Apam Pidie (Kuliner Tradisional)
di Pidie, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Apam Pidie: Melacak Jejak Kuliner Legendaris dan Filosofi Budaya Tanoh Pedir
Di hamparan Kabupaten Pidie, Aceh, terdapat sebuah mahakarya kuliner yang melampaui sekadar pengganjal perut. Ia adalah Apam Pidie, sebuah penganan tradisional yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Aceh selama berabad-abad. Lebih dari sekadar kudapan berbahan dasar tepung beras, Apam Pidie adalah simbol kedermawanan, perekat silaturahmi, dan identitas budaya yang tetap lestari di tengah gempuran modernisasi.
#
Akar Sejarah dan Legenda "Toet Apam"
Sejarah Apam Pidie tidak dapat dipisahkan dari tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat. Konon, keberadaan apam ini dikaitkan dengan kisah seorang sufi bernama Abdullah bin Abbas atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Abdullah. Beliau adalah sosok yang sangat dermawan namun hidup dalam kesederhanaan. Ketika ia meninggal dunia, masyarakat yang ingin bersedekah namun tidak memiliki banyak harta, memilih membuat penganan sederhana dari tepung beras untuk dibagikan kepada khalayak.
Peristiwa ini kemudian bertransformasi menjadi tradisi "Toet Apam" (membakar apam) yang dilakukan secara massal, khususnya pada bulan Rajab dalam kalender Hijriah. Di Pidie, bulan Rajab bahkan sering dijuluki sebagai Buleuen Apam (Bulan Apam). Tradisi ini bukan sekadar memasak, melainkan sebuah ritual sosial di mana kaum perempuan di desa-desa berkumpul, menyalakan tungku, dan berbagi hasil masakan kepada tetangga, yatim piatu, serta tamu yang melintas.
#
Karakteristik dan Keunikan Rasa
Apam Pidie memiliki karakteristik visual yang sangat spesifik. Berbeda dengan serabi dari Jawa yang cenderung manis-gurih dengan tekstur basah, Apam Pidie memiliki tekstur yang lebih padat namun lembut di dalam, dengan bagian pinggiran yang sedikit garing jika baru diangkat dari tungku. Warnanya putih bersih, permukaannya dipenuhi rongga-rongga kecil (pori-pori) yang dihasilkan dari proses fermentasi alami, dan bagian bawahnya berwarna kecokelatan aromatik.
Secara rasa, Apam Pidie orisinal memiliki profil rasa tawar-gurih yang netral. Hal ini disengaja karena apam ini biasanya dinikmati dengan Kuah Tuhe, sebuah kuah santan kental yang dimasak dengan potongan nangka matang, pisang raja, dan terkadang ditambahkan durian untuk memberikan aroma yang menggoda. Perpaduan antara apam yang menyerap kuah dengan manisnya buah-buahan menciptakan simfoni rasa yang tak terlupakan.
#
Rahasia Bahan dan Teknik Pembuatan Tradisional
Keistimewaan Apam Pidie terletak pada kesederhanaan bahan namun kerumitan tekniknya. Bahan utamanya adalah tepung beras yang ditumbuk secara tradisional menggunakan Jeungki (alat penumbuk padi tradisional Aceh). Penggunaan tepung hasil tumbukan manual ini dipercaya memberikan tekstur yang berbeda dibandingkan tepung pabrikan.
Tepung tersebut kemudian dicampur dengan santan kelapa, sedikit garam, dan air kelapa. Air kelapa berperan penting sebagai agen pengembang alami yang menciptakan pori-pori halus pada permukaan apam. Setelah adonan tercampur rata, ia harus didiamkan selama beberapa jam agar terjadi proses fermentasi ringan.
Teknik memasaknya adalah inti dari warisan kuliner ini. Apam Pidie sejati harus dimasak menggunakan Neuluek atau Cawan Tanoh, yaitu piringan kecil yang terbuat dari tanah liat. Penggunaan tanah liat memastikan distribusi panas yang merata dan memberikan aroma khas "tanah" yang tidak bisa dihasilkan oleh wajan logam modern. Bahan bakarnya pun harus menggunakan kayu bakar atau sabut kelapa untuk menjaga kestabilan api dan memberikan aroma asap yang tipis.
