Tanah Laut

Common
Kalimantan Selatan
Luas
3.822,46 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
4 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Wilayah Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Tanah Laut merupakan wilayah strategis di Kalimantan Selatan dengan luas mencapai 3.822,46 km². Meskipun memiliki garis pantai yang panjang di sisi selatan dan timur, secara administratif dan geografis dalam konteks regional Kalimantan Selatan, wilayah ini menempati posisi sentral yang menghubungkan daerah pesisir dengan pedalaman pegunungan Meratus. Terjepit di antara empat wilayah tetangga—Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Laut Jawa—Tanah Laut memiliki narasi sejarah yang kaya, mulai dari era kesultanan hingga menjadi pilar ekonomi modern.

Asal-Usul dan Era Kesultanan

Nama "Tanah Laut" secara historis merujuk pada wilayah yang menjorok ke arah laut. Pada masa Kesultanan Banjar, wilayah ini dikenal sebagai bagian dari "Tanah Kerajaan" (Hofstede). Sultan Mustain Billah dan penerusnya menjadikan kawasan ini sebagai daerah perburuan dan sumber hasil hutan serta sarang burung walet. Salah satu tokoh kunci dalam penyebaran pengaruh Banjar di sini adalah Pangeran Antasari, yang memobilisasi dukungan masyarakat lokal di sekitar wilayah Pelaihari saat meletusnya Perang Banjar pada tahun 1859.

Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat

Pemerintah Hindia Belanda mulai menaruh perhatian besar pada Tanah Laut karena potensi agraris dan tambangnya. Pada abad ke-19, Belanda membangun benteng di Pelaihari untuk mengamankan jalur logistik. Peristiwa sejarah yang paling monumental adalah Pertempuran Batakan dan perlawanan di Gunung Lebak Naga. Tokoh lokal seperti Haji Buyasin menjadi simbol resistensi; ia dikenal sebagai panglima perang yang lihai dalam taktik gerilya melawan serdadu Belanda di hutan-hutan Tanah Laut. Keberaniannya diabadikan melalui nama-nama jalan dan monumen di ibu kota kabupaten.

Perjuangan Kemerdekaan dan Pembentukan Kabupaten

Pasca-proklamasi 1945, semangat kemerdekaan di Tanah Laut dikobarkan oleh organisasi ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Tokoh-tokoh seperti H. Boejasin (Haji Buyasin) terus berjuang memastikan kedaulatan RI di bumi tuntung pandang. Secara administratif, Tanah Laut awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Banjar. Namun, melalui aspirasi masyarakat yang kuat, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1965 secara resmi menetapkan berdirinya Kabupaten Tanah Laut pada tanggal 2 Desember 1965, dengan Pelaihari sebagai pusat pemerintahan.

Warisan Budaya dan Situs Sejarah

Tanah Laut memiliki kekayaan sosiokultural yang unik, perpaduan antara budaya Banjar, Jawa (melalui program transmigrasi awal tahun 1950-an), dan Madura. Tradisi "Balian" di kawasan pegunungan dan ritual syukuran laut di pesisir menjadi bukti sinkretisme budaya. Situs sejarah yang menonjol meliputi Tugu Proklamasi di Pelaihari dan sisa-sisa peninggalan kolonial di daerah tambang tua.

Perkembangan Modern

Kini, Tanah Laut telah bertransformasi dari wilayah agraris tradisional menjadi pusat industri energi dan perkebunan di Kalimantan Selatan. Keberadaan Pelabuhan Pelaihari dan pengembangan kawasan industri memperkuat posisinya dalam konstelasi ekonomi nasional. Sejarah panjang dari perlawanan terhadap penjajah hingga kemandirian administratif menjadikan Tanah Laut wilayah yang terus menjaga identitas lokalnya di tengah arus modernisasi.

Geography

#

Geografi Kabupaten Tanah Laut: Jantung Selatan Kalimantan

Kabupaten Tanah Laut merupakan wilayah strategis di Provinsi Kalimantan Selatan yang mencakup area seluas 3.822,46 km². Secara administratif dan geografis, wilayah ini terletak di bagian selatan Pulau Kalimantan, namun posisinya berada di titik sentral konektivitas provinsi. Meskipun memiliki garis pantai yang panjang di dunia nyata, dalam tinjauan spesifik ini, fokus diarahkan pada karakteristik daratan utamanya yang berbatasan dengan empat wilayah administratif yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Laut Jawa di sisi selatannya.

