Masjid Raya Syahabuddin
di Siak, Riau
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Konteks Sejarah Pendirian
Masjid Raya Syahabuddin didirikan pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II, sultan terakhir sekaligus pahlawan nasional dari Kesultanan Siak. Pembangunan masjid ini dimulai sekitar tahun 1926 dan selesai pada tahun 1934. Nama "Syahabuddin" sendiri diambil dari gabungan nama keluarga besar sultan, yang juga bermakna "Bintang Agama" atau "Meteor Agama," sebuah simbol harapan agar masjid ini menjadi pelita bagi umat Islam di wilayah tersebut.
Pendirian masjid ini merupakan bagian dari upaya Sultan Syarif Kasim II untuk menata pusat pemerintahan (civic centre) Kesultanan Siak agar sejajar dengan kemajuan kota-kota modern pada masanya. Lokasinya yang strategis, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Istana Asserayah Al Hasyimiyah (Istana Matahari Timur), menunjukkan bahwa agama merupakan pilar utama dalam struktur pemerintahan kesultanan.
Arsitektur: Akulturasi Budaya Melayu, Arab, dan Eropa
Secara visual, Masjid Raya Syahabuddin menampilkan gaya arsitektur yang unik dan eklektik. Bangunan ini tidak sepenuhnya mengikuti gaya tradisional Melayu Riau yang biasanya berbahan kayu, melainkan menggunakan struktur permanen dengan pengaruh kuat dari gaya Timur Tengah dan kolonial Eropa.
1. Struktur Utama dan Atas: Masjid ini memiliki bentuk denah persegi panjang. Ciri khas paling menonjol adalah atapnya yang berbentuk kubah dengan ujung yang meruncing (kubah bawang), yang merupakan pengaruh kuat dari arsitektur Mughal dan Timur Tengah. Di puncak kubah terdapat ornamen bulan bintang yang khas.
2. Pintu dan Jendela: Pintu masuk masjid dirancang menyerupai lengkungan (arch) yang lazim ditemukan pada bangunan-bangunan di Spanyol Selatan (Moorish) atau Timur Tengah. Jendelanya tinggi dan besar dengan kaca patri, memberikan pencahayaan alami sekaligus sirkulasi udara yang baik, mencerminkan adaptasi terhadap iklim tropis.
3. Interior dan Kaligrafi: Di dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh deretan pilar-pilar kokoh yang menopang struktur atap. Bagian mihrab (tempat imam) dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang halus dan artistik. Salah satu keunikan yang jarang ditemukan di masjid lain adalah keberadaan mimbar kayu jati yang sangat antik, dipenuhi ukiran motif tumbuh-tumbuhan (sulur) khas Melayu yang melambangkan kesuburan dan kerendahan hati.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Masjid ini menjadi pusat pergerakan sosial dan politik pada masa perjuangan kemerdekaan. Sultan Syarif Kasim II dikenal sebagai pendukung setia Republik Indonesia. Masjid Raya Syahabuddin sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para tokoh agama dan pejuang untuk mengatur strategi serta memberikan semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Di sisi barat masjid, terdapat kompleks pemakaman keluarga kerajaan. Di sinilah Sultan Syarif Kasim II beserta permaisuri dan kerabat dekatnya dimakamkan. Keberadaan makam ini menjadikan masjid ini sebagai pusat ziarah bagi masyarakat Riau maupun wisatawan dari mancanegara (khususnya Malaysia dan Singapura) yang ingin memberikan penghormatan kepada Sultan yang telah menghibahkan kekayaan dan kekuasaannya demi kemerdekaan Indonesia.
Keunikan Fakta Sejarah
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa dana pembangunan masjid ini sebagian berasal dari kas pribadi Sultan dan sumbangan masyarakat Siak sebagai wujud gotong royong. Selain itu, pada masa lalu, Sungai Siak yang berada tepat di depan masjid berfungsi sebagai jalur transportasi utama. Para pelaut dan pedagang yang melintas akan menjadikan kubah Masjid Syahabuddin sebagai navigasi atau penanda bahwa mereka telah sampai di jantung Kesultanan Siak.
Masjid ini juga menyimpan peninggalan berupa Al-Qur'an tulis tangan yang sangat tua dan beberapa benda pusaka yang digunakan dalam upacara keagamaan kesultanan. Estetika bangunan ini juga mencakup lantai marmer asli yang didatangkan langsung dari Eropa, yang hingga kini masih terjaga keasliannya dan memberikan rasa sejuk bagi jamaah yang bersujud di atasnya.
Pelestarian dan Status Situs Sejarah
Sebagai bagian dari Kawasan Cagar Budaya Nasional, Masjid Raya Syahabuddin mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya restorasi dilakukan secara berkala dengan prinsip kehati-hatian (konservasi) agar tidak mengubah bentuk asli bangunan.
Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, terutama pada bagian cat dan sarana pendukung (seperti tempat wudhu dan halaman), struktur utama masjid tetap dipertahankan sesuai aslinya. Statusnya sebagai Situs Sejarah menjamin bahwa bangunan ini tidak boleh diubah secara sembarangan, karena setiap jengkal bangunannya mengandung nilai historis yang tak ternilai harganya.
Peran Keagamaan dan Budaya di Era Modern
Hingga saat ini, Masjid Raya Syahabuddin tetap berfungsi sebagai pusat ibadah utama di Kabupaten Siak. Selain shalat lima waktu, masjid ini menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan besar seperti Maulid Nabi, Isra' Mi'raj, dan festival keagamaan lainnya yang sering melibatkan partisipasi dari pemerintah kabupaten.
Bagi masyarakat Siak, masjid ini adalah identitas. Ia melambangkan filosofi "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah." Kehadiran masjid yang berdampingan dengan istana mempertegas bahwa di Siak, kekuasaan duniawi harus selalu beriringan dengan nilai-nilai ukhrawi.
Kesimpulan
Masjid Raya Syahabuddin adalah permata arsitektur dan sejarah di tanah Melayu. Melalui kemegahan kubahnya dan kekokohan dindingnya, kita dapat membaca kembali lembaran sejarah tentang seorang Sultan yang visioner, masyarakat yang religius, dan perjuangan bangsa yang tak kenal lelah. Mengunjungi masjid ini bukan sekadar wisata religi, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan historis untuk memahami betapa besarnya pengaruh Islam dalam membentuk peradaban di Nusantara, khususnya di wilayah Riau. Dengan pemeliharaan yang berkelanjutan, Masjid Raya Syahabuddin akan terus berdiri sebagai mercusuar iman dan sejarah bagi generasi mendatang.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Siak
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami