Situs Sejarah

Benteng Kuta Asan

di Pidie, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Perlawanan di Benteng Kuta Asan: Benteng Pertahanan Pidie dalam Perang Aceh

Benteng Kuta Asan merupakan salah satu situs sejarah paling krusial di Kabupaten Pidie, Aceh, yang menjadi saksi bisu kegigihan rakyat Aceh dalam mempertahankan kedaulatannya dari ekspansi kolonial Belanda. Terletak di kawasan Sigli, benteng ini bukan sekadar struktur pertahanan fisik, melainkan simbol perlawanan ideologis dan strategi militer yang mumpuni pada masanya.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Benteng Kuta Asan dibangun pada masa puncak ketegangan antara Kesultanan Aceh dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, khususnya pada akhir abad ke-19. Nama "Kuta Asan" sendiri merujuk pada konstruksi pertahanan yang kokoh (Kuta berarti benteng atau pagar kuat dalam bahasa Aceh). Pembangunannya diinisiasi oleh para pejuang lokal dan bangsawan Pidie untuk membendung pergerakan pasukan Belanda yang mencoba merangsek masuk ke wilayah pedalaman Pidie setelah jatuhnya pusat kekuasaan di Banda Aceh.

Pada periode 1870-an hingga 1890-an, Pidie merupakan lumbung logistik dan kekuatan tempur utama bagi Kesultanan Aceh. Benteng Kuta Asan didirikan sebagai pos komando strategis yang menghubungkan koordinasi antara wilayah pesisir dengan perbukitan di pedalaman Aceh. Strategi pembangunannya melibatkan gotong royong masyarakat setempat yang menyadari pentingnya memiliki benteng pertahanan permanen di tengah taktik perang gerilya.

#

Arsitektur dan Teknik Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Kuta Asan menampilkan kecerdasan teknik militer tradisional Aceh yang berpadu dengan adaptasi terhadap senjata api modern pada zaman tersebut. Struktur utama benteng ini dicirikan oleh dinding-dinding yang tebal dan kokoh. Bahan utama konstruksinya terdiri dari campuran batu gunung, bata merah, dan perekat tradisional yang terbuat dari campuran kapur, pasir, serta putih telur atau cairan nabati tertentu yang membuat dindingnya mengeras seperti beton modern.

Salah satu fitur unik dari Kuta Asan adalah adanya lubang-lubang pengintai dan celah tembak (loopholes) yang dirancang khusus untuk meriam kecil (lela) dan senapan musket. Tata letak benteng ini mengikuti pola pertahanan berlapis. Di luar dinding utama, biasanya terdapat parit pertahanan yang dalam dan rimbunan pohon bambu berduri (bulooh dhoe) yang ditanam rapat sebagai rintangan alami bagi infanteri musuh. Teknik ini sangat efektif untuk memperlambat gerak maju pasukan Belanda yang menggunakan seragam berat dan peralatan kaku.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Kuta Asan memegang peranan vital selama Perang Aceh (1873-1904). Signifikansi utamanya terletak pada fungsinya sebagai pusat pertahanan di wilayah Pidie yang sangat sulit ditembus oleh Belanda. Di benteng inilah, strategi-strategi penyergapan terhadap patroli Belanda di sepanjang jalur kereta api (Atjeh Tram) dan jalur suplai logistik dirancang.

Peristiwa paling heroik yang dikaitkan dengan lokasi ini adalah pertempuran-pertempuran sengit yang terjadi saat Belanda melancarkan ekspedisi militer besar-besaran ke wilayah Pidie di bawah komando Jenderal van der Heijden dan kemudian Jenderal van Heutsz. Belanda mengakui bahwa wilayah Pidie, dengan Kuta Asan sebagai salah satu titik tumpunya, merupakan salah satu daerah yang paling "keras kepala" dan mematikan bagi serdadu Marsose. Penaklukan benteng ini memerlukan waktu yang lama dan korban jiwa yang tidak sedikit di pihak kolonial karena sistem pertahanannya yang terintegrasi dengan pemukiman penduduk.

#

Tokoh-Tokoh Terkait

Keberadaan Benteng Kuta Asan tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama dan bangsawan (Uleebalang) di Pidie. Tokoh besar seperti Teungku Chik Di Tiro dan para pengikutnya diketahui sering menggunakan wilayah Pidie sebagai basis mobilisasi massa. Selain itu, para pejuang lokal dari klan-klan bangsawan di sekitar Sigli menjadikan benteng ini sebagai tempat berkumpulnya para "Syuhada" yang telah mengikrarkan Perang Sabil. Semangat yang ditiupkan oleh para ulama menjadikan Kuta Asan bukan sekadar bangunan batu, melainkan pusat spiritualitas perlawanan terhadap "kaphe beulanda".

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, kondisi Benteng Kuta Asan telah mengalami banyak perubahan akibat faktor usia, iklim, dan kurangnya pemeliharaan sistematis di masa lalu. Sebagian struktur dinding asli telah runtuh atau tertutup oleh pemukiman dan vegetasi. Meskipun demikian, sisa-sisa fondasi dan bagian dinding yang masih berdiri tetap menjadi perhatian bagi para arkeolog dan sejarawan.

Pemerintah Kabupaten Pidie bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah berupaya melakukan inventarisasi dan menjadikan situs ini sebagai cagar budaya yang dilindungi. Upaya restorasi menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pembebasan lahan dan pengembalian bentuk asli bangunan sesuai dengan catatan sejarah. Masyarakat setempat kini mulai menyadari nilai penting situs ini sebagai aset wisata sejarah yang dapat mengedukasi generasi muda tentang patriotisme rakyat Pidie.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Pidie, Kuta Asan adalah simbol identitas "Panglima Perang". Dalam budaya Aceh, benteng ini merepresentasikan konsep Izzah (harga diri dan kehormatan). Secara religius, situs ini sering dikaitkan dengan nilai-nilai jihad. Kekuatan pertahanan di Kuta Asan dahulu dipercayai bukan hanya berasal dari tebalnya dinding, melainkan dari doa dan ratib yang dikumandangkan oleh para pejuang sebelum bertempur. Hal ini memberikan dimensi sakral pada situs tersebut, menjadikannya lebih dari sekadar objek arkeologi, tetapi juga ruang memori kolektif tentang pengorbanan demi keyakinan dan tanah air.

#

Fakta Unik: Sistem Komunikasi Rahasia

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui tentang jaringan benteng di Pidie, termasuk Kuta Asan, adalah penggunaan sistem komunikasi isyarat dan kurir rahasia yang terhubung dengan benteng-benteng kecil di sekitarnya. Konon, terdapat lorong bawah tanah atau jalur pelarian yang tersembunyi yang menghubungkan bagian dalam benteng dengan area hutan atau sungai di dekatnya, memungkinkan para pejuang untuk melakukan evakuasi taktis saat benteng terkepung rapat oleh pasukan Belanda.

Hingga hari ini, Benteng Kuta Asan tetap berdiri sebagai monumen bisu yang mengingatkan setiap pengunjung bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini dibayar dengan keteguhan hati di balik dinding-dinding batu dan parit-parit pertahanan di tanah Pidie. Kesadaran untuk menjaga dan melestarikan situs ini adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah panjang perjuangan Aceh.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kuta Asan, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Pidie

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pidie

Pelajari lebih lanjut tentang Pidie dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pidie