Situs Sejarah

BSA (Birmingham Small Arms) Sidecar Tour

di Pematangsiantar, Sumatera Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Sejarah BSA Pematangsiantar: Legenda Motor Inggris di Tanah Simalungun

Pematangsiantar, kota terbesar kedua di Sumatera Utara, menyimpan sebuah warisan kolonial yang unik dan tidak ditemukan di belahan dunia mana pun dalam skala yang sama. Warisan tersebut bukanlah berupa bangunan statis atau monumen batu, melainkan sebuah situs sejarah bergerak yang dikenal sebagai BSA (Birmingham Small Arms) Sidecar Tour. Keberadaan sepeda motor klasik asal Inggris ini telah menjadi identitas kultural yang melekat erat dengan denyut nadi masyarakat Siantar selama lebih dari tujuh dekade.

#

Asal-Usul Historis dan Kedatangan BSA di Siantar

Sejarah BSA di Pematangsiantar bermula pada masa transisi pasca-Perang Dunia II dan awal kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1940-an hingga 1950-an. Birmingham Small Arms (BSA) sendiri merupakan perusahaan manufaktur senjata, kendaraan, dan alat militer asal Inggris yang bermarkas di Small Heath, Birmingham. Pada masa pendudukan Belanda dan kemudian Inggris (sebagai bagian dari pasukan Sekutu), motor-motor ini dibawa masuk ke wilayah Sumatera Utara untuk kebutuhan mobilitas militer dan operasional perkebunan besar di sekitar Simalungun.

Model yang paling dominan di Pematangsiantar adalah BSA tipe M20 dan M21 dengan kapasitas mesin 500cc dan 600cc. Motor ini awalnya didesain untuk keperluan perang (World War II) karena ketangguhan mesinnya di medan berat. Ketika pasukan kolonial meninggalkan Indonesia, ratusan unit BSA ditinggalkan dan kemudian beralih tangan ke penduduk lokal. Uniknya, di Pematangsiantar, motor-motor ini tidak sekadar menjadi koleksi pribadi, melainkan dimodifikasi menjadi moda transportasi umum berupa becak motor (betor) dengan tambahan kereta samping (sidecar).

#

Detail Konstruksi dan Arsitektur Mekanis Sidecar

Secara teknis, motor BSA yang ada di Siantar adalah mahakarya mekanik era pra dan pasca-perang. Mesinnya menggunakan sistem side-valve yang sangat sederhana namun memiliki torsi yang luar biasa besar, sehingga mampu menarik beban berat di jalanan Siantar yang berbukit-bukit. Konstruksi rangkanya terbuat dari baja cor yang sangat kokoh, mampu menopang modifikasi sidecar yang dibuat secara lokal.

Modifikasi sidecar atau kereta samping di Pematangsiantar memiliki karakteristik arsitektur yang khas. Berbeda dengan sespan modern yang menggunakan bahan fiber, sespan BSA Siantar dibangun menggunakan rangka besi dan bodi plat seng atau kayu dengan desain yang aerodinamis namun klasik. Kursi penumpang di dalam sespan biasanya dilapisi kulit sintetis dengan kapasitas dua orang dewasa. Integrasi antara motor Inggris dan sespan buatan lokal inilah yang menciptakan estetika "Situs Sejarah Bergerak" yang memadukan teknologi Eropa dengan kreativitas lokal Indonesia.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

BSA Pematangsiantar memegang peranan penting dalam sejarah transportasi Indonesia. Pada era 1950-an hingga 1980-an, BSA adalah tulang punggung ekonomi kota. Motor-motor ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi dari pinggiran kota ke pasar-pasar pusat di Siantar. Fenomena ini menjadikan Pematangsiantar sebagai satu-satunya tempat di dunia di mana motor militer Inggris digunakan secara massal sebagai angkutan umum dalam durasi waktu yang sangat lama.

