Pidie

Common
Aceh
Luas
3.187,16 km²
Posisi
utara
Jumlah Tetangga
7 wilayah
Pesisir
Ya

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Pidie: Jejak Pedir hingga Era Modern

Kabupaten Pidie, yang terletak di bagian utara Provinsi Aceh dengan luas wilayah 3.187,16 km², merupakan salah satu pilar sejarah terpenting di ujung barat Nusantara. Dikenal dalam catatan penjelajah Eropa sebagai "Pedir," wilayah pesisir ini telah menjadi pusat perdagangan internasional sejak abad ke-15, jauh sebelum dominasi Kesultanan Aceh Darussalam menyatukan wilayah tersebut.

##

Awal Mula dan Kejayaan Kerajaan Pedir

Pada masa pra-kolonial, Pidie berdiri sebagai kerajaan berdaulat yang makmur berkat komoditas lada. Letak geografisnya yang strategis di Selat Malaka menjadikan Pelabuhan Kuala Kuala sebagai titik temu pedagang dari Arab, India, dan Tiongkok. Tome Pires dalam Suma Oriental mencatat Pedir sebagai pusat kekuatan ekonomi yang lebih tua dari Kesultanan Aceh di Banda Aceh. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah (1514–1530), Kerajaan Pedir akhirnya diintegrasikan ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam untuk memperkuat front perlawanan terhadap Portugis.

##

Perlawanan Terhadap Kolonialisme

Memasuki masa kolonial Belanda, Pidie menjadi basis perlawanan yang sangat gigih. Perang Aceh di wilayah ini melibatkan tokoh-tokoh ikonik seperti Teungku Chik di Tiro (Muhammad Saman). Pidie dikenal sebagai tempat lahirnya para ulama dan pejuang yang memegang teguh konsep Prang Sabil. Salah satu peristiwa bersejarah adalah pertempuran di Benteng Kuta Asan yang menunjukkan keteguhan rakyat Pidie dalam mempertahankan kedaulatan dari agresi militer Belanda pada akhir abad ke-19.

##

Era Kemerdekaan dan Kontribusi Nasional

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Pidie memainkan peran krusial dalam mempertahankan kedaulatan RI. Melalui diplomasi dan dukungan finansial, rakyat Pidie turut menyumbang bagi pembelian pesawat pertama RI, Seulawah RI-001. Namun, sejarah juga mencatat Pidie sebagai episentrum dinamika politik lokal, termasuk gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Daud Beureueh pada tahun 1953, yang dipicu oleh aspirasi otonomi dan identitas keislaman.

##

Warisan Budaya dan Situs Bersejarah

Pidie mewariskan kekayaan budaya yang spesifik, seperti tradisi Meugang yang dirayakan dengan sangat meriah dan kerajinan sulaman Kupiah Meukeutop. Di wilayah ini juga terdapat situs sejarah penting seperti Masjid Teungku Chik di Anjong dan makam para bangsawan di kompleks Kerajaan Pedir kuno. Secara geografis, Pidie unik karena berbatasan langsung dengan tujuh wilayah: Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie Jaya, dan Selat Malaka di utara.

##

Perkembangan Modern

Kini, Pidie telah bertransformasi menjadi lumbung pangan Aceh melalui sektor pertanian padi dan kakao. Meskipun didera konflik berkepanjangan selama era GAM dan bencana tsunami 2004, pembangunan infrastruktur di pusat kota Sigli terus berkembang. Sejarah panjang dari era Pedir hingga integrasi nasional menjadikan Pidie bukan sekadar entitas administratif, melainkan simbol ketahanan budaya dan intelektual di Serambi Mekkah.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Pidie, Aceh

Kabupaten Pidie merupakan salah satu wilayah administratif tertua dan paling strategis di Provinsi Aceh. Terletak di bagian utara Pulau Sumatera, wilayah ini membentang pada koordinat astronomis antara 4°30’–5°40’ Lintang Utara dan 95°40’–96°15’ Bujur Timur. Dengan luas wilayah mencapai 3.187,16 km², Pidie menyajikan bentang alam yang sangat kontras, mulai dari garis pantai yang landai di utara hingga pegunungan tinggi di bagian selatan.

