Tidore Kepulauan

Epic
Maluku Utara
Luas
1.686,76 km²
Posisi
utara
Jumlah Tetangga
5 wilayah
Pesisir
Ya

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah Gemilang Tidore Kepulauan: Sang Penguasa Timur

Tidore Kepulauan, sebuah wilayah seluas 1.686,76 km² di Maluku Utara, bukan sekadar gugusan pulau vulkanis, melainkan episentrum sejarah rempah dunia. Sebagai wilayah pesisir yang didominasi oleh Gunung Api Kie Matubu, Tidore memegang status "Epic" dalam narasi sejarah Nusantara karena pengaruh politik dan spiritualnya yang menjangkau hingga wilayah Papua dan Pasifik.

##

Akar Kesultanan dan Masa Keemasan

Asal-usul Tidore bermula dari kepemimpinan Ciri Liyati yang naik takhta pada tahun 1081. Namun, transformasi besar terjadi saat Kolano Syahjati memeluk Islam, yang kemudian memantapkan identitas Tidore sebagai Kesultanan Islam. Puncak kejayaan Tidore dicapai pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1738–1805), yang dijuluki Jou Barakati (Tuan yang Diberkati). Sultan Nuku berhasil menyatukan kekuatan Tidore dengan wilayah-wilayah di Papua dan Halmahera untuk melawan dominasi asing, menjadikannya salah satu pahlawan nasional yang paling disegani karena taktik gerilyanya di laut.

##

Era Kolonial dan Persaingan Global

Letak strategisnya di bagian utara kepulauan rempah membuat Tidore menjadi rebutan bangsa Eropa. Berbeda dengan Ternate yang awalnya beraliansi dengan Portugis, Tidore membuka hubungan diplomatik dengan Spanyol. Pada 8 November 1521, kapal *Victoria* dan *Trinidad* dari ekspedisi Magelhaens-Elcano tiba di Tidore, menandai persinggahan pertama bangsa Spanyol di wilayah ini. Persaingan antara dua kekuatan global ini memicu pembangunan benteng-benteng pertahanan, seperti Benteng Tahula yang dibangun Spanyol dan Benteng Tore. Selama berabad-abad, Tidore menjadi simbol perlawanan terhadap monopoli VOC Belanda yang berusaha menghancurkan pohon cengkih melalui kebijakan ekstirpasi.

##

Peran dalam Kemerdekaan dan Integrasi Papua

Tidore memiliki kontribusi unik dalam sejarah modern Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, tepatnya tahun 1956, Soekarno menetapkan Soasiu (ibu kota Tidore) sebagai Ibu Kota Provinsi Perjuangan Irian Barat. Penunjukan ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa secara tradisional, wilayah Papua (seperti Raja Ampat) berada di bawah kedaulatan Kesultanan Tidore. Sultan Zainal Abidin Syah diangkat sebagai Gubernur pertama Irian Barat, yang mempertegas bahwa Papua adalah bagian integral dari kedaulatan Indonesia melalui ikatan sejarah dengan Tidore.

##

Warisan Budaya dan Pembangunan Modern

Hingga kini, Tidore menjaga warisan leluhurnya melalui tradisi Paji Nyili-Nyili, sebuah prosesi napak tilas perjuangan Sultan Nuku. Masyarakatnya masih memegang teguh filosofi Toma Loa Se Banari (Tegak di atas Kebenaran). Kota ini berbatasan langsung dengan lima wilayah strategis (Ternate, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan), menjadikannya simpul konektivitas di Maluku Utara. Pembangunan modern kini difokuskan pada pariwisata sejarah dan kelautan, tanpa meninggalkan identitas spiritualnya sebagai pusat peradaban Islam di timur Indonesia. Dengan lanskap pesisir yang eksotis dan situs sejarah yang terjaga, Tidore Kepulauan tetap berdiri tegak sebagai monumen hidup kejayaan maritim Nusantara.

Geography

#

Geografi Tidore Kepulauan: Zamrud Vulkanik di Maluku Utara

Tidore Kepulauan merupakan sebuah entitas administratif yang unik di Provinsi Maluku Utara. Dengan luas wilayah mencapai 1.686,76 km², wilayah ini tidak hanya mencakup Pulau Tidore sebagai pusat historis, tetapi juga sebagian daratan besar di Pulau Halmahera (Oba) serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Wilayah ini menyandang status "Epic" dalam konteks sejarah rempah dunia, memadukan lanskap vulkanik dramatis dengan dataran rendah yang subur.

