuah kawasan pemukiman di pesisir barat Kota Mataram, melainkan sebuah artefak hidup yang merekam denyut nadi perdagangan Nusantara di masa lampau. Terletak di tepi Selat Lombok, kawasan ini merupakan situs sejarah yang menjadi saksi bisu transisi kekuasaan, asimilasi budaya, dan kejayaan maritim Nusa Tenggara Barat.
#
Asal-Usul dan Masa Pendirian: Kota Pelabuhan yang Strategis
Nama "Ampenan" diyakini berasal dari kata "Ambi" yang berarti tempat singgah atau transit dalam bahasa lokal. Secara historis, kawasan ini mulai berkembang pesat pada awal abad ke-19. Sebelum Belanda menancapkan kuku kekuasaannya secara penuh, Ampenan telah menjadi pelabuhan tradisional yang sibuk di bawah kendali Kerajaan Karangasem Lombok.
Puncak perkembangan Ampenan terjadi pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada tahun 1894, setelah jatuhnya kekuasaan Dinasti Karangasem ke tangan Hindia Belanda melalui ekspedisi militer yang berdarah, Belanda menetapkan Ampenan sebagai pelabuhan utama untuk ekspor komoditas dari Pulau Lombok. Komoditas unggulan seperti beras, kapas, sapi, dan kopi dikirim dari pelabuhan ini menuju berbagai penjuru dunia, menjadikannya pusat ekonomi tersibuk di wilayah Sunda Kecil pada masanya.
#
Arsitektur: Perpaduan Gaya Kolonial dan Vernakular
Karakteristik visual Kota Tua Ampenan didominasi oleh gaya arsitektur Indische Empire Style yang dipadukan dengan ruko-ruko bergaya Tionghoa. Keunikan utama kawasan ini terletak pada tata kotanya yang terbagi berdasarkan etnis (segregasi pemukiman), sebuah kebijakan khas pemerintah kolonial Belanda yang disebut Wijkenstelsel.
Gedung-gedung tua di sepanjang Jalan Pabean menampilkan ciri khas konstruksi awal abad ke-20: dinding tebal dari bata merah, langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara optimal di iklim tropis, serta jendela-jendela kayu besar dengan jalusi. Di kawasan ini, pengunjung masih dapat menemukan sisa-sisa kantor maskapai pelayaran Belanda (KPM - Koninklijke Paketvaart Maatschappij) dan gudang-gudang tua yang dulunya digunakan untuk menyimpan rempah-rempah. Sisa-sisa tiang pancang dermaga besi yang menjorok ke laut menjadi bukti bahwa teknologi konstruksi maritim Eropa pernah diterapkan secara masif di sini.
#
Signifikansi Historis: Titik Temu Berbagai Bangsa
Ampenan memiliki signifikansi sejarah yang luar biasa sebagai "Kuali Peleburan" (Melting Pot) budaya. Tidak seperti kota-kota lain di Lombok yang didominasi suku Sasak, Ampenan adalah rumah bagi keberagaman etnis yang ekstrem sejak abad ke-19. Di sini terdapat Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bugis, Kampung Banjar, dan kawasan Pecinan yang saling berdekatan.
Keberagaman ini bukan tanpa alasan. Faktor pelabuhan menarik para pedagang dari Hadramaut (Yaman), pedagang Tionghoa dari daratan Tiongkok, hingga pelaut ulung dari Sulawesi. Keberadaan mereka menciptakan ekosistem sosial yang unik. Salah satu fakta sejarah yang unik adalah peran Ampenan sebagai pintu masuk utama bagi para jamaah haji dari seluruh penjuru Lombok dan Sumbawa sebelum adanya transportasi udara. Pelabuhan Ampenan adalah "gerbang suci" tempat ribuan orang dilepas dengan tangis dan doa menuju Mekkah menggunakan kapal uap.
#
Tokoh dan Peristiwa Penting
Salah satu tokoh yang namanya tak lepas dari sejarah Ampenan adalah Anak Agung Gde Ngurah Karangasem, penguasa Lombok yang sempat mempertahankan kedaulatan wilayah ini sebelum akhirnya takluk pada Belanda. Di sisi kolonial, nama Jenderal van Ham sering dikaitkan dengan pertempuran di Lombok yang dampaknya merembet pada penguasaan total pelabuhan Ampenan oleh Belanda.
Peristiwa besar yang menandai akhir kejayaan Ampenan adalah pemindahan pelabuhan utama ke Lembar pada tahun 1970-an. Keputusan ini diambil karena perairan Ampenan yang berhadapan langsung dengan laut lepas memiliki gelombang yang terlalu besar dan pendangkalan yang sulit diatasi, sehingga tidak lagi mampu menampung kapal-kapal kargo modern berukuran besar. Sejak saat itu, Ampenan bertransformasi dari pusat ekonomi menjadi kawasan cagar budaya yang tenang.
#
Keberagaman Budaya dan Religi
Secara religius, Ampenan adalah contoh nyata kerukunan antarumat beragama di Nusa Tenggara Barat. Dalam radius yang sangat dekat, berdiri Masjid Jami' Ampenan yang megah, Klenteng Po Hwa Kong yang merupakan salah satu klenteng tertua di Lombok (berdiri sejak abad ke-19), serta gereja-gereja peninggalan era kolonial.
Klenteng Po Hwa Kong sendiri merupakan simbol eksistensi komunitas Tionghoa yang telah berintegrasi dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun. Kehadiran komunitas Arab di Kampung Arab juga memberikan pengaruh kuat pada penyebaran ajaran Islam dan tradisi kuliner di Mataram, yang hingga kini menjadi daya tarik wisata tersendiri.
#
Status Konservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, Kota Tua Ampenan telah ditetapkan sebagai salah satu anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Pemerintah Kota Mataram terus berupaya melakukan revitalisasi tanpa menghilangkan identitas aslinya. Upaya restorasi difokuskan pada perbaikan fasad bangunan tua di sepanjang jalan utama dan penataan kawasan pesisir (Eks Pelabuhan Ampenan).
Meskipun beberapa bangunan mengalami kerusakan akibat gempa Lombok tahun 2018, semangat untuk melestarikan kawasan ini tetap kuat. Pemerintah daerah mulai memberlakukan regulasi ketat mengenai perubahan bentuk bangunan di zona inti kota tua guna menjaga nilai estetika dan sejarahnya. Selain itu, kawasan ini kini difungsikan sebagai destinasi wisata kuliner dan budaya, di mana setiap sore masyarakat berkumpul di bibir pantai untuk menikmati matahari terbenam dengan latar belakang sisa-sisa dermaga tua.
#
Kesimpulan: Warisan yang Harus Dijaga
Kota Tua Ampenan adalah lembaran sejarah yang hidup. Ia menceritakan tentang masa ketika Lombok menjadi pemain penting dalam perdagangan global, tentang bagaimana arsitektur Eropa bersentuhan dengan kearifan lokal, dan tentang bagaimana berbagai etnis dapat hidup berdampingan dalam harmoni selama berabad-abad. Melestarikan Ampenan berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang jati diri kita sebagai bangsa maritim yang besar. Keunikan sejarahnya menjadikan Ampenan bukan sekadar objek wisata, melainkan laboratorium sosial dan budaya yang tak ternilai harganya bagi generasi mendatang.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Mataram
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Mataram
Pelajari lebih lanjut tentang Mataram dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Mataram