Pusat Kebudayaan

Museum Simalungun

di Pematangsiantar, Sumatera Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menjaga Marwah Habonaron Do Bona: Menelusuri Jejak Budaya di Museum Simalungun

Terletak di jantung Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Museum Simalungun berdiri bukan sekadar sebagai gedung penyimpanan benda kuno, melainkan sebagai episentrum kebudayaan yang menghidupkan kembali filosofi Habonaron Do Bona (Kebenaran adalah Pangkal Segala Sesuatu). Didirikan pada tahun 1939 oleh Raja-Raja Simalungun (Raja Marpitu), museum ini merupakan salah satu institusi budaya tertua di Indonesia yang masih aktif menjalankan perannya sebagai penjaga identitas etnik Simalungun di tengah arus modernisasi.

#

Arsitektur Rumah Bolon sebagai Simbol Identitas

Struktur fisik Museum Simalungun sendiri merupakan artefak budaya yang paling mencolok. Bangunan utamanya mengadopsi gaya arsitektur Rumah Bolon, rumah tradisional khas Simalungun. Dengan atap yang melengkung tajam dan fondasi kayu yang kokoh tanpa paku, bangunan ini merepresentasikan hierarki sosial dan kosmologi masyarakat setempat. Ukiran atau Pinar yang menghiasi dinding kayu—seperti motif Pinar Bunga Hambili dan Pinar Silobe-lobe—bukan sekadar hiasan, melainkan simbol doa, perlindungan, dan gotong royong yang menjadi napas kehidupan masyarakat Simalungun.

#

Preservasi Seni Tradisional dan Program Pertunjukan

Museum Simalungun aktif menjadi wadah bagi pelestarian seni pertunjukan yang kian langka. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan musik Gual (ensambel musik tradisional) yang menggunakan instrumen Gonrang Sipitu-pitu dan Gonrang Sidua-dua. Secara berkala, museum mengadakan latihan terbuka bagi generasi muda untuk mempelajari teknik memukul gendang yang memiliki ritme khusus untuk upacara adat maupun hiburan.

Selain musik, tari tradisional atau Doding dan Tortor menjadi menu utama dalam kegiatan budaya di sini. Tortor Sombah, yang merupakan tarian penghormatan kepada raja atau tamu agung, diajarkan dengan ketat sesuai pakem aslinya. Pengunjung sering kali berkesempatan menyaksikan latihan para penari yang mengenakan Hiou (kain tenun khas Simalungun) dengan motif Surisuri atau Ragi Pane, memberikan pengalaman visual yang mendalam tentang estetika berpakaian suku Simalungun.

#

Kerajinan Tangan dan Revitalisasi Tenun Hiou

Sebagai pusat kebudayaan, museum ini berperan vital dalam menjaga keberlangsungan kriya tradisional. Fokus utama edukasi kriya di sini adalah pengenalan terhadap Hiou. Berbeda dengan Ulos Toba, Hiou Simalungun memiliki karakteristik warna dan motif yang lebih lembut namun penuh makna simbolis. Museum menyediakan ruang bagi para perajin untuk mendemonstrasikan proses menenun tradisional.

Program "Belajar Tenun" ditujukan bagi masyarakat lokal untuk memastikan teknik tenun kuno tidak punah. Selain tenun, museum juga memamerkan dan mengajarkan pembuatan anyaman dari pandan dan bambu, seperti Sumpit (tas tradisional) dan Tikar Pandan, yang dahulu merupakan peralatan esensial dalam rumah tangga Simalungun.

#

Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat

Museum Simalungun tidak ingin menjadi institusi yang statis. Melalui program "Museum Masuk Sekolah", pengelola bekerja sama dengan pemerintah kota Pematangsiantar untuk membawa koleksi replika dan narasumber budaya ke sekolah-sekolah. Tujuannya adalah menanamkan rasa bangga terhadap identitas lokal sejak dini.

