Masjid Agung Sumenep
di Sumenep, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Akulturasi Estetika dalam Arsitektur Masjid Agung Sumenep: Simbol Harmoni Madura
Masjid Agung Sumenep, atau yang secara historis dikenal sebagai Masjid Jami' Panembahan Somala, bukan sekadar tempat ibadah. Berdiri megah di jantung Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, bangunan ini merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri kokoh dengan mempertahankan keaslian arsitekturnya. Keunikan masjid ini terletak pada keberanian desainnya yang menggabungkan elemen budaya Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Arab ke dalam satu kesatuan yang koheren dan estetis.
#
Konteks Sejarah dan Visi Panembahan Somala
Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai pada tahun 1787 Masehi. Proyek ambisius ini diprakarsai oleh Panembahan Somala, penguasa Sumenep ke-31. Di bawah kepemimpinannya, Sumenep mengalami masa keemasan kebudayaan. Panembahan Somala menginginkan sebuah bangunan yang mencerminkan pluralitas masyarakat Sumenep serta posisi strategis wilayah tersebut sebagai titik temu perdagangan maritim.
Untuk mewujudkan visinya, ia menunjuk seorang arsitek keturunan Tionghoa bernama Lauw Piango. Pemilihan arsitek non-Muslim pada masa itu menunjukkan keterbukaan intelektual dan toleransi yang luar biasa dari pihak keraton. Lauw Piango, yang merupakan cucu dari Lauw Khon Gu (salah satu pelarian dari kerusuhan di Batavia), berhasil menerjemahkan nilai-nilai spiritual Islam ke dalam bentuk fisik yang kaya akan akulturasi budaya.
#
Gerbang Utama: Landmark Ikonik Bergaya Tiongkok
Fitur paling mencolok dan paling sering diabadikan dari Masjid Agung Sumenep adalah gerbang utamanya (gapura). Berbeda dengan masjid-masjid di Jawa pada umumnya yang menggunakan gerbang bergaya Candi Bentar atau Paduraksa, gerbang masjid ini memiliki pengaruh arsitektur Tiongkok yang sangat kental.
Struktur gerbang ini berukuran besar dengan atap bertingkat yang melengkung pada ujungnya, menyerupai bentuk pagoda atau kelenteng. Penggunaan warna kuning dan hijau yang dominan pada detail ornamen mempertegas nuansa oriental tersebut. Di atas gerbang, terdapat hiasan berupa ukiran bunga dan sulur-suluran yang melambangkan kesuburan dan kedamaian. Bentuk lengkungan pada pintu masuk gerbang juga mengadopsi gaya arsitektur Eropa klasik, menciptakan perpaduan visual yang unik sebelum pengunjung memasuki halaman masjid.
#
Struktur Utama dan Filosofi Ruang Interior
Memasuki area utama, pengunjung akan disambut oleh bangunan masjid yang memiliki struktur atap tumpang tiga, sebuah ciri khas arsitektur Jawa-Hindu yang diadaptasi menjadi identitas masjid di Nusantara. Atap ini melambangkan tingkatan dalam Islam: Iman, Islam, dan Ihsan.
Namun, kejutan arsitektural berlanjut di bagian interior. Alih-alih menggunakan tiang kayu jati yang ramping seperti masjid di Demak, Masjid Agung Sumenep menggunakan pilar-pilar beton besar berdiameter sekitar satu meter. Pilar-pilar ini mengadopsi gaya arsitektur Indische Empire yang populer di kalangan kolonial Belanda. Penggunaan pilar masif ini memberikan kesan megah, kokoh, dan berwibawa.
Di bagian dalam, terdapat 13 pilar besar yang menyangga struktur atap. Di atas mihrab (tempat imam), terdapat ukiran kayu jati yang sangat detail, dilapisi emas, yang menampilkan motif tanaman khas Madura. Mimbar masjid merupakan mahakarya tersendiri, terbuat dari kayu jati pilihan dengan ukiran gaya Tiongkok-Madura yang sangat rumit, yang konon didatangkan langsung dari pengrajin terbaik pada masanya.
#
Inovasi Struktural dan Detail Estetis
Salah satu inovasi menarik pada bangunan ini adalah sistem ventilasi dan pencahayaannya. Lauw Piango merancang jendela-jendela besar dengan bingkai kayu dan kaca berwarna yang memungkinkan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun cuaca di luar sangat terik.
Dinding masjid terbuat dari campuran batu bata, kapur, dan putih telur sebagai perekat alami—teknik konstruksi tradisional yang terbukti mampu membuat bangunan bertahan dari gempa dan cuaca selama lebih dari dua abad. Di sisi kanan dan kiri bangunan utama, terdapat bangunan tambahan bergaya kolonial yang berfungsi sebagai tempat wudhu dan kantor pengelola, yang ditambahkan di era kemudian namun tetap selaras dengan estetika asli masjid.
#
Menara dan Akulturasi Budaya
Masjid ini memiliki sebuah menara yang terpisah dari bangunan utama. Menara tersebut memiliki pengaruh arsitektur Eropa yang kuat, terlihat dari bentuknya yang menyerupai menara mercusuar atau menara gereja di Belanda pada abad ke-18. Puncak menara dihiasi dengan kubah kecil, mempertegas fungsi religiusnya sebagai tempat mengumandangkan azan. Keberadaan menara ini melengkapi "pemandangan" arsitektur multikultural yang menjadi jiwa dari kompleks masjid ini.
#
Makna Sosial dan Pengalaman Pengunjung
Bagi masyarakat Sumenep, Masjid Agung bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan pusat kehidupan sosial. Filosofi yang tertanam dalam bangunannya mengajarkan tentang "Bhineka Tunggal Ika" jauh sebelum Indonesia merdeka. Harmoni antara elemen Tiongkok, Eropa, dan Jawa dalam satu rumah ibadah Muslim menjadi pengingat abadi bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menciptakan keindahan.
Pengunjung yang datang ke masjid ini akan merasakan suasana yang sakral sekaligus terbuka. Hamparan halaman yang luas dengan pohon-pohon sawo kecik (ciri khas bangunan keraton di Jawa) memberikan keteduhan bagi para peziarah atau wisatawan yang ingin mengagumi detail arsitekturnya. Setiap sudut masjid, mulai dari ubin lantai yang masih asli hingga ukiran di langit-langit, bercerita tentang ketelitian tangan-tangan pengrajin masa lalu.
#
Kesimpulan: Warisan Dunia dari Ujung Timur Madura
Masjid Agung Sumenep adalah bukti nyata bahwa arsitektur adalah bahasa universal. Melalui desain Lauw Piango dan visi Panembahan Somala, masjid ini berhasil melampaui batas-batas etnis dan budaya. Keberadaannya sebagai ikon Sumenep bukan hanya karena kemegahan fisiknya, tetapi karena nilai-nilai toleransi dan akulturasi yang dipahat kuat dalam setiap pilar dan dindingnya. Sebagai bangunan cagar budaya, tugas generasi sekarang adalah memastikan bahwa setiap detail arsitektur yang penuh makna ini tetap terjaga, menceritakan kisah harmoni dari ujung timur Pulau Madura kepada dunia.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sumenep
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sumenep
Pelajari lebih lanjut tentang Sumenep dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sumenep