Situs Sejarah

Candi Pari

di Sidoarjo, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periodisasi Pembangunan

Berdasarkan pahatan angka tahun yang ditemukan pada batu ambang pintu masuk (dulu berada di atas ambang pintu), Candi Pari dibangun pada tahun 1293 Saka atau 1371 Masehi. Masa ini bertepatan dengan masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit, yang memerintah didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.

Pembangunan candi ini memiliki latar belakang yang sangat spesifik. Berbeda dengan banyak candi di Jawa Timur yang berfungsi sebagai tempat pendarmaan (pemakaman raja), Candi Pari dibangun sebagai bentuk penghormatan dan monumen peringatan. Menurut catatan sejarah dan tradisi lisan setempat, candi ini didirikan untuk mengenang tempat hilangnya (moksa) seorang tokoh penting bernama Jaka Pandelegan dan istrinya, Nyai Pandelegan. Mereka adalah sepasang suami istri yang berjasa besar dalam penyediaan pangan (padi) bagi keraton Majapahit, namun memilih untuk menarik diri dari kemewahan duniawi.

Arsitektur Unik: Pengaruh Campa di Tanah Jawa

Salah satu karakteristik paling mencolok dari Candi Pari adalah gaya arsitekturnya. Jika biasanya candi di Jawa Timur berbentuk ramping dan menjulang tinggi (seperti Candi Bajang Ratu), Candi Pari justru tampil dengan bentuk yang tambun, kokoh, dan lebar. Gaya ini sangat dipengaruhi oleh arsitektur Candi Mison di Vietnam (Kerajaan Campa).

Struktur bangunan utama menghadap ke arah barat dan seluruhnya terbuat dari bata merah berkualitas tinggi, kecuali pada bagian ambang pintu dan beberapa ornamen yang menggunakan batu andesit. Secara vertikal, candi ini terbagi menjadi tiga bagian: kaki, tubuh, dan atap.

1. Bagian Kaki: Memiliki denah persegi empat dengan tangga masuk di sisi barat. Batur candi terlihat sangat masif, memberikan kesan stabilitas.

2. Bagian Tubuh: Ruang dalam (garbagriha) Candi Pari cukup luas. Di dalamnya tidak ditemukan arca utama yang utuh, namun jejak-jejak penempatan arca menunjukkan bahwa tempat ini dahulu digunakan untuk pemujaan.

3. Bagian Atap: Atap Candi Pari berbentuk kubah persegi yang berundak-undak, mirip dengan gaya bangunan di India Selatan atau Indochina, yang memperkuat teori adanya hubungan diplomatik erat antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di daratan Asia Tenggara.

Signifikansi Sejarah dan Hubungan dengan Keraton Majapahit

Candi Pari merupakan bukti konkret dari kemakmuran agraris Majapahit. Nama "Pari" sendiri dalam bahasa Jawa berarti padi. Hal ini merujuk pada legenda Jaka Pandelegan yang mampu menghasilkan panen padi yang melimpah ruah di wilayah yang dulunya gersang.

Secara politis, pembangunan candi ini menunjukkan bagaimana otoritas pusat Majapahit memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh lokal yang berkontribusi pada stabilitas pangan kerajaan. Lokasinya yang berada di wilayah Sidoarjo (dulu bagian dari Jenggala) menunjukkan bahwa daerah ini merupakan lumbung pangan sekaligus kawasan penyangga penting bagi ibu kota Majapahit di Trowulan. Hubungan internasional Majapahit juga tercermin di sini; gaya Campa pada bangunan ini membuktikan bahwa pertukaran budaya dan arsitek tidak hanya terjadi melalui jalur perdagangan, tetapi juga melalui ikatan perkawinan antar-bangsawan lintas negara.