##

Topografi dan Bentang Alam

Bentang alam Tanah Laut sangat bervariasi, mulai dari dataran rendah yang landai hingga kawasan perbukitan yang bergelombang. Di bagian tengah dan utara, topografi didominasi oleh Pegunungan Meratus yang membentang, menciptakan pemandangan lembah dan puncak-puncak hijau. Salah satu fitur geografis yang ikonik adalah Gunung Kayangan dan Gunung Keramaian yang menjadi penanda ketinggian di wilayah ini. Struktur tanahnya terdiri dari podsolik merah kuning di area perbukitan dan aluvial di wilayah lembah sungai, yang memberikan rona warna tanah yang khas sesuai namanya, "Tanah Laut".

##

Sistem Perairan dan DAS

Kabupaten ini dialiri oleh beberapa sungai penting yang berfungsi sebagai urat nadi drainase alami dan sarana irigasi. Sungai Maluka dan Sungai Tabanio adalah dua aliran utama yang membelah daratan, menciptakan ekosistem riparian yang kaya. Di sela-sela perbukitan, terdapat banyak cekungan alami yang membentuk rawa pedalaman, berfungsi sebagai pengatur debit air alami saat musim penghujan serta habitat bagi fauna air tawar lokal.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Tanah Laut memiliki iklim tropis basah dengan pengaruh monsun yang kuat. Berada di posisi astronomis sekitar 3°30′33″ – 4°11′38″ Lintang Selatan, wilayah ini mengalami suhu udara rata-rata berkisar antara 24°C hingga 33°C. Musim kemarau biasanya terjadi antara bulan Agustus hingga Oktober, di mana vegetasi di perbukitan cenderung menguning, sementara musim penghujan yang intens terjadi pada Desember hingga Maret, yang seringkali meningkatkan volume air di lembah-lembah Meratus.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan mineral Tanah Laut sangat signifikan, terutama deposit batu bara, bijih besi, dan marmer yang terkandung dalam perut buminya. Di sektor agraris, wilayah ini merupakan lumbung jagung dan sentra peternakan sapi terbesar di Kalimantan Selatan berkat hamparan padang penggembalaan alami di area "tengah" yang terbuka. Secara ekologis, kawasan ini mencakup zona hutan hujan tropis pegunungan bawah yang menjadi rumah bagi spesies endemik seperti bekantan di area muara sungai dan berbagai jenis burung hutan di lereng pegunungan. Keanekaragaman hayati ini terjaga di kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai menara air bagi wilayah sekitarnya.

Culture

#

Kekayaan Budaya Tanah Laut: Permata Tradisi di Jantung Kalimantan Selatan

Tanah Laut, sebuah wilayah seluas 3.822,46 km² yang terletak di posisi strategis "tengah" Kalimantan Selatan, menyimpan kekayaan budaya yang merupakan perpaduan harmonis antara tradisi agraris dan nilai-nilai religius. Meski berbatasan dengan empat wilayah utama, Tanah Laut memiliki identitas budaya yang sangat distingtif.

##

Upacara Adat dan Tradisi Agraris

Kehidupan masyarakat Tanah Laut sangat dipengaruhi oleh siklus alam. Salah satu upacara adat yang paling menonjol adalah Mallasuang Manu, sebuah tradisi syukur masyarakat pesisir dan petani di wilayah seperti Takisung. Dalam ritual ini, ayam dilepaskan ke alam sebagai simbol pembebasan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Selain itu, tradisi Baayun Maulud dirayakan dengan semarak di masjid-masjid bersejarah, di mana bayi-bayi diayun dalam ayunan yang dihias janur dan kembang sarai sebagai bentuk doa keselamatan.

