Situs Sejarah

Benteng Torre

di Tidore Kepulauan, Maluku Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Hegemoni Portugis di Tanah Para Raja: Sejarah Lengkap Benteng Torre

Benteng Torre berdiri kokoh di atas perbukitan Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Sebagai salah satu situs cagar budaya paling signifikan di wilayah Indonesia Timur, benteng ini bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan saksi bisu dari pergolakan geopolitik global pada abad ke-16, di mana rempah-rempah menjadi komoditas yang lebih berharga daripada emas.

#

Asal-Usul dan Konteks Pembangunan

Benteng Torre dibangun pada tahun 1578 oleh bangsa Portugis. Nama "Torre" sendiri diyakini merujuk pada nama Kapten Portugis yang memimpin pembangunannya saat itu, yaitu Sancho de Vasconcelos. Pembangunan benteng ini merupakan bagian dari upaya Portugis untuk menancapkan pengaruh politik dan ekonominya di Kesultanan Tidore, setelah mereka sebelumnya terusir dari Ternate akibat perlawanan Sultan Baabullah.

Secara strategis, pemilihan lokasi di perbukitan Soasio tidaklah sembarangan. Dari titik ini, pasukan Portugis memiliki jarak pandang yang luas ke arah laut, memungkinkan mereka untuk memantau lalu lintas kapal di Selat Bastiong yang memisahkan Pulau Ternate dan Pulau Tidore. Posisi ini juga memberikan keuntungan pertahanan yang luar biasa, karena musuh harus mendaki lereng yang curam untuk mencapai gerbang utama.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Benteng Torre memiliki karakteristik arsitektur militer Eropa abad pertengahan yang diadaptasi dengan kondisi geografis lokal. Struktur bangunannya berbentuk menyerupai huruf "L" yang tidak simetris, mengikuti kontur tanah perbukitan yang tidak rata. Material utama yang digunakan adalah batu gunung (andesit) dan karang, yang direkatkan menggunakan campuran kapur dan pasir.

Salah satu fitur paling mencolok dari Benteng Torre adalah keberadaan bastion atau menara pengintai di sudut-sudutnya. Menara-menara ini dilengkapi dengan lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai celah untuk moncong meriam dan posisi menembak bagi para serdadu. Ketebalan dindingnya mencapai lebih dari satu meter, dirancang untuk menahan gempuran artileri kapal perang dari arah laut.

Di dalam area benteng, terdapat sisa-sisa fondasi ruang bawah tanah yang konon digunakan sebagai gudang amunisi dan ruang logistik. Keunikan lain dari konstruksi ini adalah sistem drainasenya yang cukup maju pada masanya, memastikan bahwa air hujan tidak menggenangi area dalam benteng yang dapat merusak struktur pondasi.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Benteng Torre merupakan simbol dari dinamika hubungan antara kekuasaan kolonial dan kekuasaan lokal. Berbeda dengan hubungan di Ternate yang sering kali diwarnai konflik terbuka, di Tidore, Portugis cenderung menjalin aliansi strategis dengan Kesultanan Tidore untuk menandingi pengaruh Spanyol dan Belanda.

Pada masa kejayaannya, benteng ini menjadi pusat pengawasan perdagangan cengkih. Setiap kapal yang melintas harus melaporkan muatannya, dan dari sinilah Portugis berusaha memonopoli arus keluar rempah-rempah dari Maluku Utara menuju pasar Eropa. Namun, dominasi ini tidak bertahan selamanya. Seiring dengan kemunculan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dari Belanda, kedudukan Portugis di Tidore mulai goyah.

Salah satu fakta unik adalah bahwa Benteng Torre pernah menjadi titik pengintaian yang krusial selama konflik antara Spanyol dan Belanda di perairan Maluku. Meskipun Spanyol kemudian membangun Benteng Tahula yang lokasinya tidak jauh dari Torre, Benteng Torre tetap dipertahankan karena nilai strategis ketinggiannya yang lebih unggul.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Selain Sancho de Vasconcelos, nama Sultan Gapi Baguna dari Tidore sering dikaitkan dengan periode awal keberadaan benteng ini. Kebijakan diplomasi Sultan saat itu memungkinkan Portugis membangun basis di wilayahnya sebagai penyeimbang kekuatan. Selain itu, benteng ini juga menjadi latar belakang dari persaingan sengit antara dua kekuatan kolonial Katolik, yakni Portugis dan Spanyol, sebelum akhirnya keduanya harus tunduk pada kekuatan maritim Belanda yang lebih modern.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Selama berabad-abad, Benteng Torre sempat terlupakan dan tertutup oleh vegetasi hutan tropis. Kerusakan akibat cuaca dan kurangnya perawatan sempat membuat beberapa bagian dinding runtuh. Namun, kesadaran akan pentingnya nilai sejarah situs ini mendorong Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Maluku Utara untuk melakukan upaya restorasi besar-besaran.

Restorasi yang dilakukan pada awal tahun 2000-an berhasil mengembalikan bentuk asli benteng tanpa menghilangkan nilai otentisitasnya. Saat ini, Benteng Torre telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Nasional. Pemerintah Kota Tidore Kepulauan juga telah membangun akses jalan yang lebih baik (berupa tangga beton) serta fasilitas pendukung bagi wisatawan, menjadikannya salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Maluku Utara.

#

Makna Budaya dan Lanskap Saat Ini

Bagi masyarakat Tidore, Benteng Torre bukan sekadar monumen penjajahan, melainkan bukti bahwa Tidore pernah menjadi panggung utama dalam sejarah dunia. Situs ini memiliki nilai edukasi yang tinggi bagi generasi muda untuk memahami posisi penting Kepulauan Rempah dalam pembentukan sejarah global.

Secara visual, Benteng Torre saat ini menawarkan pemandangan yang spektakuler. Pengunjung yang berdiri di atas benteng dapat melihat panorama Gunung Gamalama di Ternate, garis pantai Halmahera, serta kemegahan Gunung Marijang di belakangnya. Keindahan lanskap ini dipadukan dengan taman di sekitar benteng yang tertata rapi, menciptakan harmoni antara peninggalan militer yang kaku dan keindahan alam yang asri.

Banyak peneliti sejarah dan arkeolog masih tertarik untuk menggali lebih dalam potensi arkeologis di sekitar Benteng Torre, karena diyakini masih terdapat artefak-artefak terpendam yang dapat menjelaskan lebih detail mengenai kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Tidore dan serdadu Portugis pada masa transisi abad ke-16 ke abad ke-17. Benteng Torre tetap berdiri tegak, menjadi mercusuar sejarah yang mengingatkan kita pada kejayaan masa lalu di Bumi Moloku Kieraha.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Soasio, Kota Tidore, Tidore Kepulauan
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Tidore Kepulauan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tidore Kepulauan

Pelajari lebih lanjut tentang Tidore Kepulauan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tidore Kepulauan