Sentra Kuliner Meureudu (Adeè Meureudu)
di Pidie Jaya, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Manis Sentra Kuliner Meureudu: Legenda Kue Adeè di Jantung Pidie Jaya
Kabupaten Pidie Jaya, sebuah wilayah yang mekar dari induknya Kabupaten Pidie, menyimpan sebuah khazanah gastronomi yang telah melintasi batas zaman. Di pusat administratif dan ekonominya, Meureudu, denyut nadi kehidupan masyarakat tidak hanya digerakkan oleh perdagangan, tetapi juga oleh aroma harum penganan panggang yang menyeruak dari dapur-dapur tradisional. Sentra Kuliner Meureudu, yang lebih dikenal sebagai rumah bagi "Adeè Meureudu", bukan sekadar tempat singgah bagi para pelancong lintas Sumatera, melainkan sebuah monumen rasa yang merepresentasikan identitas budaya masyarakat Aceh.
#
Filosofi dan Akar Sejarah Adeè Meureudu
Adeè (sering juga disebut Bingka Aceh) adalah primadona yang menempatkan Meureudu dalam peta kuliner nasional. Sejarah kue ini tidak bisa dilepaskan dari tradisi pemuliaan tamu (peumulia jamee) yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Aceh. Dahulu, Adeè adalah hidangan istimewa yang hanya muncul pada momen-momen sakral seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, hingga upacara hantaran pernikahan (tueng dara baro).
Keberadaan Adeè di Meureudu mulai bertransformasi dari sekadar hidangan rumahan menjadi komoditas ekonomi yang legendaris pada era 1980-an. Salah satu sosok sentral di balik popularitas global Adeè Meureudu adalah Kak Nah (Hj. Rosna), yang berhasil membawa resep turun-temurun keluarganya ke ranah komersial tanpa mengurangi keaslian rasanya. Sejak saat itu, deretan kedai dan dapur produksi di sepanjang jalan lintas Banda Aceh-Medan di kawasan Meureudu berubah menjadi etalase budaya yang selalu ramai dikunjungi.
#
Karakteristik dan Varian Utama
Secara visual, Adeè Meureudu memiliki tampilan yang sederhana namun menggoda: permukaan berwarna cokelat keemasan yang sedikit berkerak (fase karamelisasi), dengan tekstur bagian dalam yang sangat lembut, padat, dan "moist". Ada dua varian utama yang menjadi pilar Sentra Kuliner Meureudu:
1. Adeè Kak (Tepung Terigu): Memiliki tekstur yang lebih kenyal dan halus. Rasa manisnya menyatu dengan gurihnya santan, menciptakan sensasi lumer di mulut.
2. Adeè Ubè (Singkong/Ubi Kayu): Ini adalah varian paling autentik dan banyak diburu. Teksturnya lebih kasar namun kaya akan serat alami singkong. Aroma singkong yang terpanggang memberikan dimensi rasa yang lebih "earthy" dan tradisional.
#
Rahasia Bahan dan Teknik Pembuatan Tradisional
Keunggulan Adeè Meureudu terletak pada kesederhanaan bahan yang diolah dengan presisi tinggi. Bahan-bahan utamanya meliputi tepung terigu atau parutan singkong, gula pasir, telur (biasanya telur ayam kampung untuk rasa yang lebih gurih), santan kental yang diperas secara manual, serta sedikit garam dan vanila untuk aroma.
Namun, rahasia kelezatannya yang tak tertandingi terletak pada Bawang Goreng. Berbeda dengan kue manis pada umumnya, Adeè Meureudu menggunakan taburan bawang merah goreng baik di dalam adonan maupun di atas permukaannya. Perpaduan antara manisnya gula dengan aroma tajam dan gurih dari bawang goreng inilah yang menciptakan profil rasa unik yang menjadi ciri khas Meureudu.
Teknik memasaknya pun masih mempertahankan cara tradisional. Meskipun saat ini banyak yang menggunakan oven gas, dapur-dapur legendaris di Meureudu masih mengandalkan teknik pemanggangan dengan api atas-bawah. Loyang bundar berisi adonan diletakkan di atas bara api, dan bagian atasnya ditutup dengan seng yang di atasnya diletakkan bara arang kayu atau batok kelapa. Teknik ini memastikan panas merata dan memberikan aroma "smoky" yang tidak bisa dihasilkan oleh oven listrik modern.