##

Seni Pertunjukan dan Musik Tradisional

Dunia seni Tanah Laut diwarnai oleh dentuman Kintung, alat musik bambu unik yang menghasilkan nada ritmis saat dipukul. Kintung sering mengiringi tarian tradisional atau menjadi hiburan saat musim panen. Dalam seni pertunjukan, Madihin tetap menjadi primadona; seni lisan anonim ini disampaikan oleh seorang pemaen (Pamadihinan) dengan gaya kocak namun sarat pesan moral. Tarian khas seperti Tari Giring-Giring juga sering dipentaskan untuk menyambut tamu agung, melambangkan kegembiraan dan kebersamaan masyarakat lokal.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Tanah Laut dikenal dengan kekayaan kulinernya yang unik. Salah satu ikon yang tak tergantikan adalah Soto Banjar versi Pelaihari, yang memiliki karakteristik kuah lebih kental dan aromatik. Namun, keunikan sejati terletak pada Jagung Rebus Takisung dan olahan Ikan Asin Sepat yang menjadi buah tangan wajib. Dari sisi hidangan penutup, Wadai (Kue) Bingka dan Ipau (lasagna ala Banjar) sering muncul dalam upacara adat dan festival budaya sebagai simbol kemakmuran.

##

Bahasa dan Dialek Lokal

Masyarakat menggunakan Bahasa Banjar Dialek Kuala, namun dengan intonasi yang lebih tegas dan cepat dibandingkan dialek di Banjarmasin. Terdapat beberapa ungkapan lokal yang hanya lazim didengar di wilayah Pelaihari dan sekitarnya, yang mencerminkan kedekatan sosial antarwarga.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Dalam acara resmi, masyarakat Tanah Laut mengenakan Sasirangan, kain tradisional Kalimantan Selatan dengan motif khusus yang dibuat melalui teknik jelujur. Motif yang sering digunakan adalah *Gigi Haruan* dan *Kembang Sakaki*. Pria biasanya mengenakan Laung (ikat kepala) sementara wanita menggunakan kebaya pendek yang dipadukan dengan kain sasirangan sebagai bawahan.

##

Festival Budaya dan Keagamaan

Setiap tahun, perayaan Hari Jadi Kabupaten Tanah Laut menjadi puncak pesta budaya. Dalam festival ini, ditampilkan berbagai perlombaan tradisional seperti Balogo (permainan menggunakan tempurung kelapa) dan Sumpit. Nilai religius juga sangat kuat, terlihat dari tradisi Haulan para ulama besar yang menarik ribuan peziarah, mempertegas identitas Tanah Laut sebagai wilayah yang memegang teguh nilai-nilai Islami dalam setiap sendi kehidupan budayanya.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Tanah Laut: Permata Tersembunyi di Kalimantan Selatan

Kabupaten Tanah Laut, yang terletak di posisi strategis bagian selatan Kalimantan Selatan, merupakan destinasi yang menawarkan harmoni antara bentang alam pegunungan dan garis pantai yang eksotis. Dengan luas wilayah mencapai 3.822,46 km², kabupaten yang beribu kota di Pelaihari ini menjadi magnet bagi pelancong yang mencari petualangan autentik jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

##

Keajaiban Alam: Antara Pesisir dan Dataran Tinggi

Meskipun secara administratif berada di tengah jalur transportasi provinsi, Tanah Laut memiliki garis pantai yang sangat ikonik. Pantai Takisung dan Pantai Batakan Baru adalah primadona lokal yang menawarkan pemandangan matahari terbenam yang memukau. Untuk pengalaman yang lebih tenang, Pantai Turki (Tungkaran Kiri) menyajikan pasir putih yang bersih dan air yang jernih.

Beralih ke dataran tinggi, Anda akan menemukan Bukit Lebak Naga dan Gunung Birah. Pendakian di sini memberikan panorama lanskap hijau yang menyegarkan mata. Selain itu, Air Terjun Bajuin yang terletak di kawasan lereng pegunungan Meratus menawarkan kesegaran air pegunungan yang dikelilingi hutan tropis yang masih asri.

##

Jejak Budaya dan Sejarah

Tanah Laut kaya akan nilai historis yang tercermin dari situs-situs lokalnya. Salah satu yang paling unik adalah keberadaan Tugu Kijang Mas di pusat kota Pelaihari yang menjadi simbol daerah. Bagi pecinta sejarah, sisa-situs peninggalan masa kolonial dan cerita rakyat tentang keberanian masyarakat lokal melawan penjajah dapat ditelusuri di beberapa desa adat. Kehidupan masyarakat yang heterogen antara suku Banjar dan transmigran menciptakan akulturasi budaya yang unik, terutama dalam upacara adat pertanian dan syukuran laut.

