Tolikara
CommonDipublikasikan: Januari 2025
History
#
Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Tolikara: Jantung Pegunungan Tengah
Asal-Usul dan Akar Budaya Suku Lani
Kabupaten Tolikara, yang terletak di Provinsi Papua Pegunungan dengan luas wilayah 3.680,23 km², memiliki sejarah yang berakar kuat pada peradaban Suku Lani. Secara etimologis, nama "Tolikara" diyakini merujuk pada kondisi geografisnya yang dikelilingi lembah dan pegunungan tinggi di bagian timur wilayah adat La Pago. Masyarakat asli Tolikara telah mendiami wilayah ini selama berabad-abad dengan sistem sosial yang kompleks, di mana kepemimpinan adat dipegang oleh sosok Big Man atau Wone. Budaya pertanian tradisional, khususnya budidaya ubi jalar (hipere) dan tradisi bakar batu (barapen), menjadi fondasi kehidupan sosial yang menyatukan klan-klan di Lembah Bokondini dan Karubaga.
Masa Kontak Kolonial dan Misi Penginjilan
Wilayah Tolikara mulai terbuka bagi dunia luar pada pertengahan abad ke-20. Salah satu peristiwa bersejarah yang paling signifikan adalah pendaratan pesawat misionaris pertama di Bokondini pada tahun 1950-an. Tokoh-tokoh dari Christian and Missionary Alliance (CAMA) dan Regions Beyond Missionary Union (RBMU) memainkan peran krusial dalam memperkenalkan pendidikan formal dan layanan kesehatan modern. Pembangunan lapangan terbang perintis di Karubaga dan Bokondini menjadi titik balik yang menghubungkan wilayah terisolasi ini dengan pusat-pusat kolonial Belanda di Hollandia (Jayapura). Kehadiran para misionaris ini tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi juga mengubah pola pemukiman masyarakat dari berpencar menjadi terkonsentrasi di sekitar pos-pos misi.
Era Kemerdekaan dan Integrasi Nasional
Pasca Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969, Tolikara secara administratif menjadi bagian dari Kabupaten Jayawijaya. Selama dekade 1970-an hingga 1990-an, wilayah ini dikenal sebagai salah satu daerah pedalaman yang sangat bergantung pada transportasi udara. Integrasi dengan Indonesia membawa perubahan pada sistem pemerintahan, di mana hukum formal mulai berdampingan dengan hukum adat Lani. Pada masa ini, pembangunan infrastruktur dasar mulai dilakukan oleh pemerintah pusat, meskipun tantangan geografis tetap menjadi hambatan utama.
Pemekaran dan Pembangunan Modern
Momen paling bersejarah bagi identitas politik Tolikara terjadi pada 11 Desember 2002. Melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002, Tolikara resmi dimekarkan dari kabupaten induk Jayawijaya menjadi kabupaten mandiri dengan Karubaga sebagai ibu kotanya. Pemekaran ini bertujuan untuk mempercepat pelayanan publik di wilayah yang berbatasan dengan lima daerah tetangga: Jayawijaya, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, dan Memberamo Raya. Meskipun secara teknis berada di pegunungan, Tolikara memiliki akses ke wilayah rendah yang menghubungkannya secara ekosistem ke arah utara.
Warisan Sejarah dan Kontemporer
Hingga saat ini, Tolikara terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan baru di Papua Pegunungan. Salah satu situs bersejarah yang masih dihormati adalah Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang lahir dan besar dari wilayah ini, menjadi simbol perlawanan terhadap keterisolasian. Tradisi lisan tentang nenek moyang dan keberanian para pemimpin lokal dalam menjaga tanah ulayat tetap terjaga di tengah modernisasi. Dengan visi pembangunan yang inklusif, Tolikara kini fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia tanpa meninggalkan identitas kebudayaan Lani yang menjadi jiwa dari wilayah ini.