Di dalam kompleks museum, terdapat perpustakaan mini yang menyimpan catatan-catatan sejarah, naskah kuno yang ditulis di atas kulit kayu (Pustaha Laklak), dan dokumentasi mengenai silsilah raja-raja Simalungun. Para peneliti dan mahasiswa sering menjadikan museum ini sebagai laboratorium hidup untuk mengkaji linguistik bahasa Simalungun yang memiliki dialek khas dan aksara sendiri.

#

Peristiwa Budaya dan Festival Tahunan

Salah satu momen paling krusial dalam kalender kegiatan museum adalah peringatan hari jadi Kota Pematangsiantar dan perayaan Pesta Rondang Bittang. Meskipun festival besar ini sering diadakan di tingkat kabupaten/kota, Museum Simalungun bertindak sebagai kurator utama untuk memastikan aspek ritual dan artistik yang ditampilkan tetap autentik.

Dalam acara-acara tertentu, museum mengadakan atraksi Inggot, yaitu tradisi berkumpul untuk mendengarkan cerita rakyat atau sejarah lisan dari para tetua adat (Partonggo). Kegiatan ini berfungsi sebagai transfer pengetahuan antargenerasi, di mana nilai-nilai moral dibungkus dalam narasi kepahlawanan dan mitologi lokal.

#

Peran dalam Pelestarian Warisan Takbenda

Koleksi Museum Simalungun mencakup lebih dari sekadar benda fisik. Institusi ini berkomitmen melestarikan warisan takbenda seperti tradisi lisan dan pengobatan tradisional. Di sudut museum, pengunjung dapat melihat berbagai peralatan Datu (dukun/tabib tradisional) dan penjelasan mengenai tanaman obat yang biasa digunakan masyarakat Simalungun.

Upaya digitalisasi naskah Pustaha Laklak juga mulai dirintis. Naskah ini berisi pengetahuan tentang astrologi, ramuan obat, dan mantra-mantra kuno. Dengan mendigitalisasi konten tersebut, Museum Simalungun memastikan bahwa pengetahuan leluhur dapat diakses oleh peneliti global tanpa merusak fisik naskah yang asli dan rapuh.

#

Museum sebagai Motor Pembangunan Budaya Lokal

Keberadaan Museum Simalungun di Pematangsiantar memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan budaya lokal. Museum ini menjadi titik temu bagi berbagai komunitas kreatif, mulai dari fotografer yang mendokumentasikan etno-fotografi hingga desainer modern yang mencari inspirasi dari motif tradisional Simalungun.

Melalui kerja sama dengan lembaga adat, museum ini juga berfungsi sebagai mediator dalam standarisasi penggunaan atribut budaya dalam acara-acara resmi daerah. Hal ini penting untuk mencegah distorsi budaya yang sering terjadi akibat komersialisasi pariwisata. Dengan adanya Museum Simalungun, setiap penggunaan simbol budaya memiliki rujukan sejarah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

#

Kesimpulan: Menatap Masa Depan

Museum Simalungun telah membuktikan bahwa sebuah pusat kebudayaan mampu bertahan melintasi zaman jika ia mampu menyatu dengan napas komunal masyarakatnya. Ia bukan sekadar gedung tua yang berdebu, melainkan sebuah institusi yang dinamis, yang terus memproduksi pengetahuan, melatih keterampilan, dan menjaga api semangat Simalungun Sa-Huta.

Di tengah gempuran budaya global, Museum Simalungun berdiri teguh sebagai mercusuar yang mengingatkan masyarakat Pematangsiantar dan sekitarnya bahwa kemajuan masa depan tidak akan pernah kokoh tanpa akar budaya yang kuat. Dengan terus menjalankan program edukasi, pertunjukan seni, dan konservasi artefak, museum ini memastikan bahwa warisan luhur para Raja Simalungun akan tetap abadi, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam harmoni dan kebenaran.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Sudirman No. 20, Proklamasi, Kec. Siantar Barat, Pematangsiantar
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang
opening hours
Senin - Sabtu, 08:30 - 16:30

Tempat Menarik Lainnya di Pematangsiantar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pematangsiantar

Pelajari lebih lanjut tentang Pematangsiantar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pematangsiantar