Prasasti Karang Brahi
di Merangin, Jambi
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kedatuan Sriwijaya di Tanah Jambi: Menelusuri Prasasti Karang Brahi
Prasasti Karang Brahi bukan sekadar bongkahan batu andesit kuno; ia adalah saksi bisu perluasan kekuasaan Kedatuan Sriwijaya di pedalaman Pulau Sumatera. Terletak di Desa Karang Brahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, prasasti ini menjadi salah satu bukti arkeologis terpenting yang menghubungkan wilayah aliran Sungai Batanghari dengan imperium maritim terbesar di Nusantara pada masanya.
#
Konteks Sejarah dan Periodisasi
Prasasti Karang Brahi diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi, tepatnya sekitar tahun 686 Masehi. Penentuan angka tahun ini didasarkan pada perbandingan paleografis dan isi teks yang memiliki kemiripan sangat kuat dengan Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka. Pada periode tersebut, Sriwijaya di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Sri Jayanasa sedang gencar melakukan ekspansi militer dan politik untuk menguasai jalur-jalur perdagangan strategis di Sumatera dan Selat Malaka.
Penemuan prasasti ini di wilayah Merangin menunjukkan bahwa pengaruh Sriwijaya telah merasuk jauh ke hulu sungai, melampaui pusat pemerintahan yang berada di pesisir. Hal ini menandakan kepentingan strategis wilayah Jambi bagi Sriwijaya, baik sebagai penyedia komoditas hutan maupun sebagai wilayah penyangga keamanan kerajaan.
#
Karakteristik Fisik dan Arsitektur Tekstual
Secara fisik, Prasasti Karang Brahi dipahat di atas batu alam jenis andesit yang berbentuk bongkahan besar dengan permukaan yang tidak rata. Berbeda dengan prasasti-prasasti dari Jawa yang seringkali dipahat pada batu yang telah dibentuk rapi (stela), Prasasti Karang Brahi mempertahankan bentuk asli batu (monolit).
Tulisan pada prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno. Teknik pemahatannya menunjukkan kemahiran tinggi, di mana huruf-hurufnya masih dapat diidentifikasi meskipun telah mengalami pelapukan alami selama lebih dari seribu tahun. Karakteristik tulisannya cenderung bulat dan tebal, ciri khas dari inskripsi-inskripsi awal Sriwijaya yang dipengaruhi oleh gaya penulisan India Selatan.
#
Isi Teks dan Signifikansi Historis
Isi dari Prasasti Karang Brahi sangat spesifik dan krusial bagi sejarah hukum serta politik Nusantara. Secara garis besar, teks ini berisi kutukan (sapatha) yang ditujukan kepada siapa saja yang berani memberontak atau tidak setia kepada Kedatuan Sriwijaya.
Beberapa poin penting dalam isi kutukan tersebut meliputi:
1. Sumpah Setia: Peringatan bagi penduduk setempat untuk tunduk pada perintah raja.
2. Ancaman Mistis: Bagi mereka yang berkhianat, melakukan sihir, atau menghasut rakyat untuk melawan kerajaan, akan ditimpa bencana dan kutukan dari para dewa.
3. Janji Kesejahteraan: Sebaliknya, bagi mereka yang setia dan patuh, akan diberikan keberkahan, keselamatan, dan kemakmuran bagi keturunan mereka.
Keberadaan teks kutukan di Karang Brahi memberikan petunjuk bahwa wilayah Pamenang dan sekitarnya pada masa itu mungkin merupakan daerah yang baru ditaklukkan atau daerah yang memiliki potensi pemberontakan tinggi. Dengan menempatkan prasasti kutukan di lokasi strategis (tepi sungai), Sriwijaya menggunakan kekuatan psikologis dan religius untuk menjaga stabilitas politik di wilayah pedalaman.
