Kuliner Legendaris

Akau Potong Lembu

di Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Akar Sejarah dan Filosofi Nama

Nama "Akau Potong Lembu" menyimpan sejarah yang berlapis. "Akau" sebenarnya merujuk pada nama seorang tokoh perintis, yakni mendiang Akau, yang mulai berjualan kopi dan makanan ringan di kawasan tersebut pada era 1960-an. Sementara itu, "Potong Lembu" adalah nama jalan dan kawasan yang dahulu memang menjadi pusat rumah pemotongan hewan.

Seiring berjalannya waktu, tempat ini bertransformasi dari sekadar kedai kopi di pinggir jalan menjadi sebuah pujasera (pusat jajanan serba ada) terbuka yang menampung puluhan pedagang. Keberadaan Akau bukan hanya tentang urusan perut, melainkan simbol asimilasi budaya antara etnis Tionghoa (Teochew dan Hokkien) dengan masyarakat lokal Melayu. Di sinilah interaksi sosial terjadi secara cair di atas meja-meja kayu sederhana.

Atmosfer dan Ritual Makan Malam

Akau Potong Lembu baru mulai menggeliat saat matahari terbenam. Begitu senja menyapa, deretan gerobak mulai tertata rapi, dan lampu-lampu neon mulai menerangi area terbuka yang luas. Suasana riuh rendah suara koki yang menghentakkan sudit di atas kuali besi (wok) menjadi musik pengiring bagi para pengunjung.

Budaya makan di sini sangat komunal. Pengunjung datang berkelompok, mencari meja kosong di tengah lapangan, lalu berpencar memesan berbagai hidangan dari gerobak yang berbeda. Salah satu keunikan Akau adalah sistem pembayarannya yang tradisional; Anda memesan, makanan diantar, dan Anda membayar langsung kepada pedagang tersebut saat hidangan tiba di meja.

Hidangan Ikonik dan Rahasia Dapur Akau

Akau Potong Lembu adalah surga bagi pencinta street food dengan kualitas rasa restoran bintang lima. Beberapa hidangan telah menjadi legenda karena resepnya yang dijaga secara turun-temurun oleh keluarga pedagang.

#

1. Gonggong: Siput Laut Khas Kepulauan Riau

Gonggong adalah primadona di Akau. Siput laut endemik ini direbus dengan garam dan jahe untuk menghilangkan aroma amis. Cara menikmatinya sangat unik; daging siput ditarik keluar dari cangkangnya menggunakan tusuk gigi, lalu dicocol ke dalam sambal kacang pedas asam yang khas. Teksturnya kenyal dan gurih, menyimpan cita rasa laut yang murni.

#

2. Mie Lendir: Keajaiban Kuah Kacang

Meskipun namanya terdengar unik, Mie Lendir adalah sarapan yang bertransformasi menjadi hidangan malam favorit di Akau. Terdiri dari mie kuning yang disiram kuah kental berwarna cokelat yang terbuat dari kacang tanah, ubi jalar, dan rempah-rempah. Perpaduan rasa manis dan gurih, ditambah irisan cabai rawit dan telur rebus, memberikan sensasi hangat di tenggorokan.

#

3. Siput Isap (Luti Gendang dan Masakan Laut)

Selain gonggong, siput isap yang dimasak dengan bumbu tauco atau saus pedas juga menjadi buruan. Teknik memasaknya melibatkan pemotongan ujung cangkang agar bumbu meresap ke dalam dan memudahkan pengunjung untuk "mengisap" dagingnya keluar. Ini adalah seni makan yang memerlukan kesabaran dan teknik tersendiri.

#

4. Kwetiau Goreng dan Orh Jian (Dadar Tiram)

Kwetiau di Akau dimasak dengan teknik Wok Hei (nafas kuali), di mana api besar menyentuh permukaan kuali sehingga memberikan aroma asap yang khas. Orh Jian atau dadar tiram di sini menggunakan tiram segar yang dicampur dengan adonan tepung tapioka dan telur, menghasilkan tekstur yang renyah di pinggir namun kenyal di tengah.