##

Petualangan dan Pengalaman Unik

Bagi pencari adrenalin, Bukit Telang menawarkan jalur *trekking* dengan pemandangan sabana layaknya di luar negeri. Salah satu pengalaman paling ikonik di Tanah Laut adalah mengunjungi Penangkaran Rusa Totol atau berinteraksi dengan kerbau rawa di kawasan perairan darat. Menjelajahi labirin alami di Taman Labirin Pelaihari juga menjadi aktivitas favorit keluarga yang mencari tantangan navigasi di tengah taman hijau yang tertata rapi.

##

Wisata Kuliner dan Keramahan Lokal

Perjalanan ke Tanah Laut tidak lengkap tanpa mencicipi Ikan Seluang goreng yang renyah atau Gangan Asam Banjar dengan ikan patin segar. Jangan lewatkan juga camilan khas seperti Kerupuk Ikan asli buatan nelayan lokal. Keramahan penduduk lokal tercermin dari banyaknya homestay berbasis komunitas yang memungkinkan wisatawan merasakan langsung kehidupan pedesaan. Di pusat kota, tersedia berbagai pilihan hotel melati hingga hotel berbintang yang nyaman.

##

Tips Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Tanah Laut adalah pada musim kemarau (Mei hingga September), saat langit cerah dan akses menuju puncak bukit tidak licin. Pastikan untuk membawa perlengkapan luar ruangan yang memadai untuk memaksimalkan eksplorasi Anda di salah satu kabupaten paling mempesona di Kalimantan Selatan ini.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Tanah Laut: Kekuatan Agraris dan Industri di Kalimantan Selatan

Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu pilar ekonomi terpenting di Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah mencapai 3.822,46 km², kabupaten ini memiliki posisi strategis di bagian selatan pulau, yang meskipun secara administratif sering dikaitkan dengan pedalaman, sebenarnya memiliki garis pantai yang panjang sebagai pintu gerbang logistik. Struktur ekonominya merupakan perpaduan harmonis antara sektor primer, industri pengolahan, dan jasa.

Sektor Pertanian dan Perkebunan sebagai Tulang Punggung

Dominasi ekonomi Tanah Laut berakar pada sektor pertanian. Kabupaten ini dikenal sebagai lumbung jagung dan padi bagi Kalimantan Selatan. Integrasi antara perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi—yang dikenal dengan sistem SISKA (Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit)—menjadi model percontohan nasional. Selain sawit, karet merupakan komoditas unggulan yang menghidupi ribuan petani lokal. Keberadaan lahan yang subur di wilayah tengah memastikan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.

Industrialisasi dan Hilirisasi

Berbeda dengan banyak wilayah lain yang hanya mengandalkan bahan mentah, Tanah Laut telah melangkah ke tahap hilirisasi. Kawasan Industri Jorong menjadi pusat pertumbuhan baru yang menarik investasi besar. Di sini, pengolahan bijih besi dan industri pakan ternak berkembang pesat. Kehadiran perusahaan-perusahaan besar seperti PT Japfa Comfeed dan berbagai pabrik pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) menciptakan multiplier effect terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dan pertumbuhan UMKM di sekitarnya.

Kekayaan Maritim dan Pariwisata

Meskipun dalam beberapa klasifikasi administratif sering dianggap sebagai wilayah daratan tengah, Tanah Laut secara geografis memiliki sektor maritim yang kuat melalui Kecamatan Takisung dan Panyipatan. Sektor perikanan tangkap dan budidaya tambak menyumbang devisa signifikan. Sektor pariwisata juga menjadi penggerak ekonomi kreatif, dengan destinasi ikonik seperti Pantai Takisung, Pantai Batakan, dan Bukit Keramaian yang mendorong pertumbuhan sektor perhotelan dan kuliner.

Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal

Ekonomi kerakyatan di Tanah Laut diwarnai oleh kerajinan khas seperti anyaman purun dan kain Sasirangan bermotif Tuntung Pandang. Produk-produk ini kini mulai menembus pasar nasional melalui digitalisasi UMKM. Selain itu, produksi kerupuk ikan dan amplang dari pesisir Tanah Laut menjadi komoditas oleh-oleh utama yang memperkuat arus kas di tingkat akar rumput.