#
Sentra Kuliner: Ekosistem Ekonomi Lokal
Sentra Kuliner Meureudu bukan hanya tentang satu toko. Di sepanjang jalan utama Meureudu hingga ke arah Trienggadeng, pengunjung akan menemukan deretan gerai seperti Adeè Kak Nah, Adeè Kak Mah, Adeè Kak Yus, dan banyak lagi. Menariknya, persaingan di sini berjalan dengan harmoni yang luar biasa. Setiap toko seringkali memiliki pelanggan setia dari generasi ke generasi.
Aktivitas di sentra ini dimulai sejak fajar menyingsing. Para perajin kue mulai menyiapkan adonan, sementara para pemarut singkong bekerja keras menyiapkan bahan baku dari hasil tani lokal Pidie Jaya. Hal ini menciptakan rantai ekonomi yang kuat, di mana petani singkong dan produsen santan lokal menjadi penopang utama industri kreatif kuliner ini.
#
Konteks Budaya dan Adat Istiadat
Bagi masyarakat Meureudu, Adeè adalah simbol kehangatan. Dalam adat Aceh, membawa "bungong jaroe" (buah tangan) saat berkunjung ke rumah kerabat adalah sebuah kewajiban moral. Adeè Meureudu hampir selalu menjadi pilihan utama. Saat bulan Ramadhan tiba, Sentra Kuliner Meureudu menjadi titik pusat keramaian. Adeè dianggap sebagai menu takjil yang sempurna karena kandungan karbohidrat dan gulanya mampu memulihkan energi dengan cepat setelah seharian berpuasa.
Selain itu, dalam proses pembuatannya, seringkali melibatkan gotong royong antar anggota keluarga. Ibu-ibu di Meureudu biasanya memiliki keahlian memarut singkong secara manual menggunakan parutan tradisional (anuek u) untuk menjaga tekstur agar tidak terlalu halus, sehingga rasa asli singkong tetap terjaga.
#
Mengunjungi Meureudu: Pengalaman Kuliner yang Utuh
Menikmati Adeè Meureudu di tempat asalnya memberikan pengalaman yang berbeda. Pengunjung dapat melihat langsung proses pengangkatan kue dari tungku panas, mencium aroma karamel yang memenuhi udara, dan mencicipi sepotong Adeè yang masih hangat ditemani segelas Kopi Sanger khas Aceh.
Sentra kuliner ini juga telah beradaptasi dengan zaman. Kini, kemasan Adeè Meureudu telah dirancang sedemikian rupa sehingga tahan lama untuk dibawa sebagai oleh-oleh hingga ke luar negeri. Meskipun tanpa bahan pengawet kimia, penggunaan gula yang tinggi dan teknik pemanggangan yang matang membuat kue ini mampu bertahan hingga 3-4 hari di suhu ruang.
#
Warisan yang Terjaga
Keberlangsungan Sentra Kuliner Meureudu adalah bukti bahwa kuliner tradisional mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern dan cepat saji. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya pun terus memberikan dukungan melalui festival kuliner dan pengembangan infrastruktur di kawasan Meureudu untuk memastikan "Legenda Manis" ini tetap lestari.
Adeè Meureudu bukan sekadar kue; ia adalah manifestasi dari ketekunan perempuan-perempuan Meureudu, kesuburan tanah Pidie Jaya, dan keramahan budaya Aceh. Setiap gigitan Adeè membawa kita kembali ke masa lalu, ke dapur-dapur kayu yang hangat, di mana rasa diciptakan dengan kesabaran dan cinta. Bagi siapa pun yang melintasi jalur utara Aceh, singgah di Sentra Kuliner Meureudu adalah sebuah keharusan, sebuah ziarah rasa untuk mengecap salah satu mahakarya kuliner terbaik Nusantara.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Pidie Jaya
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Pidie Jaya
Pelajari lebih lanjut tentang Pidie Jaya dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Pidie Jaya