Situs Sejarah

Istana Sayap Kesultanan Pelalawan

di Pelalawan, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periodisasi Pendirian

Akar sejarah Istana Sayap tidak dapat dipisahkan dari silsilah Kerajaan Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera pada abad ke-14. Namun, identitas Kesultanan Pelalawan secara formal mulai menguat setelah runtuhnya Kerajaan Malaka, di mana para penguasa lokal mulai mengonsolidasikan kekuatan di wilayah Kampar.

Istana Sayap yang kita kenal hari ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim II (1892–1930). Beliau adalah sultan ke-11 dari dinasti yang memerintah Pelalawan. Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1910. Nama "Sayap" diberikan karena struktur bangunan ini memiliki dua bangunan tambahan di sisi kiri dan kanan bangunan utama yang menyerupai sayap burung yang sedang terkembang. Filosofi di balik bentuk ini adalah perlindungan dan pengayoman sultan terhadap rakyatnya.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Istana Sayap merupakan mahakarya arsitektur Melayu Riau yang sangat dipengaruhi oleh gaya kolonial Belanda dan sentuhan ornamen Islam. Struktur utamanya merupakan rumah panggung yang dibangun menggunakan kayu-kayu hutan kualitas terbaik seperti kayu kulim, tembesu, dan rasak yang dikenal tahan lama hingga ratusan tahun.

Bangunan ini terdiri dari tiga bagian utama:

1. Gedung Utama (Balai Balairung): Terletak di tengah, berfungsi sebagai tempat musyawarah, upacara adat, dan singgasana sultan.

2. Sayap Kanan (Istana Hilir): Berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan keluarga inti.

3. Sayap Kiri (Istana Hulu): Difungsikan sebagai kantor administrasi kerajaan dan tempat menerima tamu-tamu penting.

Keunikan arsitekturnya terletak pada ukiran "Pucuk Rebung" dan "Awan Larat" yang menghiasi lisplang dan jendela. Atapnya berbentuk limas dengan hiasan "Selembayung" yang menjulang ke langit, melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Warna kuning mendominasi bangunan ini, melambangkan kebesaran dan kemuliaan kaum bangsawan Melayu, dipadukan dengan aksen hijau yang melambangkan kesuburan dan nilai-nilai keislaman.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Istana Sayap menjadi pusat saraf politik dan ekonomi di wilayah Kampar selama awal abad ke-20. Salah satu peristiwa sejarah yang paling krusial adalah peran Sultan Syarif Hasyim II dalam menjaga kedaulatan wilayahnya dari intervensi langsung pemerintah kolonial Hindia Belanda. Meskipun berada di bawah tekanan traktat politik, Kesultanan Pelalawan berhasil mempertahankan tradisi hukum adatnya yang berlandaskan syarak (hukum Islam).

Istana ini juga menjadi saksi bisu masa transisi kekuasaan dari sistem monarki ke sistem republik. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sultan Pelalawan terakhir, Sultan Syarif Harun, menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengikuti jejak Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak. Penyerahan kekuasaan ini menandai berakhirnya era pemerintahan berdaulat di Istana Sayap, namun memulai babak baru sebagai warisan budaya nasional.

Tokoh Kunci dan Silsilah

Tokoh paling sentral dalam sejarah fisik Istana Sayap adalah Sultan Syarif Hasyim II. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan mencintai ilmu pengetahuan. Di bawah kepemimpinannya, Pelalawan mengalami modernisasi administratif tanpa meninggalkan akar budaya. Selain itu, nama Sultan Syarif Harun juga sangat dihormati karena sikap patriotiknya yang mendukung penuh kemerdekaan Indonesia, meskipun hal tersebut berarti melepaskan status kekuasaannya sebagai sultan.

Silsilah penguasa Pelalawan memiliki hubungan darah yang erat dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Hal ini terlihat dari gelar "Syarif" yang menunjukkan garis keturunan keturunan Arab-Melayu yang memiliki posisi terhormat dalam struktur sosial masyarakat Riau.

Makna Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Pelalawan, Istana Sayap adalah "Hulu" dari segala adat istiadat. Di sinilah tradisi "Togak Tonggol" (upacara pengibaran bendera adat) dan berbagai ritual keagamaan Islam diselenggarakan. Istana ini berfungsi sebagai benteng pertahanan nilai-nilai Melayu terhadap arus modernisasi. Prinsip "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" benar-benar diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan di lingkungan istana. Keberadaan masjid tua yang tak jauh dari istana menegaskan bahwa pusat pemerintahan dan pusat ibadah adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam konsep tata kota Kesultanan Pelalawan.

Upaya Konservasi dan Restorasi

Situs ini pernah mengalami musibah besar pada tahun 2012, di mana bangunan utama Istana Sayap ludes terbakar akibat arus pendek listrik. Kebakaran ini menghanguskan banyak artefak asli dan dokumen sejarah yang tak ternilai harganya. Namun, pemerintah Kabupaten Pelalawan bersama tokoh adat segera melakukan langkah rekonstruksi.

Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mengembalikan bentuk aslinya. Menggunakan foto-foto lama dan ingatan para tetua adat, istana dibangun kembali dengan material yang serupa. Saat ini, Istana Sayap telah berdiri kembali dengan megah dan ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang. Upaya pelestarian kini difokuskan pada pengumpulan kembali benda-benda peninggalan sultan yang tersebar di masyarakat serta penguatan narasi sejarah bagi generasi muda melalui digitalisasi informasi.

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa di dalam kompleks istana terdapat meriam-meriam kuno peninggalan Belanda dan Portugis yang masih terawat. Selain itu, konstruksi asli istana pada tahun 1906 tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu yang dirancang sedemikian rupa sehingga bangunan tetap fleksibel terhadap getaran namun sangat kuat menahan beban. Istana ini juga memiliki sistem ventilasi alami yang sangat maju pada masanya, memungkinkan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun berada di iklim tropis yang panas.

Istana Sayap Kesultanan Pelalawan kini bukan hanya menjadi destinasi wisata sejarah, melainkan juga simbol kebangkitan kembali marwah Melayu di Riau. Keberadaannya mengingatkan setiap pengunjung bahwa di tepian Sungai Kampar, pernah berdiri sebuah peradaban yang menjunjung tinggi hukum, agama, dan estetika arsitektur yang luar biasa.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Pelalawan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pelalawan

Pelajari lebih lanjut tentang Pelalawan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pelalawan