##

Tipografi dan Bentang Alam

Secara topografi, Pidie terbagi menjadi tiga zona utama. Wilayah pesisir utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka (Laut Indonesia), yang ditandai dengan dataran rendah aluvial yang subur. Di bagian tengah, lanskap didominasi oleh lembah-lembah luas yang menjadi pusat pemukiman dan pertanian. Ke arah selatan, medan berubah drastis menjadi zona pegunungan yang merupakan bagian dari gugusan Bukit Barisan. Di sini, terdapat puncak-puncak tinggi seperti Gunung Peuet Sagoe, sebuah gunung api aktif yang memberikan karakteristik vulkanik pada kesuburan tanah di sekitarnya.

Sistem hidrologi Pidie sangat vital bagi Aceh. Wilayah ini dialiri oleh sungai-sungai besar (Krueng), dengan yang paling utama adalah Krueng Baro dan Krueng Tiro. Sungai-sungai ini berfungsi sebagai urat nadi irigasi teknis yang mengairi ribuan hektar sawah, menjadikan Pidie sebagai lumbung pangan utama di Serambi Mekkah.

##

Batas Wilayah dan Konektivitas

Sebagai daerah yang cukup luas, Pidie dikelilingi oleh tujuh wilayah yang berbatasan langsung. Di sebelah utara, wilayah ini dibatasi oleh Selat Malaka. Di sebelah timur, ia berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya. Di sisi selatan, wilayahnya bersinggungan langsung dengan Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya. Sementara di sisi barat, Pidie berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya. Posisi sentral ini menjadikan Pidie sebagai titik transit penting dalam jalur darat lintas utara Sumatera.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Pidie memiliki iklim tropis dengan dua musim yang dipengaruhi oleh angin monsun. Musim kemarau biasanya berlangsung dari Maret hingga Agustus, sementara musim penghujan terjadi antara September hingga Februari. Curah hujan cukup tinggi di wilayah pegunungan selatan, yang sering kali menyebabkan fenomena orografis, sementara wilayah pesisir cenderung lebih panas dengan suhu rata-rata berkisar antara 24°C hingga 33°C.

##

Sumber Daya Alam dan Ekologi

Kekayaan alam Pidie sangat beragam. Sektor pertanian didominasi oleh padi, melinjo (bahan baku emping khas Pidie), dan kakao. Di sektor kehutanan, wilayah selatan menyimpan hutan hujan tropis yang menjadi bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser, rumah bagi keanekaragaman hayati seperti gajah sumatera dan berbagai spesies burung endemik. Secara geologis, Pidie memiliki potensi mineral berupa bijih besi, emas, dan bahan galian C yang tersebar di wilayah perbukitannya. Zona ekologi pesisirnya juga kaya akan ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai pelindung abrasi sekaligus habitat perikanan tangkap yang produktif.

Culture

#

Pidie: Jantung Budaya dan Intelektualitas Aceh

Kabupaten Pidie, yang terletak di pesisir utara Provinsi Aceh dengan luas wilayah 3.187,16 km², merupakan daerah yang memegang peranan vital dalam konstelasi budaya Serambi Mekkah. Berbatasan dengan tujuh wilayah administratif lainnya, Pidie dikenal sebagai "daerah modal" karena kontribusi intelektual dan semangat kewirausahaannya yang tinggi.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Masyarakat Pidie sangat menjunjung tinggi adat yang bersendikan syariat Islam, sesuai falsafah Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Meulapeh, sebuah prosesi adat dalam siklus pertanian mulai dari menanam hingga panen raya yang melibatkan doa bersama di sawah. Selain itu, tradisi Peusijuek (tepung tawar) di Pidie memiliki kekhasan dalam penggunaan jenis dedaunan dan tata cara yang sangat sakral, dilakukan untuk memohon keselamatan dalam setiap peristiwa penting kehidupan.

