Situs Sejarah

Rumah Tradisional Tuo Rantau Panjang

di Merangin, Jambi

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Peradaban Melayu Tua: Rumah Tradisional Tuo Rantau Panjang

Rumah Tradisional Tuo Rantau Panjang bukan sekadar bangunan kayu tua yang berdiri di tepian Sungai Tabir; ia adalah kapsul waktu yang menyimpan memori kolektif masyarakat Melayu Kuno di Jambi. Terletak di Kelurahan Kampung Dagang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, kawasan ini dikenal sebagai kompleks permukiman tradisional tertua di Provinsi Jambi yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Sejarah Rumah Tuo Rantau Panjang berakar pada masa migrasi suku bangsa Melayu Tua (Proto Melayu). Menurut catatan lisan dan penelitian sejarah lokal, pemukiman ini diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dengan beberapa struktur bangunan yang diyakini berasal dari abad ke-14 atau ke-15. Desa Rantau Panjang sendiri didirikan oleh para leluhur yang mencari wilayah strategis di sepanjang aliran sungai untuk berdagang dan bertani.

Keberadaan rumah-rumah ini berkaitan erat dengan Kerajaan Melayu dan pengaruh Kesultanan Jambi di kemudian hari. Pola pemukiman yang mengelompok menunjukkan struktur sosial yang kuat, di mana hubungan antar-keluarga dijaga melalui kedekatan fisik bangunan. Hingga saat ini, terdapat puluhan rumah tua yang masih berdiri kokoh, menciptakan suasana perkampungan abad pertengahan yang kontras dengan modernitas di sekitarnya.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik

Secara arsitektural, Rumah Tuo Rantau Panjang mengusung gaya "Rumah Panggung" khas Melayu, namun dengan spesifikasi teknis yang sangat khusus. Salah satu ciri paling menonjol adalah penggunaan kayu tembesu sebagai material utama. Kayu tembesu dipilih karena ketahanannya terhadap cuaca dan serangan rayap, bahkan semakin tua usia kayu tersebut, kekuatannya diklaim semakin meningkat.

Konstruksi bangunan ini dibangun tanpa menggunakan paku besi satu pun. Sebagai gantinya, para pengrajin masa lalu menggunakan sistem pasak kayu dan ikatan tali rotan. Hal ini memberikan fleksibilitas pada bangunan saat terjadi gempa bumi, sebuah kearifan lokal dalam mitigasi bencana. Atap rumah pada awalnya menggunakan ijuk atau rumbia, meskipun sebagian besar kini telah berganti dengan seng untuk alasan perawatan.

Rumah ini memiliki tiang penyangga yang sangat banyak, terkadang mencapai 24 hingga 30 tiang utama. Ruang di bawah panggung (kolong) biasanya digunakan untuk menyimpan alat pertanian atau kandang ternak, sementara bagian atas dibagi menjadi beberapa sekat fungsional seperti pelataran (teras), ruang induk (ruang utama), dan pengasuh (ruang belakang/dapur).

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Rumah Tuo Rantau Panjang menjadi saksi bisu berbagai pergolakan sejarah di wilayah Jambi. Pada masa kolonial Belanda, kawasan Rantau Panjang merupakan salah satu pusat perlawanan rakyat Tabir. Struktur rumah yang tinggi memungkinkan penghuninya memantau pergerakan musuh yang datang dari arah sungai maupun jalur darat.

Salah satu peristiwa unik yang tercatat adalah fungsi rumah ini sebagai tempat perundingan adat. Di dalam rumah-rumah inilah, hukum adat "Pucuk Jambi Sembilan Lurah" dipraktikkan secara murni. Keputusan mengenai sengketa tanah, pernikahan, hingga sanksi sosial diputuskan di ruang utama rumah oleh para tetua yang disebut Ninik Mamak.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Sejarah situs ini tidak lepas dari peran para pemimpin adat setempat. Nama-nama seperti Bujang Juaro sering dikaitkan dengan legenda kepahlawanan di wilayah Tabir. Selain itu, periode keemasan Rantau Panjang terjadi saat jalur perdagangan sungai menjadi urat nadi ekonomi utama di Jambi. Wilayah ini menjadi titik temu antara pedagang dari pedalaman (Kerinci dan Minangkabau) dengan pedagang dari hilir (Jambi dan Palembang).

Keunikan lain adalah status kepemilikan rumah. Berdasarkan hukum adat setempat, Rumah Tuo diwariskan secara matrilineal (garis keturunan ibu). Hal ini menunjukkan pengaruh kuat budaya Melayu-Minangkabau yang menghormati peran perempuan sebagai penjaga harta pusaka keluarga.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Rumah Tradisional Tuo Rantau Panjang mendapatkan perhatian khusus dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V. Pemerintah Kabupaten Merangin telah menetapkan kawasan ini sebagai desa wisata sejarah. Upaya restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada bagian fondasi dan atap yang mulai lapuk.

Namun, tantangan terbesar dalam pelestarian adalah ketersediaan material kayu tembesu yang kini semakin langka dan mahal. Restorasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menghilangkan nilai otentisitasnya. Masyarakat lokal dilibatkan secara aktif sebagai pemandu wisata dan penjaga situs, memastikan bahwa rumah-rumah tersebut tidak hanya menjadi museum mati, tetapi tetap menjadi hunian yang bernapas.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Rumah Tuo bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol identitas bagi masyarakat Tabir. Setiap elemen bangunan memiliki makna filosofis. Misalnya, jumlah anak tangga yang ganjil dipercaya membawa keberuntungan dan keselamatan. Ornamen ukiran pada dinding dan jendela, yang biasanya bermotif flora (seperti pucuk rebung), melambangkan kesuburan dan kerendahan hati.

Secara religius, pengaruh Islam sangat kuat terlihat pada orientasi bangunan dan tata ruang. Ruang utama rumah sering digunakan untuk pengajian dan kenduri syukuran. Masyarakat Rantau Panjang dikenal sangat religius, dan keberadaan Masjid Tua di sekitar kompleks rumah tradisional ini semakin mempertegas integrasi antara adat dan syarak (agama).

#

Fakta Sejarah Unik

Ada sebuah fakta unik yang jarang diketahui: di beberapa Rumah Tuo, terdapat kotak penyimpanan rahasia di bawah lantai yang dulunya digunakan untuk menyembunyikan barang berharga atau anggota keluarga saat terjadi serangan musuh atau patroli kolonial. Selain itu, tradisi "Membasuh Lantai" masih dilakukan oleh beberapa keluarga, di mana air bekas cucian kaki tamu tidak boleh jatuh sembarangan karena dianggap menghargai tanah leluhur.

Keberadaan Rumah Tradisional Tuo Rantau Panjang di Merangin merupakan bukti nyata kehebatan arsitektur nusantara masa lalu. Ia berdiri sebagai monumen ketangguhan kayu tembesu, kearifan sistem pasak, dan kekuatan tradisi Melayu yang tak lekang oleh waktu. Menjaga kelestarian situs ini berarti menjaga akar sejarah Jambi agar tetap kokoh di tengah arus globalisasi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin
entrance fee
Sukarela / Donasi
opening hours
Sesuai izin tokoh adat setempat

Tempat Menarik Lainnya di Merangin

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Merangin

Pelajari lebih lanjut tentang Merangin dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Merangin