Tokoh Legendaris dan Mitos Lokal

Nama Jaka Pandelegan dan Nyai Pandelegan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Candi Pari. Alkisah, Jaka Pandelegan adalah sahabat atau kerabat dari Prabu Brawijaya (beberapa sumber menyebutkan keterkaitan dengan masa transisi atau tokoh penting keraton). Ketika terjadi gagal panen di pusat kerajaan, Jaka Pandelegan berhasil menanam padi dengan hasil yang luar biasa di lokasi candi ini berada sekarang.

Ketika sang raja memintanya untuk kembali ke keraton guna mendapatkan penghargaan, Jaka Pandelegan menolak karena ia telah merasa menyatu dengan tanah dan pengabdiannya. Ia kemudian menghilang secara misterius di dalam sebuah sumur atau bangunan, yang kemudian diabadikan dengan berdirinya Candi Pari. Tidak jauh dari lokasi ini, terdapat Candi Sumur yang diyakini sebagai tempat hilangnya sang istri, Nyai Pandelegan.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs cagar budaya yang dilindungi di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI, Candi Pari telah mengalami beberapa tahap pemugaran. Restorasi besar dilakukan pada masa kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperkuat struktur bata merah yang rentan terhadap pelapukan akibat cuaca dan tumbuhnya lumut.

Meskipun berada di tengah pemukiman padat penduduk dan tidak jauh dari lokasi bencana lumpur Lapindo, Candi Pari tetap berdiri kokoh. Lingkungan di sekitar candi ditata menjadi taman yang bersih, menjadikannya destinasi wisata sejarah utama di Sidoarjo. Pembersihan rutin menggunakan metode mekanis kering dan basah dilakukan untuk menjaga agar bata merah tidak hancur oleh kelembapan tinggi.

Nilai Budaya dan Keagamaan

Walaupun Majapahit dikenal sebagai kerajaan Hindu-Buddha, Candi Pari menunjukkan karakter yang lebih inklusif. Tidak banyak relief dewa-dewi yang rumit seperti pada candi-candi di Jawa Tengah. Fokus utamanya adalah fungsionalitas sebagai tempat penghormatan. Hingga saat ini, masyarakat sekitar masih menghormati situs ini bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai simbol kemakmuran desa mereka.

Keberadaan Candi Pari memberikan identitas sejarah yang kuat bagi warga Sidoarjo. Ia menjadi pengingat bahwa wilayah Delta Brantas adalah tanah yang subur dan diberkati sejak zaman kuno. Bagi para arkeolog, candi ini tetap menjadi objek studi penting mengenai bagaimana teknologi bata merah Majapahit mampu bertahan selama lebih dari 600 tahun.

Fakta Unik Candi Pari

Ada beberapa detail spesifik yang jarang diketahui masyarakat umum:

  • Ketiadaan Relief Cerita: Berbeda dengan Candi Penataran yang penuh dengan relief cerita Ramayana atau Krisnayana, dinding Candi Pari cenderung polos dengan hiasan geometris dan bunga yang minimalis, mengikuti estetika Campa.
  • Teknik Gosok: Pembangunan candi ini menggunakan teknik "kosot" atau gosok, di mana bata merah digosokkan satu sama lain dengan air hingga menyatu tanpa menggunakan semen atau perekat tambahan, menciptakan ikatan molekuler yang sangat kuat.
  • Simbolisme Pangan: Candi ini adalah satu-satunya candi besar di Jawa Timur yang namanya secara eksplisit merujuk pada komoditas pertanian utama (Padi), menegaskan status Majapahit sebagai imperium agraris.

Secara keseluruhan, Candi Pari adalah permata arsitektur yang melampaui batas-batas lokal. Ia adalah perpaduan antara kearifan lokal dalam mengelola alam, loyalitas kepada penguasa, dan keterbukaan terhadap pengaruh budaya asing, menjadikannya salah satu peninggalan paling berharga di tanah Jawa Timur.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Purbakala, Porong, Kabupaten Sidoarjo
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Sidoarjo

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sidoarjo

Pelajari lebih lanjut tentang Sidoarjo dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sidoarjo