##

Seni Pertunjukan dan Kerajinan

Pidie adalah rumah bagi kesenian Rapa'i Grimpheng, sebuah pertunjukan perkusi rebana yang memadukan ketangkasan memukul alat musik dengan lantunan syair-syair religius dan nasihat moral. Berbeda dengan daerah lain, ritme Grimpheng di Pidie memiliki tempo yang dinamis dan enerjik. Dalam bidang kerajinan, wilayah Garot di Pidie sangat tersohor dengan produksi "Kupiah Meukeutop". Topi tradisional ini bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol kepahlawanan dan identitas Aceh yang memiliki motif hiasan berlapis warna merah, kuning, hijau, dan hitam yang melambangkan strata sosial dan hukum adat.

##

Kuliner Khas yang Legendaris

Berbicara mengenai Pidie tidak lepas dari Mie Caluk, kuliner jalanan khas yang menggunakan bumbu kacang kental dan kerupuk merah, biasanya dijajakan di pasar-pasar tradisional seperti Grong-Grong. Selain itu, Pidie adalah pusat penghasil Leumpuee (lempok durian) dan Apam Pidie. Tradisi Teumapa atau membuat serabi khas Pidie bahkan dirayakan dalam sebuah bulan khusus dalam kalender Aceh yang disebut Buleuen Apam, di mana masyarakat memasak apam secara massal untuk dibagikan sebagai sedekah.

##

Bahasa dan Ekspresi Lokal

Masyarakat setempat menggunakan bahasa Aceh dialek Pidie yang sangat distingtif. Dialek ini dikenal dengan intonasi yang tegas dan beberapa kosakata unik yang tidak ditemukan di Aceh Besar atau Aceh Utara. Penggunaan perumpamaan atau Hadih Maja dalam percakapan sehari-hari masih sangat kental, mencerminkan kecerdasan linguistik dan ketajaman logika berpikir orang Pidie.

##

Busana dan Tekstil

Pakaian tradisional Pidie didominasi oleh penggunaan kain songket tenunan tangan dengan motif Pucok Reubong. Para pria biasanya mengenakan celana Sileuweu hitam yang dipadukan dengan kain sarung dipinggang (Ija Krong), sementara kaum wanita mengenakan baju kurung dengan bordiran khas bermotif bunga melati atau awan berarak yang mencerminkan kesantunan dan estetika tinggi.

##

Kehidupan Religius

Sebagai daerah dengan basis pesantren (dayah) yang sangat kuat, kehidupan di Pidie berpusat pada masjid dan meunasah. Perayaan Maulid Nabi di Pidie berlangsung sangat meriah selama tiga bulan berturut-turut, di mana setiap gampong menyajikan hidangan Bu Kulah (nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk piramida) dalam porsi besar untuk menjamu tamu dari desa tetangga, memperkuat tali silaturahmi antarwilayah.

Tourism

Menjelajahi Pesona Pidie: Permata Budaya dan Alam di Gerbang Utara Aceh

Pidie merupakan salah satu kabupaten tertua di Provinsi Aceh yang menyimpan kekayaan sejarah dan keindahan alam yang luar biasa. Membentang seluas 3.187,16 km² di pesisir utara Pulau Sumatera, wilayah ini berbatasan langsung dengan tujuh kabupaten/kota, menjadikannya titik strategis yang mempertemukan tradisi pesisir dengan kemegahan pegunungan Bukit Barisan.

#

Keajaiban Alam: Dari Pesisir Hingga Ketinggian

Sebagai daerah pesisir, Pidie menawarkan keindahan bahari yang menenangkan di Pantai Mantak Tari. Pantai ini unik karena pasir hitamnya yang dipercaya memiliki khasiat terapi kesehatan. Bagi pencinta ketinggian, kawasan Tangse menyuguhkan pemandangan pegunungan yang asri dengan udara sejuk yang kontras dengan panasnya pesisir. Di sini, Anda dapat menemukan Air Terjun Cruet yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan, serta pemandian air panas alami di Tirta Geumpang yang menawarkan relaksasi total di tengah alam liar.

#

Jejak Sejarah dan Warisan Budaya

Pidie dikenal sebagai "Negeri Para Bangsawan" dan pusat intelektual Islam di masa lalu. Pengunjung dapat mengunjungi Masjid Jami' Al-Falah Sigli yang megah dengan arsitektur modern yang menjadi ikon kota. Selain itu, terdapat situs sejarah Rumoh Geudong yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah politik Aceh. Kehidupan religius masyarakat Pidie yang kental terlihat dalam tradisi Meugang dan perayaan hari besar Islam yang selalu dirayakan dengan penuh kemeriahan dan kekeluargaan.

