Pura Meru
di Mataram, Nusa Tenggara Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan
Pura Meru dibangun pada tahun 1720 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem. Pembangunan ini dilakukan pada masa di mana pengaruh Kerajaan Karangasem dari Bali mulai mengakar kuat di bumi Sasak. Nama "Meru" sendiri merujuk pada Gunung Meru dalam kosmologi Hindu-Buddha, yang dianggap sebagai pusat alam semesta dan tempat bersemayamnya para dewa.
Secara historis, pembangunan Pura Meru bertujuan untuk menyatukan berbagai faksi masyarakat di Lombok di bawah satu payung spiritual. Pada abad ke-18, Lombok merupakan kancah perebutan pengaruh, dan pendirian pura ini berfungsi sebagai simbol stabilitas politik sekaligus pusat pemujaan bagi umat Hindu Dharma. Pura ini juga dirancang sebagai bentuk penghormatan terhadap tiga dewa utama (Trimurti), yang sekaligus melambangkan persatuan antara etnis Bali dan Sasak yang hidup berdampingan.
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik
Keunikan utama Pura Meru terletak pada struktur tiga bangunan utama yang disebut "Meru" atau pagoda kayu dengan atap bertingkat (tumpang). Ketiga Meru ini berjejer dari utara ke selatan di area Utama Mandala (halaman paling suci), masing-masing didedikasikan untuk manifestasi Tuhan dalam konsep Trimurti:
1. Meru Utara (Tumpang Sembilan): Didedikasikan untuk Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta. Secara simbolis, bangunan ini dihubungkan dengan Gunung Agung di Bali.
2. Meru Tengah (Tumpang Sebelas): Merupakan bangunan tertinggi dan paling sakral, didedikasikan untuk Dewa Siwa sebagai pelebur. Bangunan ini melambangkan Gunung Rinjani, yang bagi masyarakat Lombok merupakan pasak bumi yang suci.
3. Meru Selatan (Tumpang Sembilan): Didedikasikan untuk Dewa Brahma sebagai pencipta, yang secara simbolis dikaitkan dengan Gunung Karangasem di Bali.
Atap Meru tersebut terbuat dari serat ijuk hitam yang disusun rapat, sementara kerangka bangunannya menggunakan kayu jati berkualitas tinggi yang mampu bertahan selama berabad-abad. Berbeda dengan pura-pura di Bali yang seringkali dipenuhi ukiran batu padas yang rumit, Pura Meru di Mataram menampilkan estetika yang lebih bersahaja namun kolosal. Dinding pembatasnya terbuat dari bata merah tanpa plester, mencerminkan gaya arsitektur klasik zaman Majapahit yang dibawa ke Bali dan kemudian dikembangkan di Lombok.
Makna Simbolis dan Peristiwa Sejarah Terkait
Pura Meru memiliki signifikansi yang melampaui fungsi religiusnya. Dalam catatan kolonial Hindia Belanda, kawasan sekitar Pura Meru dan Istana Cakranegara merupakan saksi bisu dari Perang Lombok yang meletus pada tahun 1894. Pura ini sempat menjadi saksi ketegangan antara pasukan Kerajaan Mataram-Lombok melawan ekspedisi militer Belanda.
Salah satu fakta unik dari Pura Meru adalah keberadaan 33 sanggar (tempat pemujaan kecil) yang mengelilingi bangunan utama. Angka 33 ini merepresentasikan 33 desa yang pada masa pembangunannya ikut serta secara gotong royong dalam mendirikan dan memelihara pura tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Pura Meru telah berfungsi sebagai institusi sosial yang mempererat kohesi masyarakat lintas wilayah di Lombok.
Tokoh Penting dan Pengaruh Kekuasaan
Anak Agung Ngurah Karangasem, sang pendiri, merupakan tokoh sentral yang berhasil mengonsolidasikan kekuatan di Lombok melalui pendekatan budaya. Di bawah kepemimpinannya, Pura Meru tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga tempat pertemuan para pemimpin adat untuk membahas persoalan kemasyarakatan.
Pada periode selanjutnya, pura ini terus dijaga oleh keturunan raja-raja Mataram-Lombok. Bahkan setelah jatuhnya kerajaan akibat intervensi Belanda, eksistensi Pura Meru tetap terjaga karena peran para pemangku (pemimpin spiritual) dan masyarakat lokal yang tetap setia merawat tradisi leluhur mereka.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang, Pura Meru telah menjalani beberapa tahap restorasi untuk menjaga keaslian strukturnya. Tantangan terbesar dalam pelestarian pura ini adalah paparan cuaca yang dapat merusak atap ijuk dan kelembapan yang memengaruhi kekuatan kayu Meru.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Balai Pelestarian Kebudayaan secara rutin melakukan pemeliharaan, terutama pada bagian pagar bata merah yang rentan terhadap pelapukan. Restorasi dilakukan dengan prinsip mempertahankan material asli; jika ada penggantian kayu atau ijuk, material tersebut harus didatangkan dengan spesifikasi yang sama seperti saat pertama kali dibangun pada abad ke-18.
Peran Budaya dan Keagamaan Kontemporer
Hingga saat ini, Pura Meru tetap menjadi pusat perhatian budaya di Mataram. Setiap tahun, saat bulan purnama (Purnama Kapat), pura ini menjadi lokasi upacara Piodalan atau ulang tahun pura yang sangat megah. Ribuan umat Hindu dari seluruh penjuru Lombok, bahkan dari Bali, datang untuk melakukan persembahyangan.
Salah satu elemen budaya yang tak terpisahkan dari Pura Meru adalah gamelan dan tarian sakral yang dipentaskan di pelataran pura. Tradisi ini menunjukkan bahwa Pura Meru bukan sekadar fosil sejarah, melainkan ruang budaya yang dinamis. Keberadaannya yang berhadapan langsung dengan Taman Mayura—bekas taman kerajaan—menciptakan sebuah kompleks sejarah yang memberikan gambaran utuh tentang kejayaan masa lalu Mataram.
Bagi para sejarawan dan wisatawan, Pura Meru menawarkan perspektif unik tentang bagaimana sebuah keyakinan dapat beradaptasi dengan lingkungan lokal, menciptakan arsitektur yang megah tanpa menghilangkan identitas spiritualnya. Pura ini adalah simbol ketahanan budaya Sasak-Bali yang tetap tegak berdiri di tengah modernisasi Kota Mataram.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Mataram
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Mataram
Pelajari lebih lanjut tentang Mataram dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Mataram