Geography
#
Profil Geografis Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan
Kabupaten Tolikara merupakan salah satu wilayah krusial yang terletak di jantung Provinsi Papua Pegunungan. Secara administratif dan geografis, wilayah ini mencakup luas daratan sekitar 3.680,23 km². Posisi Tolikara berada di bagian timur dari provinsi induknya, menjadikannya titik strategis yang menghubungkan berbagai wilayah di dataran tinggi tengah Papua. Meskipun berada di kawasan pegunungan, karakteristik geografis Tolikara sangat unik karena wilayah ini memiliki garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, memberikan kontras morfologi yang jarang ditemukan di kabupaten pegunungan lainnya.
##
Topografi dan Bentang Alam
Tolikara didominasi oleh medan yang ekstrem, terdiri dari puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi, lembah-lembah curam, dan lereng dengan kemiringan di atas 40 derajat. Wilayah ini dibatasi oleh lima wilayah yang berdekatan, yaitu Kabupaten Sarmi di utara, Kabupaten Jayawijaya di selatan, Kabupaten Mamberamo Tengah di timur, serta Kabupaten Puncak Jaya dan Lanny Jaya di sisi barat.
Ibu kota kabupaten, Karubaga, terletak di sebuah lembah yang dikelilingi oleh jajaran Pegunungan Jayawijaya. Di sini, aliran sungai-sungai besar seperti Sungai Memberamo memiliki hulu yang bersumber dari wilayah pegunungan Tolikara, menyediakan sistem irigasi alami bagi ekosistem di bawahnya. Fenomena geologi di wilayah ini menciptakan formasi batu gamping dan batuan beku yang membentuk struktur tanah yang kaya akan mineral.
##
Iklim dan Variasi Musiman
Berdasarkan letak astronomisnya, Tolikara memiliki iklim tropis basah yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat (iklim pegunungan). Suhu udara rata-rata berkisar antara 15°C hingga 25°C, namun di daerah puncak yang lebih tinggi, suhu dapat turun drastis di bawah 10°C pada malam hari. Curah hujan di Tolikara cenderung sangat tinggi sepanjang tahun tanpa perbedaan musim kemarau yang ekstrem. Kelembapan udara yang tinggi sering menghasilkan kabut tebal yang menyelimuti lembah-lembah seperti Lembah Bokondini, terutama pada pagi dan sore hari.
##
Sumber Daya Alam dan Biodiversitas
Kekayaan alam Tolikara terbagi dalam tiga sektor utama: kehutanan, pertanian, dan mineral. Hutan hujan tropis di wilayah ini merupakan rumah bagi flora endemik seperti kayu cempaka dan berbagai jenis anggrek hutan. Dalam hal fauna, hutan Tolikara menjadi habitat bagi burung Cenderawasih, Kasuari, dan kangguru pohon.
Di sektor pertanian, tanah vulkanik yang subur mendukung budidaya tanaman pangan seperti ubi jalar (hipere), jagung, dan sayuran dataran tinggi. Selain itu, potensi perkebunan kopi Arabika Tolikara mulai dikenal karena kualitasnya yang khas akibat ditanam di ketinggian di atas 1.500 mdpl. Secara geologis, wilayah ini juga menyimpan cadangan mineral yang belum terpetakan sepenuhnya, termasuk indikasi keberadaan emas dan tembaga di sepanjang jalur lipatan pegunungan tengah.
##
Ekologi dan Zona Lingkungan
Zona ekologi Tolikara bertingkat dari hutan pantai di utara hingga hutan montana di wilayah selatan. Keberadaan garis pantai di utara memberikan akses pada sumber daya laut, sementara wilayah pedalaman tetap mempertahankan keaslian ekosistem hutan primer. Keseimbangan antara wilayah pesisir dan pegunungan ini menjadikan Tolikara laboratorium alam yang penting bagi keanekaragaman hayati di Papua Pegunungan.
Culture
#
Kekayaan Budaya Tolikara: Jantung Tradisi di Pegunungan Tengah
Tolikara, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Papua Pegunungan dengan luas wilayah mencapai 3.680,23 km², merupakan rumah bagi suku Lani yang memegang teguh nilai-nilai adat. Meskipun berada di wilayah pegunungan, Tolikara memiliki dinamika sosial yang unik sebagai titik temu budaya di bagian timur pegunungan tengah, berbatasan dengan lima wilayah adat yaitu Jayawijaya, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Mamberamo Tengah, dan Sarmi.