#

Surga Kuliner dan Pengalaman Unik

Belum lengkap ke Pidie tanpa mencicipi Kopi Khop, cara unik meminum kopi dengan gelas terbalik menggunakan sedotan yang menjadi ciri khas di pesisir utara. Untuk urusan perut, Mie Caluk Grong-Grong adalah kuliner wajib yang menawarkan perpaduan bumbu rempah tajam. Jangan lupa mencicipi Keripik Saree yang renyah dan empuk, serta durian Tangse yang terkenal manis dan legit saat musim panen tiba.

#

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi jiwa petualang, aliran sungai di kawasan Mane dan Geumpang menawarkan lintasan Arung Jeram (Rafting) yang menantang dengan jeram-jeram kelas dunia di tengah hutan hujan tropis yang masih perawan. Selain itu, trekking menuju Puncak Gunung Halimon memberikan pengalaman mendalam bagi pendaki yang ingin merasakan keanekaragaman hayati Aceh.

#

Keramahtamahan dan Waktu Berkunjung Terbaik

Masyarakat Pidie sangat memegang teguh adat Peumulia Jamee (memuliakan tamu). Penginapan tersedia mulai dari hotel di pusat kota Sigli hingga guest house bergaya rumah tradisional di area Tangse. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah antara bulan Mei hingga September saat cuaca cenderung cerah, atau saat musim durian tiba untuk merasakan pengalaman agrowisata yang tak terlupakan.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Pidie: Pusat Agraris dan Perdagangan Strategis di Aceh

Kabupaten Pidie, dengan luas wilayah 3.187,16 km², merupakan salah satu pilar ekonomi terpenting di Provinsi Aceh. Terletak di posisi kardinal utara dan berbatasan dengan tujuh wilayah administratif (Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Barat Daya), Pidie berfungsi sebagai hub logistik dan transit utama di jalur lintas Sumatera.

##

Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Pidie, di mana kabupaten ini dikenal sebagai "lumbung padi" Aceh. Memanfaatkan irigasi dari aliran sungai (Krueng) Baro dan Krueng Tiro, sektor tanaman pangan memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB. Selain padi, komoditas unggulan lainnya adalah melinjo. Pidie secara spesifik dikenal dengan industri pengolahan emping melinjo yang berpusat di Menara dan pusat-pusat kerajinan rumah tangga lainnya. Kualitas emping Pidie telah menembus pasar nasional hingga ekspor ke Malaysia dan Singapura.

##

Ekonomi Maritim dan Pesisir

Memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Selat Malaka (bagian dari Laut Indonesia di utara), Pidie mengoptimalkan sektor perikanan. Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pante Raja dan Kuala Pidie menjadi pusat aktivitas ekonomi nelayan. Selain penangkapan ikan laut, budidaya tambak udang vaname dan bandeng berkembang pesat di wilayah pesisir seperti Sigli dan Kembang Tanjong, menciptakan lapangan kerja bagi ribuan masyarakat lokal.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Tradisional

Kekuatan ekonomi Pidie juga terletak pada pelestarian tradisi melalui industri kreatif. Produk yang paling ikonik adalah Kupiah Meukeutop, penutup kepala tradisional Aceh yang produksinya berpusat di wilayah ini. Selain itu, kerajinan sulaman benang emas (kasab) dan anyaman pandan terus dikembangkan melalui UMKM lokal sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang menargetkan pasar pariwisata dan acara adat.

##

Infrastruktur, Perdagangan, dan Jasa

Kota Sigli sebagai pusat pemerintahan bertransformasi menjadi pusat jasa dan perdagangan yang dinamis. Kehadiran proyek strategis nasional, seperti Jalan Tol Trans Sumatera (ruas Sigli-Banda Aceh), secara drastis meningkatkan aksesibilitas dan menurunkan biaya logistik. Infrastruktur ini mempercepat distribusi komoditas perkebunan seperti kopi dari wilayah pegunungan Tangse dan kakao menuju pelabuhan ekspor di daerah tetangga.

