Situs Sejarah

Tangsi Belanda Mempura

di Siak, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kolonial di Tepian Sungai Mempura: Sejarah Lengkap Tangsi Belanda Siak

Tangsi Belanda Mempura berdiri sebagai saksi bisu dinamika politik dan militer di wilayah pesisir timur Sumatera, khususnya di jantung Kesultanan Siak Sri Indrapura. Terletak di Kelurahan Mempura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, kompleks bangunan tua ini bukan sekadar reruntuhan bata, melainkan artefak fisik yang merekam transisi kekuasaan dari kedaulatan sultan menuju hegemoni kolonial Hindia Belanda.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Tangsi Belanda Mempura tidak lepas dari perjanjian-perjanjian politik antara Kesultanan Siak dan pemerintah kolonial Belanda (VOC hingga pemerintah Hindia Belanda). Secara historis, kompleks ini mulai dibangun pada pertengahan abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1860-an. Pembangunannya dipicu oleh meningkatnya kehadiran militer Belanda di wilayah Riau guna mengamankan jalur perdagangan di Selat Melaka serta mengawasi gerak-gerik internal kesultanan.

Lokasi Mempura dipilih karena posisinya yang strategis di seberang pusat pemerintahan Kesultanan Siak (Istana Asserayah Al Hasyimiyah). Dengan menempatkan militer di Mempura, Belanda dapat melakukan pengawasan psikologis dan fisik secara langsung terhadap Sultan tanpa harus berada di dalam kompleks istana. Keberadaan tangsi ini menandai era di mana pengaruh Belanda mulai mencengkeram kuat birokrasi dan keamanan di wilayah Riau Daratan.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Tangsi Belanda Mempura menerapkan gaya Indische Empire Style yang sangat populer pada abad ke-19. Gaya ini mencampurkan estetika neoklasik Eropa dengan adaptasi iklim tropis Nusantara. Kompleks ini terdiri dari beberapa gedung utama yang berfungsi sebagai barak prajurit, kantor administrasi, gudang persenjataan, dan rumah tahanan (penjara).

Dinding bangunan dibangun dengan ketebalan mencapai 30 hingga 50 sentimeter, menggunakan material bata merah tanpa tulang besi, namun direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekat alami yang sangat kuat. Ciri khas utama bangunan ini adalah keberadaan jendela-jendela besar dengan ventilasi tinggi (jalusi) untuk sirkulasi udara maksimal. Pilar-pilar besar bergaya Dorik menyangga bagian depan gedung, memberikan kesan kokoh dan berwibawa. Salah satu keunikan konstruksinya adalah sistem drainase kuno yang tertata rapi di bawah tanah, memastikan kompleks militer ini bebas banjir meski berada dekat dengan aliran Sungai Siak.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Tangsi Belanda Mempura berfungsi sebagai pusat komando militer Belanda untuk wilayah pesisir timur Sumatera. Fungsi utamanya adalah sebagai benteng pertahanan dan tempat pelatihan tentara KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger). Namun, di balik fungsi militernya, tempat ini menyimpan sejarah kelam sebagai tempat penahanan bagi para pejuang lokal maupun individu yang dianggap membangkang terhadap kebijakan kolonial.

Salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan situs ini adalah ketegangan antara Sultan Syarif Kasim II dengan pemerintah kolonial. Tangsi ini menjadi simbol tekanan Belanda terhadap kedaulatan Siak. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), fungsi tangsi ini beralih menjadi markas tentara Jepang (Rikugun). Banyak cerita lisan masyarakat setempat yang menyebutkan bahwa ruang bawah tanah di kompleks ini pernah digunakan sebagai tempat penyiksaan selama masa transisi kekuasaan tersebut.

#

Tokoh dan Periode Penting

Nama besar yang selalu dikaitkan dengan keberadaan tangsi ini adalah Sultan Syarif Kasim II. Meskipun tangsi ini milik Belanda, keberadaannya memengaruhi kebijakan diplomatik Sultan. Beliau harus menyeimbangkan antara mempertahankan kedaulatan rakyat Siak dengan kehadiran militer asing yang hanya berjarak sepelemparan batu dari istananya.

Selain itu, tangsi ini juga menjadi saksi bisu aktivitas para Residen dan asisten Residen Belanda yang bertugas di wilayah Siak. Di sinilah keputusan-keputusan mengenai pajak, monopoli perdagangan karet, dan pengaturan pelayaran di Sungai Siak digodok. Periode emas penggunaan tangsi ini berakhir seiring dengan kekalahan Belanda oleh Jepang, yang kemudian diikuti oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia di mana aset ini akhirnya dinasionalisasi.

#

Status Pelestarian dan Restorasi

Setelah sempat terbengkalai selama puluhan tahun dan tertutup semak belukar, Pemerintah Kabupaten Siak memulai langkah serius untuk merestorasi Tangsi Belanda Mempura pada tahun 2017. Restorasi dilakukan secara bertahap oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Proses restorasi dilakukan dengan prinsip keaslian (authenticity), di mana material asli sedapat mungkin dipertahankan. Kini, Tangsi Belanda telah bersolek menjadi destinasi wisata sejarah unggulan. Penataan kawasan mencakup pembangunan jalur pejalan kaki (pedestrian), pencahayaan artistik pada malam hari, dan ruang informasi yang menjelaskan kronologi sejarah situs tersebut. Kawasan ini sekarang menjadi bagian dari "Heritage District" Mempura yang terhubung dengan jembatan megah menuju pusat kota Siak.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Siak, Tangsi Belanda Mempura bukan sekadar monumen kekalahan, melainkan pengingat akan perjuangan panjang merebut kedaulatan. Secara budaya, situs ini memberikan kontribusi pada identitas Siak sebagai "Kota Pusaka" di Indonesia. Keberadaannya memberikan pelajaran visual bagi generasi muda mengenai teknik konstruksi masa lalu dan bagaimana tata kota kolonial dirancang.

Situs ini sering digunakan sebagai lokasi edukasi bagi pelajar dan peneliti sejarah. Keunikan fakta sejarahnya, seperti adanya lorong bawah tanah yang konon menembus hingga ke tepian sungai, terus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang menyukai misteri sejarah. Tangsi Belanda Mempura kini berdiri tegak, bukan lagi sebagai simbol penindasan, melainkan sebagai aset budaya yang memperkaya narasi sejarah Nusantara di tanah Melayu.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Benteng Hulu, Kec. Mempura, Kabupaten Siak, Riau
entrance fee
Rp 5.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Siak

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Siak

Pelajari lebih lanjut tentang Siak dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Siak