Salah satu peristiwa bersejarah yang mengukuhkan posisi BSA adalah pembentukan komunitas BOM'S (Birmingham On Motorcycles) yang memayungi para pemilik dan pengendara BSA. Komunitas ini berhasil melobi pemerintah daerah agar BSA tetap diizinkan beroperasi sebagai angkutan umum meski secara aturan transportasi modern mesin-mesin tua ini dianggap tidak efisien. Keberadaan mereka menjadi bukti perlawanan terhadap arus modernisasi yang seringkali menghapus jejak sejarah.

#

Tokoh dan Periode Penting

Nama-nama mekanik legendaris di kawasan Jalan Asahan dan Jalan Merdeka menjadi tokoh kunci dalam pelestarian situs sejarah ini. Tanpa keahlian mereka dalam melakukan "kanibalisme" suku cadang atau menciptakan komponen pengganti secara manual (hand-made), BSA dipastikan sudah punah sejak dekade 70-an. Selain itu, mantan Walikota Pematangsiantar dan tokoh-tokoh masyarakat setempat seringkali menggunakan BSA dalam parade budaya, menjadikannya simbol prestise dan kebanggaan daerah.

Periode emas BSA di Siantar terjadi sebelum masuknya motor-motor pabrikan Jepang yang lebih hemat bahan bakar. Namun, justru pada masa sulit di tahun 1990-an, BSA bertransformasi dari sekadar alat transportasi menjadi ikon pariwisata. Para kolektor dari Eropa dan Australia mulai berdatangan ke Siantar untuk melihat "kuburan hidup" dari sejarah otomotif Inggris yang masih menderu di jalanan raya.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, BSA Pematangsiantar dikategorikan sebagai benda cagar budaya non-bangunan. Tantangan utama preservasi adalah kelangkaan suku cadang asli dari Inggris. Upaya restorasi yang dilakukan oleh para pemilik biasanya melibatkan modifikasi mesin dengan menggunakan piston truk atau komponen mobil tua agar motor tetap bisa menyala.

Pemerintah Kota Pematangsiantar telah meresmikan Tugu Becak Siantar sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah BSA. Selain itu, program "BSA Sidecar Tour" kini menjadi paket wisata unggulan. Wisatawan diajak berkeliling kota mengunjungi situs-situs bersejarah lainnya seperti Vihara Avalokitesvara atau Museum Simalungun dengan menumpangi sespan BSA. Upaya ini bertujuan agar keberadaan motor ini memberikan nilai ekonomi lebih tinggi kepada pemiliknya sehingga mereka tidak menjual motor tersebut ke kolektor luar negeri.

#

Makna Budaya dan Identitas Lokal

Bagi masyarakat Siantar, suara dentuman mesin BSA yang khas (sering disebut suara "helikopter") adalah musik harian yang membangkitkan nostalgia. BSA bukan lagi sekadar kendaraan, melainkan anggota keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Secara kultural, BSA melambangkan ketangguhan dan daya tahan masyarakat Pematangsiantar dalam menghadapi perubahan zaman.

Keberadaan BSA Sidecar Tour juga memiliki dimensi sosial sebagai pemersatu. Para pengendara becak BSA berasal dari lintas etnis dan agama, yang bersama-sama menjaga warisan ini. Di tengah gempuran transportasi daring dan modernisasi kota, BSA tetap bertahan sebagai pengingat bahwa Pematangsiantar pernah menjadi titik penting dalam peta distribusi logistik kolonial dan kini bertransformasi menjadi museum otomotif terbuka yang paling unik di Asia Tenggara.

Fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa beberapa unit BSA di Siantar merupakan seri militer yang sangat langka, yang di negara asalnya hanya tersimpan di museum, namun di Pematangsiantar, mesin-mesin tersebut masih bekerja keras mengantar penumpang dan barang setiap harinya. Inilah yang menjadikan BSA Sidecar Tour sebagai situs sejarah yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan getarannya dan didengar suaranya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Pusat Kota Pematangsiantar (Sekitar Stasiun dan Pasar Horas)
entrance fee
Tarif sewa mulai dari Rp 20.000 (Sesuai rute)
opening hours
Tersedia 24 jam (Tergantung pengemudi)

Tempat Menarik Lainnya di Pematangsiantar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pematangsiantar

Pelajari lebih lanjut tentang Pematangsiantar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pematangsiantar