##
Tradisi Bakar Batu (Barapen)
Salah satu pilar utama budaya Tolikara adalah ritual Bakar Batu atau yang secara lokal sering disebut dengan istilah terkait kebersamaan suku Lani. Tradisi ini bukan sekadar cara memasak, melainkan mekanisme resolusi konflik, simbol perdamaian, dan ungkapan syukur. Masyarakat mengumpulkan batu kali, memanaskannya hingga membara, lalu menyusunnya di dalam lubang bersama sayuran, umbi-umbian (hipere), dan daging babi (wam). Prosesi ini melibatkan seluruh anggota komunitas, memperkuat ikatan sosial yang disebut sebagai "Jiwa Lani".
##
Kesenian, Musik, dan Tarian Tradisional
Seni pertunjukan di Tolikara sangat dipengaruhi oleh ritme alam. Tarian tradisional sering kali dibawakan secara berkelompok dengan gerakan melingkar dan hentakan kaki yang bertenaga, melambangkan persatuan dalam menghadapi tantangan alam. Alat musik utama adalah Pikon, instrumen tiup kecil yang terbuat dari bambu atau lidi yang dimainkan dengan cara ditarik benangnya untuk menghasilkan getaran suara yang unik. Pikon biasanya dimainkan oleh kaum pria saat bersantai di Honai untuk menceritakan kisah percintaan atau kerinduan.
##
Busana Adat dan Kerajinan Tangan
Identitas visual masyarakat Tolikara terpancar dari busana tradisionalnya. Pria menggunakan Koteka yang terbuat dari labu air kering, sementara wanita mengenakan Sali, rok yang terbuat dari serat kulit kayu atau rumput kering. Selain itu, Noken—tas anyaman dari serat kayu yang disampirkan di dahi—memiliki kedudukan sakral. Noken Tolikara dikenal dengan anyamannya yang rapat dan kuat, digunakan untuk membawa segala hal mulai dari hasil bumi hingga bayi, melambangkan rahim ibu dan kehidupan.
##
Kuliner Khas: Kekuatan dari Bumi
Makanan pokok masyarakat Tolikara adalah Hipere (ubi jalar). Terdapat puluhan varietas ubi yang dibudidayakan di lereng-lereng bukit. Selain ubi, masyarakat mengonsumsi sayur lilin dan buah merah (kuansu) yang diekstrak menjadi minyak kaya nutrisi. Olahan tradisional ini tetap lestari karena metode pertanian organik yang diwariskan turun-temurun.
##
Bahasa dan Ekspresi Lokal
Masyarakat setempat mayoritas menggunakan bahasa Lani dengan dialek khas Tolikara. Salah satu ekspresi yang paling sering terdengar adalah "Kao" atau "Waniambey", ucapan salam yang penuh kehangatan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga media dalam penyampaian Kay (nyanyian adat) yang berisi sejarah silsilah keluarga dan hukum adat.
##
Kehidupan Religi dan Festival
Masyarakat Tolikara dikenal sangat religius, di mana hukum adat bersinergi dengan ajaran Kristiani. Salah satu momen budaya yang paling menonjol adalah perayaan Natal dan Paskah yang sering dipadukan dengan pesta adat. Selain itu, Tolikara juga dikenal secara nasional melalui "Seminar Internasional dan KKR" yang sering melibatkan ribuan warga dari distrik-distrik terpencil, menunjukkan betapa kuatnya perpaduan antara spiritualitas dan identitas kesukuan di tanah ini.