##

Topografi dan Bentang Alam

Secara topografis, Tidore Kepulauan didominasi oleh perpaduan antara kerucut vulkanik yang curam dan pesisir yang landai. Fitur geografis yang paling ikonik adalah Gunung Kie Matubu (Puncak Tidore), sebuah gunung api strato setinggi 1.730 meter di atas permukaan laut. Lereng-lereng gunung ini membentuk lembah-lembah sempit yang mengalirkan air menuju pesisir. Sebaliknya, wilayah yang berada di daratan Pulau Halmahera (Kecamatan Oba) memiliki karakteristik medan yang berbeda, berupa perbukitan bergelombang dan dataran aluvial yang lebih luas dengan sistem sungai yang lebih kompleks, seperti Sungai Oba.

##

Posisi Strategis dan Garis Pantai

Posisinya berada di bagian utara dari provinsi Maluku Utara, secara astronomis terletak pada koordinat antara 0° - 1° Lintang Utara dan 127° - 128° Bujur Timur. Wilayah ini memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, yang menjadi jalur migrasi biota laut penting antara Laut Halmahera dan Laut Maluku. Pesisirnya dicirikan oleh ekosistem mangrove yang lebat di sisi timur dan pantai berpasir putih serta terumbu karang di sisi barat. Tidore berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif yang memperkuat konektivitas regionalnya, yaitu Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, dan Kabupaten Halmahera Tengah.

##

Iklim dan Variasi Musiman

Tidore Kepulauan dipengaruhi oleh iklim tropis laut yang sangat dipengaruhi oleh angin muson. Variasi musimnya terbagi menjadi Musim Utara yang membawa curah hujan tinggi dan angin kencang antara Desember hingga Maret, serta Musim Selatan yang cenderung lebih kering. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26°C hingga 32°C dengan kelembapan tinggi, menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan vegetasi hutan hujan tropis.

##

Sumber Daya Alam dan Biodiversitas

Kekayaan alam Tidore berakar pada sektor agrikultur dan kehutanan. Tanah vulkanik yang kaya nutrisi menjadikan wilayah ini sebagai penghasil utama cengkih dan pala berkualitas tinggi sejak berabad-abad lalu. Di sektor kehutanan, terdapat zonasi ekologi yang beragam dari hutan pantai hingga hutan pegunungan bawah. Biodiversitasnya mencakup spesies endemik Wallacea, termasuk burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) dan berbagai jenis kakatua. Selain itu, potensi mineral di daratan besar mencakup cadangan nikel dan emas, sementara wilayah perairannya menyimpan kekayaan pelagis yang melimpah, menjadikannya pilar ekonomi biru bagi Maluku Utara.

Culture

#

Kemegahan Budaya Tidore Kepulauan: Warisan Sang Kesultanan Maluku Utara

Tidore Kepulauan, sebuah wilayah seluas 1.686,76 km² di Maluku Utara, bukan sekadar titik geografis di utara khatulistiwa, melainkan jantung sejarah rempah dunia. Sebagai wilayah pesisir dengan status "Epic" dalam narasi sejarah Nusantara, Tidore memelihara tradisi Kesultanan yang masih hidup hingga hari ini.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Kehidupan masyarakat Tidore berpusat pada *Kedaton Kie* (Istana Tidore). Salah satu tradisi paling sakral adalah Paji Nyili-Nyili, sebuah prosesi membawa panji-panji kesultanan mengelilingi pulau untuk mengenang perjuangan Sultan Nuku. Selain itu, terdapat upacara Lufu Kie, ritual melaut mengelilingi Gunung Marijang menggunakan perahu tradisional Kora-Kora untuk memohon keselamatan dan keberkahan alam. Keharmonisan sosial dijaga melalui falsafah Marimoi Ternate Tidore, meskipun secara administratif berbeda, ikatan persaudaraan tetap dijunjung tinggi.

##

Kesenian: Tari, Musik, dan Pertunjukan

Seni pertunjukan Tidore didominasi oleh nuansa heroik dan spiritual. Tari Soya-Soya menjadi simbol patriotisme, sementara Tari Dana-Dana merupakan tarian pergaulan yang diiringi musik gambus dan perkusi khas. Musik tradisional Tidore menggunakan instrumen *Tifa* dan *Gong*, namun yang paling unik adalah pertunjukan Bambu Gila (Baramasuwen), di mana kekuatan supranatural dilibatkan untuk menggerakkan batang bambu yang dipegang oleh para pemuda kuat.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Rempah

Sebagai negeri rempah, kuliner Tidore adalah perpaduan hasil laut dan sagu. Papeda menjadi makanan pokok, sering disajikan dengan Ikan Kuah Kuning yang kaya akan kunyit dan kemangi. Hidangan unik lainnya adalah Popeda Sagu Bakar dan Uhu Fanyira. Jangan lewatkan Kopi Dulu, kopi khas Tidore yang diracik dengan rempah-rempah seperti jahe dan kayu manis, mencerminkan kekayaan alam setempat. Ada pula Lapis Tidore, kudapan manis yang sering muncul dalam perhelatan adat.