#
Ritual "Toet Apam": Simbol Kolektivitas
Di desa-desa seperti Grong-Grong, Muara Tiga, atau Kembang Tanjong di Pidie, tradisi Toet Apam masih dijalankan dengan penuh khidmat. Biasanya, seorang ibu rumah tangga akan mengundang kerabat dan tetangganya untuk membantu. Mereka duduk melingkari tungku-tungku tanah liat sambil bercengkerama.
Ada sebuah kepercayaan unik dalam proses memasak apam ini: jika seseorang sedang dalam keadaan hati yang tidak tenang atau marah, apam yang dimasak konon tidak akan "tumbuh" atau tidak akan berpori. Hal ini secara filosofis mengajarkan bahwa dalam memasak dan berbagi, seseorang harus memiliki niat yang tulus dan hati yang bersih.
Setelah apam matang dalam jumlah banyak, dimulailah proses pembagian. Di Pidie, ada kebiasaan membawa tumpukan apam di atas talam untuk diantarkan ke Meunasah (surau) atau rumah sanak saudara yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.
#
Evolusi dan Pelestarian di Era Modern
Meskipun berstatus kuliner legendaris, Apam Pidie terus beradaptasi. Jika dahulu hanya ditemukan pada bulan Rajab atau acara kenduri kematian, kini Apam Pidie telah menjadi komoditas kuliner harian. Di sepanjang jalan lintas Banda Aceh - Medan, khususnya di kawasan Grong-Grong, para pedagang apam menjajakan penganan ini sepanjang hari.
Beberapa keluarga di Pidie telah mewariskan resep apam mereka secara turun-temurun, menjadikannya sebagai usaha rumahan yang menghidupi ekonomi lokal. Inovasi pun muncul, mulai dari penyajian apam dengan taburan kelapa parut manis hingga variasi kuah yang lebih beragam. Namun, penggunaan Neuluek (wajan tanah liat) tetap menjadi standar emas bagi penikmat kuliner yang mencari keaslian rasa.
Pemerintah Kabupaten Pidie juga berperan aktif dalam pelestarian ini dengan menyelenggarakan Festival Toet Apam setiap tahunnya. Festival ini seringkali memecahkan rekor dengan melibatkan ribuan peserta yang memasak apam secara bersamaan di lapangan terbuka, menarik wisatawan dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung keunikan budaya Tanoh Pedir.
#
Nilai Budaya dan Filosofi
Bagi masyarakat Pidie, Apam bukan sekadar makanan. Ia adalah personifikasi dari nilai Peumulia Jamee (memuliakan tamu). Ketika seseorang berkunjung ke rumah warga Pidie saat musim apam, pantang bagi tuan rumah untuk membiarkan tamu pulang tanpa mencicipi apam.
Secara filosofis, bentuk apam yang bulat melambangkan tekad yang bulat dalam persaudaraan. Teksturnya yang berpori diibaratkan sebagai keterbukaan hati masyarakat Aceh dalam menerima perbedaan dan keberagaman. Sementara Kuah Tuhe yang manis melambangkan akhir yang indah dari setiap usaha dan kerja keras yang dilakukan secara bersama-sama.
#
Penutup: Menikmati Warisan di Setiap Gigitan
Menikmati sepotong Apam Pidie adalah cara terbaik untuk memahami sejarah dan jiwa masyarakat Aceh. Ia adalah kuliner yang tidak lekang oleh zaman karena ia dibangun di atas fondasi keikhlasan dan kebersamaan. Bagi para pelancong yang berkunjung ke Aceh, singgah di Pidie untuk mencicipi apam yang masih hangat dari tungku tanah liat adalah sebuah keharusan. Di sana, di antara kepulan asap kayu bakar dan manisnya aroma nangka, Anda akan menemukan rasa asli dari sebuah tradisi yang tetap terjaga selama ratusan tahun. Apam Pidie bukan hanya tentang rasa, tapi tentang cerita, doa, dan cinta yang dituangkan ke dalam setiap cawan tanah liat.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Pidie
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Pidie
Pelajari lebih lanjut tentang Pidie dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Pidie