Tourism
Menjelajahi Keajaiban Tersembunyi Karubaga: Pesona Wisata Tolikara
Kabupaten Tolikara, yang terletak di jantung Provinsi Papua Pegunungan, merupakan destinasi yang menawarkan harmoni antara kemegahan alam pegunungan tengah dan kekayaan budaya yang autentik. Dengan luas wilayah mencapai 3.680,23 km², Tolikara berbatasan dengan lima wilayah strategis: Sarmi di utara, Jayawijaya di selatan, Mamberamo Tengah di timur, serta Puncak Jaya dan Lanny Jaya di barat. Lokasinya yang berada di posisi kardinal timur pegunungan menjadikannya gerbang petualangan yang tak terlupakan.
#
Keindahan Alam dan Panorama Puncak
Meskipun berada di wilayah pegunungan, Tolikara memiliki karakteristik geografis yang unik. Distrik Karubaga, sebagai pusat pemerintahan, dikelilingi oleh perbukitan hijau yang sering tertutup kabut tipis. Salah satu daya tarik utama adalah keberadaan danau-danau kecil di dataran tinggi dan aliran sungai jernih yang membelah lembah. Wisatawan dapat menikmati pemandangan Puncak Jayawijaya dari kejauhan pada hari yang cerah. Selain itu, terdapat air terjun alami yang tersembunyi di balik hutan hujan tropis yang masih perawan, menawarkan ketenangan bagi para pencinta alam.
#
Kekayaan Budaya dan Tradisi Suku Lani
Daya tarik utama Tolikara terletak pada kearifan lokal Suku Lani. Berbeda dengan museum konvensional, Tolikara adalah "museum hidup". Pengunjung dapat melihat langsung struktur arsitektur rumah tradisional Honai yang dibangun dengan teknik turun-temurun untuk menahan suhu dingin pegunungan. Kehidupan sosial masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat menjadi situs sejarah berjalan. Upacara adat seperti Bakar Batu (Barapen) bukan sekadar proses memasak, melainkan simbol perdamaian dan rasa syukur yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
#
Wisata Kuliner Khas Pegunungan Tengah
Pengalaman kuliner di Tolikara sangat bergantung pada hasil bumi lokal. Ubi jalar atau hipere adalah makanan pokok yang wajib dicoba, biasanya dimasak di bawah tumpukan batu panas. Selain itu, pengunjung dapat mencicipi kopi asli Tolikara yang tumbuh di ketinggian lebih dari 1.500 mdpl, memberikan cita rasa asam yang unik dan aroma yang kuat. Buah merah (Kuansu), yang dikenal memiliki khasiat kesehatan tinggi, juga mudah ditemukan di pasar tradisional Karubaga.
#
Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan
Bagi pencinta adrenalin, medan berbukit Tolikara adalah surga untuk trekking dan hiking. Jalur setapak yang menghubungkan antar distrik menawarkan tantangan fisik sekaligus pemandangan lembah yang spektakuler. Pengunjung juga dapat berinteraksi langsung dengan penduduk di kebun-kebun miring yang menjadi bukti ketangguhan sistem pertanian lokal.
#
Akomodasi dan Waktu Kunjungan Terbaik
Hospitalitas masyarakat Tolikara sangat hangat; wisatawan seringkali dianggap sebagai bagian dari keluarga. Di Karubaga, tersedia beberapa penginapan dan wisma dengan fasilitas standar yang bersih. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim kemarau antara bulan Juni hingga September, saat langit cerah dan jalur pendakian cenderung lebih aman. Mengunjungi Tolikara adalah perjalanan menuju kedamaian di puncak timur Indonesia.
Economy
#
Profil Ekonomi Kabupaten Tolikara: Potensi Pegunungan Tengah dan Pesisir
Kabupaten Tolikara, yang terletak di Provinsi Papua Pegunungan dengan luas wilayah 3.680,23 km², merupakan daerah yang memiliki karakteristik ekonomi unik. Berbatasan dengan lima wilayah strategis—Kabupaten Sarmi, Jayawijaya, Puncak Jaya, Lanny Jaya, dan Mamberamo Tengah—Tolikara berperan sebagai titik hubung penting di wilayah timur. Meskipun berada di dataran tinggi, Tolikara memiliki akses administratif ke garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Indonesia, memberikan dimensi ekonomi ganda antara agraris pegunungan dan maritim.