Teknik Memasak Tradisional dan Warisan Rasa

Salah satu alasan mengapa rasa makanan di Akau sulit ditiru di tempat lain adalah penggunaan alat masak tradisional. Banyak pedagang masih menggunakan arang untuk memanggang atau menggoreng. Penggunaan arang memberikan suhu panas yang stabil dan aroma asap yang tidak bisa dihasilkan oleh kompor gas modern.

Resep-resep yang digunakan umumnya adalah resep keluarga yang tidak tertulis. Takaran bumbu dilakukan berdasarkan insting dan pengalaman selama berpuluh-puluh tahun. Misalnya, dalam pembuatan bumbu kacang untuk satay atau mie lendir, kacang tanah disangrai secara manual untuk memastikan minyak alaminya keluar dengan sempurna tanpa rasa gosong.

Kopi Akau: Jiwa dari Sebuah Legenda

Tidak boleh melupakan Kedai Kopi Akau yang menjadi cikal bakal kawasan ini. Kopi yang disajikan adalah kopi hitam khas lokal (Kopi O) yang diseduh menggunakan filter kain panjang atau "kaos kaki". Biji kopinya biasanya digoreng dengan mentega dan gula (torrefacto), menghasilkan rasa pahit yang pekat dengan aroma karamel yang kuat. Menikmati kopi ini sambil menyantap roti bakar srikaya yang selainya dibuat sendiri (home-made) adalah ritual wajib bagi pengunjung setia.

Konteks Budaya dan Keberlanjutan

Akau Potong Lembu adalah representasi nyata dari konsep "Bhineka Tunggal Ika" di tingkat lokal. Di sini, pedagang Muslim dan non-Muslim berjualan berdampingan dengan harmonis. Meskipun banyak hidangan laut dan mie yang tersedia, para pedagang sangat memahami sensitivitas lokal terkait makanan halal, sehingga pengunjung memiliki banyak pilihan yang aman dan jelas.

Pemerintah Kota Tanjungpinang baru-baru ini melakukan revitalisasi pada kawasan Akau Potong Lembu untuk meningkatkan kenyamanan, seperti perbaikan drainase, penataan meja, dan pemasangan atap pelindung di beberapa titik agar pengunjung tidak kehujanan. Namun, esensi dari "makan di pinggir jalan" tetap dipertahankan agar nilai historisnya tidak hilang.

Mengapa Akau Tak Tergantikan?

Di tengah gempuran kafe modern dan pusat perbelanjaan, Akau Potong Lembu tetap berdiri kokoh. Kekuatannya terletak pada memori kolektif masyarakat. Bagi warga Tanjungpinang yang merantau, Akau adalah tempat pertama yang dikunjungi saat pulang kampung. Ada rasa rindu yang terobati dalam setiap suapan mie atau seruputan kopi di bawah remang lampu jalanan.

Akau bukan hanya tentang kualitas bahan pangan yang segar—yang diambil langsung dari perairan Kepulauan Riau yang kaya—tetapi juga tentang dedikasi para pedagangnya. Banyak dari mereka adalah generasi kedua atau ketiga yang melanjutkan usaha orang tua mereka, menjaga agar api di kuali tetap menyala dan rasa tetap konsisten seperti saat Akau pertama kali membuka kedainya.

Penutup bagi Para Pelancong

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang, Akau Potong Lembu menawarkan pengalaman sensorik yang lengkap. Suara bising kuali, kepulan asap yang membawa aroma bawang putih goreng, serta canda tawa warga lokal menciptakan simfoni yang menghangatkan jiwa. Ini adalah tempat di mana sejarah bisa dicicipi, dan budaya bisa dirasakan melalui sepotong hidangan laut segar. Akau Potong Lembu bukan sekadar destinasi kuliner; ia adalah jantung hati Tanjungpinang yang terus berdenyut, menyajikan kelezatan yang melampaui waktu.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Potong Lembu, Kecamatan Tanjungpinang Barat
entrance fee
Gratis (Hanya membayar makanan)
opening hours
Setiap hari, 17:00 - 00:00

Tempat Menarik Lainnya di Tanjungpinang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tanjungpinang

Pelajari lebih lanjut tentang Tanjungpinang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tanjungpinang