Monumen Palagan Lengkong
di Tangerang Selatan, Banten
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Latar Belakang Sejarah: Tragedi 25 Januari 1946
Berdirinya Monumen Palagan Lengkong berakar pada peristiwa berdarah yang terjadi pada tanggal 25 Januari 1946. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, situasi di wilayah Tangerang masih sangat fluktuatif karena keberadaan tentara Jepang yang belum sepenuhnya dilucuti, sementara pasukan Sekutu (NICA) mulai masuk ke wilayah Indonesia.
Peristiwa ini bermula ketika Mayor Daan Mogot, Direktur Akademi Militer Tangerang yang saat itu baru berusia 17 tahun, memimpin sebuah misi diplomasi militer. Misinya adalah melucuti senjata pasukan Jepang yang bermarkas di Desa Lengkong untuk mencegah senjata-senjata tersebut jatuh ke tangan NICA. Daan Mogot didampingi oleh dua perwira lainnya, yakni Letnan Satu Soebianto Djojohadikoesoemo (paman dari Presiden Prabowo Subianto) dan Letnan Satu Soetopo, serta puluhan taruna akademi.
Awalnya, proses negosiasi berjalan dengan damai. Komandan Jepang, Kapten Abe, setuju untuk menyerahkan senjata. Namun, saat proses pelucutan senjata sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan dari arah yang tidak diketahui. Hal ini memicu kesalahpahaman fatal. Pasukan Jepang yang mengira mereka dijebak segera mengambil kembali senjata mereka dan melepaskan tembakan membabi buta ke arah para taruna yang berada di lapangan terbuka. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, 33 taruna dan 3 perwira gugur, termasuk Mayor Daan Mogot.
Arsitektur dan Detail Konstruksi Monumen
Monumen Palagan Lengkong dirancang dengan gaya arsitektur modernis yang mengedepankan simbolisme perjuangan. Konstruksi utamanya terdiri dari sebuah dinding beton melengkung yang menyerupai benteng pertahanan. Di bagian tengah dinding tersebut, terdapat relief tembaga yang menggambarkan kronologi Peristiwa Lengkong, mulai dari kedatangan pasukan taruna hingga pecahnya pertempuran di barak Jepang.
Salah satu elemen yang paling mencolok adalah prasasti hitam yang memuat nama-nama para pahlawan yang gugur dalam peristiwa tersebut. Di sisi kiri monumen, terdapat sebuah rumah tua bergaya kolonial yang merupakan bangunan asli bekas markas tentara Jepang (Kido Butai). Bangunan ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari kompleks monumen untuk memberikan konteks sejarah yang otentik.
Struktur monumen ini juga mencakup area pelataran luas yang sering digunakan untuk upacara militer. Penggunaan material batu alam dan beton ekspos memberikan kesan kokoh dan abadi, melambangkan semangat para taruna yang tidak pernah padam meskipun mereka gugur di usia yang sangat muda.
Signifikansi Sejarah dan Tokoh-Tokoh Kunci
Signifikansi Monumen Palagan Lengkong terletak pada statusnya sebagai monumen pengingat "Pertempuran Taruna" pertama di Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya peran kaum intelektual muda militer dalam mempertahankan kemerdekaan. Akademi Militer Tangerang sendiri merupakan cikal bakal dari Akademi Militer (Akmil) yang sekarang berada di Magelang.
Beberapa tokoh kunci yang diabadikan di sini meliputi:
1. Mayor Daan Mogot: Seorang jenius militer muda yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Tangerang.
2. Lettu Soebianto Djojohadikoesoemo: Perwira muda yang juga gugur dalam peristiwa tersebut, yang berasal dari keluarga pejuang nasional terkemuka.
3. Lettu Soetopo: Rekan seperjuangan Daan Mogot yang turut tewas dalam upaya diplomasi tersebut.
Keunikan sejarah dari situs ini adalah adanya pesan terakhir yang ditulis oleh salah satu taruna di dinding barak sebelum ia menghembuskan napas terakhir, yang isinya menegaskan bahwa mereka mati demi negara dan bangsa, bukan demi kepentingan pribadi.
Pelestarian dan Status Restorasi
Sebagai bagian dari Cagar Budaya di Provinsi Banten, Monumen Palagan Lengkong mendapatkan perhatian khusus dalam hal konservasi. Meskipun lokasinya kini dikelilingi oleh lapangan golf dan pemukiman mewah, Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama dengan keluarga besar TNI terus berupaya menjaga keaslian situs ini.
Restorasi besar dilakukan pada tahun 1993 dan terus mengalami renovasi kecil secara berkala untuk menjaga kebersihan relief serta kekuatan struktur dinding monumen. Area di sekitar monumen juga telah ditata menjadi taman sejarah yang edukatif. Pemerintah daerah secara rutin mengadakan kegiatan napak tilas dan upacara peringatan setiap tanggal 25 Januari, yang dihadiri oleh pejabat militer, veteran, dan keluarga ahli waris korban.
Fungsi Sosial dan Edukasi Budaya
Bagi masyarakat Tangerang Selatan, monumen ini bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan pusat edukasi nilai-nilai patriotisme. Banyak sekolah di wilayah Banten menjadikan Monumen Palagan Lengkong sebagai tujuan wajib dalam studi lapangan sejarah lokal. Keberadaan situs ini sangat penting untuk memberikan identitas sejarah bagi kota satelit seperti Tangerang Selatan yang didominasi oleh modernitas.
Secara budaya, situs ini juga menjadi pengingat akan keragaman pejuang Indonesia. Para taruna yang gugur berasal dari berbagai latar belakang etnis dan daerah, namun bersatu di bawah satu komando untuk kedaulatan Republik Indonesia. Hal ini mencerminkan nilai Bhinneka Tunggal Ika yang tertanam kuat sejak awal berdirinya negara.
Kesimpulan: Warisan yang Tak Terlupakan
Monumen Palagan Lengkong berdiri sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan harga yang sangat mahal. Tragedi di hutan jati Lengkong pada tahun 1946 adalah bukti nyata bahwa keberanian tidak mengenal usia. Melalui pelestarian situs ini, generasi mendatang diharapkan dapat memetik pelajaran tentang pentingnya diplomasi, waspada terhadap provokasi, dan yang terpenting, memiliki rasa cinta tanah air yang tak tergoyahkan. Monumen ini akan tetap menjadi titik koordinat penting dalam peta sejarah perjuangan bangsa di tanah Banten.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tangerang Selatan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tangerang Selatan
Pelajari lebih lanjut tentang Tangerang Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tangerang Selatan