##
Sektor Pertanian dan Produk Unggulan
Sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi lokal yang menyerap mayoritas tenaga kerja. Komoditas unggulan yang menjadi ikon Tolikara adalah Buah Merah (Pandanus conoideus) dan Kopi Arabika. Kopi dari distrik Karubaga dan sekitarnya mulai menembus pasar nasional karena cita rasa khas tanah vulkanik. Selain itu, ubi jalar (hipere) tetap menjadi komoditas ketahanan pangan utama. Pengembangan industri pengolahan minyak buah merah dalam skala rumah tangga menjadi unit usaha yang terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani lokal.
##
Ekonomi Maritim dan Kelautan
Sebagai wilayah yang memiliki garis pantai di sisi utara, potensi ekonomi maritim Tolikara terfokus pada perikanan tangkap. Meskipun akses infrastruktur menuju pesisir masih dalam tahap pengembangan, pemanfaatan sumber daya laut mulai diintegrasikan ke dalam rantai pasok daerah. Kelompok nelayan lokal mulai mengelola hasil laut untuk didistribusikan ke wilayah pedalaman pegunungan, menciptakan pertukaran komoditas antara hasil laut dan hasil bumi pegunungan.
##
Kerajinan Tradisional dan Industri Kreatif
Kekuatan ekonomi kreatif Tolikara terletak pada kerajinan tangan noken dan ukiran kayu khas suku Lani. Noken Tolikara, yang terbuat dari serat kulit kayu pilihan, bukan sekadar produk budaya tetapi telah menjadi penggerak ekonomi mikro bagi kaum perempuan (mama-mama Papua). Pemerintah daerah kini mulai memfasilitasi pemasaran produk-produk ini melalui koperasi untuk memastikan harga yang kompetitif bagi pengrajin.
##
Infrastruktur, Transportasi, dan Perdagangan
Tantangan geografis menjadikan sektor transportasi dan jasa sebagai sektor dengan biaya operasional tinggi. Bandar Udara Karubaga menjadi urat nadi utama bagi mobilitas barang dan jasa, terutama untuk menyuplai kebutuhan pokok dari Jayapura. Namun, pembangunan jalan trans-Papua yang menghubungkan Tolikara dengan kabupaten tetangga telah mulai menurunkan biaya logistik secara perlahan, memicu pertumbuhan sektor jasa perdagangan dan perhotelan di pusat distrik.
##
Tren Tenaga Kerja dan Pembangunan
Saat ini, tren lapangan kerja di Tolikara mulai bergeser dari sektor subsisten menuju sektor formal dan jasa konstruksi seiring dengan masifnya pembangunan infrastruktur publik. Transformasi ekonomi Tolikara diarahkan pada modernisasi alat pertanian dan penguatan konektivitas antar-distrik untuk memastikan bahwa potensi maritim di utara dan potensi agraris di pegunungan dapat bersinergi demi kesejahteraan masyarakat lokal.
Demographics
#
Profil Demografis Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan
Kabupaten Tolikara merupakan wilayah strategis di Provinsi Papua Pegunungan dengan luas wilayah mencapai 3.680,23 km². Terletak di posisi kardinal timur pegunungan tengah, Tolikara berbatasan langsung dengan lima wilayah administratif, yaitu Kabupaten Sarmi di utara, Jayawijaya di selatan, Mamberamo Tengah di timur, serta Puncak Jaya dan Lanny Jaya di barat. Meskipun berada di ketinggian, Tolikara memiliki aksesibilitas yang unik sebagai penghubung antar-wilayah pegunungan.
Ukuran, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk
Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Tolikara mencapai lebih dari 250.000 jiwa. Mengingat luas wilayahnya, kepadatan penduduk rata-rata berada di kisaran 68 jiwa per km². Namun, distribusi ini tidak merata; konsentrasi penduduk terbesar berada di Distrik Karubaga sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, sementara wilayah pedalaman yang didominasi hutan primer memiliki kepadatan yang jauh lebih rendah.