##

Bahasa dan Dialek

Masyarakat setempat menggunakan Bahasa Tidore, yang secara linguistik termasuk dalam rumpun bahasa non-Austronesia (Papua Barat). Dialeknya memiliki intonasi yang tegas namun santun. Ungkapan "Mari Moi Gheh" (Bersatu Kita Teguh) sering digaungkan sebagai pengingat persatuan. Pengaruh bahasa Melayu Ternate juga kuat dalam percakapan sehari-hari di pasar dan pelabuhan.

##

Busana dan Tekstil Tradisional

Pakaian adat Tidore mencerminkan strata sosial dan pengaruh Islam. Kaum pria menggunakan Baju Koat atau jas tutup dengan penutup kepala bernama Destar. Kaum wanita mengenakan Kebaya Kimono atau kebaya panjang yang dipadukan dengan kain sarung. Tekstil yang paling berharga adalah Batik Tubo, dengan motif cengkih dan pala yang merepresentasikan kejayaan masa lalu sebagai pusat perdagangan rempah.

##

Keagamaan dan Festival Budaya

Kehidupan religius di Tidore sangat kental dengan nafas Islam. Festival Kampung Nelayan Tomalou dan Hari Jadi Tidore adalah dua agenda besar yang menyatukan ritual doa dengan perayaan budaya. Tradisi Ratib Haddad masih rutin dilakukan di masjid-masjid tua sebagai bentuk zikir bersama untuk tolak bala. Sinergi antara otoritas Kesultanan dan nilai-nilai agama menciptakan tatanan masyarakat yang stabil dan penuh khidmat di utara Maluku ini.

Tourism

#

Menemukan Pesona Tidore Kepulauan: Permata Bersejarah di Maluku Utara

Terletak di posisi strategis bagian utara Kepulauan Maluku, Kota Tidore Kepulauan berdiri sebagai destinasi bertipe "Epic" dengan luas wilayah mencapai 1.686,76 km². Wilayah yang berbatasan dengan lima daerah tetangga ini menawarkan perpaduan magis antara kejayaan sejarah kesultanan dan bentang alam vulkanik yang dramatis.

##

Keindahan Alam: Dari Puncak Kie Matubu hingga Kedalaman Laut

Daya tarik utama Tidore adalah Gunung Kie Matubu, puncak tertinggi di Maluku Utara yang menawarkan pemandangan 360 derajat ke arah Pulau Ternate, Maitara, dan Halmahera. Bagi pecinta wisata pesisir, Pantai Akesahu menyajikan fenomena unik berupa pemandian air panas alami di tepi pantai yang rimbun. Tidak jauh dari sana, Pulau Maitara—yang diabadikan dalam uang kertas seribu rupiah lama—menyuguhkan gradasi air laut biru kristal dan terumbu karang yang masih sangat terjaga bagi para penyelam.

##

Jejak Sejarah dan Kemegahan Budaya

Sebagai bekas pusat salah satu kesultanan Islam terbesar di Nusantara, Tidore kaya akan situs bersejarah. Pengunjung dapat mengunjungi Kedaton Kie Kesultanan Tidore yang megah untuk melihat mahkota berambut (Cidako) yang dianggap sakral. Selain itu, jejak kolonial tertanam kuat di Benteng Tahula dan Benteng Tore. Berdiri di atas bukit batu, benteng-benteng peninggalan Spanyol ini memberikan perspektif unik tentang jalur rempah dunia di masa lampau.

##

Petualangan dan Pengalaman Unik

Bagi pencari adrenalin, mendaki jalur terjal Kie Matubu saat fajar adalah aktivitas wajib untuk berburu "negeri di atas awan". Pengalaman autentik lainnya adalah mengunjungi Desa Wisata Gurabunga yang berada di ketinggian. Di sini, wisatawan dapat merasakan kehidupan masyarakat lokal yang kental dengan tradisi agraris dan spiritualitas, serta melihat langsung proses pembuatan tenun tradisional.