##

Tren Ketenagakerjaan dan Pengembangan Masa Depan

Tren ketenagakerjaan di Pidie mulai bergeser dari sektor agraris tradisional menuju sektor jasa dan pengolahan hasil tani. Pemerintah daerah kini fokus pada peningkatan nilai tambah produk (hilirisasi), seperti pengemasan produk turunan melinjo dan pengembangan agrowisata di daerah dataran tinggi Tangse. Dengan integrasi antara kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang dikelilingi tujuh tetangga strategis, dan penguatan infrastruktur transportasi, Pidie berada dalam posisi kuat untuk memimpin pertumbuhan ekonomi di pesisir utara Aceh.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Pidie, Aceh

Kabupaten Pidie merupakan salah satu wilayah inti di Provinsi Aceh yang memiliki karakteristik demografis unik sebagai pusat peradaban dan ekonomi di pesisir utara. Dengan luas wilayah mencapai 3.187,16 km², Pidie berbatasan dengan tujuh wilayah administratif, termasuk Selat Malaka di utara dan Kabupaten Pidie Jaya di timur, menjadikannya titik strategis dalam pergerakan penduduk di koridor Banda Aceh-Medan.

Struktur Penduduk dan Kepadatan

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Pidie melampaui 440.000 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi dibandingkan wilayah pedalaman Aceh lainnya, yakni sekitar 138 jiwa per km². Distribusi penduduk terkonsentrasi di wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Kecamatan Kota Sigli, Mutiara, dan Indra Jaya, sementara wilayah pegunungan di bagian selatan cenderung lebih jarang penduduknya.

Komposisi Etnis dan Budaya

Secara etnis, Pidie didominasi oleh suku Aceh asli yang dikenal dengan identitas lokal yang sangat kuat. Masyarakat Pidie memiliki karakteristik psikologis yang khas, sering dijuluki sebagai "Cina Hitam" karena ketangguhan mereka dalam berdagang dan merantau. Meskipun homogen secara etnis, terdapat keberagaman budaya dalam bentuk kearifan lokal yang kental dengan nilai-nilai Islam, yang tercermin dalam sistem sosial Gampong.

Piramida Penduduk dan Usia

Struktur demografi Pidie berbentuk piramida ekspansif, didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun). Namun, terdapat tren menarik berupa "lubang" pada kelompok usia dewasa muda (20-35 tahun) di wilayah perdesaan akibat pola migrasi keluar yang masif. Rasio ketergantungan relatif stabil, namun beban penyediaan lapangan kerja menjadi tantangan utama bagi pemerintah daerah.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat melek huruf di Pidie sangat tinggi, mencapai di atas 98%. Masyarakat Pidie menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Selain pendidikan formal, keberadaan dayah (pesantren) tradisional dan modern tersebar luas, menciptakan profil penduduk yang memiliki dualisme kualifikasi: pendidikan umum dan pemahaman agama yang mendalam.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Salah satu karakteristik unik Pidie adalah budaya merantau (meudagang). Migrasi keluar permanen maupun sirkuler sangat tinggi, di mana penduduk Pidie banyak mendominasi sektor perdagangan di Banda Aceh, Medan, bahkan hingga ke Malaysia. Di sisi lain, urbanisasi internal bergerak menuju Kota Sigli sebagai pusat administrasi dan jasa, namun pola pemukiman tetap didominasi oleh kawasan perdesaan yang berbasis pada sektor agraris dan perkebunan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Kawasan pedalaman wilayah ini menyimpan situs sejarah benteng pertahanan terakhir Cut Nyak Dhien sebelum beliau ditangkap oleh tentara Belanda di area hutan belantara.
  • 2.Tradisi meminum kopi dengan gelas terbalik yang dikenal sebagai Kopi Khop merupakan warisan budaya unik yang berasal dari pesisir pantai daerah ini.
  • 3.Wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang unik karena berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sisi barat dan didominasi oleh aliran sungai Meureubo yang luas.
  • 4.Kota utamanya dikenal sebagai pusat industri batu bara terbesar di Aceh dan pernah menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah saat peristiwa tsunami 2004.

Destinasi di Pidie

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Aceh

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Pidie dari siluet petanya?