Monumen Jayandaru
di Sidoarjo, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Kemegahan Arsitektur dan Simbolisme Monumen Jayandaru: Ikon Peradaban Sidoarjo
Monumen Jayandaru berdiri kokoh di sisi timur Alun-alun Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai manifestasi visual dari identitas, sejarah, dan kemakmuran masyarakat setempat. Secara etimologis, nama "Jayandaru" berasal dari bahasa Jawa Kuno, di mana Jaya berarti kejayaan dan Ndaru bermakna wahyu atau keberuntungan. Secara arsitektural, monumen ini bukan sekadar struktur beton statis, melainkan narasi ruang yang menggabungkan elemen tradisional Jawa dengan representasi ekonomi maritim dan agraris yang menjadi tulang punggung Kabupaten Sidoarjo.
#
Filosofi Desain dan Estetika Visual
Arsitektur Monumen Jayandaru didominasi oleh bentuk vertikal yang menjulang setinggi kurang lebih 25 meter. Struktur utamanya mengadopsi bentuk yang menyerupai piala atau tugu modern dengan sentuhan ornamen yang sangat spesifik merujuk pada kearifan lokal. Desain monumen ini membagi struktur menjadi tiga bagian utama: landasan (kaki), badan (pilar utama), dan puncak (mahkota).
Pada bagian puncak, terdapat elemen paling ikonik yang menjadi ciri khas Sidoarjo, yaitu patung udang dan bandeng. Kedua komoditas ini bukan dipilih tanpa alasan; Sidoarjo sejak zaman kolonial dikenal sebagai penghasil tambak terbaik di Jawa Timur. Penempatan udang dan bandeng di puncak monumen melambangkan bahwa sumber kesejahteraan masyarakat Sidoarjo berasal dari kekayaan air dan tanahnya. Secara estetika, siluet monumen ini menciptakan kontras yang menarik terhadap cakrawala alun-alun, memberikan titik fokus (vantage point) bagi siapa pun yang memasuki pusat kota.
#
Konteks Sejarah dan Pembangunan
Pembangunan Monumen Jayandaru merupakan inisiatif untuk mempercantik tata kota sekaligus memberikan "landmark" yang selama ini dianggap kurang menonjol di Sidoarjo. Proyek ini rampung dan diresmikan pada masa pemerintahan Bupati Saiful Ilah pada awal tahun 2015. Monumen ini dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan lokal, PT Sekar Laut, yang memang memiliki keterkaitan bisnis dengan produk udang dan kerupuk—sebuah kolaborasi menarik antara sektor privat dan publik dalam membentuk wajah kota.
Pengerjaan monumen ini melibatkan seniman patung terkemuka asal Bali, I Nyoman Nuarta (yang juga merancang Garuda Wisnu Kencana). Kehadiran sentuhan Nuarta memberikan kualitas artistik yang tinggi, terutama pada detail tekstur sisik bandeng dan anatomi udang yang terlihat sangat dinamis. Teknik pengerjaan menggunakan logam kuningan dan perunggu memberikan kesan mewah sekaligus ketahanan terhadap cuaca ekstrem tropis.
#
Detail Arsitektural dan Inovasi Struktural
Salah satu keunikan arsitektural Monumen Jayandaru terletak pada bagian bawah atau pedestal monumen. Di sekeliling dasar monumen, terdapat sembilan patung manusia yang merepresentasikan berbagai profesi dan aktivitas masyarakat Sidoarjo. Patung-patung ini menggambarkan petani, nelayan, pedagang, dan perajin yang sedang bekerja. Kehadiran elemen manusia di dasar struktur ini memberikan keseimbangan visual; jika bagian atas melambangkan cita-cita dan hasil (udang-bandeng), maka bagian bawah melambangkan proses dan kerja keras manusia.
Secara struktural, monumen ini menggunakan sistem rangka baja internal yang kuat untuk menopang beban patung logam di puncaknya. Fondasi monumen dirancang sedemikian rupa agar mampu menahan getaran dan beban angin, mengingat lokasinya yang terbuka di tengah lapangan luas. Lantai di sekitar monumen menggunakan material batu alam dengan pola melingkar, menciptakan ruang sirkulasi yang memandu pengunjung untuk mengitari monumen dan mengagumi detail patung dari berbagai sudut pandang (360 derajat).
#
Makna Budaya dan Sosial
Monumen Jayandaru berfungsi sebagai "ruang memori" bagi warga Sidoarjo. Kehadirannya mempertegas julukan Sidoarjo sebagai "Kota Delta". Secara sosiologis, monumen ini berhasil meredefinisi fungsi Alun-alun Sidoarjo dari sekadar lapangan terbuka menjadi ruang publik yang memiliki nilai seni tinggi.
Pesan yang ingin disampaikan melalui arsitektur ini adalah harmoni. Antara manusia (patung di bawah) dan alam (udang-bandeng di atas) harus terjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Bagi masyarakat lokal, monumen ini adalah simbol harga diri. Di tengah gempuran modernisasi dan industrialisasi di Sidoarjo, Monumen Jayandaru tetap mengingatkan akar agraris dan maritim yang tidak boleh dilupakan.
#
Kontroversi dan Evolusi Artistik
Dalam sejarah perjalanannya, Monumen Jayandaru sempat mengalami dinamika sosial. Pada awal pembangunannya, keberadaan sembilan patung manusia di dasar monumen sempat menuai protes dari beberapa kelompok masyarakat yang menganggap representasi makhluk hidup secara visual bertentangan dengan nilai-nilai religius tertentu. Namun, melalui dialog budaya dan penjelasan mengenai nilai seni serta sejarah, monumen ini tetap berdiri sebagai bagian utuh dari lanskap kota. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah karya arsitektur publik seringkali menjadi ruang negosiasi nilai di tengah masyarakat yang heterogen.
#
Pengalaman Pengunjung dan Pemanfaatan Terkini
Saat ini, Monumen Jayandaru telah menjadi destinasi wisata edukasi dan rekreasi utama. Pada malam hari, sistem pencahayaan (lighting) yang dirancang secara khusus menyinari tubuh monumen, memberikan efek dramatis pada material kuningan patung sehingga terlihat berkilau keemasan. Tata cahaya ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi juga sebagai elemen keamanan dan navigasi bagi warga yang beraktivitas di alun-alun.
Pengunjung biasanya memanfaatkan area pedestrian di sekitar monumen untuk berswafoto atau sekadar duduk menikmati suasana kota. Keberadaan Monumen Jayandaru juga memicu pertumbuhan ekonomi mikro di sekitarnya, dengan munculnya pedagang kuliner khas Sidoarjo seperti Kupang Lontong dan Kerupuk Udang, yang semakin memperkuat ekosistem budaya di area tersebut.
#
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Monumen Jayandaru adalah mahakarya arsitektur yang berhasil menyatukan teknis konstruksi modern dengan narasi lokal yang sangat kuat. Melalui tangan dingin I Nyoman Nuarta dan visi pemerintah daerah, monumen ini telah bertransformasi dari sekadar tugu menjadi jiwa dari Kabupaten Sidoarjo. Ia adalah pengingat akan masa lalu yang gemilang, realitas kerja keras saat ini, dan harapan akan kejayaan di masa depan. Sebagai ikon Jawa Timur, Monumen Jayandaru akan terus berdiri sebagai saksi bisu perkembangan peradaban di tanah Delta.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sidoarjo
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sidoarjo
Pelajari lebih lanjut tentang Sidoarjo dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sidoarjo