Situs Sejarah

Klenteng Kwan Sing Bio

di Tuban, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Sejarah dan Kemegahan Klenteng Kwan Sing Bio Tuban

Klenteng Kwan Sing Bio bukan sekadar tempat ibadah biasa bagi umat Tri Dharma (Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme). Terletak strategis di pinggir jalur Pantura, tepatnya di Jalan Raya RE Martadinata No. 1, Kelurahan Karangsari, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, situs sejarah ini memegang predikat sebagai salah satu klenteng terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya menjadi simbol akulturasi budaya, ketahanan sejarah, dan pusat spiritualitas yang telah bertahan selama ratusan tahun di pesisir utara Pulau Jawa.

#

Latar Belakang Sejarah dan Masa Pendirian

Secara historis, Klenteng Kwan Sing Bio diperkirakan mulai dibangun pada pertengahan abad ke-18. Meskipun catatan pasti mengenai tanggal peletakan batu pertama sering kali bersumber dari tradisi lisan dan manuskrip kuno, eksistensinya berkaitan erat dengan gelombang migrasi masyarakat Tionghoa ke wilayah Tuban yang kala itu merupakan bandar pelabuhan internasional yang sangat sibuk. Tuban sejak era Kerajaan Majapahit telah menjadi pintu masuk utama perdagangan dan penyebaran agama di Jawa.

Klenteng ini didedikasikan untuk memuja Dewa Kwan Kong (Guan Yu), seorang jenderal perang legendaris dari zaman Tiga Negara (Sam Kok) di Tiongkok yang dikenal karena sifatnya yang jujur, setia, dan berani. Keberadaan klenteng ini di tepi laut bukan tanpa alasan; para pelaut dan pedagang Tionghoa pada masa lampau meyakini bahwa perlindungan Kwan Kong meluas hingga keselamatan di samudera dan keberhasilan dalam perniagaan.

#

Arsitektur Khas dan Detail Konstruksi

Salah satu ciri paling mencolok yang membedakan Kwan Sing Bio dengan klenteng lainnya adalah posisi bangunannya yang menghadap langsung ke arah laut lepas (Laut Jawa). Menurut prinsip Feng Shui, orientasi ini dipercaya memberikan energi positif dan perlindungan maksimal.

Secara arsitektural, kompleks ini memiliki luas sekitar 4 hingga 5 hektar. Ikon yang paling fenomenal adalah keberadaan patung Dewa Kwan Kong raksasa setinggi kurang lebih 30 meter yang sempat memecahkan rekor MURI. Namun, jauh sebelum adanya patung modern tersebut, bangunan utama klenteng telah menunjukkan detail konstruksi yang rumit. Atapnya dihiasi dengan ukiran naga dan burung phoenix yang melambangkan keharmonisan antara unsur maskulin dan feminin.

Pintu masuk utama atau gerbang klenteng ditandai dengan simbol Kepiting raksasa. Penggunaan simbol kepiting ini sangat unik karena jarang ditemukan di klenteng lain yang biasanya menggunakan simbol naga atau singa. Menurut legenda setempat, dahulu wilayah di sekitar klenteng merupakan daerah rawa yang menjadi habitat ribuan kepiting. Kepiting dianggap sebagai hewan yang mampu bertahan hidup di dua alam dan memiliki cangkang keras sebagai pelindung, simbol yang kemudian diadopsi sebagai penjaga spiritual tempat suci ini.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Sebagai situs sejarah, Klenteng Kwan Sing Bio telah melewati berbagai periode krusial di Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, klenteng ini menjadi titik temu sosial bagi masyarakat peranakan di Tuban. Selama masa pergolakan politik di Indonesia, kompleks ini sempat mengalami beberapa kali pasang surut aktivitas, namun tetap berdiri kokoh sebagai pusat komunal.

Salah satu fakta sejarah yang unik adalah peran klenteng ini dalam memfasilitasi kebutuhan logistik masyarakat sekitar tanpa memandang latar belakang etnis. Klenteng ini memiliki tradisi menyediakan akomodasi dan konsumsi gratis bagi para peziarah atau musafir yang melintas di jalur Pantura, sebuah praktik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bukti nyata toleransi di Tuban.

#

Tokoh dan Pengaruh Spiritual

Figur sentral dalam klenteng ini adalah Kwan Sing Tee Koen (Dewa Kwan Kong). Bagi masyarakat Tuban dan sekitarnya, beliau dianggap sebagai pelindung perdagangan. Banyak pedagang lokal maupun dari luar kota yang datang untuk memohon berkah kelancaran usaha. Selain itu, terdapat beberapa altar untuk dewa-dewi lain seperti Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) dan Dewa Bumi (Tee Kouw Pang).

Kaitan sejarah klenteng ini juga tidak lepas dari perkembangan kota Tuban sebagai "Kota Wali". Meskipun Tuban sangat kental dengan pengaruh Islam dan keberadaan makam Sunan Bonang, Klenteng Kwan Sing Bio hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa sejak ratusan tahun lalu, Tuban telah menjadi laboratorium sosial untuk keberagaman budaya.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai aset sejarah dan budaya, Klenteng Kwan Sing Bio telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga kekokohan bangunannya. Restorasi yang paling signifikan dilakukan pada bagian interior dan penambahan fasilitas penginapan bagi peziarah. Pemerintah Kabupaten Tuban telah menetapkan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan yang dilindungi keberadaannya.

Meskipun sempat terjadi konflik internal kepengurusan beberapa tahun silam yang sempat membuat gerbang klenteng digembok, situs ini berhasil bangkit dan kembali dibuka untuk umum. Upaya pelestarian kini tidak hanya fokus pada fisik bangunan, tetapi juga pada dokumentasi sejarah dan pemeliharaan benda-benda antik di dalamnya, seperti lonceng kuno (Genta) dan altar kayu jati yang memiliki ukiran halus khas pengrajin Tiongkok kuno.

#

Peran Budaya dan Keunikan Lokal

Setiap tahun, Klenteng Kwan Sing Bio menjadi pusat perhatian nasional saat perayaan ulang tahun (Se Jit) Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen. Acara ini biasanya menarik ribuan pengunjung dari seluruh penjuru Indonesia hingga mancanegara seperti Singapura dan Malaysia. Perayaan tersebut sering kali dimeriahkan dengan pertunjukan Wayang Kulit khas Jawa dan Barongsai, menciptakan perpaduan budaya yang sangat spesifik.

Satu fakta unik lainnya adalah keberadaan ramalan Ciam Si di klenteng ini yang dianggap sangat akurat oleh para penganutnya. Banyak tokoh politik dan pengusaha nasional yang secara historis tercatat pernah mengunjungi klenteng ini untuk sekadar berdoa atau melakukan meditasi dalam mencari ketenangan batin.

#

Penutup

Klenteng Kwan Sing Bio bukan hanya sekadar bangunan merah megah di pinggir jalan raya. Ia adalah saksi bisu sejarah maritim Tuban, simbol ketangguhan iman, dan bukti nyata bahwa perbedaan dapat menyatu dalam harmoni arsitektur dan spiritualitas. Dengan tetap menjaga keaslian nilai-nilai sejarahnya sembari beradaptasi dengan zaman, klenteng ini dipastikan akan terus menjadi mercusuar budaya di pesisir utara Jawa Timur untuk generasi mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Karang Bau No. 1, Kec. Tuban, Kabupaten Tuban
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 06:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Tuban

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tuban

Pelajari lebih lanjut tentang Tuban dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tuban