Mercusuar Cikoneng
di Serang, Banten
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Mercusuar Cikoneng: Monumentalitas Arsitektur Navigasi di Titik Nol Anyer
Mercusuar Cikoneng bukan sekadar menara pemandu kapal; ia adalah manifestasi fisik dari sejarah maritim Nusantara dan ketangguhan arsitektur kolonial yang berdiri tegak di pesisir Serang, Banten. Terletak strategis di Desa Anyer, mercusuar ini menjadi penanda visual yang dominan bagi Selat Sunda, sekaligus menjadi simbol awal dari jalan raya legendaris De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang membentang hingga Panarukan.
#
Konteks Historis dan Evolusi Struktur
Keberadaan Mercusuar Cikoneng saat ini merupakan struktur kedua yang berdiri di lokasi tersebut. Menara pertama dibangun pada tahun 1806 atas prakarsa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Namun, letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 memicu tsunami raksasa yang menyapu bersih bangunan awal tersebut. Yang tersisa dari struktur asli hanyalah fondasi batu yang kini menjadi artefak sejarah di sekitar kaki menara baru.
Menara yang berdiri kokoh saat ini dibangun pada tahun 1885 oleh Pemerintah Hindia Belanda di bawah kepemimpinan Raja Willem III. Prasasti logam di atas pintu masuk utama masih dengan jelas mencantumkan dedikasi tersebut: "Onder de Regeering van Z.M. Willem III Koning der Nederlanden, enz. enz. enz. Opgericht voor vast licht 2de grootte. 1885". Konstruksi ulang ini tidak hanya sekadar membangun kembali, melainkan sebuah pernyataan tentang kemajuan teknologi material pada akhir abad ke-19.
#
Karakteristik Arsitektur dan Materialitas
Secara arsitektural, Mercusuar Cikoneng mengadopsi gaya fungsionalisme kolonial dengan penekanan pada ketahanan struktur terhadap lingkungan pesisir yang korosif. Menara ini memiliki ketinggian sekitar 75 meter, menjadikannya salah satu struktur tertinggi di zamannya.
Berbeda dengan banyak mercusuar tradisional yang menggunakan batu bata atau beton masif, Mercusuar Cikoneng menggunakan pelat baja cor (cast iron) yang disambung dengan sistem keling (rivet). Penggunaan logam ini merupakan inovasi signifikan pada masa itu, yang memungkinkan struktur tetap fleksibel namun kuat dalam menghadapi guncangan gempa dan angin laut yang kencang. Dinding menara memiliki ketebalan yang signifikan di bagian bawah dan semakin mengecil (tapering) ke arah puncak, menciptakan siluet kerucut yang elegan sekaligus stabil secara aerodinamis.
Warna putih menyelimuti seluruh badan menara, berfungsi sebagai penanda visual siang hari (daymark) agar mudah terlihat oleh pelaut dari kejauhan dengan latar belakang perbukitan hijau Banten. Struktur ini terbagi menjadi 18 lantai fungsional yang dihubungkan oleh tangga spiral besi yang sempit namun kokoh.
#
Inovasi Struktural dan Detail Teknis
Salah satu elemen paling menarik dari sisi teknik adalah sistem pencahayaannya. Di puncak menara terdapat ruang lampu (lantern room) yang dilindungi oleh kaca tebal dan kerangka logam. Pada awalnya, mercusuar ini menggunakan lampu minyak dengan lensa Fresnel yang mampu membiaskan cahaya hingga puluhan mil laut. Saat ini, sistem tersebut telah dimodernisasi dengan lampu bertenaga listrik, namun mekanisme rotasi dan optik klasiknya tetap dipertahankan sebagai bagian dari integritas arsitekturalnya.
Setiap lantai dihubungkan oleh tangga melingkar yang menempel pada dinding interior. Interior menara dirancang dengan ventilasi kecil di setiap tingkat untuk memastikan sirkulasi udara dan mengurangi tekanan udara di dalam struktur saat terjadi badai. Detail pada railing tangga dan bingkai jendela menunjukkan estetika industrial abad ke-19 yang mengutamakan presisi dan daya tahan.
#
Signifikansi Budaya dan Sosial
Bagi masyarakat Serang dan Banten pada umumnya, Mercusuar Cikoneng adalah identitas wilayah. Ia berdiri sebagai saksi bisu transformasi Anyer dari pelabuhan tradisional menjadi pusat logistik kolonial, hingga kini menjadi destinasi wisata sejarah utama. Keberadaan "Titik Nol" di samping mercusuar memberikan dimensi simbolis tambahan; di sinilah sejarah mobilisasi darat di Jawa dimulai.
Secara sosial, mercusuar ini menjadi pengingat akan tragedi letusan Krakatau sekaligus simbol harapan dan pembangunan kembali. Ia merepresentasikan bagaimana manusia merespons kekuatan alam dengan rekayasa arsitektur yang lebih kuat dan terencana. Bagi para pelaut, cahaya dari Cikoneng adalah panduan keselamatan yang melintasi generasi, menjaga lalu lintas kapal di salah satu selat tersibuk di dunia.
#
Pengalaman Ruang dan Estetika Visual
Pengalaman pengunjung saat mendekati Mercusuar Cikoneng dimulai dari skala monumental yang mengintimidasi namun mempesona. Dari kejauhan, menara ini tampak seperti jarum putih yang menusuk langit. Saat berada di kakinya, pengunjung dapat melihat detail sambungan pelat besi yang membentuk tekstur industrial yang khas.
Naik ke puncak mercusuar memberikan perspektif spasial yang luar biasa. Setiap tingkat tangga menawarkan pemandangan melalui jendela kecil yang membingkai fragmen Selat Sunda. Sesampainya di balkon luar di lantai atas, pengunjung disuguhi panorama 360 derajat yang mencakup garis pantai Anyer, hamparan laut biru, dan jika cuaca cerah, siluet Gunung Anak Krakatau di cakrawala. Angin kencang di ketinggian dan suara deru laut menciptakan suasana meditatif yang menghubungkan arsitektur dengan alam sekitarnya.
#
Konservasi dan Fungsi Saat Ini
Saat ini, Mercusuar Cikoneng dikelola di bawah otoritas Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan RI. Fungsinya sebagai sarana bantu navigasi pelayaran masih tetap aktif dan vital. Meskipun usia struktur telah melampaui satu abad, kondisi fisiknya tetap terjaga berkat perawatan rutin, terutama pengecatan ulang untuk mencegah korosi pada material logamnya.
Sebagai bangunan cagar budaya, tantangan utama dalam pelestariannya adalah menyeimbangkan antara fungsi operasional navigasi dengan aksesibilitas wisata. Mercusuar ini telah menjadi magnet ekonomi bagi warga lokal, mendorong pertumbuhan sektor jasa dan pariwisata di sekitarnya.
Mercusuar Cikoneng adalah mahakarya teknik sipil dan arsitektur maritim yang berhasil melampaui waktu. Ia bukan sekadar menara besi, melainkan monumen yang menyimpan narasi tentang bencana, kemajuan teknologi, dan semangat untuk terus menerangi jalur pelayaran Nusantara. Kehadirannya di pesisir Serang memastikan bahwa sejarah besar yang dimulai dari titik nol ini tidak akan pernah terlupakan oleh waktu.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Serang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Serang
Pelajari lebih lanjut tentang Serang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Serang