Infrastruktur dan Tren Ketenagakerjaan

Pemerintah daerah terus memacu pembangunan infrastruktur transportasi, terutama akses jalan yang menghubungkan Pelabuhan Pelaihari dengan pusat-pusat produksi. Hal ini krusial untuk menekan biaya logistik distribusi barang. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor agraris tradisional menuju sektor jasa dan manufaktur, seiring dengan meningkatnya kualifikasi tenaga kerja lokal melalui pusat pelatihan kerja. Dengan stabilitas ekonomi yang terjaga, Tanah Laut terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Selatan.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Kabupaten Tanah Laut, yang terletak di posisi tengah (sentral) Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan wilayah strategis dengan luas daratan mencapai 3.822,46 km². Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan empat wilayah administratif—Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Laut Jawa di sisi selatan—Tanah Laut memiliki karakteristik kependudukan yang dinamis sebagai titik temu ekonomi dan mobilitas regional.

Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, populasi Tanah Laut telah melampaui angka 350.000 jiwa. Dengan luas wilayah yang ada, kepadatan penduduk rata-rata berkisar antara 90 hingga 95 jiwa per km². Namun, distribusi penduduk tidak merata; konsentrasi tertinggi berada di Kecamatan Pelaihari sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, sementara wilayah seperti Kurau dan Takisung memiliki kepadatan yang lebih rendah namun menjadi sentra agraris dan perikanan.

Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya

Demografi Tanah Laut sangat unik karena mencerminkan sejarah transmigrasi yang masif. Suku Banjar sebagai penduduk asli hidup berdampingan secara harmonis dengan komunitas Suku Jawa yang sangat signifikan jumlahnya, terutama di wilayah-wilayah eks-transmigrasi. Selain itu, terdapat populasi Suku Bugis, Madura, dan Sunda. Keberagaman ini menciptakan lanskap budaya yang plural, di mana bahasa Banjar digunakan sebagai lingua franca, namun dialek Jawa tetap lestari di kantong-kantong pedesaan.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Tanah Laut memiliki struktur penduduk muda dengan bentuk piramida ekspansif. Sebagian besar penduduk berada pada kelompok usia produktif (15-64 tahun), yang memberikan potensi bonus demografi bagi sektor industri pengolahan dan perkebunan. Angka ketergantungan (dependency ratio) terus menurun seiring dengan meningkatnya partisipasi angkatan kerja di sektor formal.

Pendidikan dan Literasi

Tingkat melek huruf di Tanah Laut sangat tinggi, mencapai di atas 98%. Pemerintah daerah secara konsisten meningkatkan akses pendidikan melalui pembangunan SMK berbasis kompetensi industri dan pertanian. Meskipun mayoritas penduduk tamat tingkat SMA, tren melanjutkan ke perguruan tinggi di Kota Banjarbaru atau Banjarmasin terus meningkat, mencerminkan kesadaran akan mobilitas vertikal melalui pendidikan.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Dinamika kependudukan dipengaruhi oleh migrasi masuk yang dipicu oleh sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Terjadi pergeseran pola dari agraris murni menuju semi-industrial, yang mendorong urbanisasi di koridor jalan trans-Kalimantan. Migrasi musiman juga sering terjadi, di mana penduduk dari luar daerah datang untuk bekerja di sektor ekstraktif, yang memperkaya keragaman demografis sekaligus menantang penyediaan infrastruktur pemukiman yang berkelanjutan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi berdirinya Candi Agung, sebuah situs peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang dibangun oleh Empu Jatmika pada abad ke-14.
  • 2.Tradisi memelihara kerbau rawa (Bubalus bubalis) secara turun-temurun dilakukan di lahan basah yang luas, di mana hewan-hewan tersebut mahir berenang untuk mencari makan.
  • 3.Kawasan ini didominasi oleh ekosistem rawa monoton yang sangat luas dan menjadi bagian dari daerah aliran sungai (DAS) Negara.
  • 4.Pusat kotanya dikenal sebagai Kota Bertakwa dan sangat populer dengan kuliner khas berbahan dasar daging bebek yang disebut Itik Alabio.

Destinasi di Tanah Laut

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Kalimantan Selatan

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Tanah Laut dari siluet petanya?