#
Tokoh dan Kekuasaan Terkait
Tokoh sentral yang melatarbelakangi keberadaan prasasti ini adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Beliau adalah penguasa pertama Sriwijaya yang namanya tercatat dalam sejarah lewat Prasasti Kedukan Bukit. Melalui kebijakan "Siddhayatra" atau perjalanan suci untuk mencari kejayaan, Dapunta Hyang berhasil menyatukan berbagai mandala (wilayah kekuasaan kecil) di Sumatera ke bawah panji Sriwijaya.
Prasasti Karang Brahi menjadi bukti nyata dari integrasi wilayah Jambi ke dalam mandala Sriwijaya. Sebelum menjadi bagian dari Sriwijaya, wilayah Jambi dikenal sebagai Kerajaan Melayu (Malayupura). Penempatan prasasti ini menandai berakhirnya independensi politik lokal dan dimulainya era hegemoni Sriwijaya di tanah Jambi.
#
Fungsi Budaya dan Religi
Selain fungsi politik, Prasasti Karang Brahi memiliki dimensi religius yang kuat. Penggunaan kata "Kutukan" dalam teks prasasti melibatkan entitas supranatural. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki kepercayaan yang mendalam terhadap kekuatan kata-kata dan sumpah.
Meskipun Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha Vajrayana di Asia Tenggara, unsur-unsur kepercayaan lokal dan pengaruh Hindu juga kerap muncul dalam formula kutukan pada prasasti-prasasti mereka. Prasasti ini berfungsi sebagai instrumen "hukum suci" yang menyatukan antara otoritas raja dengan kehendak para dewa/kekuatan gaib.
#
Status Pelestarian dan Upaya Konservasi
Saat ini, Prasasti Karang Brahi berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Untuk menjaga fisiknya dari kerusakan akibat cuaca dan vandalisme, pihak berwenang telah membangun sebuah cungkup atau bangunan pelindung di lokasi aslinya (in situ).
Keunikan prasasti ini adalah lokasinya yang tidak dipindahkan ke museum pusat di Jakarta atau Jambi, melainkan tetap berada di Desa Karang Brahi. Hal ini bertujuan agar nilai historis dan ikatan emosional masyarakat lokal terhadap warisan leluhur mereka tetap terjaga. Masyarakat setempat menganggap batu ini sebagai benda keramat yang disebut "Batu Bersurat," dan mereka turut berperan aktif dalam menjaga keamanan situs tersebut.
#
Fakta Unik dan Signifikansi Bagi Merangin
Salah satu fakta unik dari Prasasti Karang Brahi adalah teksnya yang hampir identik dengan Prasasti Kota Kapur di Bangka. Hal ini menunjukkan adanya standar "template" hukum atau proklamasi kerajaan yang disebarkan oleh birokrasi Sriwijaya ke berbagai wilayah taklukan.
Bagi Kabupaten Merangin, prasasti ini adalah identitas sejarah yang menempatkan wilayah ini dalam peta peradaban dunia sejak abad ke-7. Karang Brahi menjadi bukti bahwa pedalaman Jambi bukanlah wilayah terisolasi, melainkan bagian integral dari jaringan perdagangan dan politik internasional pada masa klasik.
#
Kesimpulan
Prasasti Karang Brahi adalah monumen kedaulatan yang merekam ambisi dan strategi politik Kedatuan Sriwijaya. Melalui pahatan di atas batu andesit ini, kita dapat memahami bagaimana sebuah imperium maritim mengelola wilayah pedalamannya melalui kombinasi kekuatan militer, ancaman supranatural, dan legitimasi hukum. Menjaga kelestarian prasasti ini berarti menjaga ingatan kolektif bangsa akan kejayaan masa lalu yang pernah bersemi di tepian sungai-sungai besar di Jambi. Sebagai situs sejarah unggulan di Merangin, Prasasti Karang Brahi terus mengundang para peneliti, sejarawan, dan wisatawan untuk menyelami kembali masa-masa ketika Sumatera menjadi pusat perhatian dunia.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Merangin
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Merangin
Pelajari lebih lanjut tentang Merangin dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Merangin