Komposisi Etnis dan Keragaman Budaya
Demografi Tolikara didominasi oleh suku asli Papua, mayoritas berasal dari Suku Lani (Dani Barat). Struktur sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh sistem adat yang kuat dan nilai-nilai religius. Meski homogen secara etnis lokal, terdapat komunitas pendatang kecil di pusat kota yang berperan dalam sektor perdagangan. Integrasi budaya tercermin dalam upacara adat tradisional yang tetap lestari di tengah modernisasi Karubaga.
Struktur Usia dan Piramida Penduduk
Tolikara memiliki profil demografis yang sangat muda, membentuk piramida penduduk ekspansif (alas lebar). Sebagian besar penduduk berada pada kelompok usia produktif dan anak-anak. Tren ini menunjukkan tingkat kelahiran yang cukup tinggi di wilayah pedesaan, yang menuntut pengembangan fasilitas kesehatan ibu dan anak serta infrastruktur pendidikan jangka panjang.
Tingkat Pendidikan dan Literasi
Tingkat literasi di Tolikara terus mengalami peningkatan signifikan melalui program pendidikan berpola asrama dan sekolah-sekolah misionaris yang bersejarah di wilayah ini. Meskipun angka partisipasi sekolah dasar cukup tinggi, tantangan masih ditemukan pada jenjang pendidikan tinggi, di mana banyak pemuda harus keluar daerah untuk melanjutkan studi.
Urbanisasi dan Dinamika Migrasi
Pola urbanisasi di Tolikara bersifat sentripetal menuju Karubaga. Masyarakat dari distrik-distrik terpencil cenderung melakukan migrasi sirkuler untuk mencari layanan publik dan pasar. Selain itu, sebagai wilayah yang berbatasan dengan lima kabupaten, terjadi mobilitas penduduk yang dinamis demi kepentingan perdagangan lintas wilayah pegunungan, menjadikan Tolikara sebagai titik transit penting di Papua Pegunungan.
💡 Fakta Unik
- 1.Meskipun berada di provinsi pegunungan, wilayah ini memiliki pelabuhan sungai besar yang menjadi pintu masuk utama logistik melalui jalur air Sungai Digul.
- 2.Suku asli di wilayah ini memiliki tradisi unik dalam membangun rumah di atas pohon yang sangat tinggi untuk melindungi diri dari ancaman alam dan musuh.
- 3.Wilayah ini dikenal sebagai salah satu titik terjauh di pedalaman Papua yang dapat diakses oleh kapal-kapal besar dari arah Laut Arafura.
- 4.Secara administratif, kabupaten ini merupakan satu-satunya daerah di Provinsi Papua Pegunungan yang memiliki wilayah perairan dan akses langsung ke laut.
Destinasi di Tolikara
Semua Destinasi→Puncak Karubaga
Menawarkan panorama memukau dari ketinggian, Puncak Karubaga adalah tempat terbaik untuk melihat lan...
Bangunan IkonikGereja GIDI Karubaga
Sebagai pusat kegiatan spiritual bagi mayoritas masyarakat Tolikara, bangunan gereja ini berdiri meg...
Wisata AlamLembah Bokondini
Lembah tersembunyi ini menyajikan pemandangan padang rumput yang luas dan aliran sungai jernih yang ...
Pusat KebudayaanPasar Tradisional Karubaga
Pasar ini adalah jantung kehidupan ekonomi lokal di mana pengunjung dapat berinteraksi langsung deng...
Pusat KebudayaanSitus Budaya Bakar Batu Tolikara
Area terbuka yang sering digunakan untuk upacara adat Barapen atau Bakar Batu, sebuah tradisi memasa...
Wisata AlamSungai Toli
Sungai yang menjadi asal-usul nama Tolikara ini mengalir melintasi lembah-lembah curam dengan air ya...
Tempat Lainnya di Papua Pegunungan
Lokasi Serupa
Panduan Perjalanan Terkait
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiUji Pengetahuanmu!
Apakah kamu bisa menebak Tolikara dari siluet petanya?