##

Wisata Kuliner: Cita Rasa Rempah Asli

Perjalanan ke Tidore tidak lengkap tanpa mencicipi Popeda yang disajikan dengan Ikan Kuah Kuning yang kaya rempah. Cobalah Ubi Goreng dengan sambal Roa atau Gohu Ikan (sashimi khas Maluku) yang segar. Untuk buah tangan, Kue Lapis Tidore dan olahan kenari adalah pilihan terbaik yang mencerminkan kekayaan hasil bumi lokal.

##

Akomodasi dan Keramahtamahan Lokal

Masyarakat Tidore dikenal dengan filosofi "Poma Kayangan" (saling menghargai). Meskipun hotel berbintang terbatas, tersedia berbagai homestay nyaman dan penginapan tepi pantai yang menawarkan kehangatan keluarga lokal. Menginap di rumah penduduk memberikan kesempatan langka untuk terlibat dalam upacara adat atau sekadar menikmati teh sore bersama warga.

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu ideal untuk mengunjungi Tidore Kepulauan adalah antara bulan April hingga Oktober, saat cuaca cenderung cerah dan laut tenang, sangat mendukung untuk aktivitas snorkeling dan pendakian. Jika ingin merasakan kemeriahan budaya, datanglah saat pelaksanaan Festival Marasante atau hari jadi Tidore untuk menyaksikan parade perahu hias dan tarian kolosal di tepi pantai.

Economy

#

Profil Ekonomi Kota Tidore Kepulauan: Poros Maritim dan Agraris Maluku Utara

Kota Tidore Kepulauan, yang terletak di Provinsi Maluku Utara dengan luas wilayah mencapai 1.686,76 km², memegang status "Epic" dalam konstelasi ekonomi regional. Sebagai wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif di sekitarnya, Tidore memiliki posisi strategis di bagian utara Nusantara. Dengan garis pantai yang membentang luas di sepanjang perairan Maluku, kekuatan ekonomi wilayah ini bertumpu pada sinergi antara sektor maritim, pertanian rempah, dan pariwisata sejarah.

##

Sektor Pertanian dan Perkebunan Rempah

Secara historis dan kontemporer, Tidore adalah pilar produksi rempah dunia. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar, dengan komoditas unggulan berupa cengkeh dan pala. Perkebunan rakyat di lereng Gunung Kie Matubu menghasilkan kualitas rempah premium yang menjadi komoditas ekspor tidak langsung melalui pelabuhan-pelabuhan besar. Selain rempah, pengembangan kelapa dan produksi kopra tetap menjadi tulang punggung pendapatan rumah tangga petani di wilayah daratan Oba.

##

Ekonomi Maritim dan Kelautan

Memiliki garis pantai yang panjang, ekonomi maritim Tidore sangat krusial. Sektor perikanan tangkap didominasi oleh komoditas tuna, cakalang, dan tongkol. Pemerintah daerah terus mendorong modernisasi armada tangkap dan pembangunan sarana pendingin (cold storage) untuk menjaga nilai tambah hasil laut. Budidaya rumput laut juga mulai berkembang di beberapa titik pesisir, memberikan diversifikasi penghasilan bagi masyarakat pesisir di luar musim tangkap ikan.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Tradisional

Sektor industri di Tidore didominasi oleh industri pengolahan skala kecil dan menengah (IKM). Salah satu aspek ekonomi unik adalah kerajinan tradisional Gerabah dari Desa Mare, yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi tinggi. Selain itu, produksi Tenun Tidore (Puta Dino) kembali dibangkitkan sebagai ikon ekonomi kreatif yang menyasar pasar premium dan wisatawan. Produk olahan pangan lokal seperti sirup pala dan olahan sagu juga menjadi produk unggulan yang memperkuat struktur UMKM setempat.

##

Infrastruktur dan Konektivitas Pelabuhan

Sebagai wilayah kepulauan, transportasi laut adalah urat nadi ekonomi. Keberadaan Pelabuhan Rum sebagai pintu masuk utama yang menghubungkan Tidore dengan Ternate sangat vital bagi mobilisasi barang dan jasa. Pengembangan jalan lingkar di daratan Oba terus dipacu untuk mempercepat konektivitas logistik antarwilayah tetangga. Infrastruktur ini krusial untuk menekan biaya distribusi hasil bumi ke pusat-pusat perdagangan.

