Makam Datu Pamulutan
di Tanah Laut, Kalimantan Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Identitas Tokoh Datu Pamulutan
Nama "Datu Pamulutan" bukanlah nama asli, melainkan sebuah gelar yang merujuk pada keahlian atau hobi tokoh tersebut semasa hidup. Nama asli beliau adalah Sultan Abdurrahman, seorang ulama besar yang memiliki kedekatan spiritual dengan Kesultanan Banjar. Kata "Pamulutan" berasal dari bahasa Banjar "pulut" yang berarti getah pohon yang digunakan untuk menangkap burung.
Konon, beliau memiliki kegemaran memikat burung (memulut) di pulau yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Keunikan dari sosok Datu Pamulutan adalah kemampuannya menyembunyikan identitas aslinya sebagai ulama besar di balik kesederhanaan seorang pemikat burung. Ia hidup pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, masa di mana Kesultanan Banjar sedang mengalami dinamika politik yang tinggi akibat tekanan kolonialisme Belanda.
Arsitektur dan Tata Letak Situs
Situs Makam Datu Pamulutan terletak di puncak sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Datu. Untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga yang membelah bukit kecil di pulau tersebut. Arsitektur makam mencerminkan perpaduan antara kearifan lokal Banjar dan pengaruh Islam pesisir.
Bangunan utama makam berupa cungkup (pendopo) kayu yang telah mengalami beberapa kali renovasi. Di dalam cungkup tersebut terdapat nisan utama yang dibungkus dengan kain kuning, warna yang dalam tradisi Banjar melambangkan kemuliaan dan kehormatan bagi para wali atau tokoh sakral. Nisan aslinya terbuat dari kayu ulin (kayu besi) yang sangat kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem pesisir. Konstruksi bangunan menggunakan sistem panggung untuk menyesuaikan dengan kontur tanah perbukitan dan menjaga sirkulasi udara di tengah kelembapan laut.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Secara historis, keberadaan Datu Pamulutan di wilayah Tanjung Dewa berkaitan erat dengan strategi dakwah Islam di wilayah pesisir. Pada masa itu, wilayah Tanah Laut merupakan daerah perbatasan yang dihuni oleh masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan animisme. Datu Pamulutan menggunakan pendekatan kultural dalam berdakwah.
Salah satu fakta unik yang tercatat dalam tradisi lisan masyarakat setempat adalah hubungan antara Datu Pamulutan dengan Datu Pelaihari. Keduanya merupakan pilar penyebaran Islam di wilayah Tanah Laut. Makam ini juga menjadi penanda batas wilayah pengaruh Kesultanan Banjar di pesisir selatan Kalimantan. Pulau Datu sendiri secara strategis berfungsi sebagai titik pantau laut untuk mengawasi pergerakan kapal-kapal asing yang melintasi Laut Jawa menuju muara Sungai Barito.
Peran dalam Penyebaran Islam di Tanah Laut
Datu Pamulutan dikenal sebagai tokoh yang memiliki karamah (keajaiban). Namun, di luar aspek supranatural, peran konkret beliau adalah membangun komunitas Muslim di sekitar Panyipatan. Beliau mengajarkan syariat Islam dengan cara yang sangat halus, sehingga masyarakat pesisir yang keras dapat menerima ajaran Islam tanpa paksaan.
Keberadaan makam ini membuktikan bahwa penyebaran Islam di Kalimantan Selatan tidak hanya berpusat di Martapura atau Banjarmasin, tetapi juga merambah hingga ke wilayah terpencil di pesisir Tanah Laut. Situs ini menjadi bukti otentik adanya migrasi intelektual ulama-ulama Banjar ke wilayah selatan untuk memperluas jangkauan dakwah kesultanan.
Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya, Makam Datu Pamulutan mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tanah Laut dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada bagian dermaga penyeberangan dan akses tangga menuju puncak bukit. Hal ini dilakukan karena abrasi air laut dan cuaca ekstrem seringkali mengancam struktur bangunan di pulau tersebut.
Masyarakat Desa Tanjung Dewa secara swadaya juga berperan sebagai penjaga (juru kunci) yang menjaga kebersihan dan tata krama di area makam. Meskipun telah mengalami modernisasi pada bagian lantai dan atap untuk kenyamanan peziarah, bentuk dasar dan lokasi nisan tetap dipertahankan sesuai dengan kondisi aslinya guna menjaga nilai historisnya.
Nilai Budaya dan Keagamaan Masyarakat
Hingga saat ini, Makam Datu Pamulutan tetap menjadi magnet religi utama di Kalimantan Selatan. Setiap tahunnya, ribuan peziarah datang, terutama pada hari-hari besar Islam atau saat pelaksanaan "Haul" (peringatan wafatnya tokoh). Tradisi berziarah ke Pulau Datu telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tanah Laut.
Nilai filosofis yang dapat diambil dari sejarah Datu Pamulutan adalah tentang kerendahan hati. Meskipun beliau adalah seorang tokoh besar, beliau lebih memilih dikenal sebagai "Pamulut" (penangkap burung), yang mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada jabatan atau nama besar, melainkan pada pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama manusia.
Kesimpulan Fakta Unik
Ada satu fakta sejarah yang jarang diketahui, yaitu kaitan lokasi makam ini dengan sejarah maritim. Pulau Datu tempat makam ini berada dulunya merupakan tempat singgah para pelaut sebelum melanjutkan perjalanan jauh melintasi Laut Jawa. Hal ini menjadikan makam Datu Pamulutan sebagai simbol perlindungan bagi para nelayan dan pelaut di wilayah Tanah Laut.
Dengan latar belakang sejarah yang kuat, arsitektur yang ikonik di atas pulau, serta pengaruh spiritual yang masih terasa hingga kini, Makam Datu Pamulutan berdiri teguh sebagai monumen hidup sejarah Islam di Kalimantan Selatan. Situs ini bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kompas moral bagi generasi mendatang di Tanah Laut.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tanah Laut
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tanah Laut
Pelajari lebih lanjut tentang Tanah Laut dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tanah Laut