##

Pariwisata dan Tren Ketenagakerjaan

Pariwisata berbasis sejarah (Benteng Tahula dan Tsabobo) serta wisata bahari di Pulau Maitara menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi. Sektor jasa mulai mengalami tren peningkatan dalam penyerapan tenaga kerja, terutama di bidang perhotelan, kuliner, dan transportasi. Pemerintah fokus pada transformasi ekonomi dari sektor primer ke sektor jasa tanpa meninggalkan akar agrarisnya, guna menciptakan lapangan kerja yang lebih berkelanjutan bagi generasi muda Tidore Kepulauan.

Demographics

#

Profil Demografis Kota Tidore Kepulauan

Kota Tidore Kepulauan, yang terletak di Provinsi Maluku Utara, merupakan wilayah kepulauan dengan luas daratan mencapai 1.686,76 km². Sebagai daerah berpangkat "Epic" dalam konteks sejarah rempah nusantara, demografi wilayah ini mencerminkan perpaduan unik antara tradisi kesultanan yang kuat dan dinamika modernitas masyarakat pesisir.

##

Struktur Populasi dan Kepadatan

Berdasarkan data terbaru, Tidore Kepulauan dihuni oleh lebih dari 115.000 jiwa. Tingat kepadatan penduduk terkonsentrasi secara tidak merata; wilayah Pulau Tidore memiliki kepadatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah daratan Oba yang luas namun memiliki persebaran penduduk yang renggang. Ketimpangan ini menciptakan dinamika unik di mana pusat pemerintahan dan ekonomi tetap bertumpu pada pulau kecil, sementara potensi pengembangan ruang berada di daratan besar (Halmahera).

##

Komposisi Etnis dan Budaya

Kekuatan demografis Tidore terletak pada homogenitas sosiokultural yang berakar pada Kesultanan Tidore. Etnis asli Tidore mendominasi, namun posisi geografisnya sebagai hub perdagangan sejak masa lampau membawa keberagaman etnis pendatang seperti Bugis, Makassar, Jawa, dan etnis dari wilayah Halmahera lainnya. Integrasi budaya ini menciptakan masyarakat yang religius dengan tingkat kohesi sosial yang tinggi, di mana adat "Se Ati se Fuat" masih menjadi perekat utama antarwarga.

##

Piramida Penduduk dan Usia

Struktur kependudukan Tidore Kepulauan menunjukkan tren piramida ekspansif, yang didominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun). Besarnya proporsi penduduk usia muda memberikan peluang bonus demografi bagi kota ini. Kelompok usia sekolah juga menempati porsi signifikan, menuntut penyediaan fasilitas pendidikan yang merata hingga ke pelosok daratan Oba.

##

Pendidikan dan Literasi

Tidore Kepulauan mencatatkan angka literasi yang sangat baik, melampaui rata-rata beberapa wilayah di Maluku Utara. Kesadaran akan pendidikan tinggi meningkat pesat, ditandai dengan banyaknya pemuda yang menempuh studi di pusat pendidikan seperti Ternate atau Makassar. Namun, terdapat tantangan dalam distribusi tenaga kerja terdidik yang masih cenderung memilih sektor birokrasi (ASN) dibandingkan sektor wiraswasta kelautan atau pertanian.

##

Urbanisasi dan Migrasi

Pola migrasi di Tidore bersifat sirkuler. Banyak penduduk yang bermigrasi harian ke Kota Ternate untuk bekerja, mengingat kedekatan geografis kedua pulau tersebut. Sebaliknya, wilayah daratan Oba menjadi destinasi migrasi internal bagi para transmigran dan petani yang mencari lahan subur. Urbanisasi terkendali terjadi di wilayah Soasio sebagai pusat kota, namun karakteristik perdesaan pesisir tetap menjadi wajah utama pemukiman di Tidore Kepulauan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini pernah menjadi lokasi pendaratan Pasukan Sekutu dalam Operasi Tradewind pada September 1944, menjadikannya pangkalan udara militer strategis di Pasifik selama Perang Dunia II.
  • 2.Masyarakat setempat melestarikan Tradisi Bambu Gila atau Bara Suwen, sebuah tarian magis di mana sebatang bambu panjang diyakini bergerak sendiri mengikuti irama musik tradisional.
  • 3.Gugusan pulau di bagian utara wilayah ini berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik dan memiliki sebuah pulau yang bentuknya menyerupai burung merpati jika dilihat dari ketinggian.
  • 4.Dikenal sebagai penghasil kelapa terbesar di Maluku Utara, kawasan ini dijuluki sebagai Bumi Pangaji karena sejarah panjangnya sebagai pusat penyebaran agama dan perdagangan kopra.

Destinasi di Tidore Kepulauan

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Maluku Utara

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Tidore Kepulauan dari siluet petanya?